News

Gelombang Panas Lebih Lama dan Makin Ekstrem, Suhu Ibu Kota India Capai 49 Derajat Celsius!

Suhu diperkirakan akan turun 2-4 derajat Celsius di sejumlah daerah, tetapi kemungkinan tak meredam panas ekstrem ini.


Gelombang Panas Lebih Lama dan Makin Ekstrem, Suhu Ibu Kota India Capai 49 Derajat Celsius!
Musim panas India dimulai awal tahun ini dengan suhu tinggi sejak Maret. (BBC)

AKURAT.CO Gelombang panas ekstrem menyapu India utara dengan suhu mencapai rekor 49,2 derajat Celsius di sejumlah bagian ibu kota Delhi. Ini menjadi gelombang panas ke-5 di ibu kota sejak Maret.

Dilansir dari BBC, negara bagian Himachal Pradesh, Haryana, Uttarakhand, Punjab, dan Bihar mengalami kenaikan suhu dalam beberapa hari terakhir, menurut departemen cuaca India. Suhu diperkirakan akan turun 2-4 derajat Celsius di sejumlah daerah, tetapi kemungkinan tak meredam panas ekstrem ini.

Gelombang panas yang parah telah merenggut jutaan nyawa dan mata pencaharian di India utara musim panas ini. Tak heran, Perdana Menteri Narendra Modi meminta kepala menteri negara bagian agar menyusun rencana untuk mengurangi dampak panas ekstrem ketika suhu naik lebih cepat dari biasanya.

baca juga:

Gelombang panas memang biasa terjadi di India, terutama pada Mei dan Juni. Namun, musim panas dimulai awal tahun ini dengan suhu tinggi sejak Maret. Saat itulah gelombang panas pertama tiba. Suhu maksimal rata-rata untuk bulan itu pun menjadi yang tertinggi dalam 122 tahun.

Selain itu, menurut Pusat Sains dan Lingkungan, negara bagian Himachal Pradesh ikut terdampak. Padahal, negara bagian itu terkenal dengan suhunya yang nyaman.

Naresh Kumar, seorang ilmuwan senior di Departemen Meteorologi India (IMD), mengaitkan gelombang panas saat ini dengan atmosfer lokal. Yang utama adalah gangguan barat yang lemah, yaitu badai yang berasal dari wilayah Mediterania. Itu berarti hanya ada sedikit curah hujan pramusim di India barat laut dan tengah.

Antisiklon, area bertekanan atmosfer tinggi di mana udara tenggelam, juga menyebabkan cuaca panas dan kering di sejumlah bagian India barat pada bulan Maret.

Dampaknya pun telah terlihat. Menurut para petani, lonjakan suhu yang tak terduga ini telah mempengaruhi panen gandum mereka. Ini berpotensi mendatangkan konsekuensi secara global lantaran pasokan telah terganggu akibat perang Ukraina.

Panas juga memicu lonjakan permintaan listrik. Akibatnya, terjadi pemadaman di banyak negara bagian dan dikhawatirkan terjadi kekurangan batu bara. Modi juga memperingatkan risiko kebakaran karena naiknya suhu.

Musim panas selalu menyengat di banyak bagian India, terutama di wilayah utara dan tengah. Bahkan sebelum banyak yang punya AC dan pendingin air, masyarakat punya cara sendiri untuk mengatasi panas. Mereka menjaga air tetap dingin di kendi tanah liat hingga menggosok mangga mentah di tubuh mereka untuk menangkal serangan panas.

Namun, banyak ahli menilai gelombang panas di India belakangan lebih intens dan durasinya lebih lama.

Roxy Mathew Koll, ilmuwan iklim di Institut Meteorologi Tropis India, setuju faktor atmosfer sebagai penyebab gelombang panas saat ini. Namun, ia menambahkan faktor pemanasan global.

"Itulah penyebab peningkatan gelombang panas," ungkapnya.

Namun, diperlukan lebih banyak penelitian untuk menghubungkan perubahan iklim dengan fluktuasi cuaca lain yang tak terlalu ekstrem.

D Sivananda Pai, direktur Institut Kajian Perubahan Iklim, menambahkan faktor selain perubahan iklim, seperti penambahan populasi dan ketegangan yang diakibatkan sumber daya. Pada gilirannya, hal ini mengarah pada faktor-faktor yang memperburuk situasi, seperti penggundulan hutan dan peningkatan penggunaan transportasi.

"Bila Anda punya lebih banyak jalan dan bangunan beton, panas terperangkap di dalam tanpa bisa naik ke permukaan. Ini semakin memanaskan udara," terang Pai.

Terlebih lagi, yang paling terdampak adalah orang miskin.

"Orang miskin punya lebih sedikit sumber daya untuk menyejukkan diri dan lebih sedikit pilihan untuk tinggal di dalam, jauh dari panas," ujar Dr Chandni Singh, peneliti senior di Institut India Bidang Pendudukan Manusia sekaligus penulis utama Panel Lintaspemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Selain berfokus pada kematian, Singh menyarankan para pembuat kebijakan juga memperhatikan pengaruh cuaca ekstrem terhadap kualitas hidup masyarakat.

"Gelombang panas dapat mendatangkan konsekuensi kesehatan serius. Jika suhu tinggi, bahkan di malam hari, tubuh tak punya kesempatan untuk memulihkan diri. Ini meningkatkan kemungkinan penyakit dan biaya medis yang lebih tinggi," tutur Koll.

Jadi, 'visi jangka panjang' sangat penting ketika merencanakan masa depan.

"Ada tempat-tempat di India di mana suhunya sendiri mungkin tak terlalu tinggi. Namun, ketika berkombinasi dengan kelembapan tinggi, kehidupan bisa sangat sulit," sambungnya.

Artinya, dibutuhkan perhitungan terhadap temperatur bola basah, pengukuran ilmiah ketika panas berkombinasi dengan lembap.

Koll juga mendesak untuk memperhatikan area yang jauh dari sorotan.

"Banyak anak-anak di daerah pedesaan bersekolah di gudang beratap seng, sehingga tak akan tertahankan di cuaca panas," tambahnya.

Sejak 2015, pemerintah federal dan negara bagian telah merilis sejumlah kebijakan untuk mengurangi dampak gelombang panas, seperti melarang bekerja di luar selama jam-jam terpanas dan menerbitkan peringatan tepat waktu. Namun, ini hanya bisa sepenuhnya efektif jika disertai perubahan besar, seperti perombakan undang-undang (UU) perburuhan dan penghijauan kota, menurut Singh.

"Bangunan kita dibuat sedemikian rupa, sehingga memerangkap panas, alih-alih menghadirkan ventilasi. Ada begitu banyak inovasi internasional yang dapat kami pelajari. Inilah saatnya untuk menaikkan level karena kita harus hidup dengan panas," sarannya.[]