News

Gara-gara Invansi Rusia, Finlandia dan Swedia Putuskan Gabung dengan NATO, Turki Sewot

Gara-gara Invansi Rusia, Finlandia dan Swedia Putuskan Gabung dengan NATO, Turki Sewot


Gara-gara Invansi Rusia, Finlandia dan Swedia Putuskan Gabung dengan NATO, Turki Sewot
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg (tengah) berpartisipasi dalam konferensi media dengan Menteri Luar Negeri Finlandia Pekka Haavisto (kiri)l; dan Menteri Luar Negeri Swedia Ann Linde (kanan), di markas NATO di Brussels pada 24 Januari. (AP/Olivier Matthys)

AKURAT.CO Parlemen Finlandia secara mengejutkan telah memberikan suara bulat untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara alias NATO. Hasil itu datang pada Selasa (17/5), dengan Finlandia melakukan pemungutan suara sebagai tanggapan bersejarah mereka terhadap invasi Rusia ke Ukraina.

Dalam pemungutan suara itu, para anggota parlemen mendukung mosi bergabung dengan NATO, dengan 188 dari kemungkinan 200 suara. Hasil inipun memungkinkan negara Nordik itu untuk membuat aplikasinya ke NATO, yang diharapkan akan dilakukan pada Rabu (18/5) waktu setempat. 

Namun, Menteri Luar Negeri Finlandia Pekka Haavisto mengakui bahwa keputusan itu bukan sebuah perayaan lantaran saat ini masih 'ada perang di Eropa'.

baca juga:

"Keanggotaan Finlandia di NATO tidak akan mengubah pemikiran dasar kami bahwa kami akan selalu mencari solusi damai dan kami adalah negara yang cinta damai, dan terutamanya, kami akan selalu mencari solusi diplomatik untuk setiap konflik," kata Haavisto menurut Reuters.

Komite urusan luar negeri negara itu mendukung untuk bergabung dengan NATO setelah mendengarkan pernyataan dari 'sejumlah besar ahli' dan pendapat dari 10 komite parlemen.

Pada Selasa, Swedia juga menandatangani permintaan resmi untuk bergabung dengan aliansi pertahanan berusia 73 tahun itu. Keputusan itu datang menyusul perdebatan dan dukungan luas di badan legislatif Swedia, Riksdag.

Finlandia berbagi perbatasan dengan Swedia serta Rusia. Moscow sendiri telah menggunakan kekhawatirannya terhadap NATO sebagai salah satu alasan untuk menyerang tetangga selatannya, Ukraina.

Namun, baik Finlandia dan Swedia, justru telah bergerak cepat untuk bergabung dengan aliansi tersebut, terutama sejak Kremlin menginvansi Ukraina pada 24 Februari.

Sementara diketahui, kedua negara Nordik itu selama beberapa dekade telah mencoba untuk netral, dengan tidak mencoba bergabung NATO demi menjaga stabilitas di kawasan itu. Posisi itu pun berubah dengan drastis usai meletusnya invasi ke Ukraina, dengan keduanya mengatakan bahwa 'lingkungan keamanan telah berubah sebagai akibat dari tindakan Rusia'.

Gara-gara Invansi Rusia, Finlandia dan Swedia Putuskan Gabung dengan NATO, Turki Sewot - Foto 1
 Presiden Erdogan menuduh Swedia dan Finlandia mendukung 'terorisme'-Burhan Ozbilici/AP Photo

Kendati begitu, Finlandia, bagaimanapun, akan menghadapi tugas sulit dalam meyakinkan Turki untuk mendukung upayanya setelah Presiden Tayyip Recep Erdogan mengatakan dia akan memblokir masuknya Finlandia dan Swedia.

Seperti diketahui, Turki telah menjadi anggota NATO, bersama dengan Yunani, sebagai bagian dari ekspansi kedua dari aliansi tersebut pada tahun 1952.

Sementara untuk setiap pengajuan permohonan, semua 30 anggota NATO, termasuk Turki harus dengan suara bulat memberikan lampu hijaunya.

"Tak satu pun dari negara-negara ini (Finlandia dan Swedia) memiliki sikap yang jelas dan terbuka terhadap organisasi teroris," kata Erdogan, mengacu pada Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang telah ditetapkan oleh Ankara sebagai 'kelompok teroris', dan kelompok bersenjata Kurdi lainnya yang aktif di Turki dan sekitarnya. 

"Bagaimana kita bisa mempercayai mereka?', lanjut Erdogan, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu mengecam Finlandia dan Swedia karena tidak mengekstradisi tersangka yang dicari di Turki meskipun ada permintaan dari Ankara. Orang-orang yang dicari itu dituduh memiliki hubungan dengan PKK atau gerakan Gulen, yang dipersalahkan oleh Turki atas upaya kudeta 2016 yang menewaskan ratusan orang.

Rusia juga secara terus-menerus menolak aplikasi Finlandia dan Swedia ke NATO. Moscow mengklaim bahwa keanggotaan kedua negara itu akan 'menimbulkan kerusakan besar pada keamanan Eropa Utara dan Eropa secara keseluruhan'. []