image
Login / Sign Up

Kisah dari Dua Keluarga Jurnalis yang Dibunuh karena Berita

Maidian Reviani

Stop kekerasan

Image

Aksi menolak kekerasan terhadap jurnalis | Dok. AJI Jakarta

AKURAT.CO, Jurnalis memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa. Mereka memiliki tanggungjawab memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi masyarakat.

Tapi, jurnalis yang benar-benar berusaha menjalankan fungsinya berada dalam ancaman. Bahkan, sebagian di antaranya dibunuh karena beritanya menyinggung kalangan tertentu.

baca juga:

Kasus kekerasan yang dilaporkan ke pihak berwajib, belum benar-benar ditangani dengan tuntas, bahkan sebagian menguap.

Laporan kali ini, kami mengangkat problematika perlindungan terhadap jurnalis dan impunitas kasus kekerasan.

Laporan dimulai dari cerita keluarga jurnalis yang dibunuh karena berita. Kami memilih dua cerita sebagai pengantar yaitu keluarga Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin dan Alfred Frets Mirulewan. Dua kasus ini merupakan bagian enam kasus pembunuhan yang disebut Komite Keselamatan Jurnalis sebagai dark number. Disebut demikian karena pelaku yang sesungguhnya tidak diungkap.

Laporan kedua hingga kelima mengetengahkan data-data dari Komite Keselamatan Jurnalis dan hasil riset akademisi yang menunjukkan pelaku kekerasan mayoritas adalah oknum pihak berwajib. Sikap perusahaan pers juga mendapat kritik karena mereka seharusnya mau mengawal kasus kekerasan yang menimpa jurnalis, bukan malah bersikap sebaliknya.

Bagaimana sikap Dewan Pers, Komnas HAM, UNESCO, Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia terhadap kasus-kasus itu? Dan tulisan yang tak kalah menarik adalah tanggapan TNI dan Polri atas kasus kekerasan terhadap jurnalis.

*** 

* Sebagai jurnalis, Udin merasa tanggungjawab untuk mengungkap kebenaran. Publik harus tahu apa yang sedang terjadi yang sebenar-benarnya.
* Usai Edy divonis 10 bulan penjara, kasus Udin pun gelap. Sampai 23 tahun kemudian, tak ada kemajuan dalam pengungkapan perkara.
* Melalui tulisan, Alfred gigih mempertanyakan kemana aliran BBM. Supply BBM ke Pulau Kisar cukup banyak dengan harga sangat tinggi, tetapi sering mengalami kelangkaan.

***

Marsiyem terkadang khawatir dengan keberanian suaminya, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, melaporkan berita-berita secara kritis tentang kebijakan pemerintah Orde Baru. Udin bekerja untuk harian Bernas, Yogyakarta.

Setiap kali Marsiyem bertanya kepada suaminya mengenai resiko pemberitaan itu kepada keselamatan, Udin memastikan semua akan baik-baik saja.

“Pak Udin bilang nggak apa-apa, itu nggak akan masalah, nggak akan terjadi apa-apa,” ujar dia.

Sebagai jurnalis, Udin merasa tanggungjawab untuk mengungkap kebenaran. Publik harus tahu apa yang sedang terjadi yang sebenar-benarnya.

Jurnalis Tewas. Aliansi Jurnalis Independen

Udin semakin gigih menggali informasi, lalu melaporkan ke publik dan ternyata ada pihak yang semakin gerah.

“Karena waktu itu Pak Udin meyakini sumber-sumber yang dia gali itu adalah suatu kebenaran dan bisa membantu masyarakat. Maka dengan itu Pak Udin dengan kegigihannya menulis semua yang dia temukan dan juga dia mencari data-data kuat yang memang itu kebenaran,” kata Marsiyem ketika saya temui di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. 

Sebelum kejadian hari itu, rumah Marsiyem sering didatangi orang. Mereka mencari Udin.

Aparat itu sering ada yang datang ke rumah, menanyakan Pak Udin ada nggak, terus kadang juga ada yang nyuruh bilang Pak Udin besok pagi disuruh menghadap, tapi Pak Udin dulu karena merasa bukan anak buahnya, jadi nggak dateng ke sana,” kata Marsiyem. 

Sampai pada 13 Agustus 1996, ketika Udin baru mau rebahan usai pulang kerja, pintu rumah diketuk dari luar beberapa kali.

Marsiyem bergegas membuka pintu. Tamu tak diundang itu bilang datang untuk menitipkan sepeda.

Marsiyem kembali masuk ke rumah.

“Tapi akhirnya setelah Pak Udin yang keluar gitu (Marsiyem sudah dalam rumah) dan (kemudian) ada kayak benda jatuh. Saya lari keluar, ternyata Pak Udin sudah telentang kayak gitu,” kata Marsiyem menggambarkan apa yang dilihatnya hari itu.

Dua orang berbadan tegap dan memakai ikat kepala warna merah itu sudah tidak kelihatan di teras rumah.

Istri Udin Marsiyem. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Buru-buru Marsiyem membawa suaminya ke rumah sakit. Selama tiga hari, Udin koma akibat pukulan pada kepala dan ulu hati dengan besi.

Pada 16 Agustus 1996, Udin meninggal dunia di Rumah Sakit Bethesda.

Kasus pun bergulir ke polisi. Tak lama kemudian, polisi menetapkan Dwi Sumadji alias Iwik sebagai tersangka. Kematian Udin dikait-kaitkan dengan kasus perselingkuhan. Iwik kemudian menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Bantul. Di persidangan dia membantah semua yang dituduhkan kepadanya.

Keluarga Udin pun yakin Iwik bukan pelakunya. Pengadilan Negeri Bantul kemudian membebaskan Iwik karena tidak terbukti bersalah.

“Kita semua melihat ini kalau itu karena berita-berita Pak Udin, tapi dari pihak kepolisian itu dia tidak mau menyelidiki yang dari sumber berita-beritanya Pak Udin. Tapi malah pihak kepolisian itu memutarbalikan ke perselingkuhan,” kata Marsiyem.

Penyidik kasus Udin dari Kepolisian Resor Bantul Sersan Mayor Edy Wuryanto kemudian diadili. Tetapi bukan dalam kasus pembunuhan Udin, melainkan karena dinilai merekayasa kasus Iwik.

Di Mahkamah Militer, Edy didakwa melenyapkan barang bukti kasus Udin, di antaranya buku catatan dan sampel darah Udin yang dilarung ke Pantai Parangtritis. Edy kemudian divonis 10 bulan penjara karena dianggap lalai.

Saya tanya ke Mbak Marsiyem, ‘Mbak itu dokumen diambil langsung dari Mbak atau tidak?,’ tapi ternyata dari adiknya Mbak Marsiyem. Terus dia (Edy Wuryanto) datang tanda kutip mengambil begitu saja tanpa dikembalikan sampai sekarang,”  kata Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta Shinta Maharani yang menjadi pendamping keluarga Udin.

Usai Edy divonis 10 bulan penjara, kasus Udin pun gelap. Sampai 23 tahun kemudian, tak ada kemajuan dalam pengungkapan perkara. Siapa pembunuh Udin yang sebenarnya masih misteri hinngga sekarang.

“Jadi sampai sekarang sebenernya pihak keluarga juga ya pasrah, ya udahlah mungkin Allah udah menakdirkan kayak gitu. Tapi misalkan kasus ini masih diungkap itu, saya mohon dengan sangat yang sebenar-benarnya, apakah kejadian itu,” kata Marsiyem.

Shinta menyebut pengungkapan kasus itu merupakan utang polisi.

“Kematian Udin diduga kuat berhubungan dengan tulisan-tulisannya yang kritis, yakni korupsi megaproyek Parangtritis,” kata Shinta.

Berdasarkan investigasi wartawan Bernas yang bergabung dalam Tim Kijang Putih dan Tim Pencari Fakta dari Persatuan Wartawan Indonesia Yogyakarta menguatkan dugaan bahwa kasus Udin terkait dengan sejumlah berita korupsi yang ditulisnya.

“Sejumlah upaya hukum dan advokasi dilakukan, termasuk memberikan data-data hasil investigasi itu kepada polisi. Namun polisi tetap berpegang teguh Iwik pelakunya,” kata Shinta. 

Menurut Shinta, yang menjadi penghambat terungkapnya kasus pembunuhan terhadap Udin karena polisi tidak pernah mendengarkan desakan dari berbagai elemen masyarakat sipil dan organisasi jurnalis untuk menuntaskan kasus.

Shinta amat kecewa dengan aparat kepolisian.

Sekretaris AJI Yogyakarta Shinta Maharani. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Menurut dia, polisi tidak serius untuk menuntaskan kasus. Padahal, menurut dia, banyak celah yang bisa dipakai untuk mengungkapkanya. Seharusnya polisi bisa menggunakan bukti-bukti yang dihimpun Tim Pencari Fakta dan Tim Kijang Putih serta mendengarkan semua pandangan para ahli hukum pidana sebagai langkah awal.

Kenapa bukti-bukti yang sudah ada itu tidak ditindaklanjuti. Selalu kemudian (polisi) mengatakan mana bukti barunya? Itu kemudian ya itu salah satu hambatan ya,” ujarnya.

Shinta mendesak pemerintahan Joko Widodo untuk tak membiarkan kasus Udin hilang, juga kasus-kasus pembunuhan terhadap wartawan lainnya.

“Intinya kami meminta Presiden Jokowi dan seluruh elemen-elemen yang kemudian bertanggungjawab terhadap penuntasan kasus Udin. Ini harus menyelesaikan kasus ini, kalau tidak ya ini hal yang buruk untuk demokrasi kita, untuk HAM. Kami berharap Presiden Jokowi, bapak-bapak polisi, itu kemudian menindaklanjuti dengan menangkap otak dari pembunuhan beserta semua yang terlibat,” kata dia.

Shinta mengatakan mantan hakim Agung Artidjo Alkostar pernah berbicara di acara Dewan Pers, bahwa kasus pembunuhan Udin tidak akan kedaluwarsa karena belum ada terdakwa.

“Suatu kasus pidana bisa dianggap memiliki masa kedaluwarsa apabila ada terdakwanya, tapi kemudian melarikan diri. Kalau tidak ditemukan tersangkanya, sampai kapan pun kasus ini harus diproses oleh penegak hukum,” katanya.

Marsiyem mengapresiasi dukungan jurnalis dan asosiasi jurnalis untuk mendesak pihak berwajib bergerak.

Marsiyem tidak punya rasa dendam terhadap pembunuh suaminya. Menurut Shinta, sikap Marsiyem merupakan pelajaran penting untuk direnungkan.

“Ketika seseorang memiliki dendam dan dendam itu dipupuk menjadi rasa benci, tentu akan sangat bahaya dan dapat mengajarkan bentuk-bentuk kekerasan,” kata dia.

Pelajaran berikutnya, semasa masih menjadi jurnalis, Udin bersikap professional dan tidak memiliki rasa takut untuk meliput isu-isu korupsi. Menurut Shinta, para jurnalis mesti mengambil pelajaran dari kekuatan Udin dan kekuatan Marsiyem.

Mbak Marsiyem cerita bahwa dia (Udin) hanya ingin menolong orang yang tidak bisa bersuara,” kata Shinta. 

***

Selain utang kasus Udin, negara juga masih punya utang untuk mengungkap kasus Alfred Frets Mirulewan.

Pemimpin Redaksi Pelangi Maluku itu ditemukan tak bernyawa di Pulau Kisar, Maluku, Jumat, 17 Desember 2010.

Sebelum dibunuh, Alfred disiksa di sebuah gudang bekas penyimpanan lobster, areal pelabuhan Pantai Nama, Wonreli, Kisar, Maluku. Pembunuhan itu diyakini karena investigasi kasus kelangkaan premium yang sedang dilakukan Alfred.

Ketika saya temui di Jakarta beberapa waktu yang lalu, Thimotius Mirulewan bercerita panjang lebar mengenai keberanian adiknya. Thimotius  adalah kakak dari Alfred.

Suatu hari sebelum kejadian, Thimotius mengetahui adiknya yang dipanggil dengan sebutan Nyong itu punya keinginan besar untuk investigasi kasus kelangkaan BBM di Pulau Kisar.

Thimotius yang sudah menjadi jurnalis sejak 1995 itu pun mengajari Nyong melakukan investigasi.

Dan pada akhirnya dia (Alfred) melakukan peliputan,” kata Thimotius.

Pada 15 Desember 2010, keluarga memberitahu kalau Alfred belum pulang ke rumah. Ketika itu, Thimotius sedang berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

“Pada saat jam sembilan malam keluarga telepon saya kalau Nyong, sudah dari jam delapan sampai sekarang belum sampai ke rumah,” kata dia.

Thimotius segera meminta keluarga untuk mengecek semua lokasi, termasuk tempat-tempat kapal bersandar. Hingga dini hari, Alfred tidak ditemukan.

“Paginya terus keluarga telepon (lagi) motornya (Alfred) ketemu, tapi orangnya (Alfred) tidak ada,” ujarnya.

Sampai di situ, Thimotius menduga hal terburuk telah terjadi pada adiknya akibat investigasi yang sedang dilakukan. Thimotius sendiri selama ini juga sering mendapatkan ancaman ketika melakukan investigasi.

“Saya bilang dia sudah mati, itu dah dibunuh. Karena saya kebetulan sering melakukan investigasi juga, banyak kasus yang saya ungkap dengan resiko yang harus mati, tapi Tuhan masih kasih (saya) panjang umur,” tuturnya.

Semula Thimotius tidak tega langsung menyampaikan dugaannya kepada keluarga.

“Saya bilang itu dia (Alfred) sudah mati, itu bapak langsung nangis, mamak langsung nangis, semua nangis. Ternyata betul dua hari kemudian tanggal 17-18 (Desember), ketemu di pelabuhan, sudah dalam kondisi lebam,” ujar dia.

Benar dugaan Thimotius, Alfred telah meninggal dunia. Jenazahnya ditemukan mengambang di laut. Alfred dapat dikenali berkat kartu pers yang ditemukan di saku celana bagian belakang.

Karena pada waktu itu Thimotius sedang tidak berada di Maluku, dia meminta bantuan anggota polisi kenalannya untuk mengirimkan foto jenazah Alfred. Foto itu kemudian dikirim Thimotius ke mantan ketua Aliansi Jurnalis Independen Indonesia Ambon yang juga Ketua Media Center Maluku Insyani Syahbarwati.

“Saya minta di polisi untuk bisa kasih saya foto, baru saya kirim ke Ibu Insyani, baru dalam foto itu diyakini kalau dia dibunuh, kalau tidak (dikirim foto) tidak akan terungkap,” katanya.

Thimotius yakin pembunuh adiknya bukan orang sipil.

“Waktu itu saya memvonis bahwa yang membunuh adalah anggota, karena saya di sana lahir sampai hari ini namanya pembunuhan tidak ada, tidak ada pemerkosaan apapun tidak ada di sana. Saya putuskan bahwa yang bunuh bukan orang di sana (Maluku) tapi orang luar dan ternyata betul, lima tersangka itu bukan dari dalem, tapi luar semua.”

Thimotius Mirulewan. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Alfred diyakini dibunuh sekitar 15 atau 16 Desember 2010. 

Insyani dan kawan-kawan kemudian membentuk tim investigasi independen. Dia curiga pembunuh Alfred melibatkan oknum.

“Saya berkoordinasi dengan teman-teman AJI. Lalu beberapa teman di Dewan Pers untuk membantu kami secara pendanaan karena kami nggak punya duit untuk mengirimkan teman-teman melakukan investigasi mandiri,” kata dia.

Gayung pun bersambut. Dukungan mengalir.

Dewan Pers berhasil membuat Mabes Polri mengirim tim ke Pulau Kisar untuk melakukan autopsi ulang jenazah Alfred.

Sebab, hasil autopsi pertama yang dilakukan petugas puskesmas di Kisar menyebutkan Alfred bukan korban pembunuhan. Laporan kepada DPRD Maluku menyebutkan Alfred mabuk dan jatuh ke laut.

Padahal, hasil investigasi Maluku Media Center menunjukkan hal lain. Sebelum dibuang ke laut, Alfred dipukul di sebuah gudang dekat pelabuhan ketika sedang mengikuti mobil bermuatan BBM.

Hasil autopsi yang dilakukan tim Mabes Polri menguatkan hasil investigasi tim Maluku Media Center. Leher belakang Alfred terdapat bekas luka akibat pukulan benda tumpul.

Kasus itu kemudian bergulir ke pengadilan. Empat terdakwa divonis bersalah.

“Ada oknum polisi yang terlibat. Ada empat orang pelaku yang kemudian divonis tujuh tahun penjara, sembilan tahun penjara, tiga tahun penjara, dan lima tahun penjara. Karena semua saksi yang dibawa ke pengadilan mengarah kepada mereka yang melakukan penganiayaan yang menyebabkan kematian terhadap Alfred,” kata Insyani.

Namun setelah divonis, terdakwa banding dan mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia bahwa mereka bukan pelaku yang sebenarnya. Mereka mengatakan terjadi rekayasa dalam penetapan tersangka.

Itu yang kami advokasi kasusnya hingga sampai saat ini,” kata Insyani.

Alfred dibunuh karena berita.

“(Ketika itu) saya langsung berkesimpulan bahwa dia dibunuh, karena kami memang melihat headline berita-berita yang ada di medianya Pelangi Maluku bahwa dia memang melakukan investigasi yang memuat berita tersebut secara berkelanjutan di medianya,” kata Insyani.

Melalui tulisan, Alfred gigih mempertanyakan kemana aliran BBM. Supply BBM ke Pulau Kisar cukup banyak dengan harga sangat tinggi, tetapi sering mengalami kelangkaan.

“Indikasi inilah yang kemudian membuat Alfred terpanggil untuk mempertanyakan kemana BBM ini. Jadi dilakukan semacam kalau kita menyebutnya kencing di laut, BBM itu dijual ke kapal-kapal ikan, kapal-kapal di Timor Leste, dan kapal-kapal di Kupang,” ujar dia.

“Kenapa itu terjadi? Karena memang ada keterlibatan oknum yang melakukan pengamanan terhadap yang membawa BBM ke pulau-pulau,” Insyani menambahkan.

Insyani kemudian menceritakan betapa berat perjuangan mengawal kasus Alfred. Pulau Kisar merupakan pulau paling selatan di Maluku dan berdekatan langsung dengan Timor Leste. Dari Ambon ke Kisar jika ditempuh dengan kapal laut, bisa dua bulan baru sampai.

“Kalau naik pesawat kami harus ke Surabaya dulu, ke Surabaya ke Atambua, dari Atambua baru nyebrang lagi ke Wetar, dari Wetar baru ke Kisar. Sangat jauh,” katanya.

Ketika sedang investigasi, Insyani dan tim bekerja sekuat-kuatnya dalam berkoordinasi dengan masyarakat dan para jurnalis di Kisar.

“Waktu itu Kisar masih masuk dalam Kabupaten Maluku Tenggara Barat dengan ibu kotanya Saumlaki, sehingga proses pengadilan dan segala macem itu dilakukan di Saumlaki. Anda bisa bayangkan itu adalah pulau-pulau yang dimana proses ini dilakukan dari pulau ke pulau. Dan itu berat sekali,” kata dia.

Walau pembunuh masih bebas, Thimotius agak lega karena penyebab kematian adiknya sudah terungkap.

Saya yang penting terungkap kalau dia (Alfred) dibunuh, itu sudah bersyukur banget. Nah ini yang mungkin bersama-sama (kita) menggaungkan ini lebih, sehingga apa yang terjadi kepada kita bisa lebih diungkap lagi,” kata Thimotius.  

***

Dua kasus pembunuhan itu merupakan bagian dari enam kasus pembunuhan terhadap jurnalis di Indonesia yang hingga sekarang belum tuntas penanganannya.

Koordinator Komite Keselamatan Jurnalis Sasmito Madrim menyebutnya sebagai dark number.

Selain kasus pembunuhan, terdapat banyak kasus kekerasan dalam bentuk lain yang menimpa jurnalis. Data kasus kekerasan dan mengapa tidak tuntas, akan diulas dalam tulisan bagian selanjutnya.[]

Baca juga:

Tulisan 2: Kebebasan Pers Memang Dinikmati Jurnalis, Tapi Kekerasan Terhadap Mereka Makin Meningkat

Tulisan 3: Jurnalis, Penghilangan Nyawa, dan Praktik Impunitas

Tulisan 4: Jurnalis Jadi Sasaran Aksi Kekerasan karena Tugasnya Ungkap Kebenaran: UNESCO dan Pemerintah Inggris Bicara

Tulisan 5: Kekerasan Terhadap Jurnalis di Mata Tentara dan Polisi

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Stop kekerasan

Kekerasan Terhadap Jurnalis di Mata Tentara dan Polisi

Image

News

Stop kekerasan

Jurnalis Jadi Sasaran Aksi Kekerasan karena Tugasnya Ungkap Kebenaran: UNESCO dan Pemerintah Inggris Bicara

Image

News

Stop kekerasan

Jurnalis, Penghilangan Nyawa, dan Praktik Impunitas

Image

News

Stop kekerasan

Kebebasan Pers Memang Dinikmati Jurnalis, Tapi Kekerasan Terhadap Mereka Makin Meningkat

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Diduga Akibat Masalah Asmara, Seorang Pria Tewas Gantung Diri

Bunuh diri akibat diduga terjadi masalah dalam asmaranya yang diperoleh dari hasil penyelidikan petugas di telepon seluler korban.

Image
News
Perjanjian Perkawinan

Perubahan UU Perkawinan Setelah Sekian Lama Ditunggu, Praktisi Hukum: Pasal Tujuh Doang, Ya Allah

Setelah ada putusan MK, perjanjian perkawinan dapat dibuat sebelum atau setelah perkawinan selama masih dalam ikatan perkawinan.

Image
News

Makin Canggih, Ditjen Pas Sebut Penyelundupan ke Lapas Sudah Gunakan Drone

“Hebatnya sekarang sudah dengan drone, layangan, hingga jasa pengiriman melalui transportasi online. Kan luar biasa,”

Image
News
Perjanjian Perkawinan

Gugatan Ike Jadi Sejarah Baru Perjanjian Perkawinan

Pasal-pasal yang digugattelah merampas hak konstitusional untuk memiliki hak milik dan hak guna bangunan.

Image
News

Ditinggal Orang Tuanya, Bocah SD Jadi Korban Cabul Tukang Kebun

Saat itu tersangka berinisial SR (34) menghubungi korban melalui pesan singkat.

Image
News

Musim Hujan, BPBD Bandarlampung Catat 8 Titik Potensi Banjir

Ia pun menghimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai curah hujan tinggi yang dapat menyebabkan banjir, longsor hingga pohon tumbang.

Image
News

Lawan Narkoba, BNN Bersama TNI dan Polri Sidak Lapas di Tasikmalaya

Selain memeriksa kamar, para penghuni lapas juga diperiksa tubuhnya oleh petugas guna memastikan dalam bajunya tidak ada barang terlarang.

Image
News

Tangkap Pengedar Narkoba di Papua Barat, Seorang Warga Negara Papua Nugini Jadi Buron Polisi

"R alias D ini warga negara asing asal PNG. Dia dan NW masih buron."

Image
News

Kepolisian Ungkap Kematian Seorang Lansia di Pantai Ancol

"Korban sudah sering dan rutin berenang di Ancol memakai pelampung, tetapi hari itu korban tidak menggunakan pelampung,"

Image
News

Kebakaran Akibat Korsleting Listrik Hanguskan 3 Rumah dan Satu Unit Sepeda Motor di Jakarta Selatan

"Sumber api dilaporkan dari colokan mesin cuci yang korslet memercikkan api hingga menyambar ke yang lain,"

trending topics

jamkrindo umkm

terpopuler

  1. Disalip Bus Transjakarta di Jalanan Ibu Kota, Warganet Malah Puji Presiden Jokowi

  2. Politisi Gerindra Geram, Anies Nonaktifkan Lurah Jelambar Gegara Honorer Nyebur ke Got

  3. Mau Pasang AC Pelanggan, Pria ini Langsung Ciut Lihat Penampakan Mirip Pocong

  4. Bikin Haru, Nenek Ngatiyem Berusia 110 Tahun Masih Jualan Kerupuk di Alun-Alun Kidul Yogyakarta

  5. Kalahkan Pasangan Jepang, Daddies Tutup Akhir Tahun dengan Juara

  6. Bikin Heran Warganet Indonesia, YouTuber Tenar Inggris Bangga Bakal Nikah dengan Petani

  7. Hendra Setiawan Ungkap Kunci Daddies Mengalahkan Ganda Jepang

  8. Korban Rumah Ambruk Minta Ganti Rugi, Sudin SDA Jaktim: Enggak Murni Kesalahan Kontraktor

  9. Tes Fisik Pegawai Dipaksa Masuk Got, Ferdinand: Beginikah Cara Anies Bangun SDM Pemerintahannya?

  10. Erick Thohir Batalkan Pembangunan Gedung Arsip BUMN, Faizal: Babat Habis Kebijakan Tak Bermanfaat

fokus

Perjanjian Perkawinan
Stop Pelecehan Seksual
Kursus Calon Pengantin

kolom

Image
Ujang Komarudin

Sikap Abu-abu Partai Demokrat

Image
Achsanul Qosasi

Haruskah TVRI Kembali Mati Suri?

Image
Achmad Fachrudin

Revitalisasi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat

Image
Hervin Saputra

Ego Tuan Rumah dan Reputasi SEA Games yang Kian Meragukan

Wawancara

Image
Sea Games

Milos Sakovic

"Polo Air Indonesia Butuh Liga dan Banyak Turnamen"

Image
Gaya Hidup

Pertama Kali Akting Bareng, Giorgino Abraham Langsung Nyaman dengan Sophia Latjuba

Image
Video

Joshua Rahmat, CEO Muda yang Menggawangi Mytours

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Arifin Panigoro, Raja Minyak Indonesia yang Jadi Wantimpres Jokowi

Image
Ekonomi

Kekayaan Capai Rp435 T! Ini 7 Fakta Menarik Bos Brand Uniqlo, Tadashi Yanai

Image
News

10 Potret Istri KSAU Yuyu Sutisna, Tampil Cantik dengan Hijabnya