image
Login / Sign Up

Ketimbang Belanja Makanan Bergizi Buat Anak Lebih Baik Beli Rokok: Fenomena Stunting

Maidian Reviani

Kekerdilan

Image

Rokok ilegal dari berbagai merek dimusnahkan menggunakan alat berat di Gedung Bea Cukai Marunda, Jakarta Utara, Selasa (2/10/2018). Kementerian Keuangan melalui Bea Cukai memusnahkan 2.231.935 batang rokok dan 2.245 botol minuman keras ilegal. Bea Cukai Marunda intensif melakukan penindakan rokok dan minuman keras ilegal sejak 2016 hingga 2018. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, * Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, kemudian diperparah lagi dengan perilaku merokok, menjadikan kondisi penduduk desa tersebut kian memprihatinkan.
* Survei yang dilakukan Puskesmas Wonosalam I menunjukkan jumlah perokok aktif penduduk laki-laki mencapai 90 persen.
* Biaya untuk membeli rokok terlihat lebih besar ketimbang untuk pendidikan dan kesehatan.

***

Pada 2018 lalu, Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia merilis hasil penelitian kuantitatif yang membuktikan perilaku merokok pada orang tua meningkatkan risiko anak mengalami stunting.

baca juga:

Namun, penelitian tersebut masih membutuhkan tambahan untuk menjelaskan bagaimana transmisi rokok berpengaruh pada stunting.

Tim peneliti yang terdiri dari Teguh Dartanto-Faizal Rahmanto Moies (Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI), Renny Nurhasana-Aryana Satrya (Pusat Kajian Jaminan Sosial UI), dan Hasbullah Thabrany (Fakultas Kesehatan Masyarakat UI) kembali melakukan studi kualitatif untuk menemukan jalur transimisi tersebut.

“Kita mencoba mengexplore apa yang terjadi di lapangan apakah memang benar rokok ada transmisi ke stunting atau nggak, itu kita coba dalami. Walaupun stunting tidak satu-satunya karena rokok, tapi kita mencoba melihat sebuah cerita tentang kondisi stunting,” kata Teguh Dartanto di Jakarta, Kamis 29 Agustus 2019.

Metode yang digunakan dalam penelitian itu wawancara mendalam dan literature review. Wawancara dilakukan dengan para informan. Informasi menceritakan bagaimana kehidupan keluarga, pola perilaku merokok, pola asuh anak, dan pandangan tentang stunting.

Daerah yang diteliti yaitu Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Demak dipilih karena prevalensi kasus stunting di sana tinggi, di atas level nasional (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018).

“Demak merupakan salah satu kabupaten dengan level tertinggi kasus stunting di Jawa Tengah. Dimana tahun 2019, stunting berada di 50,23 persen yang cukup tinggi jauh di atas level nasional. Demak menjadi satu dari 60 kabupaten prioritas stunting. Berarti ini Demak menjadi salah satu titik permasalahan stunting. Lalu juga kita menemukan bahwa di Demak untuk merokok itu 22,23 persen dan itu di atas rata-rata di Jawa Tengah. Sehingga kami memilih Demak sebagai lokasi riset,” ujar Faizal.

Faizal Rahmanto Moies. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Setelah memilih Kabupaten Demak sebagai lokasi penelitian, Faizal dan tim menentukan lokasi spesifik yaitu Kecamatan Wonosalam. Kecamatan tersebut memiliki 21 Desa Siaga serta memiliki 110 posyandu yang merupakan angka terbesar di antara kecamatan lainnya di Kabupaten Demak.

“Dimana kita ke Puskesmas Wonosalam dan mendapatklan list dari balita yang mengalami stunting di 11 desa. Lalu dari 11 desa tersebut kami menghitung level stuntingnya di masing-masing daerah dan dari data tersebut kami menemukan data tertinggi adalah di Desa Bunderan, yaitu sebesar 12.67 persen balita yang mengalami stunting berdasarkan standar WHO,” ujar Faizal.

Presentase balita terkena stunting. Doc. Pusat Kajian Jaminan Sosial UI

“Kemudian setelah memilih Desa Bunderan tersebut, kami mengambil lima informan yang merupakan keluarga ditambah satu informan yang berasal dari posyandu sekaligus ibu PKK dari daerah tersebut,” Faizal menambahkan.

Lima warga yang menjadi informan bagi tim peneliti adalah orang tua yang anaknya mengalami stunting.

Sebelum Faizal menceritakan temuan dari setiap informan, dalam presentasi, Faizal menceritakan kondisi Desa Bunderan.

Desa Bunderan luasnya 1,4 kilometer persegi atau sekitar 2,66 persen dari wilayah Kecamatan Wonosalam. Tahun 2017, penduduk Desa Bunderan tercatat 1.605 jiwa yang terdiri dari 792 laki-laki dan 813 perempuan.

Mayoritas penduduk, menurut Badan Pusat Statistik Demak tahun 2018, tamatan sekolah dasar. Mata pencaharian mereka, 22,5 persen petani, 35,8 persennya lagi buruh.

“Ini adalah gambar yang kami ambil di pedesaan tersebut, jadi kita bisa melihat ada sampah, di sini sampah, jadi untuk kesadaran sampah ini masih belum terlalu tinggi di daerah tersebut dan mungkin menghilangkannya itu pakai pembakaran sampah. Kemudian kali juga banyak sampah dan kali merupakan sumber utama dari kebutuhan keluarga (warga Desa Bunderan), jadi semua informan yang kami temui semua itu sumber airnya, mencuci, makan, ataupun mandi menggunakan air kali. Dan air kalinya seperti ini kualitasnya,” kata Faizal.

Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, kemudian diperparah lagi dengan perilaku merokok, menjadikan kondisi penduduk desa tersebut kian memprihatinkan.

Survei yang dilakukan Puskesmas Wonosalam I menunjukkan penduduk laki-laki yang menjadi perokok aktif mencapai 90 persen.

***

“Kalau merokok itu susah mas, sudah mendarah daging, apalagi nyisih dari belita itu belum bisa dilakukan,” kata Faizal mengulangi perkataan salah satu informan.
Bagi laki-laki Desa Bunderan, merokok sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka kecanduan.

“Jadi rokok itu kayak wajib, kalau tidak diberikan, dipersepsikan pelit. Jadi kami ini bertanya tentang ada kegiatan sosial, kalau ada kegiatan ngumpul-ngumpul gitu biasanya rokok itu menjadi sebuah suguhan. Jadi kalau nggak disuguhin rokok itu, dianggap pelit orangnya. Jadi rokok itu adalah sebuah hal yang normal di sini, di desa ini, dan dalam skala sosial pun sudah menjadi hal yang umum, terutama untuk laki-laki.”

Temuan menarik lainnya dari desa itu yaitu biaya belanja rokok lebih besar dibandingkan rata-rata pendapatan warga. Sehari, umumnya setiap lelaki menghabiskan satu atau dua bungkus rokok. Satu bungkus harganya sekitar Rp20 ribu.

Kemudian, biaya untuk membeli rokok mengambil porsi lebih besar ketimbang belanja makanan sehat atau kesehatan.

“Kalau harus ngurangin yang belanja atau ngurangin rokok, mending ngurangin belanja yang penting (beli) satu bungkus perhari,” kata Faizal mengulang perkataan informan.

Parahnya lagi, mereka tidak menyadari paparan asap rokok berdampak pada kesehatan anak-anak. Umumnya, warga merokok di dalam rumah.

“Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman yang dimiliki masyarakat tentang bahaya rokok masih belum baik, khususnya dampak negatifnya terhadap anak-anak.”

Perilaku semacam itulah yang kemudian berpengaruh pada tingginya kasus kekerdilan pada anak Desa Bunderan.

Seperti yang disebutkan oleh Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia Bernie Endyarni Medise dalam situs P2ptm.kemkes.go.id: Asap rokok mengganggu penyerapan gizi pada anak, yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembang.

“Laki-laki walaupun memang uang belanja itu diatur oleh istrinya, tapi uang yang telah diterima istrinya itu sudah dipotong oleh bapaknya untuk merokok. Lalu juga perilaku merokok itu bisa menimbulkan shifting konsumsi, yang tadi dia merokok, akhirnya dia nggak bisa makan daging dan ikan, dia akhirnya makan tempe, akhirnya ada perubahan kualitas disitu. Dan juga, kalau misalkan harus memenuhi satu bungkus empat bungkus per hari itu pasti akan juga memotong uang belanjanya. Sehingga nanti, gizi yang tadi diperlukan oleh anak terutama balita itu akan menjadi tidak terpenuhi,” tutur Faizal.

Faizal kemudian memperlihatkan perbandingan biaya yang dikeluarkan warga untuk beberapa kebutuhan. Biaya untuk membeli rokok terlihat lebih besar ketimbang untuk pendidikan dan kesehatan.

Proporsi pengeluaran untuk rokok. Doc. Pusat Kajian Jaminan Sosial UI

“Jadi kita bisa melihat bahwa rokok itu 29,2 persen dari pengeluaran si informan-informan itu. Berarti hampir sepertiganya itu adalah untuk rokok. Padahal ini bisa dialokasikan lebih baik untuk makanan, kesehatan maupun pendidikan anak. Mungkin juga untuk memberikan tambahan, salah satu informan kami itu, makanan lauknya untuk ikan pindang dan tempe itu sekitar Rp15 ribu, sedangkan untuk merokok satu bungkus per harinya itu adalah Rp30 ribu. Jadi dengan dia misalkan dia mengalihkan setengahnya aja dari rokok ke lauk, itu bisa untuk satu hari. Dan kalau semuanya berarti bisa untuk makan dua hari.”

Seperti juga yang ditunjukkan oleh survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik yang ditulis dalam P2ptm.kemkes.go.id, konsumsi rokok pada keluarga miskin masih sangat tinggi. Menurut Kepala Sub Direktorat Kerawanan Sosial BPS Ahmad Avenzora, dilihat dari catatan statistik barang konsumsi di Indonesia, “Belanja makanan bergizi di bawah belanja rokok.”

Berdasarkan temuan di lapangan, faktor lain yang berpengaruh pada stunting adalah pola asuh. Tim peneliti banyak menemukan anak susah makan. Susah makan yang dimaksud yaitu frekuensi makanan anak dan jenis makanan apa yang dikonsumsi.

Dari frekuensi makan, seringkali anak makan secara tidak teratur dan biasanya makan hanya dua kali dalam sehari. Dan frekuensi makan tidak teratur ini yang kemudian diperparah dengan kebiasaan jajan dari anak.

“Dulu juga ketika ibunya hamil anaknya, jadi ibunya ini bekerja sebagai petani, waktu hamil, waktu kerja itu dia katanya minumnya itu yang bersoda-soda gitu, fanta ataupun kukubima dan yang lain-lain. Mungkin dia ngerasa itu adalah salah satu yang mungkin berpengaruh. Kadang anak lebih suka jajan dibandingkan makan nasi ataupun lauk seperti tempe dan tahu sehingga nutrisi makanan tentu lebih rendah dari yang seharusnya,” kata Faizal.

Temuan berikutnya berasal dari posyandu. Informan menceritakan bahwa di Desa Bunderan belum ada penanganan khusus mengenai stunting, baru ada pelatihan-pelatihan mengenai masalah itu.

“Lalu juga temuan yang menarik dari ibu Posyandu itu adalah ASI eksklusif itu belum menjadi sebuah kebiasaan. Kita tahu bahwa ASI eksklusif itu, terutama di enam bulan pertama sangat penting, di mana balita mendapatkan nutrisi-nutrisi yang tidak bisa didapatkan di susu biasa, maka ASI eksklusif itu cukup penting. Jadi dia bilang untuk ASI eksklusif itu belum, dimana dari 10 kelahiran, satu pun kadang sulit, karena enggak tega karena anaknya nangis, karena dia enggak tega dengan anaknya nangis, akhirnya dia campur dengan susu biasa.”

***

Jadi, secara umum berdasarkan temuan Faizal dan tim, jalur transmisi dari stunting berdasarkan kerangka teoritis (Salemba, 2008) berasal dari tiga aspek, yaitu nutrisi, lingkungan, dan genetik.

Berkaitan dengan konsumsi rokok, perilaku shifting konsumsi menjadi faktor besar, terutama pada masyarakat berpenghasilan rendah dan masyarakat yang memiliki penghasilan tidak pasti, seperti petani.

Salah satu informan mengatakan dari Rp100 ribu penghasilan suami per perhari, dia hanya bisa belanja kebutuhan pokok sebesar Rp50 ribu untuk satu keluarga yang jumlahnya lima orang.

“Jadi untuk secara umum dari temuan kami, kami merasa bahwa jalur-jalur transmisi faktor resiko stunting itu berasal dari sini (tabel), dimana tadi dari sampel dari sisi nutrisi, genetik dan lingkungan, kita membuka bahwa rokok itu berpengaruhnya melalui pendapatan, dengan adanya rokok, pengeluaran itu ter-shifting dari pendapatan ataupun pengeluaran, sehingga jumlah nutrisi yang dia terima itu lebih sedikit dibandingkan dengan yang seharusnya. Tadi satu bungkus rokoknya itu bisa untuk dua kali makan dia dalam sehari.”

Kemudian selain shifting konsumsi, pola asuh anak juga berkaitan dengan masalah nutrisi. Seperti berapa kali makan, jajan anak, dan ASI eksklusif tentu berkaitan dengan nutrisi.

Jalur transmisi penyebab stunting . Doc. Pusat Kajian Jaminan Sosial UI

“Kemudian juga masalah lingkungan yang tadi sudah digambarkan dari awal bahwa sanitasi itu penting, kualitas air juga penting, apalagi untuk air minum (hanya beberapa informan yang air minumnya beli) dan makan yang tadi juga udah mengalami pencemaran karena buang sampah sembarangan, itu juga adalah hal yang berpengaruh terhadap stunting. Jadi inilah jalur transmisi menurut kami untuk masalah stunting tersebut.”

Tim peneliti menyimpulkan untuk pengendalian rokok mestinya dilakukan dengan cara meningkatkan harga rokok setinggi-tingginya. Selain itu juga menanamkan kesadaran bahwa nutrisi kepada anak jauh lebih penting daripada rokok.

“Jadi salah satu informan kami juga bercerita bahwa kalau memang sudah kepaksa belanja itu dibutuhkan, dia akan bilang ke suaminya 'mas jangan buat ngerokok, saya butuh untuk belanja anak-anak’. Jadi memang harus menanamkan kesadaran bahwa nutrisi anak itu penting. Lalu juga perbaikan sanitasi di lingkungan masyarakat itu juga penting. tuanya seperti yang banyak diceritain karena nanti tentu ketika harga rokoknya naik dan dia berhenti merokok itu juga akan mengurangi stunting dan membantu generasi berikutnya.”

Temuan tim peneliti itu menunjukkan bukti penting bahwa mengendalikan konsumsi rokok tidak hanya bakal meminimalisir prevalensi perokok, melainkan juga akan membuat masa depan generasi muda lebih baik dengan menekan stunting, menjaga anak-anak lahir dengan kondisi yang baik, fisik, dan kognitif. []

Baca juga:

Tulisan 1: Melacak Jejak Stunting dari Zaman Kolonial

Tulisan 2: Stunting di Tengah Kepulan Asap Rokok, Renny: Itu Jahat Banget untuk Keluarga

Tulisan 4: Stunting Masih Ada di Zaman Telepon Pintar, Bagaimana Penanganannya?

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Bantu Ibu Hamil dan Bayi, Babel Pakai Dana Desa Atasi Stunting

Image

Gaya Hidup

Ibukota Baru Indonesia Perjuangkan Predikat Zero Stunting

Image

News

Kekerdilan

Stunting Masih Ada di Zaman Telepon Pintar, Bagaimana Penanganannya?

Image

News

Kekerdilan

Stunting di Tengah Kepulan Asap Rokok, Renny: Itu Jahat Banget untuk Keluarga

Image

News

Kekerdilan

Melacak Jejak Stunting dari Zaman Kolonial

Image

Gaya Hidup

Remaja Nunukan Diedukasi Lawan Stunting

Image

Gaya Hidup

Orangtua Terlalu Sibuk Kerja, Anak-anak Nunukan Darurat Stunting

Image

Gaya Hidup

Malang Kejar Predikat 'Zero Stunting'

Image

Gaya Hidup

Anak-anak Harus Rajin Minum Susu dan Makan Telur, Cegah Stunting

komentar

Image

2 komentar

Image
emil sampeno

used dah urutan kedua ya.,. semoga bisa ngurangin bahkan bisa berenti deh klo dah punya anak aamiin

Image
ayunda reza

haduuhh,, emng apa enaknya rokok ya???

terkini

Image
Gaya Hidup

Ingin Bahagia? Lakukanlah Perubahan!

Tidak peduli seberapa keras berusaha, Anda tidak dapat mempertahankan hidup dan tetap menjadi sama.

Image
Gaya Hidup

Ingin Bahagia? Lakukanlah Perubahan!

Tidak peduli seberapa keras berusaha, Anda tidak dapat mempertahankan hidup dan tetap menjadi sama.

Image
Gaya Hidup

Tak Hanya Orang Dewasa, Manfaat Kolagen di Yoghurt Juga Dibutuhkan Anak-anak

Tapi tahukah Kamu, sebenarnya anak yang minum yoghurt tidak ada batasan untuk mengonsumsinya.

Image
Gaya Hidup

Dalam Balutan Gaun Mini Hitam, Kylie Jenner Mirip Kim Kardashian Banget

Ibu satu anak ini terlihat begitu mirip dengan kakak tirinya, Kim Kardashian.

Image
Gaya Hidup

Ternyata Perempuan Indonesia Merasa Penting Miliki Ketiak Cerah

Melalui sebuah survey, terdapat hubungan antara ketiak dengan self image.

Image
Gaya Hidup

Orang Temanggung Diwajibkan Mengopi Tiap Jumat, Mari Ketahui Manfaat Hebat Kopi Hitam

Kopi bisa tekan angka risiko peyakit hati sampai 80 persen

Image
Gaya Hidup

Sea World Ancol Jadi yang Pertama Budidayakan Ubur-ubur di Indonesia

Program budidaya ubur-ubur ini telah dikembangkan sejak tahun lalu.

Image
Gaya Hidup

Keren! Warga Temanggung Diwajibkan Minum Kopi Tiap Jumat

Kopi yang disajikan harus kopi asli Temanggung

Image
Gaya Hidup

3 Strategi Menyusun CV ini Dianggap Jitu, Padahal Wajib Dihindari

Tulis yang memang menjadi capaianmu. Meski tidak terlalu menonjol, tetapi jika itu berasal dari usaha keras, maka personalia akan menimbang.

Image
Gaya Hidup

Festival Kopi Nusantara, Berburu Kopi khas Indonesia di Taman Fatahilla Museum Sejarah Jakarta

Stand kopi Papua paling ramai diserbu pengunjung

trending topics

terpopuler

  1. Terungkap! Sebagian Besar Tanah di Ibu Kota Baru Milik Konglomerat Sukanto Tanoto

  2. Warganet: Penetapan Imam Nahrawi sebagai Tersangka Sebetulnya Tidak Mengejutkan

  3. Jadi Tersangka, Harta Imam Nahrawi Mencapai Rp22 Miliar

  4. Ferdinand: Tidak Ada yang Kaget Imam Nahrawi Jadi Tersangka, Harusnya Bulan-bulan Lalu

  5. Yuk Intip! 5 Negara dengan Pertanian Tercanggih di Dunia

  6. Gunung Paling Aktif di Planet Jupiter Diprediksi akan Meletus

  7. Tersangka di KPK, Imam Nahrawi Dipecat dari PKB?

  8. Ditinggal Baim Wong Kerja Saat Hamil, Paula Verhoeven Hanya Dijagain Kucing

  9. Imam Nahrawi Jadi Tersangka, Mardani: Korupsi adalah Kejahatan Luar Biasa

  10. Susi Susanti Ungkap Alasan Namanya Diganti

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan

kolom

Image
Ujang Komarudin

Gigitan Terakhir KPK

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Image
Achmad Fachrudin

Dinamika Politik Jakarta Paska Pemindahan Ibukota

Image
Abdul Aziz SR

Perempuan dan Jabatan Publik

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

Dari Presiden hingga Ulama, 5 Tokoh Tanah Air yang Masuk Daftar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

Image
News

Tanahnya Dipakai Jadi Ibu Kota Baru Indonesia, Ini 5 Rekam Jejak Sukanto Tanoto

Image
Ekonomi

Mengenal Sukanto Tanoto, Sang Penguasa Lahan HTI Ibu Kota Baru