image
Login / Sign Up

Stunting Masih Ada di Zaman Telepon Pintar, Bagaimana Penanganannya?

Maidian Reviani

Kekerdilan

Image

Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita | Antara Foto

AKURAT.CO * Jokowi mengingatkan penanganan stunting kalau hanya bergantung pada upaya pemerintah, perkembangannya akan sangat lambat. Itu sebabnya, Jokowi mendorong keterlibatan sektor swasta untuk menangani.
* Jim Yong Kim mengatakan persoalan stunting adalah persoalan sangat serius, karena anak-anak butuh pertolongan sesegera mungkin.
* Nila Moeloek berpesan agar memahami bagaimana cara mencegah stunting, utamanya melalui perbaikan pola makan, pola pengasuhan, juga perhatikan kebersihan.

***

Pagi, 4 Juli 2018, Presiden Joko Widodo yang mengenakan kemeja batik coklat berlengan panjang menerima kedatangan courtessy call Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim di ruang depan Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

baca juga:

Jim Yong Kim yang pagi itu memakai baju batik lengan panjang berwarna biru menebar senyum. Setelah saling sapa, mereka menuju beranda belakang istana untuk berbincang-bincang berdua.

Jim Yong Kim . REUTERS/Mike Theiler

Salah satu isu yang dibahas dalam pertemuan dua tokoh yaitu masalah stunting yang diderita balita Indonesia.

Setelah pertemuan empat mata, dalam sesi pidato pengantar pertemuan resmi delegasi Bank Dunia yang dipimpin Jim Yong Kim, Jokowi mengatakan isu stunting menduduki posisi amat penting karena menyangkut generasi yang akan datang.

“Saya percaya bahwa masyarakat mengharapkan pemimpin, seperti saya dan anda, untuk melakukan terobosan untuk menyelesaikan persoalan ini,” kata Jokowi (dokumen situs Sekretariat Kabinet).

Indonesia maupun Bank Dunia telah mengetahui cara menangani stunting dengan penggunaan teknologi.

“Kita tahu, di era abad 21 merupakan era telepon pintar dan media sosial bahkan juga pesawat drone dan kecerdasan buatan. Saya percaya penanganan masalah stunting ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi-teknologi yang saat ini tersedia secara luas,” ujar Jokowi.

Tapi Jokowi mengingatkan penanganan stunting kalau hanya bergantung pada upaya pemerintah, perkembangannya akan sangat lambat. Itu sebabnya, Jokowi mendorong keterlibatan sektor swasta untuk menangani.

Usai melakukan pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor, Jokowi mengajak Jim Yong Kim melihat-lihat program yang sudah dilakukan Indonesia dalam menangani masalah pertumbuhan pada anak di Sekolah Dasar Negeri Tangkil 01, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Presiden Joko Widodo. AKURAT.CO/Rizky Dewantara

Jokowi sengaja mengajak Presiden Bank Dunia untuk melihat program pemerintah Indonesia karena Bank Dunia memiliki banyak di negara-negara lain. Setelah mengunjungi SDN Tangkil 01, Jokowi berharap nanti bisa dijadikan bahan diskusi bersama.

“Tadi kami sudah berbicara mengenai penggunaan teknologi, kemudian melibatkan sektor swasta, kemudian melibatkan ormas-ormas Islam yang dengan cara itu kita harapkan pengurangan stunting ini bisa lebih cepat lagi,” kata Jokowi.

Jim Yong Kim mengatakan persoalan stunting adalah persoalan sangat serius, karena anak-anak butuh pertolongan sesegera mungkin.

“Bila anak-anak ini tidak diobati sedini mungkin di kemudian hari maka mereka tidak akan dapat mengoptimalkan potensi yang mereka miliki dan berkontribusi bagi pembangunan negara,” kata Jim Yong Kim.

Menurut dia, penanganan stunting membutuhkan komitmen dan keinginan politik yang kuat dari atas. Dia memuji pemerintah Presiden Jokowi yang menurutnya menjadi salah satu negara berkembang terbesar yang menunjukkan komitmen tersebut.

***

Di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada suatu pagi. Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek bertanya kepada peserta Kampanye Pencegahan Stunting Itu Penting: “Siapa yang tahu arti stunting?”

Peserta menjawab hampir serempak. “Kerdil.”

Nila kemudian menjelaskan lebih jauh tentang arti stunting.

“Kerdil badan karena kekurangan gizi kronis, ini mengakibatkan otaknya juga kerdil. Artinya anak-anak itu jadi kurang pandai.”

Kegiatan hari itu merupakan rangkaian dari program kampanye pemerintah untuk menurunkan angka kasus stunting. Nila menekankan stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan.

Indonesia, kata dia, harus bebas dari generasi stunting, maka pencegahannya menjadi upaya yang sangat penting.

Nila Moeloek . ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww/17.

“Indonesia itu tanahnya subur, maka generasinya harus sehat, jangan stunting,” katanya.

Data Riset Kesehatan Dasar (2013) menunjukkan empat dari 10 anak (37,2 persen) mengalami masalah itu.

Kepada orang tua maupun remaja yang pagi itu memenuhi Bundaran Hotel Indonesia, Nila berpesan agar memahami bagaimana cara mencegah stunting, utamanya melalui perbaikan pola makan, pola pengasuhan, juga perhatikan kebersihan.

“Kalau tidak mau anak-anak kita stunting, kalau kasih makan anak-anak utamakan (sumber protein) untuk anak-anak dan ibu hamil dulu ya,” kata Nila.

Selain itu, secara khusus bagi para ibu hamil, agar senantiasa menjaga kehamilannya salah satunya dengan mencukupi kebutuhan gizi anak sejak 1.000 hari pertama kehidupan.

“Sejak janin tumbuh dalam kandungan (270 hari) selama hingga usia 2 tahun kehidupan (730 hari), dengan ASI eksklusif, makanan pendamping ASI,” kata dia.
Selain itu, Nila juga mengharapkan masyarakat senantiasa menerapkan hidup sehat, dengan rajin berolahraga, perbanyak makan sayur dan buah, dan cek kesehatan secara berkala.

***

Pemerintah Indonesia tidak main-main dalam menangani stunting. Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, angka stunting yang tinggi menyebabkan negara kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp250 triliun- Rp300 triliun atau tiga persen dari Produk Domestik Bruto per tahun.

Hal ini karena berkurangnya produktivitas anak yang mengalami stunting sehingga berisiko kehilangan penghasilan 20 persen ketika dewasa.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengembangkan Purula, singkatan dari Peptida Unggul Rumput Laut, sebagai abon tabur pendamping makanan untuk mencegah stunting.

"Ya jadi di teknologi pangan sekarang kita menampilkan Purula ya, makanan untuk mengurangi resiko lahirnya bayi stunting, karena angka stunting di Indonesia relatif masih tinggi yaitu sekitar 30 persen," kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan.

Inovasi pangan itu mampu membantu meningkatkan asupan zat besi sehingga potensi lahirnya bayi stunting dapat dicegah.

Purula menjadi salah satu inovasi yang dihasilkan BPPT yang akan segera dikomersialisasikan.

Purula dikembangkan oleh Pusat Teknologi Agroindustri BPPT, yaitu berupa abon tabur yang terbuat dari hidrolisat kedelai dan rumput laut, diperkaya dengan zat besi dan vitamin, serta diformulasikan dalam bentuk makanan untuk meningkatkan asupan zat besi dalam rangka mencegah anemia.

Dalam pameran Ritech Expo 2019 yang berlangsung di Bali, BPPT menampilkan berbagai produk teknologi dan inovasi, di antaranya Kit Diagnostik Demam Berdarah Dengue, pot filter keramik dan e-voting.

Soni menuturkan uji coba untuk makanan Purula telah dilakukan di beberapa tempat, di antaranya di Rangkasbitung.

"Kalau kita makan dari rutin Purula, maka kekurangan zat besi bisa dicegah," kata Soni.

***

Dalam Rapat Koordinasi Teknis Percepatan Pencegahan 2019 yang berlangsung di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu 3 Juli 2019, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan pada kantor Wakil Presiden, Bambang Widianto, mengatakan pemerintah optimistis dapat menurunkan stunting hingga berada di bawah angka 20 persen pada 2024.

Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya melalui program-program kegiatan yang lebih tepat dan cepat.

“Strategi yang diambil adalah dengan mendorong dan memperkuat usaha konvergensi intervensi terhadap penyebab langsung (intervensi gizi spesifik) maupun terhadap penyebab tidak langsung (intervensi gizi sensitif),” kata Bambang (data situs Sekretariat Kabinet).

Kerangka teoritis penyebab stunting. Doc. Pusat Kajian Jaminan Sosial UI

Untuk merealisasikannya, diperlukan kemampuan teknis dari bupati dan wali kota seluruh Indonesia. “Kalau sekarang 30 persen, mudah-mudahan 5 tahun ke depan tinggal 20 persen,” ujar Bambang.

Bambang merujuk pada banyak kisah sukses di tingkat kabupaten dan kota terkait pelaksanaan percepatan pencegahan stunting.

Kisah itu bisa dijadikan model bagi daerah-daerah lain. Dua daerah di antaranya adalah Kabupaten Sumenep (Jawa Timur) dan Kabupaten Banggali (Sulawesi Tengah) yang terbukti berhasil melompat dalam menurunkan angka prevalensi anak stunting.

Kalau stunting di negeri ini dibiarkan, maka berpotensi kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas di masa mendatang karena perkembangan otak mereka tidak akan seperti anak yang tumbuh sehat. Kecerdasan mereka tidak optimal, dan kalau dewasa rentan menderita penyakit degeneratif, seperti jantung dan diabetes. []

Baca juga:

Tulisan 1: Melacak Jejak Stunting dari Zaman Kolonial

Tulisan 2: Stunting di Tengah Kepulan Asap Rokok, Renny: Itu Jahat Banget untuk Keluarga

Tulisan 3: Ketimbang Belanja Makanan Bergizi Buat Anak Lebih Baik Beli Rokok: Fenomena Stunting

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Bantu Ibu Hamil dan Bayi, Babel Pakai Dana Desa Atasi Stunting

Image

Gaya Hidup

Ibukota Baru Indonesia Perjuangkan Predikat Zero Stunting

Image

News

Kekerdilan

Ketimbang Belanja Makanan Bergizi Buat Anak Lebih Baik Beli Rokok: Fenomena Stunting

Image

News

Kekerdilan

Stunting di Tengah Kepulan Asap Rokok, Renny: Itu Jahat Banget untuk Keluarga

Image

News

Kekerdilan

Melacak Jejak Stunting dari Zaman Kolonial

Image

Gaya Hidup

Remaja Nunukan Diedukasi Lawan Stunting

Image

Gaya Hidup

Orangtua Terlalu Sibuk Kerja, Anak-anak Nunukan Darurat Stunting

Image

Gaya Hidup

Malang Kejar Predikat 'Zero Stunting'

Image

Gaya Hidup

Anak-anak Harus Rajin Minum Susu dan Makan Telur, Cegah Stunting

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Puji Anies Baswedan, Fahira: Hanya Pemimpin Bernyali yang Mampu Hentikan Proyek Reklamasi

“Hanya pemimpin yang punya nyali, berani, tegas & tidak mempunyai kepentingan saja yang mampu menghentikan proyek ini."

Image
News

Anies Cabut Kasasi yang Dilayangkan Ahok dalam Kasus Pembebasan Lahan Bidara Cina

Anies mengatakan, langkah mencabut kasasi tersebut dilakukan untuk menghormati keputusan pengadilan yang memenangkan gugatan warga.

Image
News

Preman dari DPP Partai Golkar Lakukan Pengrusakan dan Penganiayaan kepada Pendukung Bamsoet di Hotel Sultan

Saya dengar dari panitia, seyogyanya acara hari ini akan dilakukan di kantor DPP Partai Golkar Slipi. Namun apa daya panitia dilarang masuk.

Image
News

Terkait PKL Tanah Abang, MA: Itu Urusan Pemerintah Daerah

Diketahui, MA memenangkan gugatan soal fasilitas trotoar yang bersih dari PKL.

Image
News

Wiranto Tunggu Laporan Resmi Terkait Baku Tembak di Puncak Papua

Baku tembak mengakibatkan adanya korban luka-luka.

Image
News

Ini Pasal-pasal Revisi KUHP yang Jadi Sorotan

Ada yang menilai bahwa revisi KUHP itu belum bisa disahkan, karena ada pasal-pasal karet yang dapat merugikan banyak pihak.

Image
News

Gelar Aksi di Depan Istana, MPD Minta Jokowi Segera Melantik Pimpinan KPK Baru

Masa mendesak Presiden Jokowi percepat pelantikan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru terpilih di DPR RI

Image
News

Ibu Kota Baru Akan Dilengkapi Transportasi LRT, MRT, KRL, dan Bus Listrik

Lebih lanjut, ia menjelaskan, inisiasi tersebut akan dikuatkan dengan integrasi antar moda transportasi.

Image
News

John Bolton Beberkan Kebijakan Luar Negeri 'Ngawur' Donald Trump

"Dia 'mengungkap' Trump, tanpa menggunakan namanya, beberapa kali."

Image
News

5 Aksi Nyeleneh Pengendara saat Ditilang, Keluarkan Jurus hingga Bertapa di Atas Motor

Di Banjarmasin, pemuda dengan jaket dan tas ransel tampak mengeluarkan gerakan-gerakan seperti jurus silat di hadapan petugas saat ditilang.

Banner Mandiri

trending topics

terpopuler

  1. Terungkap! Sebagian Besar Tanah di Ibu Kota Baru Milik Konglomerat Sukanto Tanoto

  2. Warganet: Penetapan Imam Nahrawi sebagai Tersangka Sebetulnya Tidak Mengejutkan

  3. Jadi Tersangka, Harta Imam Nahrawi Mencapai Rp22 Miliar

  4. Ferdinand: Tidak Ada yang Kaget Imam Nahrawi Jadi Tersangka, Harusnya Bulan-bulan Lalu

  5. Yuk Intip! 5 Negara dengan Pertanian Tercanggih di Dunia

  6. Gunung Paling Aktif di Planet Jupiter Diprediksi akan Meletus

  7. Tersangka di KPK, Imam Nahrawi Dipecat dari PKB?

  8. Ditinggal Baim Wong Kerja Saat Hamil, Paula Verhoeven Hanya Dijagain Kucing

  9. KPK Sayangkan Sikap Imam Nahrawi yang Kerap Mangkir dari Pemeriksaan

  10. Imam Nahrawi Jadi Tersangka, Mardani: Korupsi adalah Kejahatan Luar Biasa

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan

kolom

Image
Ujang Komarudin

Gigitan Terakhir KPK

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Image
Achmad Fachrudin

Dinamika Politik Jakarta Paska Pemindahan Ibukota

Image
Abdul Aziz SR

Perempuan dan Jabatan Publik

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

Dari Presiden hingga Ulama, 5 Tokoh Tanah Air yang Masuk Daftar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

Image
News

Tanahnya Dipakai Jadi Ibu Kota Baru Indonesia, Ini 5 Rekam Jejak Sukanto Tanoto

Image
Ekonomi

Mengenal Sukanto Tanoto, Sang Penguasa Lahan HTI Ibu Kota Baru