News

Gandeng China hingga AS, Rusia Pastikan Taliban Menepati Janji-janjinya untuk Afganistan  

Menurut Lavrov, mereka menggelar pertemuan dengan Taliban serta perwakilan dari para 'otoritas sekuler'


Gandeng China hingga AS, Rusia Pastikan Taliban Menepati Janji-janjinya untuk Afganistan  
Foto menunjukkan sejumlah pejuang Taliban duduk di atas kendaraan di sebuah jalan di provinsi Laghman pada 15 Agustus (AFP )

AKURAT.CO, Rusia, China, Pakistan, dan Amerika Serikat (AS) sedang bekerja sama untuk memastikan Taliban menepati janji mereka terhadap Afganistan. Komitmen Taliban yang dimaksud terutama dalam membentuk pemerintahan yang benar-benar representatif dan janji untuk mencegah penyebaran ekstremisme. 

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menjelaskan bahwa keempat negara itu telah berupaya untuk terus melakukan kontak. Lavrov juga mengatakan bahwa perwakilan Rusia, China, dan Pakistan baru-baru ini telah melakukan perjalanan ke Qatar dan kemudian ke Kabul. Menurut Lavrov, mereka menggelar pertemuan dengan Taliban serta perwakilan dari para 'otoritas sekuler'- termasuk mantan Presiden Afganistan, Hamid Karzai dan Abdullah Abdullah yang mengepalai dewan negosiasi pemerintah yang digulingkan.

"Pemerintahan sementara yang diumumkan oleh Taliban tidak mencerminkan seluruh masyarakat Afganistan, termasuk kekuatan etnoreligius dan politik. Jadi kami berupaya terlibat dalam kontak. Upaya ini masih berlangsung," tegas Lavrov.

Taliban telah menjanjikan pemerintahan yang inklusif, dengan bentuk pemerintahan Islam yang lebih moderat dibanding ketika mereka terakhir memerintah negara itu dari tahun 1996 hingga 2001. Janji ini termasuk bahwa Taliban akan menghormati hak-hak perempuan, memerangi terorisme dan ekstremisme, memberikan stabilitas setelah 20 tahun perang, hingga menghentikan kelompok bersenjata menggunakan wilayah mereka untuk meluncurkan serangan. 

Namun, langkah-langkah baru-baru ini telah menunjukkan bahwa Taliban akan kembali ke kebijakan yang lebih represif, terutama terhadap perempuan dan anak perempuan.

"Yang paling penting … adalah untuk memastikan bahwa janji-janji yang telah mereka nyatakan secara terbuka ditepati. Dan bagi kami, itu adalah prioritas utama," ujar Lavrov seperti dikutip dari Al Jazeera.

Gandeng China hingga AS, Rusia Kerjasama Pastikan Taliban Menepati Janji-janjinya untuk Afganistan   - Foto 1
 Lavrov mengatakan pemerintah sementara yang diumumkan oleh Taliban tidak mencerminkan 'keseluruhan keseluruhan' masyarakat Afganistan-Alexander Zemlanichenko/AP Photo

Lavrov tercatat kerap berbicara menyoal isu Afganistan dan pemerintahannya yang kembali dikuasai Taliban. Akan tetapi, pada konferensi pers dan dalam pidatonya di Majelis Umum PBB (UNGA), Lavrov masih gencar mengkritik pemerintahan AS, termasuk dari urusan China dan Asia Pasifik hingga pemerintah penarikan pasukan Joe Biden. 

Disebutnya bahwa Joe Biden telah melakukan penarikan pasukan yang tergesa-gesa dari Afganistan. Dia mengatakan penarikan AS dan NATO dilakukan tanpa mempertimbangkan konsekuensi tentang senjata-senjata militer yang tersisa di Afganistan. 

"Ada banyak senjata yang tersisa di Afganistan. Hal itu tetap menjadi sebuah krisis, senjata semacam itu (harusnya) tidak digunakan untuk tujuan yang merusak," katanya.

Kemudian, dalam pidatonya di majelis, Lavrov juga menuduh AS dan sekutu Baratnya 'berusaha terus-menerus mengurangi peran PBB dalam menyelesaikan masalah utama pada masa sekarang. AS dan sekutu juga dikatakan telah mengesampingkan PBB dan menjadikannya alat untuk mempromosikan 'kepentingan egois'.

"Sebagai contoh, Jerman dan Prancis baru-baru ini mengumumkan pembentukan Aliansi Untuk Multilateralisme meskipun tidak ada saat ini tidak ada struktur yang bisa lebih multilateral daripada PBB," kata Lavrov memberikan kritikan.

Lavrov juga menyinggung soal KTT Demokrasi diaman AS akan menjadi tuan rumah yang mempertemukan para pemimpin dari pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk menetapkan agenda afirmatif untuk pembaruan demokrasi

"AS juga menghindari PBB meskipun janji Presiden Biden pekan lalu yang menyebut bahwa AS tidak mengharapkan dunia terbagi menjadi blok-blok yang berlawanan.

"Tak perlu dikatakan bahwa Washington akan memilih peserta sendiri, sehingga membajak hak untuk memutuskan sejauh mana suatu negara memenuhi standar demokrasi. Pada dasarnya, inisiatif ini ada dalam semangat Perang Dingin, karena menyatakan perang ideologis baru melawan semua pembangkang," tambah Lavrov.

Selain itu, Lavrov ikut menyatakan 'keprihatinan besar' saat merujuk pada 'strategi Indo-Pasifik' yang baru-baru ini diproklamirkan oleh pemerintah Biden. []