News

Gara-gara Blokir Kustomisasi Android, Google Kena Denda Korsel Rp2,5 Triliun

Denda ini menjadi kemunduran kedua bagi Google dalam waktu kurang dari sebulan


Gara-gara Blokir Kustomisasi Android, Google Kena Denda Korsel Rp2,5 Triliun
Aplikasi Google terlihat di smartphone dalam ilustrasi yang diambil, 13 Juli 2021 (Dado Ruvic, Reuters/Illustration/File Photo)

AKURAT.CO Regulator antimonopoli Korea Selatan (Korsel) telah mendenda Google Alphabet dengan nilai mencapai hingga 207 miliar won (Rp2,5 triliun). Denda itu diberikan karena Google Alphabet telah memblokir versi khusus sistem operasi Android (OS). 

Seperti diwartakan Reuters, Komisi Perdagangan Republik Korea (KFTC) pada Selasa (14/9) mengatakan bahwa persyaratan pembuat perangkat sama dengan penyalahgunaan posisi pasar dominan Google yang membatasi persaingan di pasar OS seluler.

Google dalam sebuah pernyataan mengatakan pihaknya berniat untuk mengajukan banding. Dikatakan putusan tersebut mengabaikan manfaat yang ditawarkan oleh kompatibilitas Android dengan program lain dan merusak keuntungan yang dinikmati oleh konsumen.

Denda untuk Google itu datang bersamaan dengan pemberlakuan amandemen Undang-Undang (UU) Bisnis Telekomunikasi Korsel, atau yang populer dijuluki'hukum anti-Google'.

Karena UU itu, operator toko aplikasi seperti Google dilarang untuk mewajibkan pengembang perangkat lunak menggunakan sistem pembayaran mereka. Artinya, persyaratan ini secara efektif telah menghentikan pengembang untuk membebankan komisi atas pembelian dalam aplikasi.

KFTC mengatakan Google menghambat persaingan dengan membuat produsen perangkat mematuhi 'perjanjian anti-fragmentasi (AFA)' saat menandatangani kontrak utama terkait lisensi toko aplikasi.

Di bawah AFA, produsen tidak dapat melengkapi handset mereka dengan versi Android yang dimodifikasi, yang dikenal sebagai 'fork Android'. Menurut KFTC, hal ini sama saja telah membantu Google memperkuat dominasi pasarnya di pasar OS seluler.

Denda ini menjadi kemunduran kedua bagi Google dalam waktu kurang dari sebulan. Regulator Korea itu juga mengatakan bahwa denda terbaru untuk Google bisa menjadi pinalti terbesar kesembilan yang pernah dikenakan.

Pada tahun 2013, Samsung Electronics meluncurkan jam tangan pintar dengan OS yang disesuaikan, tetapi beralih ke OS yang berbeda setelah Google menganggap langkah tersebut sebagai pelanggaran AFA, kata KFTC.

Samsung Electronics telah menolak memberi komentar atas kasus tersebut. []