Olahraga

Francine Niyonsaba, Pelari Pertama dengan DSD Pecahkan Rekor Dunia

Francine Niyonsaba dan Caster Semenya adalah atlet lari 800 meter dengan DSD yang terpaksa pindah nomor.


Francine Niyonsaba, Pelari Pertama dengan DSD Pecahkan Rekor Dunia
Pelari asal Burundi, Francine Niyonsaba, bersama rekor dunia lari 2.000 meter yang diciptakannya di Zagreb, Kroasia, Selasa (14/9). (TWITTER/Francine Niyonsaba)

AKURAT.CO, Atlet asal Burundi, Francine Niyonsaba, membuktikan bahwa kewajiban “pindah kelas” karena aturan DSD (kelainan perkembangan seksual) tak menghentikannya menciptakan sejarah. Pindah dari nomor spesialisasi 800 meter ke 2.000 meter, Niyonsaba memecahkan rekor dunia di Zagreb, Kroasia, Selasa (14/9).

Dalam pacuan bertajuk World Athletics Continental Tour 2021 tersebut, Niyonsaba menyentuh garis finish sebagai juara dengan catatan waktu lima menit 21,56 detik. Catatan itu lebih cepat di atas dua detik ketimbang rekor sebelumnya milik atlet asal Ethiopia, Genzebe Dibaba, dengan lima menit 23,75 detik pada 2017.

Keberhasilan Niyonsaba memecahkan rekor dunia 2.000 meter kembali memicu perdebatan tentang aturan DSD. Diterapkan sejak 2017, aturan ini mewajibkan atlet dengan DSD mengurangi kadar testoteronnya jika ingin bersaing di nomor 400–1.600 meter.

Aturan ini menjadi kontroversi setelah juara olimpiade lari 800 meter asal Afrika Selatan, Caster Semenya, menolak melakukan tindakan medis menurunkan testoteron. Semenya menyampaikan gugatan ke persidangan internasional namun World Athletic (Federasi Atletik Dunia) tetap menang.

Semenya sendiri menganggap aturan tersebut sebagai cara untuk menghentikan kinerjanya. Sang juara dunia bahkan menganggap aturan DSD membuatnya menjadi seperti “kelinci percobaan”.

Pada 2019, persidangan di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menyatakan bahwa atlet dengan DSD menikmati keuntungan ketika berkompetisi ketimbang yang tidak memiliki DSD. CAS mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan data biologi.

Adapun Semenya harus naik ke nomor 5.000 meter namun gagal mendapatkan tempat di Olimpiade Tokyo 2020. Atlet berusia 30 tahun itu hanya bisa mencatatkan waktu 15 menit 50,12 detik sementara batas kualifikasi ke Tokyo adala 15 menit sepuluh detik.

Semenya adalah peraih emas Olimpiade London 2012 dan Rio De Janeiro 2016 plus tiga juara dunia. Sementara Niyonsaba adalah pesaing utamanya peraih perak di Rio 2016 dan Kejuaraan Dunia 2017 di London.

Beberapa waktu lalu, sebuah jurnal tinjauan kesehatan di Inggris, British Journal of Sports Medicine mengoreksi keputusan World Athletic tentang DSD. Namun, Presiden World Athletic, Sebastian Coe, meragukan laporan jurnal tersebut dan bertahan dengan aturannya.[]