News

Gandeng Kim Jong Un, Xi Jinping Sebut China Ingin Kerja Sama dengan Korut demi Perdamaian

Gandeng Kim Jong Un, Xi Jinping Sebut China Ingin Kerja Sama dengan Korut demi Perdamaian
Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Korut Kim Jong Un berjalan bersama selama kunjungan Xi di Pyongyang, Korut pada 21 Juni 2019 (KCNA via Reuters)

AKURAT.CO  Presiden China Xi Jinping telah memberi tahu pemimpin Korea Utara (Korut) bahwa Beijing bersedia menggandeng Pyongyang, bekerja sama demi perdamaian dan stabilitas.

Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) mengungkap tawaran China tersebut pada Sabtu (26/11), atau beberapa hari usai Korut menembakkan rudal apa yang digambarkan sebagai rudal balistik antarbenua (ICBM). Penembakan itu hanya menjadi salah satu dari rangkaian uji coba senjata yang paling kuat, yang dilakukan Pyongyang baru-baru ini. Kim, dalam sumpahnya, telah berjanji untuk menggunakan senjata nuklirnya saat mengancam Washington. 

Dalam uji coba pada 18 November, Korut tampaknya telah menembakkan jenis ICBM terbaru, dengan ahli menyebut bahwa jangkauan ICBM Korut mampu menjangkau tanah Amerika.

baca juga:

Peluncuran rudal Korut, bagaimanapun, telah memecahkan rekor dalam beberapa pekan terakhir. Karenanya, muncul kekhawatiran bahwa negara terisolasi itu sedang membangun uji coba nuklir ketujuhnya atau yang pertama sejak 2017.

Sementara Korea Selatan, AS, hingga Jepang mengemukakan protesnya, China mengambil langkah berbeda -makin menggandeng Korut dengan erat. Xi pun telah memberi komitmen kepada mitra lamanya, mengatakan bahwa Beijing siap bekerja sama dengan Pyongyang untuk perdamaian, stabilitas, pembangunan, serta kemakmuran kawasan dan dunia.

Xi menjelaskan bahwa dia bersedia bekerja sama dengan Pyongyang karena adanya perubahan di dunia, waktu, dan sejarah, yang mana semuanya muncul dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ucapan Xi itu dikutip KCNA dari sebuah pesan yang ditujukan khusus untuk Kim. Pesan ini, kata KCNA, adalah balasan atas ucapan selamat yang disampaikan Kim usai Kongres Partai Komunis China pada bulan lalu resmi menyerahkan jabatan ketiga untuk Xi.

Beberapa hari sebelum peluncuran ICBM, Xi juga bertemu dengan Presiden AS Joe Biden. Keduanya bertatap muka di sela-sela KTT G20 di Bali, di mana Xi menyuarakan keyakinan bahwa Beijing tidak ingin melihat eskalasi lebih lanjut oleh Pyongyang.

Washington, dalam pernyataannya, ingin Beijing menggunakan pengaruhnya untuk membantu mengendalikan Pyongyang. China merupakan sekutu terpenting Pyongyang sekaligus donator ekonomi yang dermawan kepada Korut.

Dewan Keamanan PBB telah menggelar pertemuan terbuka terkait peluncuran ICBM Korut, dengan AS, Inggris, Prancis, dan India menjadi di antara 14 negara yang 'mengutuk keras' tindakan Pyongyang.

Namun, seorang diplomat Barat mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa China dan Rusia telah memilih untuk tidak mencantumkan nama mereka dalam pernyataan kecaman tersebut, yang dirilis pada Senin lalu.

Awal bulan ini, AS menuduh Beijing dan Moskow melindungi Pyongyang dari sanksi lanjutan.

Pada bulan Mei, China dan Rusia memveto upaya yang dipimpin AS untuk memperketat sanksi terhadap Korut tanggapan atas peluncuran sebelumnya.

Pyongyang sudah berada di bawah berbagai sanksi internasional atas program rudal nuklir dan balistiknya. Sementara China telah menyumbang lebih dari 90 persen perdagangan bilateral dengan negara miskin tersebut, Al Jazeera melaporkan.[]