Rahmah

Gaji Kerja di Bank Konvensional, Riba Atau Bukan?

Status dan hukum uang dari gaji di Bank Konvensional


Gaji Kerja di Bank Konvensional, Riba Atau Bukan?
Ilustrasi - Perbankan (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO Riba adalah kelebihan yang tidak disertai dengan imbalan yang disyaratkan dalam jual beli. Secara umum, riba adalah sebuah penambahan nilai atau bunga melebihi jumlah pinjaman saat dikembalikan dengan nilai tertentu yang diambil dari jumlah pokok pinjaman untuk dibayarkan oleh peminjam.

Informasi yang berkembang di sebagian telinga masyarakat adalah adanya anggapan bahwa gaji karyawan di bank-bank konvensional adalah riba. Apa benar demikian? Mari kita lihat secara seksama.

Disebutkan di dalam sebuah hadits, sebagai berikut:

أجرك على قدر نصبك. متفق عليه 

Artinya: “Upahmu adalah menurut kadar payahmu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Orang yang bekerja di bank dan mendapatkan gaji, tentu gaji yang didapatkan karena hasil kerjanya, bukan tanpa usaha begitu saja. Maka jika mengambil inspirasi dari hadits di atas, orang yang bekerja di bank gajinya adalah merupakan upah dari kepayahannya.

Syekh Abu Yahya Zakaria Al-Anshary, dalam Fathul Wahâb bi Syarhi Manhaji al-Thullâb, jilid. 1, halaman 161, juga menyebutkan demikian:

وهو ثلاثة أنواع ربا الفضل وهوا لبيع مع زيادة أحد العوضين على الآخر وربا اليد وهو البيع مع تأخير قبضهما أو قبض أحدهما وربا النساء وهو البيع لأجل 

Artinya: “Ada tiga macam riba. Riba fadl, yaitu riba yang terjadi akibat transaksi jual beli yang disertai dengan adanya kelebihan pada salah satu dari dua barang yang hendak ditukarkan. Riba yad, yaitu riba yang terjadi akibat jual beli yang disertai penundaan serah terima kedua barang yang ditukarkan, atau penundaan terhadap penerimaan salah satunya. Riba nasa’, yaitu riba yang terjadi akibat jual beli tempo.”

Jika kita menganalisa dari keterangan di atas, pekerjaan karyawan Bank bukan dalam bentuk transaksi jual beli yang disertai dengan adanya kelebihan pada salah satu dari dua barang yang hendak ditukarkan. Selain itu juga bukan jual beli yang disertai penundaan serah terima kedua barang yang ditukarkan, atau penundaan terhadap penerimaan salah satunya. Begitu juga bukan dalam bentuk jual beli yang bertempo. Wallahu A'lam.[]

Sumber: NU Online