image jamkrindo umkm
Login / Sign Up

Orang Tak Bisa Mengelak, Dunia Maya Tidak Bisa Diraba, Tapi Efeknya Nyata: Media Sosial

Maidian Reviani

Waspada Hoaks

Image

Ilustrasi - Jaringan Internet | AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO, Media sosial sudah menjadi semacam kebutuhan sehari-hari. Tentu ada nilai positif, ada pula nilai negatifnya. 

Tetapi dalam laporan ini menyoroti secara kritis nilai-nilai yang bisa merugikan pemakai media sosial bilamana tidak cerdas menerima informasi.

Itu sebabnya, penting sekali para pengguna media sosial, terutama generasi muda, untuk meningkatkan literasi digital. Tujuannya supaya tidak mudah termakan hoaks yang membanjiri saluran media sosial.

baca juga:

Hoaks sudah berkali-kali terbukti menanamkan kepanikan, menyuburkan sikap intoleransi, bahkan membikin kekacauan yang nyata di Indonesia.

Untuk menunjukkan bagaimana hoaks bekerja, dalam bagian-bagian laporan akan diketengahkan hasil penelitian terhadap kabar bohong dan pembentukan opini yang diorganisir. Selain itu, juga mengangkat perkembangan terbaru tentang media sosial bisa dipakai untuk menyerang organisasi maupun individu yang dianggap berseberangan.

Langkah yang dilakukan pemerintah bekerjasama dengan organisasi-organisasi untuk menghadapi hoaks juga akan melengkapi laporan kali ini.

***

* Media sosial menjadi ruang bebas untuk pertukaran informasi dan wacana publik. Tetapi, jika wacana publik dipenuhi narasi intoleransi dan berperspektif hitam putih, dapat menimbulkan kebencian.
* Jika ditilik sejarahnya di Indonesia, mulai dari awal reformasi, internet sudah dijadikan saluran untuk memobilisasi isu identitas, baik agama maupun etnis.
* Salah satu platform media sosial yang paling banyak digunakan warga internet yaitu Twitter.

***

Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Sri Sunarti mengingatkan pentingnya literasi digital yang baik di tengah banjir informasi di dunia maya.

"Kita tidak bisa mengelak. Dunia maya tidak bisa kita raba, namun menimbulkan efek nyata," kata Sri.

Media sosial, kata Sri, bekerja berdasarkan algoritma. Informasi yang sampai ke beranda akun media sosial penggunanya hanyalah yang disukai atau relevan saja.

Menurut Sri hal itu dapat menggerus logika dalam penerimaan informasi dan menumpulkan nalar kritis publik.

“Dimana kita juga akhirnya tidak mampu menangguhkan secara sementara keyakinan kita dalam menginterpretasi informasi, kebenaran informasi, hanya didasarkan pada kesejajarannya dengan keyakinan yang ada pada kita,” kata Sri.

Media sosial menjadi ruang bebas untuk pertukaran informasi dan wacana publik. Tetapi, jika wacana publik dipenuhi narasi intoleransi dan berperspektif hitam putih, dapat menimbulkan kebencian.

“Dan dapat menggerus kehidupan demokratis kita,” kata Sri.

Oxford Internet Institute pernah melakukan penelitian berjudul The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organized Social Media Manipulation. Salah satu hal yang terungkap dari riset adalah sebagian akun media sosial dipakai untuk menyebarkan informasi untuk membentuk opini sesuai kepentingan tertentu.

Riset tersebut juga memberikan gambaran betapa kesimpangsiuran informasi bisa diciptakan dan diorganisir oleh pasukan siber untuk membentuk opini publik, misalnya di masa-masa kontestasi politik.

Penelitian yang dilakukan LIPI pada tahun 2018 dan 2019 juga menemukan penggunaan narasi intoleransi di media sosial untuk kepentingan tertentu pada masa kontestasi politik.

Indonesia seharusnya belajar dari kasus penembakan brutal di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan puluhan orang pada Jumat 15 Maret 2019, kemudian kasus penembakan di sebuah toserba Walmart di kota El Paso, Texas, Amerika Serikat, yang merenggut sekitar 20 nyawa pada Sabtu, 3 Agustus 2019.

“Kedua peristiwa tersebut dihubungkan dengan kenyataan bahwa pelaku penembakan di El Paso nampaknya terinspirasi dan menyetujui narasi kebencian terhadap migran yang dianggap menggerogoti supremasi kulit putih yang disampaikan pelaku melalui media sosial. Jadi kejahatan kebencian seperti itulah yang menjadi tahap dan narasi-narasi intoleran,” kata Sri.

Dua kasus itu seharusnya menjadi peringatan untuk jangan sekali-kali menggunakan narasi kebencian atau intoleransi untuk kepentingan politik.

***

Jika ditilik sejarahnya di Indonesia, mulai dari awal reformasi, internet sudah dijadikan saluran untuk memobilisasi isu identitas, baik agama maupun etnis.

“Kajian awal internet misalnya sudah melihat bagaimana di era ketika reformasi baru dimulai tentang konflik Maluku, sudah ada organisasi yang menggunakan internet sebagai platform untuk mobilisasi isu-isu identitas, juga membuat polarisasi bahwa kelompok lawannya dari identitas berbeda adalah kelompok yang jahat sehingga harus dimusuhi dan diperangi,” kata peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI Ibnu Nadzir ketika saya temui di gedung LIPI, Jakarta Selatan.

Peneliti dari LIPI, Ibnu Nadzir. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Belakangan, penggunaan internet, terutama media sosial, untuk menggulirkan isu identitas, hoaks, dan hate speech semakin kencang.

Media sosial dijadikan pilihan karena banyak digunakan orang. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia 2018, mayoritas pengguna internet di Indonesia merupakan warga media sosial.

Salah satu platform media sosial yang paling banyak digunakan warga internet yaitu Twitter.

Twitter merupakan salah satu platform yang mampu menyuguhkan berbagai macam isu percakapan secara real time. Mayoritas masyarakat pengguna internet di berbagai belahan kota hampir setiap waktu memelototi Twitter untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.

Itulah sebabnya, pada masa-masa tahun politik, saluran ini digunakan untuk menggerakkan wacana politik, tak hanya di Indonesia, jauh sebelumnya juga dipakai para politikus di sejumlah negara di dunia, seperti Inggris dan Kanada.

Selama tujuh hari jelang dan pasca pemilu serentak (14-20 April 2019), LIPI melakukan penelitian Isu Identitas di Media Sosial Pada Pilpres 2019 dengan menggunakan kata kunci Islam, kafir, Cina, HAM, modal asing, dan tenaga kerja asing.

“Kenapa kata kunci ini? Karena ini adalah kata-kata kunci yang menjadi isu relevan pada masa pemilihan dan kami kira cukup terbagi antara satu yang menggunakan isu identitas dan juga yang isu di luar identitas atau isu keadilan sosial,” kata Ibnu.

Hasilnya, ditemukan 107.959 tweet dengan kata kunci itu.

Jumlah tweet tertinggi tweet terjadi pada 15 April 2019 atau dua hari menjelang pencoblosan, sebanyak 20.822 tweet.

Jika dilihat dari kata yang paling banyak digunakan netizen per hari selama tujuh hari itu adalah Islam. Rinciannya, pada 14 April (tujuh ribu tweet), 15 April (delapan ribu lebih tweet), 16 April (11 ribu lebih tweet), 17 April (12 ribu lebih tweet), 18 April 2019 (delapan ribu lebih tweet), 19 April (10 ribu lebih tweet), dan 20 April (delapan ribu lebih tweet).

Tapi jika kata kunci Islam dibandingkan dengan penggunaan kata kunci HAM, pada hari pertama dilakukan penelitian, jumlahnya jauh lebih rendah: dua ribu tweet. Baru pada hari kedua, kata kunci HAM banyak digunakan netizen, hampir mendekati delapan ribu tweet.

“(Hari kedua, 15 April) ini adalah pada momen ketika kalau tidak salah (ada pemutaran film tentang investigasi tambang batubara) Sexy Killers dimunculkan di Indonesia. Sehingga orang mulai mendiskusikan isu di luar isu keagamaan,” kata Ibnu.

Sedangkan penggunaan kata kunci Cina sejak dimulai penelitian sudah terdeteksi mendekati delapan ribu tweet. Namun, jelang tanggal 17 April justru menurun drastis.

Dalam penelitian, LIPI tidak menggunakan kata kunci Joko Widodo atau Prabowo Subianto. Sebab, mereka tidak ingin memetakan polarisasi pendukung kedua kubu.

“Namun kata kunci tersebut tetap muncul berkaitan dengan kata kunci - kata kunci yang digunakan sebelumnya, karena isu-isu tersebut seperti yang sudah disampaikan memang tidak dapat dielakan dari konteks pemilihan presiden,” ujar dia.

LIPI juga menggunakan Social Network Analysis yang dapat menggeneralisir kata-kata kunci tadi dan hasilnya ditemukan 51 topik.

“Jadi pada dasarnya, cara kerjanya secara sederhana adalah mereka (mesin) mengumpulkan kata-kata yang ada di cuitan tersebut, kemudian menghubungkan satu kata, melihat apakah kemungkinannya satu kata lebih mungkin muncul dengan kata tertentu.”

Dari 51 topik ditemukan enam topik yang berkaitan dengan kata kunci Cina dan kafir.

“Jadi kata Cina dan kata kafir terdapat di enam topik dari 51 topik yang ada, yang di-generate oleh mesin tersebut. Kalau kita lihat tweet-nya sedikit mendalam isinya adalah ini berkaitan memang yang seperti kita bayangkan mengenai isu etnisitas dalam segala stereotipnya dan lain-lain,” katanya.

Ke 51 topik itu kemudian dipilah ke dalam 12 klaster dan ditemukan empat klaster yang berbicara khusus mengenai kafir dan Cina.

“Yang pertama adalah klaster ini bicara banyak mengenai kafir dan akal sehat, saya kira tren ini menjadi sangat dominan muncul karena Rocky Gerung sering menggunakan itu, dan ini yang kita ambil,” kata dia.

Klaster kedua mengenai persepsi orang bahwa kafir sebagai kelompok yang jahat.

“Dan itu sebenarnya bisa digunakan di banyak sisi, terlepas siapa pilihan presidennya,” kata dia.

Klaster ketiga berbicara mengenai persepsi masyarakat tentang Cina. Sedangkan klaster yang keempat banyak bicara tentang keresahan ekonomi.

Dalam penelitian juga memetakan 10 tagar yang paling banyak digunakan netizen pada hari H pemilihan presiden. Penggunaan tagar didominasi untuk percakapan isu berbasis agama.

Kesepuluh tagar yang mendominasi pada hari itu, yakni gerakan subuh akbar Indonesia, khilafah ajaran Islam, return the khalifah, muslimah news, Islam rahmatan lil alamin, pilih orang baik, pilih yang jelas Islamnya, keberagaman yang membahagiakan, pilih yang baju putih, pemilu 2019.

“Terus yang lain-lain ada, tapi itu tidak berhenti sebagai isu agama, karena misalnya ada beberapa yang mengeluarkan tagar-tagar tandingan seperti keberagaman yang membahagiakan atau kawal kotak suara. Tapi itu adalah isu-isu yang tidak sepenuhnya bicara mengenai isu agama,” kata dia.

Penelitian ini menunjukkan penggunaan istilah yang seharusnya netral – misalnya mengenai peribadahan – menjadi tidak sepenuhnya netral karena dibumbu-bumbui isu identitas.

Menurut Sri, tantangan Indonesia di masa mendatang semakin besar.

Pemerintah perlu segera merumuskan strategi penanganan praktik intoleransi, terutama di media sosial, agar kerusakan yang ditimbulkannya tidak semakin parah.

“Serta (sekaligus) mampu juga menjamin kebebasan berpendapat yang diamanatkan oleh konstitusi, demikian penting diperhatikan,” kata Sri.

Sri menekankan pentingnya membangun kembali nalar kritis publik. Dia juga menekankan pentingnya menggunakan pendekatan secara kebudayaan dengan cara menanamkan nilai-nilai sosial kepada masyarakat agar tidak mudah termakan isu. []

Baca juga:

Tulisan 1: Orang Tak Bisa Mengelak, Dunia Maya Tidak Bisa Diraba, Tapi Efeknya Nyata: Media Sosial

Tulisan 2: Wadah Literasi Digital Sudah Banyak, Tapi Jangkauannya Belum Luas

Tulisan 3: Persoalan Hak Digital Bukan Lagi Pertarungan Individu, Tapi Belahan Dunia

Tulisan 4: Betapa Serius Dampak Kabar Bohong dari Media Sosial: Usaha Pemerintah Berantas Hoaks

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Waspada Hoaks

Betapa Serius Dampak Kabar Bohong dari Media Sosial: Usaha Pemerintah Berantas Hoaks

Image

News

Waspada Hoaks

Persoalan Hak Digital Bukan Lagi Pertarungan Individu, Tapi Belahan Dunia

Image

News

Waspada Hoaks

Wadah Literasi Digital Sudah Banyak, Tapi Jangkauannya Belum Luas

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Polisi Selidiki Mayat Laki-Laki di Hotel Tokyo Banjarmasin

"Korban ditemukan sudah meninggal dunia saat berada di kamar nomor 334 Hotel Tokyo,"

Image
News

Polri Akan Tindak Tegas Anggota Yang Tidak Jaga Netralitas di Pilkada 2020

"Pak Kapolri pernah bilang netralitas adalah sebuah dan menjadi kewajiban anggota polri

Image
News

Dapat Ikut Pilkada 2020, Mabes Polri Klaim Mantan Pati Polri Tak Dapat Intervensi Kepolisian Lagi

mantan perwira tinggi (Pati) Polri dapat mengikuti dan menjadi kandidat dalam Pilkada Serentak 2020.

Image
News

Anggota DPR Minta GAPKI Maksimalkan Pemanfaatan Biodisel untuk Dalam Negeri

Ridwan menolak energi biodisel yang dihasilkan di Indonesia diekspor ke luar. Sebab tiap tahun pemerintah mensubsidi Rp120 Triliun

Image
News

Lokasi Observasi 188 ABK Kapal Pesiar World Dream: Pulau Sebaru Ini Rumah, Jadi Ada Kamar-kamarmya Bagus

“BNPB siap mendukung opsi pemulangan WNI baik melalui laut maupun udara, sesuai keputusan yang akan dipilih Presiden Joko Widodo.”

Image
News

UPDATE: Dampak Banjir di Jabodetabek dan Karawang

Masyarakat yang membutuhkan evakuasi hewan peliharannya dapat menghubungi 112.

Image
News

Video Kekerasan Terhadap Muslim di New Delhi Viral, Tagar #ShameOnYouIndia Trending di Twitter

Beberapa video masih perlu diverifikasi kebenarannya

Image
News

Remaja 17 Tahun Kepergok Curi Uang Kotak Amal Masjid

"Pelaku kami bawa ke Mapolsek sehingga tidak dihakimi massa yang sudah berkerumun," kata Kapolres Cirebon.

Image
News

Anies Baswedan: Alhamdulillah Sore Ini 100 Persen Sudah Surut

"Pembahasan mengenai banjir dan lain-lain kita lakukan sesudah warga bisa kembali lagi ke rumah masing-masing," kata Anies.

Image
News

Pelaku Sudah Diamankan, Begini Kronologis Sopir Ambulans Dipukul Saat Bawa Jenazah

Selain jenazah, ambulans juga membawa pihak keluarga yang menyaksikan arogansi si supir mobil pribadi.

terpopuler

  1. Dari Kuli Bangunan hingga Bergelimang Harta, 8 Fakta Menarik Sosok Akbar 'Ajudan Pribadi'

  2. Masyarakat Diminta Waspada Penipuan Mengatasnamakan Pertamina

  3. Wabah Virus Corona di Korsel Capai Hampir Seribu Kasus, Kondisi Daegu Kini bak Kota Mati

  4. Masa Jabatan Hakim MA dan MK Beda, Saldi Isra: Politik Hukum Apa Yang Sedang Dibangun Pemerintah?

  5. Raja Arab Saudi Jamu Pendeta Yahudi dari Israel untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah

  6. Bantah Terima Rp7,5 M, Rano Karno: Seluruh Lalu Lintas Keuangan Diatur oleh Agus Uban

  7. Kasus Makin Meroket, Wakil Menteri Kesehatan Iran Positif Terjangkit Virus Corona

  8. Aksi Dua Lansia di Rumah Sakit ini Bikin Mewek, Bukti Romantis Tak Kenal Usia

  9. Rumah Langganan Terendam Air, Deretan Artis Ungkapkan Kekecewaan Hadapi Banjir Jakarta

  10. Polda NTB Nyatakan Status Siaga Satu Hadapi Siklon Tropis Ferdinand

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Memimpin Tanpa Menyalahkan

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Banjir Jakarta Menghanyutkan Elektabilitas Anies Baswedan?

Image
Achmad Fachrudin

Politik Dinasti, Oligarki dan Anomali Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Agama dan Pancasila

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kepala Perpusnas: Budaya Baca Bangsa Indonesia Tidak Rendah

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakornas Perpusnas, Penguatan Budaya Literasi Wajib untuk SDM Indonesia Unggul

Sosok

Image
News

5 Fakta Penting Maruli Simanjuntak, Komandan Paspampres Menantu Luhut Pandjaitan

Image
News

5 Fakta Karier Rian Ernest, Politisi Muda PSI yang Maju di Pilkada Batam 2020

Image
News

Tewas Saat Luncurkan Roket Buatannya, Ini 6 Fakta Menarik Penganut Bumi Datar Mike 'Mad' Hughes