image
Login / Sign Up

Krisis Sampah Plastik, Tinggal Tunggu Ketegasan Pemerintah

Maidian Reviani

Puasa Plastik

Image

Tumpukan sampah terlihat menumpuk di pinggir laut kawasan Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, Senin (29/7/2019). Tumpukan sampah yang didominasi oleh sampah plastik ini terbawa arus laut yang dibuang masyarakat secara sembarangan. Indonesia memiliki populasi pesisir sebesar 187,2 juta yang setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48-1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, * Menangani sampah yang sudah terlanjur masuk ke air, selain lebih sulit, biayanya juga sangat-sangat mahal.
* Belakangan ini, Indonesia sering menerima kiriman sampah dari sejumlah negara.
* Tetapi terjadinya perubahan perilaku tersebut akan lebih kuat dampaknya apabila pemerintah segera memiliki aturan tentang pengurangan plastik.

***

Indonesia darurat sampah, khususnya plastik. Di berbagai tempat pembuangan akhir, sampah menggunung.

baca juga:

Di Jakarta saja, produksi sampah rumah tangga dalam sehari bisa mencapai enam ribu ton. Dari jumlah itu, sepuluh persennya atau sekitar 600 ton sampah merupakan plastik.

"Dan nggak semua itu dia dibawa ke tempat pembuangan akhir (Bantargebang), ada yang (dibuang warga) ke sungai dan ditimbun dimana-mana," ujar Manager Kampanye Perkotaan dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Dwi Sawung.

Dwi Sawung. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Penanganan sampah plastik setelah dikirim ke TPST Bantargebang berbeda dengan penanganan terhadap sampah yang dibuang ke sungai-sungai dan kemudian turun ke lautan.

Menangani sampah yang sudah terlanjur masuk ke air, selain lebih sulit, biayanya juga sangat-sangat mahal.

“Dia bisa 100 kali lipat usaha (penanganan) di darat. Kalau kemarin tuh ada yang bilang sekitar 300 ribu dollar Amerika Serikat per ton untuk me-recovery (sampah plastik) di lautan. Memang mahal banget," kata Sawung.

Masalahnya lagi, persoalan sampah di Indonesia bukan hanya yang diproduksi dalam negeri, melainkan juga yang diimpor dari negara lain.

Belakangan ini, Indonesia sering menerima kiriman sampah dari sejumlah negara. Daerah-daerah yang sering menjadi tujuan pengiriman sampah dari luar negeri, antara lain Jakarta dan sekitarnya, Surabaya dan sekitarnya, Batam dan sekitarnya.

Sebetulnya, impor sampah tidak sepenuhnya salah, dengan catatan sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun.

Tapi, aturan tersebut dinilai tidak ketat pun dengan pengawasannya sehingga terjadi banyak pelanggaran.

"Kan kalau peraturannya terlalu mulus kan jadi pengawasannya sulit sekali, kalau pengawasannya nggak mungkin dilakukan, ya udah, yang lolosnya lebih banyak lagi. Itu masih lemah banget," kata dia.

"Kalau kami mencurigai bahwa mereka (oknum) dibayar dua kali (lipat). Mereka (asal sampah) ngeluarin uang dikirim ke negara lain,” kata dia.

Sembilan Kontainer Sampah Plastik Mengandung B3. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Alasan impor sampah ada kaitannya dengan kebutuhan bahan baku industri, misalnya untuk kertas baru. Tetapi, sebagian importir menyusupkan limbah yang seharusnya tak boleh diimpor.

“Apalagi semenjak Cina berhenti menerima impor itu, harusnya impor kan tadinya cuma kertas aja, atau plastik jenis tertentu, tapi sekarang tuh yang masuk udah banyak sampah rumah tangga, makanya jadi masalah," ujar dia.

Masalah bagi lingkungan di Indonesia semakin berat karena tak semua limbah impor bisa didaur ulang.

Selama April sampai Agustus 2019 saja, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendapati 318 kontainer berisi sisa material plastik tercampur limbah Bahan Beracun dan Berbahaya. Ratusan kontainer sampah plastik itu diamankan petugas dari Pelabuhan Batu Ampar, Batam (186 kontainer), dan di Kawasan Berikat Banten (132 kontainer).

Tentu saja keberadaan sampah plastik itu memusingkan. Itu sebabnya, pemerintah memutuskan untuk reekspor ke negara asalnya supaya tidak menjadi masalah bagi negeri ini.

Menurut Sawung impor sampah harus dihentikan agar beban lingkungan di Indonesia tidak makin berat. Dia mengingatkan penanganan sampah lokal saja sampai sekarang masih belum beres.

"Jadi TPA-nya nggak hanya dipenuhi oleh sampah lokal, tapi juga sampah impor dan itu nggak bisa diapa-apain plastik yang udah kualitasnya paling rendah, termasuk juga kemasan makanan. Kita temukan kemasan makanan bukan kemasan yang beredar di Indonesia, tapi di Amerika, Australia, Inggris. Supermarket di sini juga nggak ada (jenis kemasan itu)," kata dia.

Plastik yang berakhir di tempat sampah dimana-mana menimbulkan masalah, apalagi kalau dibakar begitu saja.

Contoh kasus yang terjadi di Jakarta Barat. Di kawasan yang berbatasan dengan Tangerang, ada salah satu lokasi yang sering dijadikan warga untuk pembakaran sampah plastik. Akibatnya, masyarakat sekitar mengalami masalah pernafasan.

Sembilan Kontainer Sampah Plastik Mengandung B3. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

“Dan itu juga sebenarnya di jangka panjang kemungkinan terkena kankernya gede banget. Nah itu yang jadi masalah juga,” kata Sawung.

Sampah plastik berbentuk sachet juga sangat berbahaya bagi lingkungan. Sampah jenis ini karakternya sama seperti botol plastik.

“Saya pikir Indonesia termasuk yang paling gampang ya plastik bebas, termasuk sebenarnya sachet ya. Tapi di negara asalnya sendiri itu nggak ada sachet. Dan memang buat dia itu sachet yang paling menguntungkan, keuntungannya bisa lebih gede daripada yang botolan. Makanya dia mempertahankan sachet. Nggak ada alasan masyarakat nggak mau beli, nggak ada.”

***

Walhi pernah melakukan audit merek sampah plastik ketika melakukan bersih-bersih pantai.

Mereka menemukan banyak sekali plastik, terutama bekas kopi sachet.

"Yang paling banyak sachet-sachet ya produk makanan yang sampai sekarang masih jadi problem besar, termasuk Indomie juga banyak juga kalau kita bersih-bersih pantai, kopi sachet itu, termasuk lima besar kopi sachet itu," kata Sawung.

Menindaklanjuti temuan itu, Walhi melakukan pertemuan dengan beberapa produsen untuk mencari solusi penanganan sampah plastik.

Salah satu produsen menjelaskan sudah mendaur ulang atau menarik sampah plastik yang mereka produksi untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Tapi, mereka merasa selalu di pihak yang disalahkan oleh kampanye pengurangan sampah plastik.

Merasa tidak mendapatkan keadilan, produsen menginginkan regulasi yang jelas dari pemerintah pusat terkait penggunaan plastik supaya tidak ada yang dirugikan.

"Mereka penginnya kalau bisa sama semuanya, semuanya nggak ada pengecualian, semua sama. Kalau sekarang mereka kayak diserang campaign sampah plastik, (padahal) mereka melakukan itu (daur ulang). Bagi mereka nggak adil, banyak kok katanya produk yang lain yang mereka nggak lakuin apapun (tidak mencemari)," ujarnya.

Ilustrasi sampah plastik AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Persoalan tersebut nampaknya ditangkap oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sekarang ini, kementerian sedang mematangkan penerbitan peraturan menteri tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen yang bertujuan untuk mewujudkan pembagian tanggungjawab yang adil bagi semua produsen.

“Kemungkinan akhir bulan ini akan keluar peraturan tentang itu, kewajiban-kewajiban produsen entah itu daur ulang atau mendesain kembali kemasannya, seperti peta jalannya, termasuk tadi juga sampai kapan,” kata Sawung.

Kendati demikian, Sawung menilai secara regulasi, Indonesia kalah dengan Rwanda yang sudah sejak 2008 menerapkan aturan ketat dalam penggunaan plastik. Negara itu menganggap plastik merupakan sumber bencana.

Dalam artikel berjudul Rwanda Plastic Bag Ban yang dimuat plasticoceans.org menyebutkan Rwanda merupakan satu dari 40 negara di dunia yang membatasi, melarang, atau mengenakan pajak atas penggunaan kantung plastik.

Ketika baru tiba di Bandara Kigali, Rwanda, orang-orang akan disambut oleh tulisan berukuran besar: Use of non-biodegradable polythene bags is prohibited.

“Kalau kita masuk bandara (Rwanda) dirazia betul, nggak boleh ada kantong plastik. Negara Afrika justru yang berhasil,” kata Sawung.

Sanksi ekstrim diberlakukan Pemerintah Rwanda kepada orang yang tetap memakai kantung plastik, yakni denda sekitar Rp710 juta atau penjara.

“Meskipun banyak yang mungkin menganggap larangan ini parah, tapi ini berhasil. Siapa pun yang memasuki Rwanda dapat melihat semuanya bersih. Tidak seperti negara lain, tidak ada gundukan sampah dan beberapa orang berpendapat itu adalah salah satu kota terindah di Afrika,” demikian ditulis dalam artikel itu.

Rwanda mungkin kini menjadi negara terbersih di Afrika setelah menerapkan peraturan tersebut.

Di negeri ini, daerah yang sudah mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, baru beberapa saja, antara lain Bali. Itu pun belum benar-benar didukung semua kalangan.

Sampah Plastik Cemari Laut di Pesisir Jakarta. AKURAT.CO/Sopian

Di provinsi yang menjadi tujuan wisata internasional itu memiliki Peraturan Gubernur Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. Peraturan tersebut didukung pula oleh penerapan hukum adat.

"Selain Bali, ada Banjarmasin, Balikpapan udah mulai, Jayapura, kemudian di Sumatera ada satu kota, terus Jambi udah mulai melarang, Bogor juga kemarin ramai, kan," kata Sawung.

Di Bogor, khususnya kabupaten, ritel modern dan pusat perbelanjaan juga sudah dilarang menggunakan kantung plastik sekali pakai. Ketentuan ini berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 13 Tahun 2019 tentang Pengurangan Penggunaan Plastik dan Styrofoam.

Tetapi Walhi belum puas. Pemerintah pusat harus terus menerus meluaskan kawasan larangan kantung plastik, termasuk juga sedotan.

“Dibandingkan lain-lain kayak ciki, kan sulitlah. Itu aja dulu dilarang, yang lainnya nanti bertahap ke yang lain,” kata Sawung.

Masyarakat, kata dia, tentu akan mengubah perilaku jika ada regulasi yang mengaturnya secara ketat serta ada pengawasan. Sebagai contoh, ketika uji coba plastik berbayar Rp200 per kantung pada 1 Maret 2019, sebagian orang protes. Tapi setelah uji itu, mereka mulai mengikuti aturan.

“Kalau dia nggak ada regulasinya jadi orang kan males, nggak ada bedanya orang yang gunakan plastik dengan yang tidak gunakan plastik. Dan dia akhirnya kayak ya udah orang nggak dilarang, jadi pakai aja. Walaupun kita lihat nggak ada tuh yang misalnya di kasir misalnya berantem, komplain iya memang di awal-awal, tapi biasa aja, sesudah itu berjalan normal biasa,” kata Sawung.

Pengurangan penggunaan styrofoam mestinya lebih mudah dilakukan karena sekarang sebagian besar masyarakat menyadari dampaknya. Menurut Sawung sekarang tinggal ketegasan dari pemerintah.

Styrofoam merupakan bahan yang sangat sulit terurai. Bahan ini mungkin baru bisa terurai setelah 800 tahun atau seribu tahun.

“Sama kayak plastik, tapi plastik kan beda-beda ya kualitasnya, ada yang 200 tahun. Kalau styrofoam lama, meski di air bentuknya bakal seperti itu-itu aja, nggak berubah. Paling kalau berubah pecah itu dia jadi kecil, tapi tetap aja plastik. Kalau dibakar bahaya stiren keluar,” kata Sawung.

“Udah, dilarang aja. Banyak kok negara yang larang styrofoam, karena dia secara volume gede terus nggak bisa diapa-apain. Yang kayak gitu pemerintah tegas aja udah melarang styrofoam terutama untuk kemasan makanan,” Sawung menambahkan.

Dengan adanya peraturan, pemerintah bisa meminta pertanggungjawaban produsen yang bandel, mulai dari denda sampai penutupan tempat usaha. Dengan denda saja, kata Sawung, biasanya perusahaan sudah takut.

Sampah plastik merupakan masalah serius bagi seluruh negara di dunia.

Sampah Plastik Penuhi Kampung Bengek. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Persoalan tersebut, kata Sawung, sebenarnya bisa menimbulkan industri baru dengan membuat kemasan-kemasan pengganti plastik.

“Dan kalau kita bisa menemukan kemasan baru yang lebih ramah, itu sangat ditunggu-tunggu sebenarnya di dunia internasional,” kata dia.

“Kita sebenarnya banyak tuh dari serat-serat alam Indonesia, kalau misal bisa menemukan itu bakal lebih bagus lagi,” Sawung menambahkan.

Sawung mengapresiasi tren positif yang berkembang di masyarakat, di tengah lambannya pemerintah membuat regulasi yang tegas untuk mengurangi pemakaian plastik, sebagian masyarakat berinisiatif dari hal-hal kecil, seperti membawa botol minuman sendiri.

“Mungkin karena mereka (anak muda) melihat tayangan di Youtube, dimana soal ikan mati, terus melihat tempat-tempat wisata mereka penuh dengan plastik. Jadi mereka punya kesadaran bahwa ini adalah salah,” kata Sawung.

Tetapi terjadinya perubahan perilaku tersebut akan lebih kuat dampaknya apabila pemerintah segera memiliki aturan tentang pengurangan plastik, khususnya untuk produsen.

“Kalau individu paling 30 persenlah (perubahannya), tapi kalau udah pemerintah itu bisa 90 persen bahkan nyaris sempurna bisa 100 persen,” kata dia. []

Baca juga: 

Tulisan 1: Dari Kebiasaan Saat Belanja, Berton-ton Sampah Plastik Penuhi Lautan

Tulisan 2: Negeri Ini Diserang Sampah Plastik Bermerek

Tulisan 3: Plastik Jadi Momok Menakutkan, Peta Jalan Sampah Bisa Jadi Solusi

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Hasil Riset Tahap Pertama TRIUMPH Soal Biota Laut dan Sampah Plastik

Image

News

Gibran Minum Es Teh Dibungkus Plastik, Susi: Aduh Jadi Sampah Lagi, Kita Minta Mas Gibran Sumbang Gelas dan Sedotan Stainless ke Pedagangnya Yok

Image

News

Puasa Plastik

Plastik Jadi Momok Menakutkan, Peta Jalan Sampah Bisa Jadi Solusi

Image

News

Puasa Plastik

Negeri Ini Diserang Sampah Plastik Bermerek 

Image

News

Puasa Plastik

Dari Kebiasaan Saat Belanja, Berton-ton Sampah Plastik Penuhi Lautan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Info yang Sebut Satu Pasien Positif COVID-19 di Kelurahan Mendawai Hoaks

Kelurahan juga mengimbau agar masyarakat tetap mematuhi protokol COVID-19 agar tidak ada penyebaran.

Image
News

Satgas Yonarmed 9/Kostrad Terima Lima Senpi Ilegal dari Warga Maluku Utara

"Berkat pembinaan teritorial dan kedekatan dengan warga inilah mendorong mereka untuk menyerahkannya secara sukarela"

Image
News

7.571 Kendaraan dari Tangerang Gagal Masuk Jakarta

Tak punya SIKM.

Image
News

Polisi Tangkap Oniara Wonda, Buronan KKB Papua Pelaku Teror Terhadap Tito Karnavian

"OW berhasil ditangkap dari pemantauan tim satgas yang termonitor berada di Kampung Igimbut, Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya"

Image
News

Satpas SIM Daan Mogot Siap Hadapi New Normal, Operasional Mobil Keliling Masih Dikaji

Pasalnya jika mobil keliling beroperasi, otomatis akan menimbulkan kerumunan warga

Image
News

Hari Ini 159 Pasien Corona di Jakarta Sembuh

Lalu pada hari ini jumlah kematian empat orang.

Image
News
Wabah Corona

DIY Nihil Penambahan Kasus COVID-19, 2 Pasien Dinyatakan Sembuh

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengumumkan tidak ada penambahan kasus pasien positif COVID-19, Selasa (2/6/2020)

Image
News

Advokat Pelapor Kasus Gagal Bayar di PT Mahkota Terancam Dikriminalisasi

Tuduhan terhadap OSO sejatinya tidak pernah ada. Sebab yang dilaporkan dalam kasus itu adalah RSO selaku pemilik dan Direktur Utama PT. MPIP

Image
News
Wabah Corona

Polri Siap Gelontorkan 6 Ribu Ton Beras Tahap Dua Bagi Masyarakat Terdampak Covid-19

Salut untuk Polri.

Image
News

Anggota KKB Kembali Tembak Warga Sipil di Jalan Trans Papua, Polisi Lakukan Pengejaran

Kemudian, pada Sabtu 30 Mei 2020, saksi berangkat menuju Kampung Magataga untuk mengambil jenazah.

terpopuler

  1. Covid-19 di Jatim, Surabaya Terparah, Mpu Jaya Prema: Ayo Bu Risma yang 'Konon' Perkasa, Mana Gebrakannya?

  2. Buruan, Update iPhone Kamu ke iOS 13.5

  3. Cerita Driver Ojol selama Pandemi: Soal Ajakan Demo di Istana, Orderan Sepi hingga Kesiapan New Normal

  4. X50 Series Jadi Smartphone Flagship Pertama vivo di 2020

  5. Tiga Syarat Pemakzulan Presiden Menurut Pemikir Islam

  6. Tembus Rp120 Juta Per Bulan! Ini 6 Negara dengan Gaji Polisi Tertinggi di Dunia

  7. Cegah Penyebaran Corona, Kodim Cimahi Berikan Edukasi Protokol Kesehatan

  8. Perlukah Sanksi kepada Pelatih Atalanta? Kebohongannya Mengancam Banyak Nyawa

  9. 8 Menit 46 Detik: Bagaimana George Floyd Tewas di Tangan Polisi AS?

  10. Dibunuh oleh Polisi hingga Picu Protes di Seluruh AS, Siapa Sebenarnya Sosok George Floyd?

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Dr. Abd. Muid N., MA.

Kota di Masa Pandemi

Image
Abdul Aziz SR

Salah Urus dan Salah Pengurus

Image
IMAM SHAMSI ALI

Anarkis Itu Suara yang Tak Terdengarkan

Image
Siti Nur Fauziah

Covid-19, Bagaimana dengan Indonesiaku Hari Ini?

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

5 Pesona Kahiyang Ayu Lakukan Virtual Photoshoot Bersama Diera Bachir

Image
News

Jualan Donat hingga Ciptakan Aplikasi Bersatu Lawan COVID-19, Ini 5 Fakta Menarik Ahmad Alghozi Ramadhan

Image
Ekonomi

Kiat Agar Bisnis Moncer Ala Bob Sadino