Rahmah

Gelar Webinar Internasional, PCINU Tunisia Bahas Literasi Digital

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia menggelar acara Webinar Internasional se-Afrika.


Gelar Webinar Internasional, PCINU Tunisia Bahas Literasi Digital
Webinar Internasional PCINU Tunisia (YouTube NU Channel)

AKURAT.CO Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia menggelar acara Webinar Internasional se-Afrika dalam rangka pembukaan rangkaian acara Konfercab ke-6 PCINU Tunisia, Sabtu (31/7/2021)

Acara yang mengusung tema "NU dan Literasi Digital" itu digelar secara virtual dan menghadirkan beberapa narasumber seperti, Dr KH Marsyudi Syuhud (Ketua PBNU), KH Zuhairi Misrawi LC MSC (Cendekiawan NU), dan Prof Dr Ikrar Nusa Bhakti (Duta Besar RI untuk Tunisia).

Dubes RI, Prof Ikrar, dalam pemaparannya menjelaskan, jika saat ini pengetahuan mengenai digital sangat penting. Karena melalui digital teknologi, bukan hanya bisa berkomunikasi antara satu dengan lain, baik itu person to person, person to group, ataupun group to group. Tetapi lebih dari itu, kehadiran digital bisa membuat seseorang melakukan banyak hal, seperti perdagangan, meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga menjual pikiran kita dalam bentu buku dan lain sebagainya.

"Pemahaman mengenai digital ini sangat penting agar digital benar-benar digunakan secara positif bukan untuk hal negatif," ujarnya.

Lebih lanjut Prof Ikrar mengatakan dengan 180 partisipan yang hadir, menjadi bukti bahwa begitu besar minat untuk memahami bagaimana kaitan antara Nahdlatul Ulama dengan literatur digital itu.

"Saya berharap NU sebagai ormas terbesar, suatu saat akan menerapkan organisasi-organisasi yang menerapkan metode modern," lanjutnya.

Hal serupa juga dikatakan KH Marsyudi Syuhud, ia mengungkapkan bahwa NU sudah memiliki pegangan kuat di bidang pendidikan dari sebelum adanya sekolah formal. Begitu juga pada Universitas-universitas Nahdlatul Ulama yang hingga hari ini menyebar luas ke seluruh Indonesia.

"Waktu saya jadi Sekjen saja, saya mendirikan 24 Universitas Nahdlatul Ulama selama empat tahun," ujar ketua PBNU itu.

Ia kemudian menjelaskan jika terdapat dua macam perubahan. Pertama, perubahan yang mau tidak mau pasti berubah. Termasuk digital merupakan perubahan yang pasti berubah. Kedua, perubahan yang diprogramkan. Sebagai langkah untuk melihat pertumbuhan digital yang begitu masifnya, maka kita wajib membuat perubahan yang diikhtiarkan.

"Sesungguhnya warga Nahdliyyin tidak terlalu muluk-muluk menyikapi perubahan digital, wong di kitab kalangan pesantren NU saja itu sudah dijelaskan di kitab nahwu Sharaf," tuturnya.

"Perubahan digital yang selama ini diartikan ya seperti perubahan i'rob, Itu sudah perbuatan digital itu," jelasnya.[]