Lifestyle

Gak Usah Khawatir Bun, Anak Penderita ADHD Masih Bisa Bersekolah

Gak Usah Khawatir Bun, Anak Penderita ADHD Masih Bisa Bersekolah
Sejumlah siswa-siswi mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pondok Labu 01, Jakarta, Selasa (19/7/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas yang cukup sering dijumpai pada anak, terutama pada anak usia sekolah.

ADHD merupakan gangguan dalam perkembangan anak di masa janin yang memengaruhi cara kerja otak. Hal ini ditandai dengan perilaku yang hiperaktif, sulit fokus, dan tindakan impulsif lainnya.

Dilansir dari laman American Psychiatric Association menjelaskan, ADHD pada anak dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe inatensi, tipe hiperaktif atau impulsif, dan tipe gabungan. Dibutuhkan penanganan medis yang berbeda-beda atas ketiga tipe ADHD tersebut.

baca juga:

Tipe Inatensi

Tipe inatensi ditandai dengan:

  • Anak tidak memperhatikan detail-detail tertentu serta melakukan tindakan ceroboh saat menjalankan tugas dari sekolah atau pekerjaan dari orangtua
  • Anak kesulitan untuk fokus pada tugas atau kegiatannya.
  • Anak tidak mendengar atau memperhatikan saat diajak bicara.
  • Anak tidak menjalankan instruksi serta tidak menyelesaikan tugas sekolah.
  • Anak kesulitan mengatur tugas dan pekerjaan.
  • Anak menghindar dan cenderung tidak suka dengan tugas yang membutuhkan upaya mental berkelanjutan, seperti menyiapkan laporan dan mengisi formulir.
  • Anak sering kehilangan barang.
  • Anak tidak fokus dan perhatiannya mudah terganggu.
  • Anak sering melupakan tugas sehari-hari.

Tipe Hiperaktif atau Impulsive

Anak ADHD tipe ini bisa menunjukkan gejala sebagai berikut:

  • Anak sering gelisah, gejalanya ditandai dengan sering mengetukkan tangan, mengetukkan kaki, atau menggeliat di kursi.
  • Anak sering berlari atau memanjat.
  • Anak tidak dapat bermain atau melakukan aktivitas dengan tenang.
  • Anak terlalu banyak berbicara.
  • Anak sering memotong aktivitas atau mengganggu orang lain.
  • Anak lebih sering mengalami cedera atau kecelakaan.

Tipe Kombinasi

Anak yang mengidap ADHD tipe ini dapat mengalami gejala kombinasi antara tipe inatensi dan hiperaktif. Pada tipe ini, anak akan cenderung impulsif, hiperaktif, serta tidak memiliki fokus yang baik

ADHD pada anak dapat dideteksi sejak usia dini atau ketika beranjak ke usia lebih besar. Jika menyandang anak atau orang dewasa menyandang kombinasi ADHD ini, maka ditandai dengan:

  • Sensitif terhadap suara dan cahaya.
  • Sering menangis
  • Suka menjerit
  • Kesulitan untuk tidur
  • Sulit mengonsumsi ASI
  • Tidak senang jika digendong

Diagnosis dan penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu anak untuk beradaptasi dengan kondisinya dan menjalani aktivitas sehari-hari seperti anak lainnya.

Walaupun gejala ADHD pada umumnya sudah terlihat sejak anak berusia tiga tahun, tetapi sangat sulit untuk menegakkan diagnosis ADHD pada populasi anak di bawah usia lima tahun.

"Hal ini dikarenakan pada rentang usia tersebut biasanya perilaku anak masih sangat bervariasi, sehingga sedikit banyak menyerupai gejala pada ADHD. Akibatnya, sering timbul kesalahan dalam diagnosis,” ujar Anggia melalui keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (24/9/2022).

Beberapa hal yang dapat menjadi catatan sebelum memberikan diagnosis adalah memastikan bahwa gejala sudah dideteksi sebelum anak berusia 12 dan berlangsung lebih dari enam bulan.

Selain itu, gejala juga harus muncul dalam dua atau lebih situasi, misalnya saat anak di sekolah sekaligus di rumah. Gejala-gejala tersebut sebaiknya terbukti memengaruhi fungsi hidup sehari-hari pada anak.

Dikarenakan gangguan ADHD ini menyerang konsentrasi dan cara bersosialisasi anak, orang tua berpikir apakah anak menderita ADHD bisa sekolah atau nggak?

Anggia menambahkan, anak ADHD juga bisa bersekolah di sekolah umum selama IQ-nya memadai.

“Anak dengan ADHD dapat bersekolah di sekolah umum selama IQ anak termasuk dalam kategori normal,” kata Anggia.

“Jika IQ anak dengan ADHD di bawah rata-rata IQ normal, misalnya IQ borderline atau slow learner dan disertai dengan gangguan perkembangan lainnya seperti gangguan autistik, maka anak memerlukan pendampingan khusus berupa kelas inklusi atau sekolah untuk anak berkebutuhan khusus lainnya,” jelas Anggia.