image
Login / Sign Up
Image

Verawaty Situmeang

Mahasiswa STIKIM

Penyakit Tidak Menular Silent Killer yang Mengintai Kita

Kolom

Image

Petugas saat melakukan pengasapan (fogging) pemukiman warga yang ada di Jalan Delima Raya, Komplek BTN, Kembangan Utara, Jakarta Barat, Selasa (30/4/2019). Pengasapan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui nyamuk Aedes Aegypti saat musim hujan mulai terjadi di Jakarta. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Pada tahun 2016, sekitar 71 persen penyebab kematian di dunia adalah Penyakit Tidak Menular (PTM) yang membunuh 36 juta jiwa per tahun. Sekitar 80 persen kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah. 73% kematian saat ini disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular, 35% diantaranya karena penyakit jantung dan pembuluh darah, 12% oleh penyakit kanker, 6% oleh penyakit pernapasan kronis, 6% karena diabetes, dan 15% disebabkan oleh PTM lainnya (data WHO, 2018).

Keprihatinan terhadap peningkatan prevalensi PTM telah mendorong lahirnya kesepakatan tentang strategi global dalam pencegahan dan pengendalian PTM, khususnya di negara berkembang. PTM telah menjadi isu strategis dalam agenda SDGs 2030 sehingga harus menjadi prioritas pembangunan di setiap negara.

Indonesia saat ini menghadapi beban ganda penyakit, yaitu penyakit menular dan Penyakit Tidak Menular. Perubahan pola penyakit tersebut sangat dipengaruhi transisi demografi, teknologi, ekonomi dan sosial budaya. Peningkatan beban akibat PTM sejalan dengan meningkatnya faktor risiko yang meliputi meningkatnya tekanan darah, gula darah, indeks massa tubuh atau obesitas, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan merokok serta alkohol.

baca juga:

Program Kemenkes lainnya yang disinergikan dengan program PTM utama adalah pengendalian gangguan indera serta yang berfokus pada gangguan penglihatan dan pendengaran serta gangguan disabilitas. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi gangguan pendengaran secara nasional sebesar 2,6% dan prevalensi ketulian sebesar 0,09%. Hasil survei Rapid Assesment of Avoidable Blindness (RAAB) menunjukkan bahwa prevalensi kebutaan atas usia 50 tahun Indonesia berkisar antara 1,7% sampai dengan 4,4%. Dari seluruh orang yang menderita kebutaan, 77,7% kebutaan disebabkan oleh katarak. Penyebab lain dari kebutaan di Indonesia adalah kelainan di segmen posterior bola mata (6%), glaucoma (2,9%), dan kelainan refraksi yang tidak terkoreksi (2,3%). Pada prevalensi gangguan pendengaran ditemukan 2,6 % dan ketulian sebesar 0,09 %. Sedangkan pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 disebutkan prevalensi disabilitas pada penduduk umur 18 – 59 tahun sebesar 22%.

Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada indikator-indikator kunci PTM yang tercantum dalam RPJMN 2015-2019, antara lain: Prevalensi tekanan darah tinggi pada penduduk usia 18 tahun keatas meningkat dari 25,8% menjadi 34,1%; Prevalensi obesitas penduduk usia 18 tahun ke atas meningkat dari 14,8 % menjadi 21,8%; Prevalensi merokok penduduk usia ≤18 tahun meningkat dari 7,2%. menjadi 9,1%.

Meningkatnya kasus PTM secara signifikan diperkirakan akan menambah beban masyarakat dan pemerintah, karena penanganannya membutuhkan biaya yang besar dan memerlukan teknologi tinggi. Hal ini dapat terlihat dari data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) tahun 2017, sebanyak 10.801.787 juta orang atau 5,7% peserta JKN mendapat pelayanan untuk penyakit katastropik dan menghabiskan biaya kesehatan sebesar 14,6 triliun rupiah atau 21,8% dari seluruh biaya pelayanan kesehatan dengan komposisi peringkat penyakit jantung sebesar 50,9% atau 7,4 triliun, penyakit ginjal kronik sebesar 17,7% atau 2,6 triliun rupiah.

Untuk itu, dibutuhkan komitmen bersama dalam menurunkan morbiditas, mortalitas dan disabilitas PTM melalui intensikasi pencegahan dan pengendalian menuju Indonesia Sehat, sehingga perlu adanya pemahaman yang optimal serta menyeluruh tentang besarnya permasalahan PTM dan faktor risikonya pada semua pengelola program disetiap jenjang pengambil kebijakan dan lini pelaksanaan. Atas dasar hal tersebut di atas, maka dipandang sangat penting untuk diterbitkannya Pedoman Manajemen Program Pencegahan dan Pengendalian PTM (P2PTM) sebagai acuan penyelenggaraan program yang berkesinambungan sehingga upaya yang dilakukan kepada masyarakat lebih tepat dan berhasil guna meskipun pejabat pengelola program yang ditunjuk nantinya juga akan berganti.

Meningkatnya kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) secara signifikan akan menambah beban masyarakat dan pemerintah, karena penanganannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar, biaya yang besar dan teknologi tinggi. Kasus PTM memang tidak ditularkan namun mematikan dan mengakibatkan individu menjadi tidak atau kurang produktif namun PTM dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko melalui deteksi dini.

Deteksi dini faktor risiko PTM dapat dilakukan di Posbindu. Posbindu adalah upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan di pos pembinaan terpadu (Posbindu). Dimana Kegiatan meliputi Posbindu meliputi pengukuran tekanan darah, pengukuran gula darah, pengukuran indeks massa tubuh, wawancara perilaku berisiko dan edukasi perilaku gaya hidup sehat.

Sasaran dari program deteksi dini di Posbindu adalah setiap warga negara berusia 15 tahun keatas di suatu desa/kelurahan/institusi. Sasaran pemeriksaan gula darah adalah setiap warga negara berusia 40 tahun ke atas atau kurang dari 40 tahun yang memiliki faktor risiko obesitas dan atau hipertens. Oleh karena itu dengan adanya program deteksi dini faktor resiko PTM di Posbindu dapat terlaksana guna pencegahan obesitas sebagai faktor risiko PTM.

Masyarakat yang sehat merupakan aset yang sangat penting bagi suatu bangsa. Harapan akan munculnya generasi bangsa yang berkualitas bisa dimulai dengan menerapkan gaya hidup sehat di dalam keluarga. Gaya hidup sehat bisa mencegah hadirnya berbagai Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti jantung, stroke dan kencing manis. Meskipun tidak menular, ketiga penyakit ini dikategorikan sebagai lima penyakit yang banyak terjadi di Indonesia.

Faktanya, hanya 30 persen penderita PTM yang terdeteksi. Namun, dari jumlah tersebut hanya 30 persen penderita yang melakukan pengobatan. Sisa dari jumlah tersebut terdiagnosa pasca serangan penyakit terjadi.

World Health Organization (WHO) menyebutkan, 51 persen penyebab kematian di dunia adalah stroke. Sedangkan, 45 persen lainnya adalah jantung. Meski tak menular, kedua penyakit ini disebut juga sebagai silent killer (pembunuh dalam diam). Seiring dengan fenomena tersebut, melalui INPRES No.1 Tahun 2017, pemerintah telah menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Gerakan ini merupakan suatu tindakan yang melibatkan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Tindakan tersebut meliputi kegiatan seperti; tidak merokok, melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan dan menggunakan jamban.

Selain Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, masyarakat juga harus mulai untuk membiasakan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang sekaligus menjadikannya sebagai suatu kebutuhan. “Kebiasaan makan dengan gizi seimbang yang semula adalah pilihan, lama-kelaman menjadi kebiasaan dan tanpa disadari menjadi gaya hidup,” jelasnya. Dirinya menambahkan, masyarakat dengan usia produktif (18-35 tahun) adalah mereka yang harus menjaga pola makan seimbang. Hal ini sangat penting mengingat tingginya tingkat kesibukan, terutama bagi masyarakat di perkotaan. Menurutnya, bijaksana dalam mengaji informasi kesehatan, mengonsumsi buah dan sayuran dalam 4-5 porsi per hari serta rutin melakukan olahraga bisa menurunkan angka kematian akibat PTM.[]  

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

PKS dan Sindiran Partai Oposisi

Image

News

Kolom

Analisis Komunikasi Penanganan Covid-19

Image

Ekonomi

Kolom

Omnibus Law dan Kuasa Kaum Kapitalis

Image

News

Kolom

Covid-19, Media dan Kekuasaan

Image

News

Kolom

Pandemi Covid-19 dan Keseimbangan Kekuasaan dalam Budaya Jawa Tradisional

Image

News

Kolom

Pilkada di Tengah Corona

Image

News

Kolom

Alturisme

Image

Ekonomi

Investasi dan Hakikat Pembangunan

Image

News

Kolom

Kaum Miskin di Tengah Badai Virus Corona

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Beberapa Gejala Virus Corona yang Masih Jarang Diketahui

Ada beberapa gejala Covid-19 yang kurang dibahas, sehingga masih banyak belum diketahui.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Sayang Membuang Sisa Bahan Makanan? Coba Buat Camilan Selama Karantina Mandiri

langkah terbaiknya adalah memasak secukupnya saja.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Ahli Prediksi Pandemi Seperti Virus Corona Akan Ada Lagi, Jika ....

Virus corona atau Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir yang akan dihadapi umat manusia.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Tapai, Kurma dan Jahe yang Baik Tuk Imunitas Tubuh Ala Dokter Zaidul Akbar

Lewat akun instagram pribadinya, ia pun membagikan resep secara cuma-cuma.

Image
Gaya Hidup

Tidur Siang Bikin Tambah Gemuk, Mitos atau Fakta?

Sebetulnya bukan tidur siangnya yang menyebabkan kenaikan berat badan.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Baik Tuk Kekebalan Tubuh, Masak dengan Bahan dasar Kentang Yuk!

Ada empat menu lezat dengan bahan dasar kentang.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Ketahui Manfaat Lain Susu Gandum yang Baik Tuk Kekebalan Tubuh

Oat merupakan gandum yang sehat dan umumnya dimakan sebagai salah satu bahan sereal yang ditambahkan dengan susu.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Tak Perlu Selalu Was-was, Begini Cara Bedakan Batuk Gejala Virus Corona Atau Bukan

Batuk kering adalah batuk yang tidak memunculkan lendir dan karenanya disebut sebagai batuk tidak produktif.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Pandemi Corona, Okupansi Perhotelan di Bandung Turun Sampai 50%

Bahkan ada jaringan perhotelan yang menutup operasionalnya.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Swiss-Belresort Dago Heritage Berikan Promo Safecation Package

Harga dimulai dari Rp600 Ribu per Net/Malam.

terpopuler

  1. Babe Haikal: Mohon Banget, Berhenti Jadi Pejabat Publik Kalau Gak Mau Dikritik

  2. Puji Luhut, Ruhut Sitompul: Yang Menggonggong Hanya Cari Panggung

  3. Yasonna: Yang Tidak Terima Napi Dibebaskan Tumpul Rasa Kemanusiaannya

  4. Politisi Demokrat Tanggapi Pernyataan Luhut: Bahaya! Tindakan akan Diambil Seadanya, yang Mati Terus Bertambah

  5. 5 Potret Romantis Pre-Wedding Pemain Borneo M Diky & Pevoli Putri Nasional Mutiara, Awas Kena Smash!

  6. Imbauan Buat Muslim, Khususnya Anggota PA 212 dan Laskar FPI, Jelang Bulan Puasa di Tengah Wabah Corona

  7. Maria Ozawa Beri Imbauan Khusus untuk Masyarakat Indonesia: Jangan Keluar... Tetap di Dalam

  8. Dikabarkan Bangkrut Akibat Narkoba, Begini Penjelasan Keluarga Roro Fitria

  9. Penerapan Physical Discanting di Pasar Swalayan

  10. Ridwan Kamil Unggah Tabel Nama Pria 'Tukang Selingkuh', Ada Namamu?

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
Abdul Aziz SR

PKS dan Sindiran Partai Oposisi

Image
Achmad Fachrudin

Analisis Komunikasi Penanganan Covid-19

Image
UJANG KOMARUDIN

COVID-19 dan Kita

Image
Dr. Idham Holik

Sebuah Harapan Pribadi: PERPPU Pemilihan Segera Terbit dan Opsi A Jadi Pilihan

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
News

Jarang Tersorot, 8 Potret Istri Wakil Bupati Luwu Timur, Anny Ali

Image
News

Siapkan Akomodasi Bagi Tim Medis, 8 Potret Wali Kota Bandung Turun Langsung Perangi Virus Corona

Image
News

Sister Goals! 8 Potret Najwa Shihab Bersama Kakak dan Adik Perempuannya