image
Login / Sign Up

Kebebasan Pers Memang Dinikmati Jurnalis, Tapi Kekerasan Terhadap Mereka Makin Meningkat

Maidian Reviani

Stop kekerasan

Image

Aksi menolak kekerasan terhadap jurnalis | Dok. AJI Jakarta

AKURAT.CO, * Berdasarkan wawancara, mayoritas aktor kekerasan terhadap jurnalis dilakukan aparat keamanan. Artinya apa? Dari dulu sampai sekarang yang menjadi pelaku kekerasan tertinggi terhadap jurnalis adalah negara.
* Ada sejumlah faktor yang menyebabkan kekerasan terhadap jurnalis selalu terjadi di Indonesia. Di antaranya, budaya impunitas sehingga pelaku selalu merasa di atas angin.
* Jenis kekerasan baru persekusi secara online (doxing) akan menjadi tren mengkhawatirkan di masa-masa mendatang.

***

baca juga:

"Kasus kekerasan terhadap jurnalis jarang terselesaikan secara hukum, bentuk kekerasan berkembang dengan adanya media baru, dan aktor kekerasan konsisten,” kata pengajar pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Gilang Desti Parahita.

Sebelum kerusuhan Mei 2019 lalu, Gilang mengadakan riset bertema Pola dan Ancaman Kekerasan terhadap Jurnalis pada Era Digital. Dia mewawancari 92 jurnalis yang terbagi laki-laki (85 persen) dan perempuan (15 persen). Jurnalis yang dijadikan responden terdiri dari berbagai platform media.

Berdasarkan wawancara, mayoritas aktor kekerasan terhadap jurnalis dilakukan aparat keamanan.

“Artinya apa? Bahwa dari dulu sampai sekarang, yang menjadi pelaku kekerasan tertinggi terhadap jurnalis adalah negara,” ujar dia.

Sebagian aktor lagi dilakukan anggota organisasi kemasyarakatan dengan menggunakan identitas agama tertentu.

Gilang menengarai seandainya survei itu dilakukan setelah terjadi kerusuhan pada Mei atau setelah kerusuhan di Papua, kemungkinan angka kekerasan yang tercatat lebih banyak lagi. Sebab setelah kedua peristiwa itu, kembali terjadi sejumlah kasus kekerasan dengan jenis aktor yang sama.

Menurut hasil penelitian, sebanyak 20 jurnalis mendapatkan pelecehan seksual secara langsung,12 jurnalis mendapatkan penghinaan secara langsung, 32 jurnalis mendapatkan serangan fisik, dan 38 jurnalis mengalami perampasan alat kerja ketika sedang melakukan liputan di lapangan.

Tetapi di era new media, kekerasan tak hanya dilakukan secara langsung, melainkan juga melalui internet.

Hasil penelitian menyebutkan 38 jurnalis mendapatkan penghinaan secara online, 41 jurnalis dibuntuti secara online, 42 jurnalis mendapatkan pelecehan seksual, 53 jurnalis mendapatkan ancaman.

“Ini sebetulnya barangkali angkanya (kekerasan melalui online) jauh lebih banyak ketimbang kekerasan yang benturan fisik antara jurnalis dan aktor negara itu tadi. Ini artinya bahwa jika teman-teman AJI atau PWI atau asosiasi jurnalis yang membuka peran pelaporan kekerasan yang dilakukan media digital, mungkin angkanya jauh lebih tinggi dan bentuk kekerasannya akan jauh lebih beragam,” kata Gilang.

Dalam situs resmi AJI Indonesia menyebutkan jenis kekerasan baru persekusi secara online (doxing) akan menjadi tren mengkhawatirkan di masa-masa mendatang. Doxing yaitu pelacakan dan pembongkaran identitas jurnalis yang menulis berita atau komentar yang tak sesuai aspirasi politik pelaku, lalu menyebarkannya ke media sosial untuk tujuan negatif.

Dalam penelitian yang dilakukan Gilang, dampak doxing tak kalah mengganggu dari kekerasan fisik.

“Misalnya, ada seorang jurnalis di Yogya mengaku mendapatkan doxing. Jadi identitas dia pernah beredar di kalangan tertentu, sehingga dia merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut,” ujar dia.

Dosen UGM Gilang Desti Parahita. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Ancaman terhadap keselamatan jurnalis bukan hanya ketika meliput kerusuhan, melainkan juga ketika meliput bencana alam, aksi teroris, dan topik korupsi.

Tetapi ternyata tidak semua perusahaan media peduli dengan kebutuhan keselamatan bagi jurnalis mereka ketika sedang bekerja di lapangan.

Justru yang paling getol melakukan kampanye adalah komunitas jurnalis.

“Nah teman-teman yang tidak tergabung dalam komunitas jurnalis ini posisinya lebih rawan karena mereka susah untuk menekan perusahaan media untuk menyediakan SOP dan peralatan yang mendukung keselamatan jurnalis,” kata Gilang.

“Dia (hak jurnalis) bukan kemewahan, artinya, jika itu memang hak, maka ekosistem dimana jurnalis itu bekerja harus mendukung itu. Yang terjadi saat ini adalah jurnalis merasa profesinya, marwahnya, kewibawaannya itu, seperti tidak dijaga baik oleh negara maupun aktor non negara,” Gilang menambahkan.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan kekerasan terhadap jurnalis selalu terjadi di Indonesia.

Di antaranya, budaya impunitas sehingga pelaku selalu merasa di atas angin. Kemudian, lemahnya komitmen kelembagaan negara terhadap institusi media massa. Profesi jurnalis juga kurang dihormati aparat negara, bahkan sebagian masyarakat sipil.

Selain itu, logika industri yang mendasari penyusunan regulasi media masih sangat kuat. Hal itu dipengaruhi oleh sistem oligarki media.

“Lemahnya atau terbatasnya asosiasi pekerja media sehingga tidak terbentuk solidaritas yang efektif antar jurnalis, bahkan meningkatkan mentalitas lapdog. Dan di wilayah Indonesia yang luas, persoalan kekerasan yang beragam di daerah, sementara pada sisi lain sumber daya Dewan Pers maupun Komite Keselamatan Jurnalis terkait tindakan preventif terbatas,” katanya.

Menurut Gilang, konsekuensi apabila situasi tersebut dibiarkan terus, standar profesionalisme jurnalisme tidak dapat dipertahankan lagi. 

“Hal itu membuat jurnalis tidak loyal, tidak patriotik, musuh dalam selimut, creator fake news, dan lain sebagainya,” kata Gilang.

Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan Gilang yaitu pentingnya memperkuat komitmen lembaga pers, akademisi, masyarakat sipil, dan negara dalam melindungi hak-hak jurnalis.

Menurut Gilang, indikator kekerasan terhadap jurnalis harus dijadikan sebagai pencapaian sustainable development goal pemerintah pusat maupun daerah.

“Upayakan sama-sama tidak hanya oleh Komite Keselamatan Jurnalis, melainkan juga penting bagi jurnalis melibatkan perusahaan media untuk memastikan edukasi atau SOP keselamatan itu dijamin di perusahaan tersebut. Dan saya kira kemitraan terhadap universitas itu penting supaya universitas atau akademisi itu alert dengan situasi itu,” kata dia.

Gilang mengusulkan kepada Dewan Pers agar memasukkan beberapa aspek lagi sebagai persyaratan bagi media untuk mendapatkan verifikasi.

Aspek-aspek itu, antara lain pelatihan untuk keselamatan jurnalis, penyediaan safety equipment, asuransi kesehatan jiwa, ruang ASI yang layak di redaksi, SOP untuk penanganan kasus pelecehan seksual, pembayaran hak lembur, dan anggota asosiasi pekerja pers.

Selanjutnya, kata Gilang, ia akan melakukan penelitian mengenai kekerasan berbasis gender.

“Misalnya senior jurnalis di institusi media itu sendiri, begitu. Dan buktinya banyak sekali kekerasan berbasis gender yang dialami jurnalis perempuan ini juga tidak diselesaikan dengan baik,” kata Gilang.

Sejauh ini, menurutnya, kekerasan berbasis gender yang dialami jurnalis perempuan belum dimasukkan sebagai kategori kekerasan karena dianggap masuk ranah pribadi.

***

Tumbangnya rezim Soeharto pada 21 Mei 1998 membawa perubahan bagi kehidupan pers di Indonesia.

Pada 23 September 1999, Presiden BJ Habibie mengesahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang mencabut wewenang pemerintah untuk menyensor dan membredel pers.

Kebebasan pers memang dinikmati para jurnalis, tetapi kekerasan terhadap mereka menunjukkan tren peningkatan.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Pers Ade Wahyudin mengatakan periode pertama pemerintahan Joko Widodo kasus kekerasan banyak terjadi.

“Kenapa demikian? Karena tahun ini saja terjadi beberapa demonstrasi besar, itu di bulan Mei (penolakan hasil penghitungan suara pemilihan Presiden Indonesia 2019) dan kemarin di bulan September (mahasiswa),” kata dia.

LBH Pers kecewa karena justru pelakunya paling banyak aparat penegak hukum.

“Yang kami temukan adalah di setiap kronologis itu sebelum kekerasan terjadi, si jurnalis sudah menunjukkan bahwa dia adalah jurnalis, jadi ketika didatangi oleh oknum dan diminta untuk menghapus ataupun ingin dibawa ke mobil tahanan, si jurnalis udah menunjukkan bahwa dia jurnalis, dengan kartu persnya, kemudian ada perintah penghapusan, ada penganiayaan dan dibawa ke mobil tahanan gitu ya,” ujar dia.

Kasus kekerasan terhadap jurnalis ketika meliput aksi massa tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga di daerah, misalnya di Makassar, Sulawesi Selatan. Di Makassar, pelakunya dihukum oleh Polda Makassar selama 21 hari penahanan. “Tapi itu hanya hukuman etik,” katanya.

Menurut Ade, ada beberapa persoalan serius yang terjadi pada media dan berimbas pada kekerasan terhadap jurnalis di lapangan. Faktor kepemilikan misalnya. Pemilik grup media di Indonesia hanya beberapa orang saja dan biasanya sikap politik kentara sekali jelang pemilu.

“Itu konteks (kepemilikan media) sangat lumrah di Indonesia. Sehingga yang terjadi adalah ketidakpercayaan publik ke media itu sendiri, karena para pemimpinnya mencontohkan bahwa jangan percaya media ini. Akhirnya ke bawah adalah media menjadi sasaran kekerasan, karena dianggap media menyebarkan framing tidak benar, berita bohong,” ujar dia.

Persoalan berikutnya adalah lemahnya solidaritas jurnalis setiap kali terjadi kekerasan di lapangan. Mereka cenderung hanya memikirkan diri sendiri.
 

“Nah saat ini solidaritas itu belum ada, jadi hanya kemudian masing-masing dia aman, sehingga ketika ada kasus kekerasan ya itu urusan dia, dan itu urusan saya. Dan itu tidak terjadi di lapangan. Bentuk-bentuk solid itu sangat penting dilakukan teman-teman jurnalis di lapangan. Untuk apa? Untuk pembuktian, ketika kita melakukan pelaporan, bukti itu harus ada, foto itu sangat penting.”

Mitigasi sebelum melakukan liputan yang berpotensi terjadi kerusuhan juga masih lemah. Sebagai contoh menjelang demonstrasi terkait hasil pemilu pada Mei 2019 lalu. Seharusnya para jurnalis mempersiapkan diri dengan perlatan standar keamanan.

“Tapi ini tidak terjadi, sehingga akhirnya kekerasan terjadi lagi karena memang dia (jurnalis) tidak mengantisipasi membawa alat-alat keselamatan. Mitigasi ini sangat kurang kesadaran temen-temen jurnalis. Tentu saja terlibat juga perusahaan pers yang harusnya memiliki SOP terhadap keselamatan jurnalis ketika meliput demonstrasi,” kata Ade.

Hambatan lain lagi muncul ketika kasus kekerasan terhadap jurnalis yang dilakukan anggota polisi hendak dilaporkan ke kantor polisi. Prosesnya sungguh melelahkan.

Direktur LBH Pers, Ade Wahyudin. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Ade menyontohkan ketika LBH Pers hendak melaporkan empat kasus ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Metro Jaya usai kerusuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dari pukul 09.00 sampai 19.00 WIB, hanya dua aduan yang diterima, itu pun harus berdebat dulu.

“Jadi di SPKT itu ada kriminal khusus, ada kriminal umum, dalam konsultasi krimsus dan krimum ini saling ngoper, ini bukan kewenangan saya katanya UU Pers, karena krimum katanya KUHP. Tapi ketika konsultasi ke krimsus, kok nggak ada dikrimsus UU Pers. Akhirnya kita berdebat panjang, berdebat soal siapa kewenangan-kewenangan ini, ya terlepas dari yang kita laporkan adalah anggota (polisi), tapi perdebatan soal siapa yang berhak menangani di lapangan ini menjadi persoalan serius,” kata dia.

“Jadi belum diproses saja, ya mereka bingung meski kemana ini proses hukumnya. Padahal dua puluh tahun UU Pers dan sampai saat ini penerapannya di pihak kepolisian terkait SPKT-nya masih kayak gitu,” Ade menambahkan.

Contoh lain yang disebutkan Ade Wahyudin adalah kasus pembunuhan terhadap Maraden Sianipar dan Martua Siregar di Medan, Sumatera Utara, baru-baru ini.

Menurut Ade, seharusnya polisi mengusut kasus itu terlebih dahulu sambil mencari jawaban mengenai profesi mereka sesungguhnya jurnalis atau bukan. Ade mengatakan perbuatan pelaku terhadap Maraden dan Martua sudah biadab.

"Ada beberapa yang mengatakan dia bukan jurnalis. Tapi sebenarnya adalah yang perlu kita desak adalah pengusutan dari kasus pembunuhan tersebut, terlepas nanti prosesnya dia jurnalis atau bukan," katanya.

Setelah beberapa pekan, dari hasil verifikasi yang dilakukan AJI Medan disimpulkan Maratua Siregar alias Sanjai dan Maraden Sianipar tidak berprofesi sebagai jurnalis. Atas dasar tersebut, Komite Keselamatan Jurnalis menyimpulkan kasus pembunuhan ini bukanlah kasus kekerasan terhadap jurnalis.

Begitu juga dengan kasus Asnawi Luwi, jurnalis S
erambi Newsdi Aceh. Rumah Asnawi dibakar diduga karena berita yang ditulisnya menjadi ancaman bagi pihak tertentu. 

Pemberitaan yang ditulis Asnawi, di antaranya proyek pembangunan jalan Muara Situlen-Gelombang, proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Lawe Sikap, illegal logging di lokasi PLTMH Lawe Sikap, 13 titik tambang galian C, dan kasus perjudian di Aceh Tenggara.

"Meskipun aparat kepolisian mengindikasikan bukan terkait kasus pers, tapi yang kita temukan bahwa sebelumnya dia meliput kasus terkait dengan lingkungan, dia mendapat ancaman-ancaman untuk menghentikan peliputannya," katanya.[]

Baca juga:

Tulisan 1: Kisah dari Dua Keluarga Jurnalis yang Dibunuh karena Berita

Tulisan 3: Jurnalis, Penghilangan Nyawa, dan Praktik Impunitas

Tulisan 4: Jurnalis Jadi Sasaran Aksi Kekerasan karena Tugasnya Ungkap Kebenaran: UNESCO dan Pemerintah Inggris Bicara

Tulisan 5: Kekerasan Terhadap Jurnalis di Mata Tentara dan Polisi

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Stop kekerasan

Kekerasan Terhadap Jurnalis di Mata Tentara dan Polisi

Image

News

Stop kekerasan

Jurnalis Jadi Sasaran Aksi Kekerasan karena Tugasnya Ungkap Kebenaran: UNESCO dan Pemerintah Inggris Bicara

Image

News

Stop kekerasan

Jurnalis, Penghilangan Nyawa, dan Praktik Impunitas

Image

News

Stop kekerasan

Kisah dari Dua Keluarga Jurnalis yang Dibunuh karena Berita

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Gaya Hidup

Sayonara Oriental Circus Indonesia, Sirkus Tanah Air Terbaik Sepanjang Masa

Oriental Circus Indonesia: The Great 50 Show adalah farewell yang mengharukan bagi dunia sirkus tanah air.

Image
Gaya Hidup

Yuk, Ajak Keluarga Nonton Oriental Circus Indonesia: The Great 50 Show

The Great 50 Show adalah pertunjukan terakhir Oriental Circus Indonesia yang menampilkan sirkus modern. So, jangan lewatkan!

Image
Gaya Hidup

Hati-hati, Tidur Lebih dari 8 Jam Berisiko Terkena Stroke

Penelitian ini melibatkan 31.750 orang dari Cina yang memiliki usia rata-rata 62 tahun dan tidak memiliki riwayat stroke.

Image
Gaya Hidup

Yuk Cegah Penyakit Kanker dengan Aerobik

Setiap tahun pengidap kanker selalu meningkat.

Image
Gaya Hidup

Aktivitas Ini dapat Mengasah Motorik Anak Lho

Tak sedikit orangtua yang terus memberikan beberapa kegiatan yang dapat mengasah motorik halus ataupun kasar.

Image
Gaya Hidup

Perubahan Cuaca Ekstrem, Jangan Naik Gunung di Pertengahan Agustus

Jangan hanya memenuhi hasrat semata.

Image
Gaya Hidup

Google Search Keluarkan Daftar Destinasi Paling Populer di Dunia pada 2019

Sudahkah Kamu mencari destinasi wisata untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga?

Image
Gaya Hidup

5 Hal ini Tak Boleh Dilakukan Pria Setelah Berhubungan Seks

Padahal bagi setiap wanita, ketika pria orgasme bukanlah akhir dari hubungan seks.

Image
Gaya Hidup

Gemes Banget! Museum Es Krim Hadir di Amerika Serikat

Pengunjung dapat menikmati es krim gratis sepuasnya yang disediakan oleh pihak museum.

Image
Gaya Hidup

Ayah dan Bunda, Anak yang Bermain Gadget Harus Diimbangi dengan Physical Play Ya!

Physical play merupakan permainan agar anak dapat lebih aktif, dan juga banyak manfaat yang akan didapat.

trending topics

jamkrindo umkm

terpopuler

  1. Gervinho Nodai Debut Gattuso Bersama Napoli

  2. Disalip Bus Transjakarta di Jalanan Ibu Kota, Warganet Malah Puji Presiden Jokowi

  3. Politisi Gerindra Geram, Anies Nonaktifkan Lurah Jelambar Gegara Honorer Nyebur ke Got

  4. Mau Pasang AC Pelanggan, Pria ini Langsung Ciut Lihat Penampakan Mirip Pocong

  5. Bikin Haru, Nenek Ngatiyem Berusia 110 Tahun Masih Jualan Kerupuk di Alun-Alun Kidul Yogyakarta

  6. Bikin Heran Warganet Indonesia, YouTuber Tenar Inggris Bangga Bakal Nikah dengan Petani

  7. Kalahkan Pasangan Jepang, Daddies Tutup Akhir Tahun dengan Juara

  8. Hendra/Ahsan Merasa Diuntungkan dengan Kesalahan Lawan

  9. Hendra Setiawan Ungkap Kunci Daddies Mengalahkan Ganda Jepang

  10. Korban Rumah Ambruk Minta Ganti Rugi, Sudin SDA Jaktim: Enggak Murni Kesalahan Kontraktor

fokus

Perjanjian Perkawinan
Stop Pelecehan Seksual
Kursus Calon Pengantin

kolom

Image
Ujang Komarudin

Sikap Abu-abu Partai Demokrat

Image
Achsanul Qosasi

Haruskah TVRI Kembali Mati Suri?

Image
Achmad Fachrudin

Revitalisasi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat

Image
Hervin Saputra

Ego Tuan Rumah dan Reputasi SEA Games yang Kian Meragukan

Wawancara

Image
Sea Games

Milos Sakovic

"Polo Air Indonesia Butuh Liga dan Banyak Turnamen"

Image
Gaya Hidup

Pertama Kali Akting Bareng, Giorgino Abraham Langsung Nyaman dengan Sophia Latjuba

Image
Video

Joshua Rahmat, CEO Muda yang Menggawangi Mytours

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Arifin Panigoro, Raja Minyak Indonesia yang Jadi Wantimpres Jokowi

Image
Ekonomi

Kekayaan Capai Rp435 T! Ini 7 Fakta Menarik Bos Brand Uniqlo, Tadashi Yanai

Image
News

10 Potret Istri KSAU Yuyu Sutisna, Tampil Cantik dengan Hijabnya