image
Login / Sign Up

FOTO ESAI Eksistensi Enam Dekade Warteg di Jakarta

Abdul Aziz Prastowo

Image

Warung Tegal (Warteg) | AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Jakarta, ibu kota Indonesia dengan beragam rayuan kehidupan yang ditawarkan, membuat daya pikat tersendiri untuk seseorang singgah. Tak dipungkiri, sang kota metropolitan dengan gemerlapnya yang tak pernah usai hingga kini, membuat ratusan ribu orang rela pergi ke Jakarta untuk suatu perubahan. Istilah “mengadu nasib”, dipegang erat bagi para pencari perubahan yang tergiur dengan kehidupan kota besar.

Sejalan hal tersebut, di tahun 1950-an terjadi fenomena perpindahan ibu kota Indonesia dari Yogyakarta ke Jakarta. Banyak masyarakat Jawa Tengah, khususnya Tegal yang memutuskan mengambil kesempatan merantau untuk mengadu nasib ke Jakarta. Dikarenakan pemerintah saat itu di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur ibu kota. Mereka saat itu kebanyakan bekerja sebagai buruh bangunan dan tinggal di lokasi proyek.

Pekerja menyelesaikan pekerjaan proyek rusunawa di Jakarta Timur. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Suasana pengerjaan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Menurut pakar kuliner William Wongso saat ditemui awak redaksi Akurat.co, pada saat pembangunan dan pengerjaan proyek tersebut, para tukang perlu makan. Istri-istri pekerja bangunan yang bisa memasak dan sudah terlebih dulu memiliki usaha warung makan di Kota Tegal, memanfaatkan waktu dan kesempatan bisnis dengan menyediakan layanan kuliner di lokasi proyek.

Mereka mampu menjual produk makanan rumahan dengan porsi banyak namun murah di sekitar area proyek untuk para tukang. Hal tersebut lantas menjadikan suatu ciri khas tersendiri yang dikenal publik hingga saat ini yaitu dengan sebutan Warung Tegal atau Warteg.

Lalu lintas kendaraan di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Seiring banyaknya pendatang ke kota Jakarta, usaha warteg kini sukses dilirik oleh para pengusaha kuliner lainnya. Bahkan, Warung Tegal yang dahulu hanya didatangi oleh para buruh, sekarang bisa dinikmati oleh semua kalangan.

“Peluang adanya pangsa pasar bisnis membuat warteg berkembang secara otomatis. Tak hanya buruh saja, saat ini pegawai kantoran pun menikmati asupan kuliner yang tergolong murah itu,” ujar William Wongso.

Suasana aktivitas di Warteg Warmo, kawasan Tebet, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Suasana aktivitas di Warteg Warmo, kawasan Tebet, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Khairuddin, pengurus warteg Warmo yang berlokasi di kawasan Tebet bercerita bahwa, ada empat kampung di Tegal yang menjadi contoh awal kesuksesan sebagai warung makan. Seperti kampung Sidakaton, Sidapurna, Krandon, dan Cabawan. Perkembangannya, warung makan tersebut menyebar ke kampung tetangga hingga ke daerah lainnya.

“Mungkin karena dilihat sukses di Jakarta, banyak pedagang warung makan di Tegal yang merantau untuk ikut membuka warteg juga,” pungkas Khairuddin, saat ditemui di Warteg Warmo.

Ciri Khas

Identitas warung Tegal sudah menjadi ciri khas dengan penyajian makanan yang siap saji, sehingga pelanggan datang sudah langsung bisa memilih menu. Diibaratkan ketika selesai langsung bayar.

Khairuddin mengibaratkan pelanggan datang langsung pesan dan semua makanan sudah siap saji. “Kalo kuli-kuli istilahnya mereka datang sudah dalam kondisi lapar, jadi sudah bisa langsung memilih menu makanan,” ujar Khairuddin.

Suasana aktivitas di Warteg Warmo, kawasan Tebet, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Suasana aktivitas di Warteg Warmo, kawasan Tebet, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Ciri khas lainnya adalah menu masakannya yang paling melekat dengan warteg yaitu menu orek tempe basah, peyek udang, orek tempe kering, sayur bening, sayur sop, tempe tipis dan tempe mendoan.

“Kadang kalau ada hajatan pernikahan aja sebagain besar ada menu tempe oreknya,” tegas Khairuddin, anak dari pemilik Warteg Warmo.

Suasana aktivitas di Warteg Tiga Putri, kawasan Pasar Minggu, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Konsep dua pintu pun menjadi ciri identik yang melekat pada warteg. Hal tersebut dikarenakan bentuk etalase penyajian makanan yang di dalam. Ketika pelanggan sedang ramai hal tersebut sangat memudahkan akses mereka untuk keluar dan masuk.

Bentuk yang pasti tak asing lagi adalah etalase kaca yang memajang semua menu makanan dan meja yang menempel di depannya, serta kursi panjang yang menghiasi ruang makan warteg, sehingga bentuknya seperti huruf L. 

Suasana aktivitas di Warteg Kharisma Bahari di Cilandak, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Suasana aktivitas di Warteg Kharisma Bahari di Cilandak, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Desain tata ruang seperti itu menurut Khairuddin untuk menghemat tempat. “Rata-rata warteg kan lebarnya 4 meter, jadi kalau mau dibagi agak susah, makanya model bangkunya dibuat memanjang dan berbentuk huruf L. Selain itu, ketika ada orang akan makan atau selesai makan nggak saling menganggu, dan yang utama supaya bisa muat agak banyak,” lanjut Khairuddin.

Etalase kaca juga berfungsi untuk memudahkan pelanggan melihat menu makanan yang disediakan. Sehingga tata ruang seperti itu juga memudahkan kerja dari pelayan, karena mereka hanya perlu menyajikan makanan dari balik etalase dan tidak perlu bolak-balik mengantarkan makanan dari meja satu ke meja lainnya.

Perkembangan

Kemampuan mengolah masakan warga Tegal, dan perantau daerah lainnya, semakin berevolusi dalam membangun usaha rumah makan yang memiliki daya tarik dan ciri khas. Mereka bersama-sama mencoba ikut mendulang kemakmuran di tempat perantauan.

Kehidupan dalam membentuk jaringan bisnis membuat warteg dan rumah makan sejenisnya semakin menjamur. Seperti usaha Warung Tegal, biasanya menjadi bisnis kelompok keluarga dengan sistem pengelolaan secara bergantian dan juga turun temurun.

Suasana aktivitas di Warteg Warmo, kawasan Tebet, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Suasana aktivitas di Warteg Kharisma Bahari di Cilandak, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Ketika ayah dan ibu memiliki usaha satu Warung Tegal, hal ini menular kepada anak-anaknya yang juga memiliki usaha warteg, entah di kota yang sama atau kota yang berbeda.

Bahkan kian hari ketika bisnis tersebut dilirik sangat menjanjikan, biasanya banyak yang mengambil kesempatan untuk membuka warung makan Tegal. Jika yang tak ingin terlalu repot dan rumit, disediakan juga peluang usaha waralaba (franchise).

Suasana aktivitas di Warteg Kharisma Bahari di Cilandak, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Seperti yang dilakukan Warteg Kharisma Bahari (WKB), mereka menawarkan sistem kemitraan sejak membuka peluang usaha tersebut 10 tahun lalu. Sayudi selaku pemilik Warung Tegal (Warteg) Kharisma Bahari bercerita soal usahanya.

“Awalnya saya buka cabang dengan mengelola usaha sendiri, tapi ternyata cara tersebut nggak efektif karena nggak ada pimpinan yang mengarahkan mereka," tandas Sayudi.

Pria asal Tegal ini akhirnya menerapkan sistem bagi hasil untuk yang tertarik buka usaha warteg. Untuk paket kemitraan, Sayudi menerapkan sistem jual-putus. "Cukup beli sekali saja di awal. Harganya Rp110 juta di luar biaya sewa kios. Harga tersebut sudah termasuk pembelian nama dan pelatihan masak untuk karyawan,“ kata Sayudi, saat ditemui di Warteg Kharisma Bahari Cilandak.

Suasana aktivitas di Warteg Warmo, kawasan Tebet, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Sistem kemitraan yang dilakukan Sayudi rupanya mendapat respon baik. Promosi dari mulut ke mulut membuat namanya semakin dikenal masyarakat. Hasilnya, kini ia berhasil memiliki sekitar 300 cabang di Jabodetabek.

Melihat kesuksesan dalam membuka usaha rumah makan di Jakarta, tumbuh kembangnya terlihat begitu menjanjikan. Nama lainnya di jajaran kuliner kota Jakarta adalah Warung Sunda atau Warsun. Konsep utamanya adalah prasmanan, dengan menghidangkan semua menu makanan, sehingga pembeli dapat langsung mengambil sendiri.

Suasana aktivitas di Warung Sunda Ampera 2 Tak, kawasan Cikini, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Suasana aktivitas di Warung Sunda Ampera 2 Tak, kawasan Cikini, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Ibu Deny Handiyani, pemilik Warung Sunda menjelaskan bahwa perbedaan warsun dan warteg terletak pada penyajian menu makanan di etalasenya. “Di Warung Sunda ciri khas yang menarik ya makanan digelar sebanyak rupa, yang pastinya membuat pengunjung penasaran, karena yang dijual macam-macam,” tambah Bu Deny, saat ditemui di kawasan Jatinegara.

Namun jika terkendala dengan ukuran ruangan yang terbatas, maka warsun mengusung konsep rumah makan seperti pada umumnya. Tetapi, masih tetap menyajikan makanan siap saji.

Suasana aktivitas di Warung Brebes, kawasan Gambir, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Suasana aktivitas di Warung Brebes, kawasan Gambir, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Tak ketinggalan juga sebutan nama Warung Nasi Brebes atau Warbes. Menurut Suharjo, pemilik Warbes di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, hanya sedikit perbedaannya dengan warteg. Walau satu rumpun dengan orang Tegal, bahkan makanannya banyak juga yang mirip, namun orang Brebes suka sate, sehingga ada menu tambahan sate dan sop kambing.

“Hal yang membedakan kami di sini, ya karena aslinya orang Brebes itu seneng makan sate, jadi di tempat ini kami sediakan menu tambahan sate sama sop kambing,” ujar Suharjo.

Konsep Digital dan Kenyamanan

Seiring waktu, pengusaha kuliner tidak lagi hanya memikirkan harga dan rasa. Warteg pun kini berinovasi pada kenyamanan dan teknologi. Hal tersebut ternyata membuat daya tarik bagi warga Jakarta.

Menurut Sayudi, ketika daya jual kemitraan Warteg Kharisma Bahari semakin bertambah, tidak menutup kemungkinan terjadi kebocoran keuangan. Apalagi, sistem yang dipakai hanya berlandaskan kepercayaan.  

Suasana aktivitas di Warung Sunda Ampera 2 Tak, kawasan Cikini, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Kelemahan tersebut membuat Sayudi mengusung konsep digital yang bekerjasama dengan sebuah Bank untuk pembayaran nontunai. Kongsi yang ia jalankan itu sudah berjalan sejak Oktober 2017.

Namun, pelayanan digital tersebut belum diterapkan pada seluruh cabang Warteg Kharisma Bahari yang menerima pembayaran nontunai. Sebab, ia tidak memaksa semua mitra untuk mengusung konsep ini.

Suasana aktivitas di Warteg Hitz, kawasan Lebak Bulus, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Suasana aktivitas di Warteg Hitz, kawasan Lebak Bulus, Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Salah satu rumah makan yang telah memberi sentuhan kekinian, baik dari segi desain serta teknologi, ialah Warteg Hitz. Tak hanya memberikan fasilitas pembayaran nontunai, warteg ini dikemas dengan tampilan interior yang lebih menarik dan bersih.

Menu makanannya pun tetap khas rumahan, namun ada tambahan jenis yakni berbagai olahan kopi atau teh layaknya sebuah kafe. Untuk semakin memanjakan konsumen, warteg tersebut memberikan tempat makan yang nyaman dengan ruangan ber-AC. Tak berhenti di situ saja, bahkan konsep modern yang diusung Warteg Hitz hingga pada bentuk packaging makanannya yang unik.

Foto kombo berbagai macam Warteg di Jakarta. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Perkembangan peluang bisnis warteg di Jakarta membuat kesan unik bagi kota metropolitan ini. Tak bisa dipungkiri lagi hampir setiap sudut tempat, jalan besar bahkan gang, sangat mudah untuk menemukan Warung Tegal.

Fakta banyaknya warteg mengalahkan usaha kuliner ikonik daerah lain. Seperti Soto Lamongan, Mie Aceh, Pecel Madiun, Warung Sunda, bahkah Rumah Makan Padang pun sepertinya tidak semenggeliat eksistensi warteg di Jakarta. []

Foto dan Teks: AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Editor: Abdul Aziz Prastowo

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Menpar Ajak Pengusaha Majukan Wisata Kuliner dan Belanja

Image

Gaya Hidup

2020, Ubud Sudah Bisa Menjadi Wisata Gastronomi Dunia

Image

Gaya Hidup

Kabut Asap Tak Surutkan Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival 2019

Image

Gaya Hidup

Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival Segera Digelar, Catat Tanggalnya!

Image

Ekonomi

6 Model Bisnis Ini Tak Akan Mati Ditelan Zaman, Penasaran?

Image

News

Pemko Sibolga Kunjungi Tobasa, Naik Sepeda Hingga Tawarkan Kuliner Khas

Image

Gaya Hidup

Kurang Promosi, Penyebab Makanan Indonesia Kalah Bersaing di Dunia

Image

Gaya Hidup

Industri Kuliner Indonesia 5 Tahun Terkahir Menurut Chef Sisca Soewitomo

Image

Gaya Hidup

Endeus Festival, Hadirkan Ragam Makanan dari Eropa, Asia, dan Indonesia di Mall Gandaria City

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Gaya Hidup

Dalam Balutan Gaun Mini Hitam, Kylie Jenner Mirip Kim Kardashian Banget

Ibu satu anak ini terlihat begitu mirip dengan kakak tirinya, Kim Kardashian.

Image
Gaya Hidup

Ternyata Perempuan Indonesia Merasa Penting Miliki Ketiak Cerah

Melalui sebuah survey, terdapat hubungan antara ketiak dengan self image.

Image
Gaya Hidup

Sea World Ancol Jadi yang Pertama Budidayakan Ubur-ubur di Indonesia

Program budidaya ubur-ubur ini telah dikembangkan sejak tahun lalu.

Image
Gaya Hidup

Keren! Warga Temanggung Diwajibkan Minum Kopi Tiap Jumat

Kopi yang disajikan harus kopi asli Temanggung

Image
Gaya Hidup

3 Strategi Menyusun CV ini Dianggap Jitu, Padahal Wajib Dihindari

Tulis yang memang menjadi capaianmu. Meski tidak terlalu menonjol, tetapi jika itu berasal dari usaha keras, maka personalia akan menimbang.

Image
Gaya Hidup

Festival Kopi Nusantara, Berburu Kopi khas Indonesia di Taman Fatahilla Museum Sejarah Jakarta

Stand kopi Papua paling ramai diserbu pengunjung

Image
Gaya Hidup

3 Pasangan Zodiak yang Diprediksi Miliki Hubungan Paling Langgeng

Aquarius dan Aries sangat menjunjung tinggi keterbukaan, Pisces dan Cancer tak terpisahkan karena selalu saling penuh cinta dan setia.

Image
Gaya Hidup

Ketiak Cerah dapat Tingkatkan Percaya Diri, Rexona Dry Serum Jadi Solusi

Salah satu merek perawatan kulit ketiak ternama di dunia, Rexona kembali berinovasi.

Image
Gaya Hidup

Gaya Hidup Moderen Bikin Banyak Pasangan Malas Berhubungan Intim

Gadget menjadi penghalang besar

Image
Gaya Hidup

Kencani Brondong, Mariah Carey Kenakan Heels Motif Leopard Belasan Juta

Saat Mariah Carey tampil glamor dengan gaun dan tumitnya, Tanaka justru memilih untuk tampil lebih santai.

Banner Mandiri

trending topics

terpopuler

  1. Terungkap! Sebagian Besar Tanah di Ibu Kota Baru Milik Konglomerat Sukanto Tanoto

  2. Warganet: Penetapan Imam Nahrawi sebagai Tersangka Sebetulnya Tidak Mengejutkan

  3. Jadi Tersangka, Harta Imam Nahrawi Mencapai Rp22 Miliar

  4. Ferdinand: Tidak Ada yang Kaget Imam Nahrawi Jadi Tersangka, Harusnya Bulan-bulan Lalu

  5. Yuk Intip! 5 Negara dengan Pertanian Tercanggih di Dunia

  6. Gunung Paling Aktif di Planet Jupiter Diprediksi akan Meletus

  7. Tersangka di KPK, Imam Nahrawi Dipecat dari PKB?

  8. Ditinggal Baim Wong Kerja Saat Hamil, Paula Verhoeven Hanya Dijagain Kucing

  9. KPK Sayangkan Sikap Imam Nahrawi yang Kerap Mangkir dari Pemeriksaan

  10. Imam Nahrawi Jadi Tersangka, Mardani: Korupsi adalah Kejahatan Luar Biasa

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan

kolom

Image
Ujang Komarudin

Gigitan Terakhir KPK

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Image
Achmad Fachrudin

Dinamika Politik Jakarta Paska Pemindahan Ibukota

Image
Abdul Aziz SR

Perempuan dan Jabatan Publik

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

Dari Presiden hingga Ulama, 5 Tokoh Tanah Air yang Masuk Daftar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

Image
News

Tanahnya Dipakai Jadi Ibu Kota Baru Indonesia, Ini 5 Rekam Jejak Sukanto Tanoto

Image
Ekonomi

Mengenal Sukanto Tanoto, Sang Penguasa Lahan HTI Ibu Kota Baru