image
Login / Sign Up

Memotret Toleransi Bangka Belitung dari Klenteng Jaya Bhakti Desa Rebo

Bonifasius Sedu Beribe

Image

Klenteng Jaya Bakhti, Desa Rebo, Sungailiat, Pulau Bangka, Bangka Belitung | AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe

AKURAT.CO, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat terkenal dengan spot wisatanya yang sangat memukau. Disamping pantai dengan susunan bebatuan koral yang mengagumkan, bentangan alamnya pun begitu memanjakan mata. Ya, meski disana sini, banyak areal bekas tambang timah masih membekas di sana.

Dua pulau besar di provinsi kepulauan ini sudah lama terkenal sebagai pusat timah terbesar Indonesia, yang sejak zaman pendudukan Belanda sudah menjadi komoditi yang menggiurkan.

Berbicara timah dan Belanda, ada sejarah lama yang harus kamu tahu.

baca juga:

Apalagi, ketika melihat masyarakat etnis Tionghoa yang tersebar begitu merata, tinggal dan menetap sebagai pribumi Indonesia di tempat ini. Ya, timah adalah alasan warga keturunan Tionghoa menetap di Bangka, khususnya, hingga saat ini.

Di ibukota, Pangkalpinang, kawasan Pecinan yang dihuni etnis Tonghoa nyaris tersebar merata di semua penjurunya. Mereka berada di sini, beranak cucu sejak berabad-abad lalu, dan terus mewariskan budaya leluhur mereka dari dua etnis berbeda dari Guangzhou, yakni suku Hakka atau Khek, dan suku Hokian yang disebut orang Bangka sebagai orang Hoklo.

Klenteng Jaya Bakhti, Desa Rebo, Sungailiat, Pulau Bangka, Bangka Belitung. AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe

Asal muasalnya, dari sejak tahun 1709.

Saat itu, wilayah Bangka Belitung masih menjadi wilayah Kesultanan Palembang Darusalam. Di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago, sultan mendatangkan orang-orang Tiongkok untuk menjadi pekerja tambang timah untuk menggenapi quota timah yang disepakati sultan dengan serikat dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang pengerjaannya dimulai pada tahun 1710.

Dan semenjak 1946, saat Jepang mengambil alih Indonesia dari Belanda, tak banyak warga Tonghoa yang kembali ke negeri asalnya. Mereka yang sudah menikahi warga lokal dan memiliki keturunan, akhirnya menetap sampai hari ini.

Latar sejarah itulah yang menjadaikan Bangka Belitung sebagai salah satu provinsi paling toleran di Indonesia.

Empat etnik grup yang adalah pribumi darat, pribumi laut, Tinghoa dan Melayu, hidup damai berdampingan sejak ratusan tahun lalu. Mereka berlatar agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, menyatu, melebur sama.

Desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, adalah salah satu kawasan Pecinan tua di Bangka Belitung. Desa dengan luas 19,00 Km² ini ditinggali mayoritas orang keturunan Tionghoa, yang mendominasi sekitar 95 persen. Setiap rumah memiliki “Ci” atau rumah abu, tempat dipersemayamkannya abu para leluhur, atau orang tua yang sudah meninggal. Bangunan “Ci” ini dipisahkan dari rumah utama, ditempatkan di sisi kiri atau kanan halaman rumah.

Klenteng Jaya Bakhti, Desa Rebo, Sungailiat, Pulau Bangka, Bangka Belitung. AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe

Kebanyakan rumah mereka juga dihiasi dengan pernak-pernik merah dan guratan warna emas seperti lampion dan aksara China selalu ada di sana. Warga desa ini dulu adalah penambang timah pada masa lampau, yang kini berkebun, beternak dan tentu berdagang.

Di desa ini pulalah, berdiri Klenteng Jaya Bhakti, salah satu klenteng yang diklaim termegah di Bangka. Klenteng ini adalah tempat persembahyangan umat Konghucu, setiap harinya.

Rona merah menyala dengan ornamen khas Tiongkok klasik menyambut AkuratTravel saat mengunjunginya pada pekan kedua, Februari lalu. Bangunan ini kental dengan aksara China, dengan wewangian dupa semerbak, tercium sejak dari pintu masuk.

Saat perayaan hari besar tiba seperti Imlek atau Sembahyang Rebut, klenteng ini menjadi titik fokus utama, pusat masyarakat Rebo dan beberapa desa lain di sekitarnya berkumpul untuk berdoa dan bersilahturahmi.

Menghabiskan dana sekitar 2 miliar rupiah saat pembangunannya yang memakan waktu sekitar 2 tahun, Klenteng Jaya Bhakti menjadikan Thai Pak Kung (Tapekong/Dewa Bumi) sebagai dewa utama atau tuan rumah. Ini berbeda dengan kebanyakan klenteng lain yang menempatkan Kuan Kung (Kwan Kung) atau yang lainnya, Dewi Kwan Im, sebagai fokusnya.

Klenteng Jaya Bhakti yang berdiri megah hari ini, diresmikan pemakaiannya pada 2009 lalu, bertepatan dengan ulang tahun Thai Pak Kung yang dilaksanakan setiap tanggal 2 bulan 2 tahun penanggalan China (Ngi Ngiat Ngi) pada kalender Imlek.

“Dibangun atas swadaya dan sumbangan warga Rebo yang mencari dana ke banyak tokoh Bangka, khususnya dari Desa Rebo, yang merantau ke luar daerah. Penyumbangnya ada beberapa, termasuk Pak Yudhi Fu,” kata Eric Ku, Ketua Pengurus Klenteng Jaya Bhakti, yang menerima kunjungan kami sore itu.

Klenteng Jaya Bakhti, Desa Rebo, Sungailiat, Pulau Bangka, Bangka Belitung. AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe

Eric yang ditemani beberapa pengurus klenteng menuturkan bahwa bangunan yang ada sekarang ini adalah bentuk baru dari bangunan asal, yang sudah ada sejak tahun 1975. Bangunan asal itu terdiri dari tiga buah bangunan kecil secara terpisah, yang menempatkan Thian Sin, Dewa Hok Tek Ceng Sin (Tapekong), Dewi Thaipak Pho, Dewi Kwan Im, Nabi Kongfucu, dan Dewa Thu Thi Kong di dalamnya.

“Saat pembangunan klenteng yang baru, baru ditambah satu dewa lagi, Dewa Kwan Kong. Yang lain tetap ada,” runutnya.

Jika dipandang dari kejauhan, klenteng ini laksana dijaga dua ekor naga emas yang saling bersabung. Ornamen naga yang dipasang di atas bubungan gerbang klenteng dan juga sepasang lagi di atas bangunan utama ini adalah salah satu ornamen termahalnya.

Memasuki halaman depannya yang luas, ada kuil kucil yang menurut kepercayaan adalah tempat untuk bersembahyang kepada Tuhan. Kuil ini yang paling pertama harus menjadi tempat doa, sebelum berdoa kepada para dewa yang berda di dalam bangunan utama klenteng.

“Aturannya, ini lebih besar. Ini untuk Tuhan. Yang paling pertama harus di sini doanya, sebelum masuk ke sana,” jelas Eric Ku.

Saat menginjakan kaki di jenang pintu utama klenteng, umat harus meminta izin terlebih dahulu kepada dua penjaga pintu yang patungnya ada di sisi kiri dan kanan pintu masuk. Keduanya disebut Mun Shin, atau penjaga pintu; dengan tombak di tangan dan panah yang dijuntaikan pada tubuhnya.

Klenteng Jaya Bakhti, Desa Rebo, Sungailiat, Pulau Bangka, Bangka Belitung. AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe

Di dalam Klenteng Jaya Bhakti ini, banyak patung dewa yang ditatak di berbagai sudutnya, lengkap dengan pelataran kecil untuk bersembahyang, dengan dupa yang terus mengeluarkan wewangian pekat. Ada juga sebuah kolam ikan koi yang dibangun di bidang paling tengah.

Klenteng ini peruntukkannya dibuat sama seperti klenteng lainnya, yang terdiri dari empat bagian utama, yakni Halaman Depan, Ruang Suci Utama, Bangunan Samping dan Bangunan Tambahan. Perlu kamu tahu bahwa ruang utama dalam klenteng tidak plong seperti masjid atau gereja, yang dapat menampung ratusan bahkan ribuan umat sekaligus. Karena, tata cara berdoa di klenteng adalah perorangan, dan bisa dilakukan kapan saja oleh setiap orang.

“Untuk kelas Indonesia, ornamen klenteng ini termasuk mewah,” sambung Eric.

Klenteng akan menjadi pusat berkumpul umat pada saat hari-hari besar seperti Sembahyang Rebut, atau Imlek. Bisanya, di Klenteng Jaya Bhakti Rebo, menjadikan hari ulang tahun Thai Pak Kung sebagai hari besar, yang juga diperingati secara meriah dan massal.

Para perantau biasanya diajak pulang kampung saat perayaan ini. Mereka memulai sembahyang pada jam lima pagi, dan atraksi barongsai akan dipentaskan pada siangnya. Acara lalu disambung pada malam harinya dengan aneka hiburan; nyanyian dan tarian rakyat.

Tata cara sembahyang dan atraksi dalam pesta hari-hari besar umat Konghucu ini merepresentasikan harmonisasi yang selaras dengan umat dari suku dan agama lain yang mendiami Bangka.

Klenteng Jaya Bakhti, Desa Rebo, Sungailiat, Pulau Bangka, Bangka Belitung. AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe

Keselarasan antara hidup manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan manusia juga tak hanya terlihat pada hari-hari besar saja. Dalam kesahajaannya, warga keturunan Tionghoa Desa Rebo dan Bangka pada umumnya, juga sangat menyatu dengan warga lain. Akulturasi budaya yang sangat kental, sudah berlangsung lama. Jauh, menembus masuk sampai ke cita rasa kuliner Tinghoa dan Melayu yang berpadu satu di sini.

Salah satu representasi kecil lainnya adalah dari gerakan dasar barongsai yang berasal dari beladiri Kung Fu itu, mengisyaratkan kekompakan dan keselarasan untuk tujuan bersama, sebagai kuncinya.

“Banyak yang berkunjung ke sini. Yang Muslim, Kristen juga banyak, hanya untuk lihat-lihat atau foto-foto, karena bangunan dan ornamennya unik,” tutup Eric.[]

Editor: Irma Fauzia

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Bangka Makin Fokus dengan Pariwisata

Image

Gaya Hidup

Tanjung Gunung Babel Makin Siap Jadi KEK Pariwisata

Image

Gaya Hidup

Jokowi Mau Pariwisata Bangka Belitung Makin Kuat

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Sayang Membuang Sisa Bahan Makanan? Coba Buat Camilan Selama Karantina Mandiri

langkah terbaiknya adalah memasak secukupnya saja.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Ahli Prediksi Pandemi Seperti Virus Corona Akan Ada Lagi, Jika ....

Virus corona atau Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir yang akan dihadapi umat manusia.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Tapai, Kurma dan Jahe yang Baik Tuk Imunitas Tubuh Ala Dokter Zaidul Akbar

Lewat akun instagram pribadinya, ia pun membagikan resep secara cuma-cuma.

Image
Gaya Hidup

Tidur Siang Bikin Tambah Gemuk, Mitos atau Fakta?

Sebetulnya bukan tidur siangnya yang menyebabkan kenaikan berat badan.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Baik Tuk Kekebalan Tubuh, Masak dengan Bahan dasar Kentang Yuk!

Ada empat menu lezat dengan bahan dasar kentang.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Ketahui Manfaat Lain Susu Gandum yang Baik Tuk Kekebalan Tubuh

Oat merupakan gandum yang sehat dan umumnya dimakan sebagai salah satu bahan sereal yang ditambahkan dengan susu.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Tak Perlu Selalu Was-was, Begini Cara Bedakan Batuk Gejala Virus Corona Atau Bukan

Batuk kering adalah batuk yang tidak memunculkan lendir dan karenanya disebut sebagai batuk tidak produktif.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Pandemi Corona, Okupansi Perhotelan di Bandung Turun Sampai 50%

Bahkan ada jaringan perhotelan yang menutup operasionalnya.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Swiss-Belresort Dago Heritage Berikan Promo Safecation Package

Harga dimulai dari Rp600 Ribu per Net/Malam.

Image
Gaya Hidup
Wabah Corona

Tenang, Penularan Covid-19 Melalui Koran Sangat Rendah

Memegang koran bukan satu-satunya media yang bisa menyebarkan atau menularkan virus corona Covid-19 antar manusia.

terpopuler

  1. Masduki Sebut Yusril Negarawan Sejati di Tengah Wabah COVID-19

  2. Menteri Luhut vs Said Didu, Ferdinand ke Habiburokhman: Bib Pidana Itu Pilihan Terakhir

  3. Babe Haikal: Mohon Banget, Berhenti Jadi Pejabat Publik Kalau Gak Mau Dikritik

  4. Arminsyah di Mata Sang Anak: Ayah Saya Selalu Katakan 'Setiap Kesulitan Selalu Ada Kemudahan'

  5. Yunarto Wijaya: LBP vs Said Didu Ini Super Gak Penting

  6. Yasonna: Yang Tidak Terima Napi Dibebaskan Tumpul Rasa Kemanusiaannya

  7. Tak Perlu Selalu Was-was, Begini Cara Bedakan Batuk Gejala Virus Corona Atau Bukan

  8. Politisi Demokrat Tanggapi Pernyataan Luhut: Bahaya! Tindakan akan Diambil Seadanya, yang Mati Terus Bertambah

  9. Puji Luhut, Ruhut Sitompul: Yang Menggonggong Hanya Cari Panggung

  10. 5 Potret Romantis Pre-Wedding Pemain Borneo M Diky & Pevoli Putri Nasional Mutiara, Awas Kena Smash!

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

COVID-19 dan Kita

Image
Dr. Idham Holik

Sebuah Harapan Pribadi: PERPPU Pemilihan Segera Terbit dan Opsi A Jadi Pilihan

Image
Achsanul Qosasi

Corona, Subsistensi dan Kredit

Image
Bisman Bhaktiar

Aspek Hukum Perpanjangan Pengusahaan Pertambangan Batubara PKP2B

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
News

Jarang Tersorot, 8 Potret Istri Wakil Bupati Luwu Timur, Anny Ali

Image
News

Siapkan Akomodasi Bagi Tim Medis, 8 Potret Wali Kota Bandung Turun Langsung Perangi Virus Corona

Image
News

Sister Goals! 8 Potret Najwa Shihab Bersama Kakak dan Adik Perempuannya