Ekonomi

Gazprom Tidak Sebar Dividen ke Investor, Analis: Ini Bencana

Analis: Ini adalah bencana bagi saham Gazprom karena satu-satunya daya tarik investasi perusahaan adalah dividen yang tinggi.


Gazprom Tidak Sebar Dividen ke Investor, Analis: Ini Bencana
Logo perusahaan minyak Gazprom Neft terlihat di stasiun pompa bensin di Moskow, Rusia. (REUTERS/Maxim Zmeyev)

AKURAT.CO, Perusahaan raksasa gas milik Rusia, Gazprom, untuk pertama kalinya sejak tahun 1998 tidak membagikan dividen atas hasil kinerja di tahun 2021. Hal ini menjadikan saham Gazprom anjlok drastis.

"Para pemegang saham memutuskan bahwa dalam situasi saat ini tidak disarankan untuk membayar dividen berdasarkan hasil tahun 2021," kata Wakil CEO Gazprom Famil Sadygov dikutip dari Reuters, Kamis (30/6/2022).

Sadygov menjelaskan bahwa Gazprom saat ini fokus dalam program gasifikasi regional Rusia, yang akan menghabiskan sekitar USD 10 miliar di tahun 2025 untuk meningkatkan gasifikasi Rusia yang saat ini berada di level 72 persen.

baca juga:

Tentu hal ini membuat saham dari Gazprom turun lebih dari 28 persen. Banyak kritik yang berdatangan dari para analis yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan cara untuk investor ritel Rusia agar mendapatkan keuntungan di saat negara-negara Barat sedang memberikan sanksi kepada perusahaan-perusahaan milik Rusia.

"Ini adalah bencana bagi saham Gazprom karena satu-satunya daya tarik investasi perusahaan adalah dividen yang tinggi. Keputusan itu juga kemungkinan sebagian terkait dengan kesediaan kementerian keuangan untuk meningkatkan pendapatan anggaran," kata analis Tinkoff Investments.

Keputusan Gazprom ini muncul saat negara-negara G7 mulai berupaya untuk membatasi harga minyak dan gas Rusia sebagai salah satu cara untuk mencegah negeri Beruang Merah itu untuk mengambil untung atas tindakan yang dilakukannya di Ukraina. Salah satunya ialah membuat harga minyak jadi melambung tinggi.

Selain itu, aliran gas Rusia ke Eropa melalui Ukraina dan pipa Nord Stream 1 juga turun.

"Ketakutan utama adalah bahwa pemegang saham minoritas mungkin tidak mendapatkan apa-apa jika negara bergerak terus-menerus menarik sebagian besar keuntungan (Gazprom) melalui pajak. Ini juga minus untuk seluruh pasar pada 2022," kata analis Finam.

Sebagaimana diketahui bersama, Uni Eropa sendiri merupakan pengimpor minyak dan gas terbesar dari Rusia sekitar 36%, yang mana Rusia sendiri merupakan negara yang memainkan peran besar di pasar minyak global. Rusia sendiri adalah produsen minyak terbesar ketiga di dunia, sesudah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi.[]

Sumber: Reuters