Ekonomi

Gara-gara Anies Baswedan, Musni Umar Perang Dingin Dengan Ferdinand Hutahaean?


Gara-gara Anies Baswedan, Musni Umar Perang Dingin Dengan Ferdinand Hutahaean?
Rektor Universitas Ibnu Chaldun Musni Umar saat menjadi pembicara dalam diskusi Publik di ruang Fraksi PKS, Nusantara I, Kompleks Parlemen MPR/DPD-DPD, Senayan, Jakarta, Senin (12/2). Dalam diskusi ini mengambil tema (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Musni Umar membela Anies Baswedan dengan menyindir pengkritik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, meski tak menyebutkan gamblang siapa pengkritik yang dimaksud.

Namun nampaknya kicauan Musni Umar memang ditujukan untuk anggota Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean yang memang sempat mengkritik keras ulah Anies Baswedan yang menggelar penghormatan terakhir untuk jenazah Sekda DKI Jakarta Saefullah di Balai Kota Rabu kemarin.

"Pengeritik Anies, Sekda DKI dibawa ke DKI harus belajar hukum agar tidak ngawur. Kritikannya kelihatan hebat sehingga viral tapi "dungu." Dalam hukum ada diskresi. Allah punya punya diskresi, Presiden punya diskresi, Gubernur, polisi punya diskresi lalulintas," celoteh Musni Umar melalui akun Twitternya @musniumar seperti dikutip Akurat.co, Sabtu (19/9/2020).

Cuitan Musni Umar itupun langsung ditanggapi oleh Ferdinand Hutahaean. Adapun Ferdinand Hutahaean menilai bahwa pemahaman Musni Umar soal diskresi yang dianggap kurang hingga menyindir dungu justru membuat Ferdinand Hutahaean menyarankan Musni Umar untuk belajar lagi.

"Haha mari menertawakan si profesor yang mendungukan orang lain tapi tak sadar dirinya sedang didepan cerpin, menunjuk ke cermin saat menyebut kata dungu. Mus, diskresi itu tidak berlaku untuk hal membahayakan nyawa. Diskresi untuk hal-hal ringan bukan untuk wabah mematikan. Belajar lagi gih.! @musniumar," seru Ferdinand Hutahaean dalam akun Twitternya @Ferdinand_Haean3.

Lebih lanjut Ferdinand Hutahaean menegaskan, diskresi memang ada dalam hukum. Tapi tidak ada diskresi untuk membebaskan penjahat, tidak ada diskresi untuk kriminal dan tidak ada diskresi untuk hal yang membahayakan seperti penularan wabah.

"Diskresi itu lebih kepada untuk melakukan sesuatu yang belum diatur atau tidak jelas aturannya. Gitu Mus.!," cuitnya.

Menurut Ferdinand Hutahaean, terkait perlakuan kepada jenazah korban positif COVID-19 jelas sudah ada regulasinya bahkan berlaku secara global. Wajib langsung dimakamkan dengan protokol-protokol ketat.