Ekonomi

Garuda Indonesia Kembalikan 20 Unit Pesawat ke Penyewa

Sebanyak 20 pesawat telah dikembalikan oleh Garuda Indonesia kepada lessor atau pihak penyewa pesawat.


Garuda Indonesia Kembalikan 20 Unit Pesawat ke Penyewa
Pesawat maskapai Garuda bersiap mendarat di kawasan terminal 3 yang juga dalam pengerjaan proyek runway dan taxiway, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (21/6). Pembangunan runway ketiga ini membutuhkan tanah seluas 216 hektare di mana seluas 49 hektare sudah dimiliki PT Angkasa Pura II selaku operator Bandara Soekarno-Hatta. Runway ketiga memiliki dimensi 3.000 x 60 m2 dan membutuhkan investasi sekitar Rp 1,7 triliun khusus untuk konstruksi. Adanya runway ketiga ini akan membuat pe (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Sebanyak 20 pesawat telah dikembalikan oleh Garuda Indonesia kepada lessor atau pihak penyewa pesawat. Hal ini merupakan langkah untuk menyehatkan keuangan maskapai pelat merah itu.

"Termasuk CRJ hari ini, secara total kurang lebih 20 pesawat yang sudah kami kembalikan (ke lessor)," ungkap Wakil Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Dony Oskaria di Jakarta, Selasa (22/6/2021). 

Ia mengatakan, negosiasi dengan pihak lessor terus dilakukan untuk mengurangi beban sewa pesawat yang harus dibayarkan perseroan setiap bulannya, mengingat tak banyak pesawat yang perlu digunakan pada masa pandemi saat ini. 

Dony bilang, yang sedang berproses saat ini yakni Garuda Indonesia tengah negosiasi dengan salah satu lessor dengan harapan sebanyak 7 pesawat bisa dikembalikan. 

Garuda Indonesia diketahui memiliki 142 pesawat, yakni sebanyak 136 pesawat dengan status sewa dan 6 pesawat milik perseroan. 

Terdiri dari jenis pesawat Boeing 777-300, Boeing 737-800, Boeing 737-8 Max, Airbus A330-200, Airbus A330-300, Airbus A330-900, CRJ1000 NextGen, dan ATR 72-600.

Dony mengatakan, pada kondisi pandemi saat ini Garuda Indonesia hanya membutuhkan 41 pesawat untuk beroperasi. Artinya maskapai milik negara itu berharap bisa mengembalikan 101 pesawat kepada lessor untuk tak membebani keuangan perseroan. 

Ia menjelaskan, permasalahan awal yang harus segera diselesaikan untuk menyehatkan Garuda Indonesia adalah lessor. Sebanyak 142 pesawat Garuda Indonesia menjadi biaya tetap atau fixed cost yang harus dibayarkan perseroan setiap bulannya sebesar US$80 juta. 

Menurut Dony, beban biaya leasing menjadi yang terbesar yakni US$56 juta. Nilai ini bahkan sudah berhasil ditekan dari sebelumnya yang mencapai US$75 juta per bulan, hasil negosiasi ke lessor di tahun 2020.

"Wajib kami bayar yang jadi fixed cost ini dengan total cost yang termasuk didalamnya adalah leasing cost, MR (maintenance reserve) cost, juga ada maintenance yang harus kami siapkan kurang lebih US$80 juta per bulan," jelas dia.

"Tapi kapasitas penumpang yang ada untuk size market hari ini hanya 41 pesawat cukup. Sehingga Garuda Indonesia menanggung 101 pesawat yang sebetulnya hari ini tidak kami perlukan tetapi secara buku kami catat. Selisihnya saja antara kedua ini kurang lebih US$40 juta sendiri," lanjut Dony. 

Oleh sebab itu, kata dia, sebanyak 101 pesawat yang tak menghasilkan pendapatan tersebut harus tetap menjadi tanggungan perseroan setiap bulannya bila tak dilakukan negosiasi segera dengan pihak lessor. 

Lewat negosiasi dengan lessor diharapkan bisa mendapatkan tiga opsi, yakni dapat dilakukan early termination atau pengembalian pesawat lebih awal dari kontrak, lease holiday atau penundaan pembayaran sewa pesawat, serta pay by the hour atau membayar sesuai jam penggunaan pesawat. 

"Jadi kalau enggak dilakukan langkah apapun (terhadap lessor), pasti akan tetap rugi Rp 1 triliun setiap bulan kalau ini enggak ditutupi," kata dia. 

Maka dari itu, Dony menekankan, fokus perseroan saat ini adalah menyelesaikan negosiasi dengan para lessor untuk menyehatkan Garuda Indonesia, sebab tak akan bisa jika hanya sekedar pemerintah memberikan suntikan dana melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). 

Ia bilang, apapun penyelesaian yang dilakukan selama perseroan tidak menutupi ini, meskipun kami diberi PMN pun, artinya akan tetap rugi Rp1 triliun terus, maka hal ini yang harus diobati adalah bagaimana menutup sumber kerugian ini.

"Ini sudah kami lakukan, tetapi memang proses negosisasi itu enggak mudah. Kami ingin pesawat ini 'maaf kita sudah tidak pakai lagi'. Ini ada 101 pesawat yang kami ingin kembalikan, tetapi dalam proses ini tentu butuh waktu, ini yang sedang bergulir kami lakukan," pungkas Dony. []