News

Gara-gara Pembatasan COVID-19 dari Nepal, Para Pendaki Everest Terancam Tak Bisa Pulang

Nepal yang berbatasan dengan China dan India, kini sedang dihantam gelombang kedua COVID-19 yang mematikan.


Gara-gara Pembatasan COVID-19 dari Nepal, Para Pendaki Everest Terancam Tak Bisa Pulang
Saat ini, ada ratusan pendaki yang tengah mengadakan perjalanan pulang dari Pegunungan Himalaya. (AFP )

AKURAT.CO, Para pendaki yang kembali dari Gunung Everest dan puncak Himalaya lainnya tengah berjuang keras untuk menemukan cara kembali ke negara asal. Diketahui, mereka terancam tak bisa pulang lantaran Nepal telah melarang sebagian besar perjalanan udara karena masalah lonjakan kasus virus corona.

Kondisi memprihatinkan dari para pendaki itu diungkap langsung oleh perusahaan petualangan komersial yang berbasis di Kathmandu, Seven Summit Treks, Rabu (2/8) waktu seempat.

Pejabat Seven Summit Treks, Tashi Lakpa Sherpa, mengatakan para pendaki kesulitan untuk pulang karena hanya lima penerbangan mingguan ke India, Qatar dan Turki yang beroperasi. 

"Situasi dapat memburuk karena lebih banyak pendaki mengakhiri ekspedisi dan harus kembali ke Kathmandu dalam beberapa hari ke depan," kata Sherpa kepada Reuters.

Nepal yang berbatasan dengan China dan India, kini sedang dihantam gelombang kedua COVID-19 yang mematikan. Karena situasi itulah, negara Himalaya tersebut memutuskan untuk menutup sebagian besar penerbangan internasional reguler setidaknya hingga bulan ini. 

Padahal sebelumnya, Nepal sempat mengeluarkan 742 izin, termasuk 408 di antaranya ditujukan untuk pendaki yang ingin mencapai puncak Everest pada musim pendakian April-Mei. Sementara sekarang,  ada ratusan pendaki yang tengah mengadakan perjalanan pulang dari pegunungan sebelum awal musim hujan tahunan.

Kesulitan untuk pulang dari Nepal ikut dirasakan oleh salah satu pendaki asal Amerika Serikat bernama Andrew Hughes. Hughes mengaku harus membayar tiket mahal demi bisa menyewa penerbangan carteran ke Qatar pada Rabu malam karena terbatasnya penerbangan reguler.

"Kami menemukan diri kami dalam situasi di mana tidak ada transparansi atau alasan untuk larangan penerbangan keluar bagi warga negara asing," kata Hughes.

Hal yang hampir sama juga diungkap oleh pendaki Meksiko, Viridiana Alvarez. Diketahui, Alvarez sampai terdampar di Nepal selama hampir tiga minggu setelah mendaki Gunung Annapurna yang jadi puncak tertinggi kesepuluh di dunia. 

Kendati demikian, Alvarez mengaku beruntung lantaran masih bisa menemukan tempat duduk di penerbangan carteran.

"Tidak ada alasan untuk berada di sini karena tidak ada pendakian... sedikit membosankan," kata Alvarez (38) yang juga terbang ke Qatar pada Rabu malam waktu setempat.

Namun, meski dihadapkan pada keluhan dari warga asing, pemerintah Nepal tetap membela keputusannya. Ini terutama karena alasan pencegahan penularan virus corona. Nepal juga terlihat menyebut bagaimana pemerintahannya masih 'baik hati' karena membiarkan beberapa penerbangan tetap beroperasi.

"Daripada tidak ada penerbangan sama sekali, saya pikir ini sudah cukup untuk saat ini. Jika diperlukan, kami akan mengizinkan lebih banyak penerbangan carter," ucap juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Nepal, Raj Kumar Chettri.[]