News

Gampar Desak KPK Tangkap Haji Isam

Gampar Desak KPK Tangkap Haji Isam
Massa Gampar menggelar unjuk rasa menuntut KPK menangkap Syamsuddin Andi Arsyad atau Haji Isam. (Repro)

AKURAT.CO, Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Gerakan Muda Pemberantasan Korupsi (Gampar) menggelar unjuk rasa menuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Syamsuddin Andi Arsyad atau Haji Isam.

Gampar menduga Haji Isam aktor intelektual suap pengurangan pajak PT Jhonlin Baratama, anak usaha Jhonlin Group milik Haji Isam.

"Kami memberikan dukungan dan sekaligus menuntut KPK agar segera memeriksa dan menangkap Haji Isam terduga otak suap pajak PT Jhonlin Baratama," kata Amri, koordinator aksi di sela unjuk rasa di depan Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (6/10/2022).

baca juga:

Amri mengapresiasi langkah KPK yang sudah memeriksa empat mantan karyawan Jhonlin Baratama dalam rangka pengembangan perkara.

Dia berharap pengembangan perkara yang dilakukan lembaga anti rasuah menyasar otak pelaku suap.

Amri mengingatkan di dalam persidangan terungkap konsultan pajak Agus Susetyo mengkondisikan penurunan nilai pajak Jhonlin Baratama atas permintaan Haji Isam. Untuk memuluskan itu, Agus disebut menyerahkan suap Rp35 miliar kepada tim pemeriksa Ditjen Pajak Kemenkeu.

"Dalam nalar sederhana tidak mungkin ada pengeluaran perusahaan sebesar sekitar Rp 35 miliar tanpa diketahui oleh ownernya atau Haji Isam. Dalam salah satu tulisan Denny Indrayana menyebut semua perusahaan di bawah Jhonlin Grup termasuk PT Jhonlin Baratama beneficial ownership (peraih keuntungan akhir terbesar) adalah Haji Isam. Jadi sangat janggal soal kebijakan strategis pengeluaran uang besar tidak dia ketahui," jelas Amri.

Amri berharap KPK segera memeriksa Haji Isam. Apalagi pimpinan dan juru bicara KPK di banyak kesempatan menyatakan terbuka kemungkinan memanggil Haji Isam.

"Kami, Gampar khawatir KPK takut dengan segala reputasi kehebatan yang dimiliki Haji Isam sehingga ciut untuk menyeretnya. Oleh karena itu kami datang untuk memberikan dukungan agar KPK segera memanggil, memeriksa dan menangkap dia jika terbukti terlibat," pungkas Amri.[]