image jamkrindo umkm
Login / Sign Up

Wadah Literasi Digital Sudah Banyak, Tapi Jangkauannya Belum Luas

Maidian Reviani

Waspada Hoaks

Image

Ilustrasi - Sosial Media | AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO, * Wadah literasi digital memang sudah banyak, tetapi jangkauannya dinilai Afra belum begitu luas dan tidak mudah dijangkau.
* Generasi Z beda karakternya dengan milenial. Anak Z asing dengan platform Twitter. Bahkan, mereka menganggap Facebook merupakan ruangnya orang tua.
* Yang menyedihkan dari hasil survei itu ternyata generasi Z belum pernah ada yang mengakses platform fact checking.

***

Survei DailySocial pada 2018 mengungkap konten hoaks paling banyak didistribusikan ke pengguna gawai melalui platform media sosial Facebook dan instant messaging Whatsapp.

baca juga:

Menurut Project Officer Digital Defenders Partnership HIVOS Afra Suci Ramadhan puncak penyebaran hoaks selalu terjadi pada masa pemilu tingkat lokal maupun nasional.

Afra Suci Ramadhan. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Ironisnya, setengah pengguna internet yang disurvei DailySocial mengatakan tidak melakukan apa-apa kalau menemukan hoaks yang menyebar di Facebook maupun Whatsapp.

Dari fenomena itu, pada akhir 2018, HIVOS melakukan pemetaan terhadap inisiasi literasi digital untuk mempersempit ruang gerak penyebaran hoaks di media sosial.

Misalnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan siberkreasi dan konten monitoring untuk menangani hoaks.

Civil society organization juga menginisiasi berbagai gerakan literasi digital. ICT Watch menginisiasi internet sehat. In-Docs menginsiasi Aku Siap Bersikap. Indonesia Voice of Women juga bergerak lewat media literacy for women.

“Yang paling penting sebenarnya ada di level komunitas juga. Jadi bagaimana masyarakat ini juga melakukan inisiatif-inisiatifnya sendiri tidak hanya bergantung pada pemerintah atau organisasi masyarakat sipil, tapi juga di level komunitas seperti relawan TIK, ada kelompok perempuan yang melakukan literasi media terhadap ibu-ibu di kelurahan di tingkat desa,” kata Afra.

Redaksi media massa pun melakukan gerakan dengan membentuk wadah fact checking. Tempo, misalnya. Mereka menginisiasi lewat Lawan Kabar Kibul. Begitu juga Kompas lewat Saring Sebelum Sharing.

Mereka melakukan kampanye ke berbagai kalangan, seperti lingkungan sekolah, untuk meningkatkan kesadaran tentang konten hoaks.

“Tapi juga mereka (media) bekerjasama dengan beberapa perusahaan platform atau sosial media seperti FB, Google, terkait dengan platform-platform fact checking. Jadi kurang lebih sebenarnya setiap pihak sudah memainkan perannya untuk mengcounter disinformasi.”

Wadah literasi digital memang sudah banyak, tetapi jangkauannya dinilai Afra belum begitu luas dan tidak mudah dijangkau.

“Jangkauannya masih terbatas, misalnya di level komunitas ya di level komunitas itu, lalu di sekolah ya di beberapa sekolah aja, karena kita sudah sadar bahwa Indonesia kan luas dan banyak pengguna internetnya aja tadi 64,8 persen. Jadi harus ada upaya yang bisa menjangkau lebih dari yang sekarang sudah dijangkau,” kata Afra.

Itu sebabnya, HIVOS mengembangkan Hivos’s Anti-Hoax an Idea Accelerator Project sebagai proyek akselerasi untuk generasi muda dalam membasmi hoaks.

“Di situ kita punya kesempatan untuk bereksperimen, kita menganalisis satu persoalan lalu bereksperimen menciptakan inovasi-inovasi untuk merespon persoalan tersebut (hoaks dan disinformasi),” kata Afra.

“Kita mencoba untuk bereksperimen mengaplikasikan human setter design dalam mengembangkan platform anti hoaks ini,” Afra menambahkan.

Kota Depok, Jawa Barat, menjadi wilayah uji coba proyek. Kota Depok dipilih karena berdasarkan penelitian Setara Institute tahun 2018, menjadi salah satu top five kota intoleran di Indonesia.

Dalam proyek tersebut, HIVOS menyasar generasi usia 15-22 tahun atau generasi Z.

Menurut Afra, generasi Z beda karakternya dengan milenial. Anak Z asing dengan platform Twitter. Bahkan, mereka menganggap Facebook merupakan ruangnya orang tua.

Generasi Z amat familiar dengan Youtube, Instagram, dan Line karena platform tersebut memiliki karakter teknis audio visual lebih atraktif.

“Dan mereka itu tadi mengapa Youtube dan IG, karena mereka sangat bertumpu dengan konten audio visual. Jadi kalau Youtube mereka harus melihat konten yang aktraktif, menarik, dan juga tidak membosankan,” katanya.

“Jadi generasi Z akan berkolerasi juga kalau kita melihat umur atau usia-usia yang lebih rentan sebenernya dalam penyebaran atau terdampak dari hoaks. Karena kalau kita balik ke yang DailySocial itu penyebaran hoaks itu banyak di FB dan WA,” Afra menambahkan.

Selain itu, generasi Z tidak terlalu aktif menempel pada politik elektoral. Walaupun mungkin memiliki ketertarikan, mereka tidak akan terjebak polarisasi politik karena memang tidak memiliki kecenderungan berafiliasi.

“Dan mereka juga sebenarnya tidak punya persepsi negatif terhadap satu pihak tertentu atau orang lain. Justru mereka melihat polarisasi yang lebih dominan di kelompok yang lebih senior, mereka (yang senior) sebagai sesuatu yang sangat mengganggu dan membuat mereka engan berpartisipasi secara politik,” katanya.

Generasi Z lebih kritis dalam menerima informasi. Misalnya, tak cukup hanya mengakses satu situs berita, tetapi cek ke media-media lain. Mereka akan mengatakan berita yang tidak terverifikasi sebagai berita hoaks.

“Dan mereka juga mau verifikasi misalnya dapat berita di Whatsapp, maka mereka coba cari di Google, mereka coba search di Youtube atau di berbagai media lainnya di Kompas dan lain sebagainya, walaupun tetap ada kerentanan mereka terapapar hoaks di situ,” katanya.

Namun, generasi tersebut juga rentan dan bisa membahayakan karena sering mendapat informasi hanya dari media sosial.

“Jadi jangan harap generasi Z itu akan setiap pagi buka Detik atau Kompas. Mereka hanya dapat informasi dari timeline mereka. Dan di situlah filter bubble menjadi hal yang cukup penting kalau mereka tidak sadar bagaimana informasi disajikan dan itu juga akan membentuk echo chamber,” ujarnya.

Yang menyedihkan dari hasil survei itu ternyata generasi Z belum pernah ada yang mengakses platform fact checking. Padahal paltform fact checking, seperti cekfakta.com semakin marak.

“Itu yang sebenarnya perlu kita tingkatkan lagi. Dan mereka responnya pasif,” tuturnya.

HIVOS juga mengembangkan self-learning platform melalui Hoaxplay.com.

Hoaxplay.com dinilai lebih mudah dijangkau dan dapat digunakan dimana-mana selama masih terkoneksi dengan internet.

“Kita upayakan infrastrukturnya biar tidak terlalu memakan kuota, karena generasi Z ini kan fakir kuota. Jadi kita harus sadar bagaimana menyiasati hal tersebut,” kata dia.

Tujuan self-learning untuk mendorong anak muda agar selemah-lemahnya iman tetap dapat menyebarkan link fakta yang sudah diverifikasi.

“Dan self-learning kita tidak ingin seperti e-learning platform yang pernah ada, dimana ada modul satu lanjut, modul dua lanjut. Disini kita bikin lebih menarik, lebih menantang, karena generasi Z secara psikologis mereka tidak suka didikte,” kata dia.

Di dalam Hoaxplay.com juga terdapat teks yang menjelaskan mengenai hoaks. Teks tersebut, kata Afra, sudah dikompres sedemikan rupa agar tidak membosankan.

“Mungkin masih agak banyak, tapi udah diupayakan banget. Tapi kita juga bikin video karena kita ingin selemah-lemahnya iman lagi, walaupun dia (generasi Z) nggak baca artikelnya, dia bisa tahu informasi itu dari video yang maksimal hanya tiga menitan,” kata dia.

Kemudian ada pula bentuk games interaktif.

“Dari modul satu ke model dua sampai lima modul. Mereka harus solve problem sampai mission-nya complete di step kelima,” ujarnya.

Para pengguna bisa mendapat sertifikat dan nantinya dapat dicetak atau dibagikan ke sesama pengguna media sosial.

“Dan setiap modul itu nanti kita akan leaderboard-nya, akan ada siapa yang paling pertama peringkat satu, dua, tiga, score-nya berapa, dan itu bisa dilihat di setiap modul,” kata dia. []

Baca juga:

Tulisan 1: Orang Tak Bisa Mengelak, Dunia Maya Tidak Bisa Diraba, Tapi Efeknya Nyata: Media Sosial

Tulisan 3: Persoalan Hak Digital Bukan Lagi Pertarungan Individu, Tapi Belahan Dunia

Tulisan 4: Betapa Serius Dampak Kabar Bohong dari Media Sosial: Usaha Pemerintah Berantas Hoaks

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Waspada Hoaks

Betapa Serius Dampak Kabar Bohong dari Media Sosial: Usaha Pemerintah Berantas Hoaks

Image

News

Waspada Hoaks

Persoalan Hak Digital Bukan Lagi Pertarungan Individu, Tapi Belahan Dunia

Image

News

Waspada Hoaks

Orang Tak Bisa Mengelak, Dunia Maya Tidak Bisa Diraba, Tapi Efeknya Nyata: Media Sosial

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Polisi Selidiki Mayat Laki-Laki di Hotel Tokyo Banjarmasin

"Korban ditemukan sudah meninggal dunia saat berada di kamar nomor 334 Hotel Tokyo,"

Image
News

Polri Akan Tindak Tegas Anggota Yang Tidak Jaga Netralitas di Pilkada 2020

"Pak Kapolri pernah bilang netralitas adalah sebuah dan menjadi kewajiban anggota polri

Image
News

Dapat Ikut Pilkada 2020, Mabes Polri Klaim Mantan Pati Polri Tak Dapat Intervensi Kepolisian Lagi

mantan perwira tinggi (Pati) Polri dapat mengikuti dan menjadi kandidat dalam Pilkada Serentak 2020.

Image
News

Anggota DPR Minta GAPKI Maksimalkan Pemanfaatan Biodisel untuk Dalam Negeri

Ridwan menolak energi biodisel yang dihasilkan di Indonesia diekspor ke luar. Sebab tiap tahun pemerintah mensubsidi Rp120 Triliun

Image
News

Lokasi Observasi 188 ABK Kapal Pesiar World Dream: Pulau Sebaru Ini Rumah, Jadi Ada Kamar-kamarmya Bagus

“BNPB siap mendukung opsi pemulangan WNI baik melalui laut maupun udara, sesuai keputusan yang akan dipilih Presiden Joko Widodo.”

Image
News

UPDATE: Dampak Banjir di Jabodetabek dan Karawang

Masyarakat yang membutuhkan evakuasi hewan peliharannya dapat menghubungi 112.

Image
News

Video Kekerasan Terhadap Muslim di New Delhi Viral, Tagar #ShameOnYouIndia Trending di Twitter

Beberapa video masih perlu diverifikasi kebenarannya

Image
News

Remaja 17 Tahun Kepergok Curi Uang Kotak Amal Masjid

"Pelaku kami bawa ke Mapolsek sehingga tidak dihakimi massa yang sudah berkerumun," kata Kapolres Cirebon.

Image
News

Anies Baswedan: Alhamdulillah Sore Ini 100 Persen Sudah Surut

"Pembahasan mengenai banjir dan lain-lain kita lakukan sesudah warga bisa kembali lagi ke rumah masing-masing," kata Anies.

Image
News

Pelaku Sudah Diamankan, Begini Kronologis Sopir Ambulans Dipukul Saat Bawa Jenazah

Selain jenazah, ambulans juga membawa pihak keluarga yang menyaksikan arogansi si supir mobil pribadi.

terpopuler

  1. Dari Kuli Bangunan hingga Bergelimang Harta, 8 Fakta Menarik Sosok Akbar 'Ajudan Pribadi'

  2. Masyarakat Diminta Waspada Penipuan Mengatasnamakan Pertamina

  3. Masa Jabatan Hakim MA dan MK Beda, Saldi Isra: Politik Hukum Apa Yang Sedang Dibangun Pemerintah?

  4. Raja Arab Saudi Jamu Pendeta Yahudi dari Israel untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah

  5. Bantah Terima Rp7,5 M, Rano Karno: Seluruh Lalu Lintas Keuangan Diatur oleh Agus Uban

  6. Kasus Makin Meroket, Wakil Menteri Kesehatan Iran Positif Terjangkit Virus Corona

  7. Aksi Dua Lansia di Rumah Sakit ini Bikin Mewek, Bukti Romantis Tak Kenal Usia

  8. Rumah Langganan Terendam Air, Deretan Artis Ungkapkan Kekecewaan Hadapi Banjir Jakarta

  9. Polda NTB Nyatakan Status Siaga Satu Hadapi Siklon Tropis Ferdinand

  10. Chef Rendy Berikan Tips Bikin Nasi Goreng yang Lezat di Rumah

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Memimpin Tanpa Menyalahkan

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Banjir Jakarta Menghanyutkan Elektabilitas Anies Baswedan?

Image
Achmad Fachrudin

Politik Dinasti, Oligarki dan Anomali Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Agama dan Pancasila

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kepala Perpusnas: Budaya Baca Bangsa Indonesia Tidak Rendah

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakornas Perpusnas, Penguatan Budaya Literasi Wajib untuk SDM Indonesia Unggul

Sosok

Image
News

5 Fakta Penting Maruli Simanjuntak, Komandan Paspampres Menantu Luhut Pandjaitan

Image
News

5 Fakta Karier Rian Ernest, Politisi Muda PSI yang Maju di Pilkada Batam 2020

Image
News

Tewas Saat Luncurkan Roket Buatannya, Ini 6 Fakta Menarik Penganut Bumi Datar Mike 'Mad' Hughes