image
Login / Sign Up

Kisah dari Sumber Air Djoebel di Punggung Gunung Welirang

Maidian Reviani

Nasib Sumber Air

Image

Sumber mata air Djoebel | AKURAT.CO/Siswanto

AKURAT.CO, Laporan kali ini mengangkat topik air tanah. Betapa penting air bagi kehidupan manusia. Tanpa air, mustahil manusia bisa hidup.

Tetapi masalahnya, tak semua orang menyadari pentingnya menjaga ketersediaan air tanah agar tak cepat kering dan mati. Kebanyakan orang hanya tahu bagaimana menyedot dan memakai air.

baca juga:

Kasus yang terjadi di Kabupaten Mojokerto dan Kota Surabaya menarik untuk dijadikan percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Ketersediaan air di hulu dalam keadaan terancam. Tapi, berkat gerakan pelestarian air tanah, di antaranya melalui pembuatan sumur resapan di daerah tangkapan air, sebagian mata air di sana menjadi berumur panjang.

Warga pun merasakan sendiri manfaatnya. Distribusi air lewat PDAM maupun yang dikelola masyarakat tidak kehabisan bahan baku.

Tetapi semua pihak tak boleh puas sampai di situ. Perjuangan tersebut harus berkesinambungan dan dibutuhkan kolaborasi banyak kalangan.

Laporan ini akan memaparkan mengenai siapa saja yang terlibat dalam perjuangan melestarikan air tanah, bagaimana praktik di lapangan, dan persoalan-persoalan apa saja yang muncul.

***

* Tandon raksasa serta instalasi air yang berdiri di mata air Djoebel dulu dibangun oleh pemerintah Belanda.
* Dana yang digunakan untuk membangun tandon pada mata air dan instalasinya dilaporkan mencapai 1.500.000 gulden.
* Ketika itu, Belanda sudah menerapkan sistem meteran air yang dipasang di setiap pelanggan air.

***

Mata air Djoebel terletak di punggung Gunung Welirang, tepatnya Dusun Gendom, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Djoebel merupakan sumber air yang sekarang menjadi salah satu andalan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Mojokerto untuk pengambilan bahan baku air bersih.

Tetapi kondisinya belakangan ini hampir sama seperti mata air-mata air lainnya di berbagai daerah di Indonesia. Walaupun kondisi Djoebel masih lebih baik karena masih dapat mengeluarkan air, jika tidak ada yang peduli dengan daerah tangkapan air di sekitarnya, cepat atau lambat pasti mata air tua itu hanya tinggal kenangan.

Sumber air Djoebel. AKURAT.CO/Siswanto

Sumber air Djoebel memiliki sejarah panjang.

Tandon raksasa serta instalasi air di mata air Djoebel dulu dibangun oleh Pemerintah Belanda. Bangunan bercat biru itu sampai sekarang masih berdiri dengan gagah perkasa.

Pembangunannya dimulai pada 1927 (tetapi ada yang menyebut 1925) dan baru diresmikan pada 1929 (ada yang menyebut 1927).

Sumber air itu terletak di ketinggian 735 meter di atas permukaan laut.

Sateman yang kini berusia 110 tahun merupakan saksi sejarah pembangunan Djoebel. Dia masih ingat sebagian peristiwa yang terjadi pada masa itu. Air yang mengalir dari mata air Djoebel deras sekali.

Selain bersih, juga dingin.

Sebelum instalasi air dibangun oleh Belanda, air yang keluar dari mata air itu mengalir begitu saja. Airnya dimanfaatkan oleh masyarakat di lereng atau kaki gunung, seperti untuk pertanian.

Sampai akhirnya Belanda yang ketika itu sedang mencari sumber air untuk memenuhi kebutuhan mereka, datang ke sana.

Cerita Salamin (55), putra Sateman, yang saya temui di mata air Djoebel pada akhir Oktober 2019 menyebutkan dulu banyak orang Belanda menetap di Jawa Timur. Hal itu dibuktikan dari banyaknya bangunan peninggalan mereka di provinsi ini.

Pegawai PDAM Kabupaten Mojokerto Salamin. AKURAT.CO/Siswanto

Karena banyak orang Belanda tinggal di sana, pemerintah kolonial membutuhkan lebih banyak pasokan air bersih untuk menunjang kehidupan warganya yang tersebar di Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kabupaten Jombang, sampai di Kabupaten Sidoarjo.

Menurut sejarawan Mojokerto Aiyuhanafiq dalam catatan Radar Mojokerto (1 November 2017), pada awal 1900-an terjadi wabah kolera dan cacar. Hal inilah yang menjadi alasan kuat pembangunan saluran air dari Djoebel karena Belanda ingin warganya tidak terdampak wabah itu.

Pembangunan instalasi air Djoebel ketika itu untuk menggantikan instalasi penjernihan air di Ngagel, Surabaya, karena kebersihan air Sungai Brantas pada masa itu sudah berkurang.

Sateman merupakan salah satu penduduk Kabupaten Mojokerto yang dipekerjakan untuk pembangunan mata air Djoebel.

Proses pembangunan tandon dan jaringan air dipimpin insinyur Freytag yang merupakan Direktur Gewestelijke Werken (dinas pekerjaan umum daerah). Untuk mengerjakan proyek memakai tenaga orang-orang pribumi, seperti Sateman.

Semua bagian bangunan dirancang dengan seksama. Sateman masih ingat batu dan pasir yang dipakai untuk membuat tandon harus disikat dulu sampai bersih. Proses pembersihan pasir mirip membersihkan beras sebelum dimasak.

Tujuannya agar nanti bisa menempel dengan sempurna. Antara satu batu dengan batu yang lain direkatkan dengan campuran semen dan pasir.

Sumber air Djoebel. AKURAT.CO/Siswanto

“Itu dulu pakai campuran semen, pasir, gitu,” kata Sateman dengan suara lemah karena sakit.

Menurut cerita Salamin, material batu dan pasir didapatkan dari sekitar lereng gunung. Sedangkan untuk semen didapatkan dari kota.

“Segalanya diproses dengan baik. Makanya kuatnya luar biasa. Takarannya satu banding dua. Misalnya, semen satu sak, pasirnya satu blek (kemasan minyak goreng),” katanya.

Tandon itu dibuat agar tidak ada yang mengganggu mata air sehingga mencemari kualitas dan debitnya. Aiyuhanafiq dalam catatan Radar Mojokerto menyebutkan untuk membangun tandon Djoebel dibutuhkan 120 sak semen.

Saluran pipa yang dibangun Belanda ketika itu panjangnya sampai sekitar 160 kilometer. Pipanya merupakan buatan perusahaan baja Mannesman yang dikenal tahan terhadap serangan karat.

Dana yang digunakan untuk membangun tandon pada mata air dan instalasinya dilaporkan mencapai 1.500.000 gulden. ’’Biaya sebesar itu ditanggung bersama antara Pemerintah Provinsi Oost Java dan pemerintah daerah yang mendapatkan manfaat dari jaringan air minumnya,’’ demikian catatan Radar Mojokerto.

Setelah pembangunan selesai, kemudian diresmikan pada 1929. Diadakanlah acara besar-besaran. Lamanya tujuh hari tujuh malam. Menurut cerita Salamin, segala jenis kesenian nusantara sampai didatangkan ke sumber Djoebel oleh Belanda.

Semenjak itu, air dari mata air Djoebel tidak mengalir kemana-mana lagi karena sudah dibangun sistem saluran. Pada masa itu, hanya hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu.

Sumber air Djoebel. AKURAT.CO/Siswanto

“Dulu Belanda makai air ini untuk kolam mandi, air minum di rumah-rumah mereka. Dulu kan belum ada air yang diproses, jadi ini bisa langsung bisa diminum. Belanda tahu itu,” kata Salamin.

Sejumlah pabrik gula yang berada di sejumlah daerah, kata Aiyuhanafiq, ketika itu juga meminta pasokan air dari mata air Djoebel.

Ketika itu, Belanda sudah menerapkan sistem meteran air yang dipasang di setiap pelanggan air. Di sejumlah wilayah dibangun menara air untuk menjaga tekanan air tetap mengalir secara merata ke rumah-rumah pelanggan. Belanda bahkan ketika itu sudah memiliki sistem untuk menghindari kebocoran pipa, demikian dikatakan Aiyuhanafiq dalam catatan Radar Mojokerto.

Setelah pembangunan selesai, setiap tahun sekali diadakan ruwatan yang bertujuan untuk memberikan penghormatan.

“Tiap tahun sekali ada ruwatan sumber. Ada tasyakuran. Mengulangtahuni. Nanti dibikinkan tumpeng, jajanan pasar, kepala kambing, dawet. Tujuan tumpeng untuk menghormati. Dawet dipercaya bisa menambah sumber, debit,” kata Sateman.

Di sekitar sumber air juga berkembang cerita-cerita kearifan lokal. Cerita-cerita itu rupanya ikut membangkitkan kesadaran warga untuk sama-sama menjaga sumber air, terutama Djoebel. Tidak ada penduduk yang berani melanggar atau merusak apapun di sekitarnya.

“Kalau marah, airnya disudo (dikurangi). Pernah kejadian, airnya nggak banyak,” kata Sateman yang merupakan juru kunci sumber air Djoebel.

Hingga sekarang, cerita-cerita itu masih tetap dijaga. Sumber air Djoebel sejak lama dikeramatkan oleh penduduk.

Sumber air Djoebel. AKURAT.CO/Siswanto

Bahkan, dalam rangka menjaga mata air melalui sumber kebudayaan, PDAM Kabupaten Mojokerto setiap Jumat Legi terakhir di bulan Desember mengadakan selamatan atau syukuran.

“Dari dulu sudah begitu. Di daerah sini ada makam yang ada kaitan dengan sumber ini. Makam yang dikeramatkan juga. Makam Mbah Demung. Itu pagarnya yang bangun Bupati Mojokerto, sedangkan yang bangun makamnya orang dari Surabaya. Jadi ya kami mengikutilah,” kata Direktur Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Mojokerto Fayakun Hidayat.

Selain syukuran dengan menjalankan tradisi masyarakat Jawa, juga diadakan acara secara Islam yaitu dengan pengajian-pengajian.

Menurut informasi yang didapat Salamin sekitar tahun 1927 di lereng pegunungan sebenarnya ada sejumlah mata air. Di antaranya, Djoebel dan Ngasab yang terletak di sebelah barat.

Tetapi ketika itu Belanda memilih membangun Djoebel karena potensinya lebih besar, meskipun medannya lebih sulit.

Kendati tidak dibangun oleh Belanda, sumber air Ngasap sampai sekarang masih ada dan dimanfaatkan untuk suplai air baku air minum dan pertanian.

Setelah Belanda dikalahkan tentara kekaisaran Jepang pada 1942, sumber Djoebel tetap dijaga dan tidak sampai dikuasai oleh Jepang.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, sumber Djoebel dikelola oleh pemerintah Indonesia. Ketika itu pengelolaan diserahkan kepada dinas saluran air minum (sekarang PDAM) untuk menyuplai kebutuhan masyarakat.

Sumber air Djoebel. AKURAT.CO/Siswanto

Setelah terjadi pemisahan wilayah Surabaya, Sidoarjo, Jombang, sumber Djoebel dikelola oleh Kabupaten Mojokerto. PDAM Kabupaten Mojokerto mulai mengelola tahun 1982.

Menurut keterangan Fayakun ketika saya temui di instalasi Djoebel pada akhir Oktober 2019, kapasitas mata air Djoebel ketika pertama-tama dikelola oleh PDAM, di atas 90 liter per detik.

Tetapi dalam perkembangannya, pasokan untuk PDAM Kabupaten Mojokerto, khususnya dari Djoebel, menurun dan tentu saja berdampak pada pelayanan terhadap konsumen.

Distribusi air ke konsumen di beberapa daerah kemudian diputus sekitar tahun 1997. Layanan kemudian dikhususkan untuk konsumen yang berdomisili di Kabupaten Mojokerto.

“Untuk sekarang untuk wilayah kabupaten (Mojokerto) sendiri airnya kurang, akhirnya yang ke utara sampai ke Kudus itu diputus, sampai Jombang juga diputus. Saran Pak Bupati boleh disalurkan ke kabupaten lain kalau untuk Kabupaten Mojokerto sudah mencukupi. Ternyata belum mencukupi, akhirnya diputus di jembatan sebelah utaranya Mojosari, sekitar 1997,” kata Salamin yang juga pegawai PDAM Kabupaten Mojokerto.

Minimnya kesadaran untuk mengelola air hujan pada catchment area ikut berkontribusi pada penyusutan ketersediaan air pada mata air-mata air yang berada di daerah Pacet.

Pada sekitar tahun 2012, setelah dilakukan pengukuran kembali, debit air Djoebel turun dari 70 liter per detik menjadi 18,4 liter per detik, demikian catatan PDAM Kabupaten Mojokerto dalam tesis Chinta Advent Sisca tahun 2015 dengan judul ‘Studi Konservasi Sumber Air Terhadap Ketersediaan Air Di Kabupaten Mojokerto (Studi Kasus Di Kecamatan Pacet)’.

Padahal, menurut perkiraan Raw Water Spesialist Program USAID Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan untuk Semua Asep Mulyana ketika saya temui di Djoebel pada akhir Oktober 2019, sumber Djoebel dulu didesain Belanda debit airnya bisa lebih dari 100 liter per detik.

Raw Water Spesialist Program USAID IUWASH PLUS As. AKURAT.CO/Siswanto

Untuk meningkatkan layanan konsumen, selain mencari sumber air baru, PDAM Kabupaten Surabaya bermitra dengan IUWASH PLUS rutin mengadakan pemeliharaan dan perawatan mata air Djoebel maupun sumber-sumber air yang lebih kecil, seperti di Wonolopo, Coban Pelangi, dan Mojo.

Untuk meningkatkan lumbung air, IUWASH PLUS berkolaborasi dengan Coca Cola Foundation Indonesia dengan membuat sumur-sumur resapan di catchment area. Selain itu kerjasama dengan pelestari lingkungan, seperti Aliansi Air, untuk melakukan perawatan.

Tetapi gerakan tersebut barangkali tak akan berlanjut jika tidak mendapatkan dukungan dari semua pihak, terutama masyarakat. []

Baca juga:

Tulisan 1: Kisah dari Sumber Air Djoebel di Punggung Gunung Welirang

Tulisan 2: Menangkap Air Hujan Demi Memanjangkan Umur Mata Air

Tulisan 3: Agar Mata Air Tetap Mengalir Walau Kemarau Panjang: Kasihan Bapak Presiden sampai Ikut Salat Minta Hujan

Tulisan 4: Banyak Orang Merasa Prihatin, Tetapi Hanya Sedikit yang Mau Berbuat: Nasib Air

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Nasib Sumber Air

Banyak Orang Merasa Prihatin, Tetapi Hanya Sedikit yang Mau Berbuat: Nasib Air

Image

News

Nasib Sumber Air

Agar Mata Air Tetap Mengalir Walau Kemarau Panjang: Kasihan Bapak Presiden sampai Ikut Salat Minta Hujan

Image

News

Nasib Sumber Air

Menangkap Air Hujan Demi Memanjangkan Umur Mata Air

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Diduga Akibat Masalah Asmara, Seorang Pria Tewas Gantung Diri

Bunuh diri akibat diduga terjadi masalah dalam asmaranya yang diperoleh dari hasil penyelidikan petugas di telepon seluler korban.

Image
News
Perjanjian Perkawinan

Perubahan UU Perkawinan Setelah Sekian Lama Ditunggu, Praktisi Hukum: Pasal Tujuh Doang, Ya Allah

Setelah ada putusan MK, perjanjian perkawinan dapat dibuat sebelum atau setelah perkawinan selama masih dalam ikatan perkawinan.

Image
News

Makin Canggih, Ditjen Pas Sebut Penyelundupan ke Lapas Sudah Gunakan Drone

“Hebatnya sekarang sudah dengan drone, layangan, hingga jasa pengiriman melalui transportasi online. Kan luar biasa,”

Image
News
Perjanjian Perkawinan

Gugatan Ike Jadi Sejarah Baru Perjanjian Perkawinan

Pasal-pasal yang digugattelah merampas hak konstitusional untuk memiliki hak milik dan hak guna bangunan.

Image
News

Ditinggal Orang Tuanya, Bocah SD Jadi Korban Cabul Tukang Kebun

Saat itu tersangka berinisial SR (34) menghubungi korban melalui pesan singkat.

Image
News

Musim Hujan, BPBD Bandarlampung Catat 8 Titik Potensi Banjir

Ia pun menghimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai curah hujan tinggi yang dapat menyebabkan banjir, longsor hingga pohon tumbang.

Image
News

Lawan Narkoba, BNN Bersama TNI dan Polri Sidak Lapas di Tasikmalaya

Selain memeriksa kamar, para penghuni lapas juga diperiksa tubuhnya oleh petugas guna memastikan dalam bajunya tidak ada barang terlarang.

Image
News

Tangkap Pengedar Narkoba di Papua Barat, Seorang Warga Negara Papua Nugini Jadi Buron Polisi

"R alias D ini warga negara asing asal PNG. Dia dan NW masih buron."

Image
News

Kepolisian Ungkap Kematian Seorang Lansia di Pantai Ancol

"Korban sudah sering dan rutin berenang di Ancol memakai pelampung, tetapi hari itu korban tidak menggunakan pelampung,"

Image
News

Kebakaran Akibat Korsleting Listrik Hanguskan 3 Rumah dan Satu Unit Sepeda Motor di Jakarta Selatan

"Sumber api dilaporkan dari colokan mesin cuci yang korslet memercikkan api hingga menyambar ke yang lain,"

trending topics

jamkrindo umkm

terpopuler

  1. Disalip Bus Transjakarta di Jalanan Ibu Kota, Warganet Malah Puji Presiden Jokowi

  2. Politisi Gerindra Geram, Anies Nonaktifkan Lurah Jelambar Gegara Honorer Nyebur ke Got

  3. Mau Pasang AC Pelanggan, Pria ini Langsung Ciut Lihat Penampakan Mirip Pocong

  4. Bikin Haru, Nenek Ngatiyem Berusia 110 Tahun Masih Jualan Kerupuk di Alun-Alun Kidul Yogyakarta

  5. Bikin Heran Warganet Indonesia, YouTuber Tenar Inggris Bangga Bakal Nikah dengan Petani

  6. Kalahkan Pasangan Jepang, Daddies Tutup Akhir Tahun dengan Juara

  7. Hendra Setiawan Ungkap Kunci Daddies Mengalahkan Ganda Jepang

  8. Korban Rumah Ambruk Minta Ganti Rugi, Sudin SDA Jaktim: Enggak Murni Kesalahan Kontraktor

  9. Tes Fisik Pegawai Dipaksa Masuk Got, Ferdinand: Beginikah Cara Anies Bangun SDM Pemerintahannya?

  10. Erick Thohir Batalkan Pembangunan Gedung Arsip BUMN, Faizal: Babat Habis Kebijakan Tak Bermanfaat

fokus

Perjanjian Perkawinan
Stop Pelecehan Seksual
Kursus Calon Pengantin

kolom

Image
Ujang Komarudin

Sikap Abu-abu Partai Demokrat

Image
Achsanul Qosasi

Haruskah TVRI Kembali Mati Suri?

Image
Achmad Fachrudin

Revitalisasi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat

Image
Hervin Saputra

Ego Tuan Rumah dan Reputasi SEA Games yang Kian Meragukan

Wawancara

Image
Sea Games

Milos Sakovic

"Polo Air Indonesia Butuh Liga dan Banyak Turnamen"

Image
Gaya Hidup

Pertama Kali Akting Bareng, Giorgino Abraham Langsung Nyaman dengan Sophia Latjuba

Image
Video

Joshua Rahmat, CEO Muda yang Menggawangi Mytours

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Arifin Panigoro, Raja Minyak Indonesia yang Jadi Wantimpres Jokowi

Image
Ekonomi

Kekayaan Capai Rp435 T! Ini 7 Fakta Menarik Bos Brand Uniqlo, Tadashi Yanai

Image
News

10 Potret Istri KSAU Yuyu Sutisna, Tampil Cantik dengan Hijabnya