image
Login / Sign Up

Kisah Gadis Desa Jadi Korban Ayah dan Kakek Bejat: Urgensi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Maidian Reviani

Lindungi Perempuan

Image

Ilustrasi - Bunuh Diri | AKURAT.CO/Candra Nawa

AKURAT.CO, Rancangan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual merupakan salah satu RUU yang didesak segera disahkan DPR menjadi UU sebelum periode 2014-2019 selesai pada 30 September.

Mengapa RUU ini penting untuk segera diundangkan dan kenapa DPR belum juga mengesahkannya, padahal sudah masuk prolegnas sejak 2016? Tulisan ini akan mengulasnya dari beragam perspektif.

Di bagian awal tulisan mengangkat studi kasus di dua desa di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

baca juga:

Di desa itu ada anak gadis muda yang jadi korban pelecehan seksual yang dilakukan kakek dan bapaknya sendiri. Sayangnya, kasus yang pelakunya kakek tidak dilanjutkan. Sementara kasus yang pelakunya bapak diproses hingga pengadilan.

Yang perlu menjadi catatan, dua kasus itu ibarat fenomena puncak gunung es.

Di bagian berikutnya, tulisan mengangkat perspektif organisasi-organisasi yang selama ini memperjuangkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Apa saja kegelisahan mereka dan argumentasi sehingga RUU ini semestinya disahkan secepatnya, akan terungkap di bagian ini.

Di bagian akhir, penjelasan dari perspektif anggota panitia kerja RUU. Di tulisan ini mengangkat soal apa yang membuat pembahasan RUU terkesan lambat dan bagaimana mereka menanggapi desakan agar tidak main-main melaksanakan tanggungjawab sebagai legislatif.

***

* Tiga jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual di ranah publik adalah pencabulan (1.136 kasus), perkosaan (762 kasus), dan pelecehan seksual (394 kasus).

* Risa tahu perbuatan kakeknya tidak benar. Tetapi selama berbulan-bulan, Risa tidak berani menceritakan kelakuan bejat itu kepada ibu maupun orang lain karena takut. Apalagi, kakek selalu melarang untuk membocorkannya.

* Komnas Perempuan dan berbagai kelompok masyarakat berjuang agar Dewan Perwakilan Rakyat segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi UU sebelum anggota dewan periode 2014-2019 berakhir.

***

Catatan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan pada 2019 menggambarkan begitu banyak kasus kekerasan yang menimpa kaum perempuan.

Kekerasan tersebut dapat terjadi dimanapun. Di ranah privat, ranah publik, bahkan ranah negara.

Dalam ranah privat, sebagaimana laporan dari mitra pengada layanan kepada Komnas Perempuan menunjukkan tren yang penting.

Ilustrasi - Pelecehan Seksual. AKURAT.CO/Ryan

Angka kekerasan dalam pacaran meningkat sebanyak 2.073 kasus. Selanjutnya, angka kekerasan terhadap istri tetap menempati peringkat pertama, yakni 5.114 kasus. Angka kekerasan terhadap anak perempuan merupakan angka ketiga terbanyak setelah kekerasan dalam pacaran yaitu 1.417 kasus.

Di ranah privat, persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41 persen (3.951 kasus), diikuti kekerasan seksual 31 persen (2.988 kasus), kekerasan psikis 17 persen (1.638 kasus) dan kekerasan ekonomi 11 persen (1.060 kasus).

Hal yang sama pada tahun lalu, untuk kekerasan seksual di ranah privat tahun ini, incest (pelaku orang terdekat yang masih memiliki hubungan keluarga) merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan, yakni sebanyak 1.071 kasus, kedua adalah kasus perkosaan sebanyak 818 kasus, kemudian pencabulan sebanyak 321 kasus. Total 1.071 kasus incest tahun 2018, sejumlah 103 kasus (10 persen) dilaporkan ke polisi, dan masuk dalam proses pengadilan sebanyak 119 kasus (11 persen).

Di tahun ini, catatan tahunan Komnas Perempuan juga menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah private adalah pacar sebanyak 1.670 orang, diikuti ayah kandung sebanyak 365 orang, kemudian di peringkat ketiga adalah paman sebanyak 306 orang. Banyaknya pelaku ayah kandung dan paman selaras dengan meningkatnya kasus incest.

Berikutnya data kasus yang terjadi di ranah publik. Kekerasan di ranah publik mencapai angka 3.915 kasus (28 persen), di mana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.521 kasus (64 persen), diikuti berturut-turut: kekerasan fisik 883 kasus (23 persen ), kekerasan psikis 212 kasus (5 persen), dan kategori khusus yakni trafficking 158 kasus (4 persen), dan kasus pekerja migran 141 kasus (4 persen).

Tiga jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual di ranah publik adalah pencabulan (1.136 kasus), perkosaan (762 kasus), dan pelecehan seksual (394 kasus).

Bagaimana data kasus kekerasan di ranah negara? Di ranah (yang menjadi tanggungjawab) negara, dari sebanyak 16 kasus adalah pelecehan seksual yang dilakukan anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan konflik sumber daya alam.

***

Risa (bukan nama sebenarnya) merupakan salah satu korban pelecehan seksual yang dilakukan kakeknya sendiri pada 2018. Risa yang tinggal di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, masih berusia 12 tahun ketika peristiwa itu terjadi.

Ayahnya meninggalkan Risa bersama ibu, Riri (bukan nama sebenarnya). Semenjak cerai, perekonomian Riri makin morat-marit. Ekonomi ditopang dari hasil kerja Riri sebagai tukang cuci pakaian. Terdesak kemiskinan, akhirnya Riri tinggal berdekatan dengan rumah orang tua.

Kasus pelecehan mulai terjadi semenjak itu. Umumnya, warga di sana mandi di sumur tradisional yang berada di luar rumah. Sekatnya hanya kayu yang ditutup kain yang tidak terlalu rapat sehingga dapat dimanfaatkan orang berpikiran bejat untuk mengintip.

Lama kelamaan, Risa sadar. Ternyata, kakek mengintipnya pada waktu mandi dari celah kain. Bahkan, kelakuan kakek lebih jauh dari itu.

“Jadi setiap kali cucunya mandi, kadang dipegang pantatnya,” kata Dewan Pengarah Nasional Forum Pengadaan Layanan Yustina Fendrita menceritakan kasus itu kepada saya.

Seperti pada umumnya warga di sana. Risa tinggal di rumah panggung berdinding papan kayu. Antara satu papan dengan papan yang lain ada celahnya. Dari celah itulah, hampir setiap malam, kakek menusuk-nusuk sesuatu yang keras ke badan Risa.

“Kadang juga ketika si cucu lagi ganti pakaian, sering diintip dan kalau ketemu suka ditoel,” kata Yustina.

Risa tahu perbuatan kakeknya tidak benar. Tetapi selama berbulan-bulan, Risa tidak berani menceritakan kelakuan bejat itu kepada ibu maupun orang lain karena takut. Apalagi, kakek selalu melarang untuk membocorkannya.

Ilustrasi. AKURAT.CO/Ryan

Tetapi setelah hampir setahun lamanya mengalami pelecehan seksual, Risa tak tahan bungkam. Dia ceritakan semuanya kepada ibu. Sayangnya, Riri tak menanggapi secara serius cerita putri semata wayangnya.

Sampai tiba suatu malam. Kakek beraksi lagi ketika Risa sedang tidur. Risa terbangun karena badannya disodok-sodok benda keras dari celah dinding.

Dengan hati-hati, Risa membangunkan ibunya. Dia berpikir inilah kesempatan untuk membuktikan semua ucapannya.

“Mah, ini mah kalau nggak percaya nih,” kata Risa yang ditirukan oleh Yustina.

Riri kaget bukan main. Ayahnya melakukan perbuatan tak senonoh dengan memperlihatkan alat kelamin di depan cucu sendiri. Riri benar-benar terpukul. Tapi, dia dilematis ketika itu.

“Si ibu (Riri) melihat oh ternyata bener, kaget dan shock ibunya, dia juga bingung mau melakukan apa,” tutur Yustina.

Peristiwa itu terbayang terus di benak Riri. Dia tidak bisa tenang. Sampai pada suatu hari, dia meminta pendapat dari majikannya. Riri disarankan melaporkan kasus itu ke kantor polisi.

“Dianterlah sama majikannya ke kantor polisi dan laporannya memang diproses, tapi kemudian karena si keluarga ini anak dan ibunya bergantung secara kehidupannya tinggal dengan si kakek, listrik juga disambung dari rumah kakek, akhirnya polisi meminta diselesaikan masalah ini secara kekeluargaan.”

Forum Pengadaan Layanan ikut terlibat aktif melakukan pendampingan terhadap Risa ketika itu. Yustina mengatakan pelecehan seksual tersebut berdampak serius pada psikologis Risa. Saban hari, Risa ketakutan kalau jalan kaki sendiri. Dia merasa diikuti dan diteror.

Tetapi kasus itu tidak dilanjutkan lagi. Keluarga besar meminta Riri agar menghentikan kelanjutan kasus karena menyangkut ayah sendiri.

“Kasusnya mengedap aja gitu. Justru membuat hubungan antara kakek, anak dan cucunya jadi nggak baik. Anak ini juga suka diancem dan anak ini akhirnya diputuskan dibawa ke kampung bapaknya yang sudah bercerai itu.”

***

Dari desa lain di Kabupaten Muna juga ditemukan kasus mirip yang dialami Risa. Pelakunya ayah kandung.

Lulu (nama disamarkan) sejak umur 13 sampai 19 tahun dijadikan budak seksual oleh bapaknya.

“Sejak anaknya belum menstruasi sampai menstruasi. Perbudakan seksual itu hampir dilakukan hanya dengan berjeda satu mingggu,” kata Yustina.

Belakangan, ibu dari Lulu, Siti (bukan nama sebenarnya), memergoki aksi bejat suaminya. Tetapi, upaya untuk mencegah dan menghentikan perbuatan jahat suami selalu berakhir dengan penyiksaan terhadap Siti.

Sampai suatu ketika, Siti tak tahan dan nekat mencegah kebejatan suaminya.

Siti dihajar habis-habisan. Dia diseret ke luar dari rumah. Melihat itu, tetangga datang dan berusaha menolong. Dari situlah, perbuatan jahat itu terungkap.

“Kemudian si suaminya ini dilaporkan ke kantor kepala desa. Setelah ditelusuri, diminta keterangan, barulah terungkap kenapa kasus penyiksaan dilakukan ke istirnya ini terjadi karena si istri komplain karena sepanjang enam tahun anaknya menjadi budak seksual bapaknya.”

Hukuman Kebiri Kimia Pertama, 5 Fakta Kasus Predat. AKURAT.CO/Candra Nawa

Warga bertindak. Mereka menyerahkan suami Siti ke kantor polisi. Setelah berkas lengkap dan dilimpahkan ke kejaksaan, dimulailah sidang di pengadilan. Ayah bejat itu divonis hukuman delapan tahun penjara dalam kasus pemerkosaan.

Bagi Yustina, pasal yang dikenakan terhadap ayah Lulu menjadi perhatian khusus. Seharusnya, dia dikenakan pasal perbudakan seksual. Namun karena di KUHP tidak mengatur soal itu, akhirnya hanya pakai pasal tentang pemerkosaan.

Yustina menekankan perbudakan seksual terhadap anak dapat merenggut seluruh perkembangan anak.

“Yang dia kenal cinta dan kasih sayangnya itu dengan cara kekerasan dan itu orang yang sedarah dengan dia. Itu dampak yang paling dahsyat. Dan saat ini yang terjadi si anak sendiri karena dia jadi korban, maka si bapak ini menginsosilsikan anaknya dari tempat lingkungan, akhirnya dampak sosialnya dia tidak pintar berinterkasi dengan temannya,” ujarnya.

Dua kasus di desa itu hanyalah fenomena puncak gunung es. Angka kasus yang ditemukan Komnas Perempuan di atas merupakan buktinya.

Itulah sebabnya, Komnas Perempuan dan berbagai kelompok masyarakat berjuang agar Dewan Perwakilan Rakyat segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi UU sebelum anggota dewan periode 2014-2019 berakhir. Semakin molor DPR mengesahkannya, semakin banyak korban tak mendapatkan keadilan di mata hukum. []

Baca juga:

Tulisan 1: Kisah Gadis Muda Jadi Korban Ayah dan Kakek Bejat

Tulisan 2: Kejadian 26 Agustus di DPR Bikin Tersinggung Aktivis Perempuan: Ternyata Pada Hari H Ketahuan yang Sebenarnya

Tulisan 3: Kecil Sekali Perhatian DPR Kalau Tak Disuarakan Terus: Nasib RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Tulisan 4: Ibu-ibu Ini Harus Sabar Sedikit, Jangan Dianggap Bapak-bapak Setuju Sebar Kekerasan: Menunggu DPR Sahkan RUU

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Lindungi Perempuan

Ibu-ibu Ini Harus Sabar Sedikit, Jangan Dianggap Bapak-bapak Setuju Sebar Kekerasan: Menunggu DPR Sahkan RUU

Image

News

Lindungi Perempuan

Kecil Sekali Perhatian DPR Kalau Tak Disuarakan Terus: Nasib RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Image

News

Lindungi Perempuan

Kejadian 26 Agustus di DPR Menyinggung Aktivis Perempuan: Ternyata pada Hari H Ketahuan Aslinya

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

KPK Klaim Ada Kemajuan dari Kerja Tim Transisi untuk Analisis Revisi UU

Progresnya tentu saja ada banyak yang lebih detil yang sudah kami petakan, baik di bidang SDM, kewenangan-kewenangan dan di penindakan.

Image
News

Selasa Dini Hari, 20 Mahasiswa yang Bertahan di Depan Gedung DPR Sudah Bubarkan Diri

Sebanyak 20 mahasiswa yang bertahan di depan gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, sudah membubarkan diri.

Image
News

Seskoal Jadi Tuan Rumah PKB Juang 2019

Lebih dari 1.400 Perwira Siswa dan Dosen dari enam lembaga pendidikan TNI dan Polri berkumpul di PKB Kejuangan 2019.

Image
News

Demo Usai, Pagar Gedung DPR yang Dirusak Mahasiswa Mulai Diperbaiki

Pagar gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta, kini tengah diperbaiki oleh petugas atau tukang las listrik.

Image
News

Puluhan Massa Masih Bertahan di Depan Gedung DPR Hingga Malam

Puluhan mahasiswa masih bertahan hingga pukul 00.00 WIB, Senin (23/9/201) malam, usai menggelar aksi demonstrasi.

Image
News

OTT Direksi Perum Perindo Diduga terkait Pengurusan Kuota Impor Ikan

KPK makin gahar pasca UU KPK direvisi.

Image
News

KPK Amankan Uang Ratusan Ribu US Dolar Hasil OTT Direksi Perum Perindo

Ada sembilan orang ditangkap.

Image
News

KPK Tetapkan 3 Tersangka Baru Kasus Suap Bupati Pakpak Bharat

Ketiga tersangka telah ditahan KPK.

Image
News

Aksi Demonstrasi Mahasiswa di Depan Gedung DPR Akan Dilanjutkan Besok

Perwakilan mahasiswa itu berjanji untuk melanjutkan aksi unjuk rasa pada Selasa (24/9/2019) esok.

Image
News

KPK Amankan 9 Orang Hasil OTT, Tiga Diantaranya Direksi Perum Perindo

Terkait impor ikan.

trending topics

terpopuler

  1. Ikuti Saran Barbie Kumalasari, Boy William Ngaku Tetap Sampai Berbarengan dengan Penumpang Kelas Ekonomi

  2. Mantan Sesmenpora Bakal Beberkan Cara Imam Nahrawi Memperkaya Diri Sendiri

  3. Moeldoko Sebut KPK Hambat Investasi, Said Didu: Izinkan Saya Tertawa

  4. Jokowi Kumpulkan Para Menteri, Jansen: Inilah Akibat Semua Masalah Tumpuk Jadi Satu

  5. Tiga Mahasiswa yang Meninggal Saat Demo di Uncen Diduga Akibat Peluru Karet

  6. Pengakuan Tjahjo Kumolo, Satu-satunya Menteri Jokowi yang Tidak Pernah ke Luar Negeri

  7. Gibran: Saya Juga Baru Pulang dari Jakarta dan Dapat Laporan Soal Spanduk-spanduk Itu

  8. Gibran Ingin Daftar Calon Wali Kota Solo Lewat PDIP, Rudy: Woo, Sudah Tutup

  9. Budiman Sudjatmiko Pastikan Besok Tidak Ada Pengesahan RUU KUHP di DPR

  10. ESA Tangkap Gambar Tak Biasa dari Planet Mars, Ada Apa?

fokus

Bencana Lingkungan
Abortus
BJ Habibie Tutup Usia

kolom

Image
Abdul Aziz SR

DPR dan Parlemen Modern

Image
Alfarisi Thalib

Era Airlangga, Golkar Cenderung Feodal dan Oligarkis

Image
Ujang Komarudin

Gigitan Terakhir KPK

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

Dikabarkan Hengkang dari PAN, 7 Fakta Menarik Faldo Maldini

Image
News

8 Potret Hangat Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri bersama Keluarga, Ayah Idaman!

Image
News

Jadi Plt Menpora Gantikan Imam Nahrawi, Ini 5 Fakta Sepak Terjang Karier Hanif Dhakiri