Ekonomi

Garuda Akur dengan Sriwijaya, tapi Kok Saham GIAA Lesu?

Garuda Akur dengan Sriwijaya, tapi Kok Saham GIAA Lesu?
Seorang karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (8/8/2018). Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatannya pada pra pembukaan perdagangan saham, IHSG turun tipis 1,12 poin atau 0,02 persen ke posisi 6.100,003. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG berbalik arah dan menguat 8,702 poin atau 0,14 persen ke posisi 6.109,833. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Kisruh antara Garuda Indonesia dengan Sriwijaya Air berakhir siang ini setelah kedua maskapai sepakat untuk kembali kerjasama manajemen (KSM).

Namun, harga saham Garuda (GIAA) ditutup lesu 5 poin atau 0,98% ke Rp505 per lembar saham. Meskipun lesu, siang hari ditengah pengumuman, GIAA sempat bergerak menghijau hingga Rp520 per lembar saham. Lesunya saham ini terjadi sejak seminggu yang lalu, pada 25/09/2019, mencapai 2,88%.

Lesunya GIAA, menurut direktur utama Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, disebabkan oleh gejolak demonstrasi dan sikap apatisnya pasar pada kerjasama tersebut ditengah pergantian menteri BUMN diperiode kedua Jokowi.

baca juga:

"Turunnya harga saham GIAA diakibatkan oleh krisis dalam negeri terkait demonstrasi," kata Ibrahim kepada Akurat.co, Selasa (1/10/2019).

Garuda, tambah Ibrahim, dari awal sudah memberikan sinyal untuk menghentikan kerjasama dengan Sriwijaya. Penghentian Sriwijaya itu karena keadaan finansial di Garuda memiliki masalah sehingga ada upaya untuk membenahi manajemen di Garuda.

Sementara, Ibrahim mengatakan, timing belum tepat sehingga kerjasama diteruskan. Kondisi saat ini memang masih penuh ketidakpastian ditengah adanya periode kedua Jokowi, dimana menteri BUMN bisa saja mengalami pergantian.

Diteruskannya kerjasama inipun tak luput dari intervensi pemerintah. Sehingga, KSM ini bisa dianggap angin lalu.

Selain demonstrasi dalam negeri, demonstrasi di HongKong yang makin ricuh pun turut memengaruhi penurunan saham Garuda.

Selain itu, terdapat ketidakpastian Brexit ditengah keharusan Inggris untuk memberitahu apakah benar-benar keluar dari Uni Eropa atau tidak pada bulan Oktober ini. Keadaan ini membuat asing keluar dari Indonesia.

Sebelumnya, Sriwijaya dikabarkan mendepak direksi Garuda untuk dilakukan "pembersihan". Orang-orang Garuda tersebut antara lain, Josep Adrian Saul dicopot dari jabatan Direktur Utama Sriwijaya Air, Harkandri M Dahler selaku Direktur Human Capital and Service Sriwijaya Air, dan Joseph K Tendean selaku Direktur Komersial Sriwijaya Air juga ikut dicopot.

Namun, kedua pihak kini telah kembali bekerjasama lantaran untuk menjaga aspek keamanan pesawat Sriwijaya Air sehingga tetap layak terbang, memprioritaskan kepentingan pelanggan, Sriwijaya Air juga merupakan aset negara perlu diselamatkan, dan menjaga ekosistem penerbangan di Indonesia. []