image
Login / Sign Up

Negeri Ini Diserang Sampah Plastik Bermerek 

Maidian Reviani

Puasa Plastik

Image

Sejumlah anak berlarian di tumpukan sampah plastik impor di Desa Bangun di Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (19/6/2019). Berdasarkan data Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah Ecoton, masuknya sampah dengan merk dan lokasi jual di luar Indonesia, diduga akibat kebijakan China menghentikan impor sampah plastik dari sejumlah negara di Uni Eropa dan Amerika yang mengakibatkan sampah plastik beralih tujuan ke negara-negara di ASEAN. Indonesia diperkirakan menerima sedikitnya 300 kontainer yang sebagian besar menuju ke Jawa Timur setiap harinya. | ANTARA FOTO/Zabur Karuru

AKURAT.CO, * Tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastic sebanyak 3,22 juta ton dengan sekitar 0,48-1,29 juta ton di antaranya mencemari lautan.
* Data tersebut menempatkan Indonesia menduduki peringkat kedua negara penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan dunia setelah Tiongkok.
* Publik diharapkan mau mendorong perusahaan untuk transparan dengan membuka jejak plastik mereka dan melakukan perubahan atas masifnya produksi kemasan plastik sekali pakai.

***

baca juga:

Ketika membeli mie instant di sebuah toko, dalam benak kebanyakan dari kita hanya membayangkan lezatnya rasa makanan berpengawet itu.

Jarang yang menyadari bahwa kemasan mie tersebut setelah dibuang, kelak menjadi momok menakutkan bagi planet bumi tempat kita semua berpijak.

Bungkus plastik mie instant yang dibuang begitu saja akan bertahan selama berabad-abad, barangkali sampai kiamat tiba.

Sebagai contoh, ketika Greenpeace Indonesia melakukan audit merek plastik di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, ternyata masih menemukan plastik merek Fuji Mie. Anak-anak era 1990-an tentu familiar dengan jajanan berisi mie kering yang sudah dibumbui ini.

Pada kemasan makanan itu masih terlihat dengan jelas tulisan harga Rp50 perak, tanggal produksi dan masa kedaluwarsa September 1999. Yang pudar hanya warnanya.

Temuan itu menggambarkan sampah plastik itu sudah lama dibuang, tetapi masih ditemukan dengan utuh bertahun-tahun kemudian.

Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi mengatakan plastik sangat sulit terurai. Itu sebabnya, limbah tersebut memiliki daya hancur yang besar terhadap lingkungan.

Muharram Atha Rasyadi. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Namun sayangnya, Indonesia masih menjadi salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia.

“Tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastik sebesar 3,22 juta ton dengan sekitar 0,48-1,29 juta ton di antaranya mencemari lautan. Data tersebut menempatkan Indonesia menduduki peringkat kedua negara penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan dunia setelah Tiongkok,” kata Muharram.

Sampah perusahaan yang memproduksi kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods) menjadi temuan terbanyak pada kategori sampah dalam kegiatan audit merek yang dilakukan Greenpeace Indonesia selama 2016-2019.

Mayoritas merek penyumbang sampah berada dalam industri makanan dan minuman, sebuah kategori industri yang terus berkembang setiap tahunnya mengikuti pertumbuhan populasi dan tingkat daya beli masyarakat.

“Ditambah lagi, produsen kini gencar menjual produk dalam kemasan ekonomis seperti kemasan sachet,” katanya.

Berdasarkan laporan terbaru Greenpeace berjudul “Throwing Away The Future: How Companies Still Have It Wrong on Plastic Pollution “Solutions,” sebanyak 855 miliar sachet terjual di pasar global pada tahun ini, dengan Asia Tenggara memegang pangsa pasar sekitar 50 persen. Diprediksi jumlah kemasan sachet yang terjual akan mencapai 1,3 triliun pada tahun 2027 (greenpeace.org).

Ketika industri terus bertumbuh, kata Muharram, volume sampah plastik pun akan meningkat, karena industri masih mengandalkan plastik sekali pakai sebagai kemasan.

Pada 2016, Greenpeace Indonesia melakukan audit merek sampah plastik di tiga pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Air, Pulau Bokor, dan Pulau Congkak.

Hasil audit di tiga pulau itu menunjukkan sampah berbentuk wadah botol plastik dan gelas plastik (cup) menjadi yang paling banyak ditemukan.

Dari hasil audit ditemukan 10 merek produk. Tiga produk menempati urutan teratas jumlah sampah plastik yang ditemukan, yakni O (353 buah), DA (289 buah), dan WF (195 buah).

“Jadi memang ada produk-produk lokal yang juga menempati merek terbanyak yang kami temukan pada tahun 2016, misalnya O, WF, M, D cukup tinggi dengan air mineral dalam kemasan yang paling banyak ditemukan,” kata Muharram.

Sampah Plastik Penuhi Kampung Bengek. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Selain itu, dalam audit, tim juga menemukan sampah plastik tidak bermerek yang jumlahnya mencapai 504 buah.

Tahun 2017, Greenpeace Indonesia kembali berinisiatif melakukan audit merek sampah plastik di Pulau Bokor, Kepulauan Seribu.

Tim audit menemukan sebanyak 4.003 buah sampah plastik. Rinciannya, ditemukan 2.229 buah sampah bermerek. Sampah kemasan makanan dan minuman menjadi yang terbanyak ditemukan selama audit (1.447 buah), kemudian 411 buah sampah rumah tangga, dan 371 buah sampah produk perawatan diri.

Hasil audit sampah plastik bermerek, tiga besar produk paling banyak ditemukan adalah U (130 buah), V (76 buah), dan O (66 buah).

“Ini jumlah item yang kami temukan, misalnya 330 bisa bervariasi, ada bentuk sachet, bentuk bungkus, botol dan lain sebagainya,” kata Muharram.

Selama audit, Greenpeace Indonesia juga menemukan sebanyak 1.774 buah sampah plastik tanpa merek. Sedotan menjadi sampah non merek terbanyak dalam audit itu, yakni 577 buah).

Tahun berikutnya, 2018, audit sampah plastik kembali dilakukan dengan cakupan lebih luas dari audit dalam dua tahun sebelumnya. Audit dilakukan di Tangerang, Pekanbaru, Padang, Bandung, dan Bali.

Di lima lokasi itu, sampah yang paling banyak ditemukan berbentuk kemasan plastik sekali pakai untuk produk kebutuhan rumah tangga serta makanan dan minuman.

Ada 10 merek sampah plastik yang ditemukan. Jumlahnya mencapai 3.562 buah. Rinciannya, W (876 buah), O (625 buah), S (534), I (456 buah), U (363 buah), D (294 buah), N (175 buah), M (158 buah), N (67 buah), dan S (14 buah).

“Tahun ini (2018), audit menghasilkan temuan lebih mendalam, seperti variasi merek yang banyak ditemukan dari satu perusahaan induk. Sebagai contoh, W menyumbang 876 sampah plastik yang berasal dari 27 merek berbeda dengan sampah merek sabun E sebagai yang terbanyak. Sementara I menyumbang 34 merek dengan I sebagai merek yang paling banyak ditemukan,” tuturnya.

Tim audit juga menemukan banyak sampah plastik non merek, seperti kantung, gelas, alat makan, dan sedotan yang jumlahnya mencapai 3.345 buah.

Sedangkan audit pada 2019 dilakukan di delapan lokasi, yakni Tangerang, Pekanbaru, Padang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Makassar, dan Bali (Bali Fokus).

Berdasarkan hasil audit, plastik merek I ditemukan sebanyak 724 buah. Merek ini menjadi yang paling banyak ditemukan di lokasi audit dengan satu varian yang mendominasi yaitu produk mie instant. Kemudian merek O (209 buah), M (286 buah), J (222 buah), dan D (2014 buah).

Sampah Plastik Penuhi Kampung Bengek. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

“Kalau kita lihat di 2019 ya, temuan yang paling banyak mendominasi adalah produk-produk dari perusahaan lokal dalam negeri Indonesia. Kalau kita lihat perusahaan luar ini hanya D di lima teratas dari audit mereknya,” kata Muharram.

Dari hasil identifikasi yang dilakukan selama 2019 ditemukan enam kategori sampah plastik, padahal tiga tahun sebelumnya secara berturut-turut hanya ada tiga kategori, yaitu kemasan makanan, produk rumah tangga, dan perawatan pribadi. Tahun ini tiga kategori itu bertambah menjadi material terkait rokok, peralatan memancing, dan bahan kemasan.

Dari hasil audit terlihat sepanjang 2016 sampai 2019 ada tiga merek besar yang kerap berada di peringkat teratas sebagai penyumbang sampah plastik terbanyak.

“Yang kami lakukan belum tentu bisa merepresentasikan hasil dari seluruh wilayah Indonesia karena kami hanya mengambil sample di titik-titik tertentu. Tapi setidaknya ini bisa menjadi gambaran dan juga mendorong perusahaan tersebut untuk mulai notice bahwa sebenarnya sampah-sampah mereka banyak loh ditemukan di wilayah-wilayah pesisir laut,” kata Muharram.

Sepanjang audit selama 2016-2019, jika dibandingkan jumlah temuan sampah plastik bermerek dan yang non merek, jenis sampah bermerek yang paling banyak ditemukan. Persentasenya, 54 persen sampah bermerek dan 46 persen sampah non merek, seperti sedotan, styrofoam, dan kantung plastik.

Tapi berdasarkan audit secara global, volume sampah non merek menempati posisi teratas. Jenis limbah kantung plastik menjadi yang paling banyak dijumpai, yakni 59.168 buah.
“Sampah yang memang tidak bermerek seperti kantung plastik, sedotan, styrofoam, itu tidak bisa tahu mereknya dengan hanya melihat produknya. Berbeda dengan misal kita melihat sampah kemasan sachet, air mineral dalam kemasan, yang bisa kita identifikasi merek dari produk,” kata dia.

***

Audit dilakukan Greenpeace Indonesia untuk mengetahui merek produk apa saja yang sering mencemari pantai, lautan, pesisir, maupun sungai-sungai. Audit ini dilakukan secara serentak di seluruh dunia.

“Jadi di 2018 sebagai contoh misalkan lebih dari 200 titik di seluruh dunia mengadakan brand audit dan angkanya meningkat hingga dua kali lipatnya, kalau nggak salah tahun ini (2019) lebih dari 400 titik kegiatan brand audit di seluruh dunia dilakukan,” kata Muharram.

Audit dilakukan karena selama ini setiap ada kegiatan clean up pasti berkesimpulan masyarakatlah yang harus bertanggungjawab dengan tidak membuang sampah secara sembarangan. Padahal, kata Muharram, perusahaan yang memproduksinya juga harus bertanggungjawab, begitu juga dengan pemerintah.

“Audit merek bertujuan mendorong pelaku industri yang memproduksi dan menggunakan plastik sekali pakai agar bertanggungjawab secara penuh terhadap dampak plastik sekali pakai yang didistribusikan kepada masyarakat. Sejauh ini, tanggungjawab permasalahan sampah kerap dibebankan kepada masyarakat sebagai konsumen,” kata dia.

Sampah Plastik Cemari Laut di Pesisir Jakarta. AKURAT.CO/Sopian

“Dengan kita melakukan brand audit, sebenarnya kita ingin membawa narasi bahwa ada juga peran dari perusahaan-perusahaan yang harusnya bertanggungjawab atas project yang mereka lakukan. Dan kita bicara seperti ini pun bukan berlandaskan asumsi,” Muharram menambahkan.

Volume sampah plastik yang semakin besar menjadi momok menakutkan bagi lingkungan dan masyarakat Indonesia, seperti yang sudah diutarakan di bagian awal tulisan.

Sebab, daya tampung tempat pemrosesan akhir sampah terbatas. Belum lagi, tidak semua sampah plastik bisa didaur ulang. Apalagi, sistem pengelolaan sampah nasional dinilai belum dapat menjalankan konsep daur ulang dan pemilahan dengan baik.

“Pengurangan produksi plastik sekali pakai dan penerapan konsep ekonomi sirkular merupakan solusi utama dari krisis masalah plastik,” ujarnya.

Menurut Muharram industri ikut berkontribusi terhadap krisis sampah plastik. Industri menciptakan sebuah kenyamanan bagi masyarakat melalui budaya konsumtif dengan produk yang dikemas secara praktis dan sekali pakai. Sampah kemasan plastik itu akhirnya menjadi polutan.

“Plastik menjadi pilihan utama produsen karena dianggap sebagai kemasan murah dan mudah digunakan. Meskipun isu sampah plastik merusak lingkungan kerap muncul, produsen tetap mempertahankan pilihannya pada plastik sekali pakai sebagai kemasan produknya,” kata dia.

***

Selain kepada industri, hasil audit tersebut diharapkan dapat mendorong pemangku kepentingan untuk bertindak.

Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan untuk mengendalikan produksi plastik sekali pakai dan penggunaan plastik di masyarakat. Misalnya, secara tegas dan jelas mengatur tanggungjawab produsen atas plastik yang mereka produksi.

“Karena kalau kita tanya industri, mereka pasti klaimnya kantong plastik bisa didaur ulang, tapi faktanya kantung plastik ini sangat banyak kita temukan selama 2019 dan hasilnya ini cukup konsisten ya di laporan global Break Free From Plastic, item yang paling banyak ditemukan di seluruh dunia adalah plastik. Ini menjadi PR tersendiri juga ketika bicara mendorong perusahaan, tapi ada satu sisi juga yang perlu kita address terkait sampah-sampah non merek ini dengan sederhananya kita mulai memberlakukan larangan,” ujar Muharram.

Krisis sampah plastik, kata Muharram, jangan semuanya dibebankan kepada masyarakat.

Sampah Plastik Cemari Laut di Pesisir Jakarta. AKURAT.CO/Sopian

“Karena selama ini kan masyarakat diminta berubah, diminta tidak pakai kantong plastik, tidak diminta pakai sedotan, diminta tidak membawa kantung sendiri,” kata Muharram.

Setelah melakukan audit, Greenpeace Indonesia berharap kepada semua pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengupayakan solusi krisis sampah plastik di negeri ini agar lingkungan tetap lestari sampai generasi yang akan datang.

Kepada perusahaan, pertama, diharapkan benar-benar memiliki komitmen untuk mengurangi produksi plastik sekali pakai dan beralih menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.

Kedua, perusahaan harus menerapkan prinsip transparansi dan membuka jejak plastik yang diproduksi, dalam hal jumlah dan jenis kemasan serta pasar produk itu.

Ketiga, mendorong investasi dalam penggunaan kembali (reuse) dan pengisian ulang (refill) lewat sebuah sistem yang inovatif, ramah sosial dan lingkungan, untuk mengemas barang produksi perusahaan, sehingga tidak lagi menggunakan kemasan plastik sekali pakai.

“Kami berharap bahwa industri udah mulai berinvestasi dan berpikir keras bagaimana mereka bisa mengedepankan sistem reuse dan refill. Karena dalam skala kecil sebenarnya kita sudah melihat muncul beberapa inisiatif seperti box store. Dimana toko murah yang tidak menyediakan kemasan. Jadi kita berbelanja disana kita harus bawa wadah sendiri. Kita berharap industri bisa mengadopsi model seperti itu dan menerapkan di skala yang lebih besar,” kata Muharram.

Kepada pemerintah, Greenpeace Indonesia menyarankan, pertama, tidak hanya fokus pada sektor pengelolaan sampah di bagian hilir, namun mengutamakan sistem ekonomi sirkuler dalam penanganan masalah plastik.

Sampah Plastik Cemari Laut di Pesisir Jakarta. AKURAT.CO/Sopian

Kedua, menerapkan kebijakan yang menitikberatkan pada pengendalian produksi dan peredaran plastik sekali pakai bagi masyarakat. Dan ketiga, segera membuat peraturan teknis tentang peta jalan perusahaan dalam pengurangan timbunan sampah sebagai turunan dari undang-undang yang ada, serta memberlakukan sanksi bagi produsen yang tidak bertanggungjawab atas sampah kemasannya.

“Sebenarnya pemerintah kita masih punya PR untuk peraturan turunannya yang perlu dijalankan terkait tanggungjawab perusahaan,” ujarnya.

Sementara untuk masyarakat, disarankan, pertama, berkomitmen untuk mengurangi penggunaan plastik dan mengubah gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Kedua, mau mendorong perusahaan untuk transparan dengan membuka jejak plastik mereka dan melakukan perubahan atas masifnya produksi kemasan plastik sekali pakai. []

Baca juga: 

Tulisan 1: Dari Kebiasaan Saat Belanja, Berton-ton Sampah Plastik Penuhi Lautan

Tulisan 3: Plastik Jadi Momok Menakutkan, Peta Jalan Sampah Bisa Jadi Solusi

Tulisan 4: Krisis Sampah Plastik, Tinggal Tunggu Ketegasan Pemerintah

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Gibran Minum Es Teh Dibungkus Plastik, Susi: Aduh Jadi Sampah Lagi, Kita Minta Mas Gibran Sumbang Gelas dan Sedotan Stainless ke Pedagangnya Yok

Image

News

Puasa Plastik

Krisis Sampah Plastik, Tinggal Tunggu Ketegasan Pemerintah

Image

News

Puasa Plastik

Plastik Jadi Momok Menakutkan, Peta Jalan Sampah Bisa Jadi Solusi

Image

News

Puasa Plastik

Dari Kebiasaan Saat Belanja, Berton-ton Sampah Plastik Penuhi Lautan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Perjanjian Perkawinan

Mengapa DPR Tak Masukkan Perubahan Perjanjian Perkawinan dalam UU?

Diah berkomitmen untuk mencari solusi supaya putusan-putusan MK dapat dimuat dalam revisi UU Perkawinan berikutnya.

Image
News

Pilkada 2020, Bawaslu Ingatkan ASN Tidak Terlibat Langsung Politik Praktis

Pihaknya selalu mengingatkan agar aparatur sipil negara atau ASN tidak melibatkan diri secara langsung pada politik Pilkada serentak 2020.

Image
News

Diduga Akibat Masalah Asmara, Seorang Pria Tewas Gantung Diri

Bunuh diri akibat diduga terjadi masalah dalam asmaranya yang diperoleh dari hasil penyelidikan petugas di telepon seluler korban.

Image
News
Perjanjian Perkawinan

Perubahan UU Perkawinan Setelah Sekian Lama Ditunggu, Praktisi Hukum: Pasal Tujuh Doang, Ya Allah

Setelah ada putusan MK, perjanjian perkawinan dapat dibuat sebelum atau setelah perkawinan selama masih dalam ikatan perkawinan.

Image
News

Makin Canggih, Ditjen Pas Sebut Penyelundupan ke Lapas Sudah Gunakan Drone

“Hebatnya sekarang sudah dengan drone, layangan, hingga jasa pengiriman melalui transportasi online. Kan luar biasa,”

Image
News
Perjanjian Perkawinan

Gugatan Ike Jadi Sejarah Baru Perjanjian Perkawinan

Pasal-pasal yang digugattelah merampas hak konstitusional untuk memiliki hak milik dan hak guna bangunan.

Image
News

Ditinggal Orang Tuanya, Bocah SD Jadi Korban Cabul Tukang Kebun

Saat itu tersangka berinisial SR (34) menghubungi korban melalui pesan singkat.

Image
News

Musim Hujan, BPBD Bandarlampung Catat 8 Titik Potensi Banjir

Ia pun menghimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai curah hujan tinggi yang dapat menyebabkan banjir, longsor hingga pohon tumbang.

Image
News

Lawan Narkoba, BNN Bersama TNI dan Polri Sidak Lapas di Tasikmalaya

Selain memeriksa kamar, para penghuni lapas juga diperiksa tubuhnya oleh petugas guna memastikan dalam bajunya tidak ada barang terlarang.

Image
News

Tangkap Pengedar Narkoba di Papua Barat, Seorang Warga Negara Papua Nugini Jadi Buron Polisi

"R alias D ini warga negara asing asal PNG. Dia dan NW masih buron."

trending topics

jamkrindo umkm

terpopuler

  1. Gervinho Nodai Debut Gattuso Bersama Napoli

  2. Disalip Bus Transjakarta di Jalanan Ibu Kota, Warganet Malah Puji Presiden Jokowi

  3. Politisi Gerindra Geram, Anies Nonaktifkan Lurah Jelambar Gegara Honorer Nyebur ke Got

  4. Mau Pasang AC Pelanggan, Pria ini Langsung Ciut Lihat Penampakan Mirip Pocong

  5. Bikin Haru, Nenek Ngatiyem Berusia 110 Tahun Masih Jualan Kerupuk di Alun-Alun Kidul Yogyakarta

  6. Bikin Heran Warganet Indonesia, YouTuber Tenar Inggris Bangga Bakal Nikah dengan Petani

  7. Kalahkan Pasangan Jepang, Daddies Tutup Akhir Tahun dengan Juara

  8. Hendra/Ahsan Merasa Diuntungkan dengan Kesalahan Lawan

  9. Hendra Setiawan Ungkap Kunci Daddies Mengalahkan Ganda Jepang

  10. Korban Rumah Ambruk Minta Ganti Rugi, Sudin SDA Jaktim: Enggak Murni Kesalahan Kontraktor

fokus

Perjanjian Perkawinan
Stop Pelecehan Seksual
Kursus Calon Pengantin

kolom

Image
Ujang Komarudin

Sikap Abu-abu Partai Demokrat

Image
Achsanul Qosasi

Haruskah TVRI Kembali Mati Suri?

Image
Achmad Fachrudin

Revitalisasi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat

Image
Hervin Saputra

Ego Tuan Rumah dan Reputasi SEA Games yang Kian Meragukan

Wawancara

Image
Sea Games

Milos Sakovic

"Polo Air Indonesia Butuh Liga dan Banyak Turnamen"

Image
Gaya Hidup

Pertama Kali Akting Bareng, Giorgino Abraham Langsung Nyaman dengan Sophia Latjuba

Image
Video

Joshua Rahmat, CEO Muda yang Menggawangi Mytours

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Arifin Panigoro, Raja Minyak Indonesia yang Jadi Wantimpres Jokowi

Image
Ekonomi

Kekayaan Capai Rp435 T! Ini 7 Fakta Menarik Bos Brand Uniqlo, Tadashi Yanai

Image
News

10 Potret Istri KSAU Yuyu Sutisna, Tampil Cantik dengan Hijabnya