Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

Kekurangan Zat Besi Ancam Kemampuan Belajar Anak Indonesia

Azhar Ilyas

Kekurangan Zat Besi Ancam Kemampuan Belajar Anak Indonesia

Sejumlah siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 50 Jakarta, Senin (25/3/2019). Peserta UNBK pada tahun ini meningkat menjadi 91 persen dari total peserta ujian nasional yang terdiri dari 1.515.986 peserta siswa SMK dari 13.305 sekolah | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Data Riset Kesehatan Dasar 2018 (Riskesdas) menunjukkan 1 dari 3 anak balita  Indonesia mengalami anemia. Data lain menunjukkan, lebih dari 40 persen anak balita di negara berkembang menderita anemia dan 50-60% kasus anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi.

Kekurangan zat besi adalah kondisi ketika kadar ketersediaan zat besi dalam tubuh lebih sedikit dari kebutuhan harian. Kekurangan zat besi khususnya pada anak memiliki dampak jangka pendek maupun jangka panjang, misalnya gangguan pada perkembangan kognitif, motorik, sensorik serta perilaku dan emosi. Terlebih saat anak memasuki usia sekolah, kekurangan zat besi akan berdampak pada kurangnya konsentrasi saat belajar, ketidakmampuan belajar, hingga perkembangan yang tertunda.

Dijelaskan Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH, ahli Gizi Ibu dan Anak, bahwa zat besi adalah salah satu mikronutrien atau sering juga dikenal sebagai vitamin dan mineral yang sangat penting untuk mendukung kemampuan belajar anak.

baca juga:

“Jutaan anak mengalami pertumbuhan terhambat, keterlambatan kognitif, kekebalan yang lemah dan penyakit akibat defisiensi zat besi. Padahal, anak usia prasekolah membutuhkan dukungan lingkungan yang baik, terutama dukungan gizi seimbang, sehingga orang tua harus mengetahui kebutuhan gizi, cara pemenuhannya, serta upaya perbaikan gizinya. Jika orang tua tidak waspada, dampaknya akan diketahui saat sudah terlambat. Meskipun seorang anak mungkin terlihat kenyang, bisa jadi tubuhnya tengah kelaparan akibat kekurangan zat gizi mikro.” jelas Prof. Fikawati.

Dokumen WHO menyatakan, ada bukti kuat melalui penelitian bahwa kekurangan zat besi terlihat secara meyakinkan menunda perkembangan psikomotor dan mengganggu kinerja kognitif anak prasekolah dan anak usia sekolah di Mesir, India, Indonesia, Thailand, dan Amerika Serikat.

Diperkirakan 30-80% anak di negara berkembang, mengalami kekurangan zat besi pada usia 1 tahun. Anak-anak ini akan mengalami keterlambatan perkembangan kognitif maupun psikomotor, dan ketika mereka mencapai usia sekolah mereka akan mengalami gangguan kinerja dalam tes bahasa keterampilan, keterampilan motorik, dan koordinasi, setara dengan defisit 5 hingga 10 poin dalam IQ.

Ketua HIMPAUDI Pusat, Prof. Dr. Ir. Hj. Netti Herawati, M.Si. membagikan pengalamannya, bahwa proses belajar seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Proses belajar mengajar pada anak usia dini, hendaknya tidak terganggu oleh berbagai masalah, termasuk kendala kesehatan.

“Orangtua dan pendidik harus saling mendukung dalam proses belajar anak, termasuk dalam pendidikan dasar seperti PAUD. Pendidik memberikan materi kepada orangtua untuk diberikan kepada anak, maupun memberi arahan untuk membantu orang tua atau memunculkan ide di dalam pengajaran kepada anak. Sehingga anak dapat bermain hingga keluar imajinasi selama proses belajar. Semua ini bisa tercapai jika anak sehat dan tidak mengalami kekurangan zat besi, sehingga kami selalu meminta agar orang tua memerhatikan asupan bergizi di rumah, untuk mendukung proses belajarnya agar bisa menyerap ilmu dengan optimal,” jelas Prof. Netti.

Penyebab kekurangan zat besi paling banyak disebabkan oleh pola makan tidak seimbang dan adanya gangguan proses penyerapan zat besi.

“Kekurangan mikronutrien memang sering disebut sebagai 'kelaparan tersembunyi' karena dampaknya tidak akan langsung terlihat, namun berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu. Khususnya zat besi, mikronutrien ini berfungsi untuk mengantarkan oksigen ke paru-paru untuk digunakan ke bagian tubuh lainnya. Maka dari itu, orang tua perlu memperhatikan konsumsi zat besi maupun mikronutrien lainnya yang dibutuhkan untuk membantu penyerapan zat besi yang optimal seperti Vitamin C,” jelas Prof. Fikawati.

Ketika anak sudah berusia 1 tahun keatas dan bisa mengonsumsi makanan rumah, orang tua perlu memastikan konsumsi makanan yang mengandung zat besi secara teratur. Zat besi bisa ditemukan pada daging sapi dan ayam, hati, telur, kacang-kacangan, ikan, dan sayuran. Tidak hanya itu, orang tua juga perlu memastikan konsumsi makanan sumber vitamin C untuk mendukung penyerapan zat besi. Kombinasi zat besi dengan vitamin C juga dapat ditemukan pada makanan dan minuman terfortifikasi zat besi dan vitamin C seperti susu pertumbuhan untuk anak di atas 1 tahun.

“Mendukung setiap anak Indonesia agar terpenuhi haknya untuk maju dan berprestasi merupakan tanggung jawab kita bersama. Untuk itu, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia ingin mengajak orang tua untuk bisa memberikan perhatian khusus dalam memastikan kebutuhan harian gizi anak, termasuk zat besi, telah terpenuhi dan terserap dengan baik,” ujar Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin.

Danone Specialized Nutrition Indonesia juga menyediakan sebuah platform daring untuk membantu orang tua bisa melakukan tes risiko terjadinya kekurangan zat besi pada si Kecil melalui fitur di dalam situs www.generasimaju.co.id. Pada situs ini, orang tua juga dapat menemukan serangkaian artikel terkait topik nutrisi termasuk kekurangan zat besi dan bagaimana cara mengatasinya, serta berbagai artikel mengenai tips untuk mendukung anak menjadi Anak Generasi Maju. “Fitur ini diharapkan dapat membantu orang tua mendeteksi kekurangan zat besi pada anak sejak dini dan bagaimana stimulasi yang perlu dilakukan agar dapat mendukung mereka menjadi generasi maju,” tutup Arif.

Editor: Bonifasius Sedu Beribe

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Zat Besi Tubuh Kurang? Konsumsi Makanan Ini ya!

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Gaya Hidup

Ramalan Zodiak tentang Kesehatan Hari Ini, Jumat, 26 Februari 2021, Perhatikan Diri Sendiri Leo!

Simak ramalan zodiak tentang kesehatan hari ini, Jumat, 26 Februari 2021

Image
Gaya Hidup

Penyakit Serius Masih Mengintai, Proteksi Layanan Kesehatan Harus Dimiliki

95,5% masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah

Image
Gaya Hidup

Smart Township di Timur Jakarta, Hunian Idaman di Tahun Kerbau Logam

Sederet kawasan komersial premium dilengkapi dengan cluster hunian berkualitas

Image
Gaya Hidup
Lawan Covid-19

Mandemi Masih Lama, Kesehatan Jiwa Anak Terancam

Orangtua harus paham bahwa dalam parenting ada tiga hal, yaitu edukasi, stimulasi, dan supervisi

Image
Gaya Hidup

Terdampak Pandemi, 20 Objek wisata di Jateng Terpaksa Ditutup

Candi Borobudur dan Dataran Tinggi Dieng telah melakukan pembatasan jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 30 persen

Image
Gaya Hidup

Re.juve dengan Clean Label Hadirkan Juice Sehat untuk Indonesia

Re.juve terbuat dari 100% sayuran organik dan buah-buahan segar berkualitas terbaik dan bebas pestisida

Image
Gaya Hidup

Berwisata Bak di Luar Negeri, Puncak Gundaling Destinasi Wisata Andalan di Tanah karo

Dari Gundaling, wisatawan juga dapak menyaksikan Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung

Image
Gaya Hidup

Manjakan Mata, Pantai Lumban Bulbul Tawarkan Keindahan Pasir Putih

Pantai dengan pesona pasir putih serta pemandangan perbukitan dan pepohonan yang mengelilingi Danau Toba

Image
Gaya Hidup

Taman Eden 100 Tawarkan Konsep Edukasi Wisata Alam

Taman eden 100 memiliki banyak spot sehingga banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sana

Image
Gaya Hidup

Aquascape Jadi Tren, Ini Tips Memulainya di Rumah

Panedmi membuat masyarakat berhadapan dengan banyak keterbatasan, maka membutuhkan hobi yang aman

terpopuler

  1. Dikabarkan Dekat dengan Luna Maya, Ini 5 Fakta Menarik Otis Hahijary

  2. Kadis SDA Didepak, Gembong: Anies Ingin Tunjukan Seolah-olah Dia Serius Tangani Banjir

  3. Belai Rambut Celine Evangelista, Vicky Prasetyo Berdalih Cuma Lagi Sentil Semut

  4. Meski Sudah Meninggal, Jenazah Terpidana Mati Iran ini Tetap Dihukum Gantung

  5. Komisi X Desak Mendikbud Segera Atasi Terlambatnya Pencairan Dana BOS

  6. Gaya Hidupnya Selangit, Kantong 4 Zodiak Ini Bakal Terus Kempes

  7. Butuh Uang di Masa Pandemi? Jenis Utang Ini Bisa Jadi Penolongmu!

  8. Dinyatakan Ilegal oleh OJK, Ini 5 Fakta Menarik Media Sosial Snack Video

  9. Sebut Anies Kelola Anggaran Rp317,59 Triliun, PSI: Harusnya Dipakai Buat Program Pencegahan Banjir

  10. 4 Jenis Investasi Ini Bisa Hasilkan Cuan dalam Jangka Pendek

fokus

Mendorong Pemerataan Ekonomi Secara Digital
Kaleidoskop 2020
Akurat Solusi: Kenaikan Cukai Tembakau
Lawan Covid-19

kolom

Image
Ali Zulfugaroghlu

Genosida Khojaly: Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Image
Ujang Komarudin

Takut Mengkritik

Image
Roosdinal Salim

Mimpi atau Realistis Mencapai 20.000 Kampung Iklim di 2024?

Image
Poetra Adi Soerjo

Pemuda Sumbawa Akui Pemikiran Prof Din Syamsuddin Radikal

Wawancara

Image
Video

VIDEO Jangan Asal Buang, Sampah Elektronik Juga Bahayakan Lingkungan | Akurat Talk

Image
Video

VIDEO Santer Disamakan Dengan Glenn Fredly, Elmatu: Itu Tanggung Jawab Besar | Akurat Talk (4/4)

Image
Video

VIDEO Elmatu Kisahkan Cinta Beda Keyakinan di Lagu “Bukan Dia Untukku” | Akurat Talk (3/4)

Sosok

Image
News

Dikabarkan Dekat dengan Luna Maya, Ini 5 Fakta Menarik Otis Hahijary

Image
News

Profil Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Ady Wibowo

Image
News

Tutup Usia, 5 Fakta Penting Komisaris Independen PT Waskita Karya Viktor Sirait