image
Login / Sign Up

Melacak Jejak Stunting dari Zaman Kolonial

Maidian Reviani

Kekerdilan

Image

Seorang perawat sedang menimbang seorang anak yang mengalami kekurangan gizi di pusat perawatan malnutrisi di Sanaa, Yaman, 7 Oktober 2018. | REUTERS

AKURAT.CO, Edisi kali ini melaporkan tentang masalah stunting di Indonesia. Isu stunting kembali mengemuka karena Indonesia sedang bersiap menerima bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada 2035.

Kalau masalah stunting tidak ditangani sedini mungkin, dikhawatirkan akan mengganggu rezeki nomplok bonus demografi itu.

Pada tulisan awal akan dipaparkan stunting dan sejarahnya di Indonesia. Sejak kapan ada stunting di negeri ini, belum ada yang bisa memastikannya. Tetapi kalau dilacak dari sejarah, ada kemungkinan stunting terjadi sejak rezim kolonial Belanda menerapkan sistem tanam paksa, terutama di Jawa.

baca juga:

Lalu, istilah stunting sendiri sebenarnya juga belum lama terdengar. Istilah itu pada zaman kolonial, pemerintahan pendudukan Jepang, masa kemerdekaan, hingga Orde Baru belum ada. Baru setelah memasuki masa reformasi, dengungnya kencang.

Di bagian tulisan berikutnya mengangkat temuan kasus stunting di era modern Indonesia. Stunting dan perilaku merokok pada orang tua ternyata berkaitan.

Sedangkan di akhir-akhir tulisan edisi kali ini menyajikan tanggapan pemerintah dan langkah yang dilakukan untuk menangani isu tersebut.

***

* Kalau dilacak ke periode sejarah kolonial, keadaan yang melatari stunting sebenarnya menurun dari generasi ke generasi.
* Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch yang membuat sistem tanam paksa ketika itu barangkali tidak memperkirakan dampak luar biasa yang bakal timbul.
* Beras-beras yang kemudian didistribusikan dari Tanjung Perak ke daerah-daerah, seperti Malang, di Jawa Timur, sudah tidak layak konsumsi.

***

Dalam pidato tentang RAPBN 2020 beserta nota keuangan di gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat 16 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo secara khusus menyoroti isu stunting.

Jokowi mengatakan konvergensi program dan kegiatan percepatan penurunan stunting pada tahun 2020 diperluas mencakup 260 kabupaten dan kota.

Presiden Joko Widodo dan Irina Jokowi. AKURAT.CO/Endra Prakoso

Selain mempercepat penurunan stunting, untuk memperkuat layanan kesehatan lainnya, pada 2020 pemerintah mengalokasikan Rp132,2 triliun. Angka ini naik hampir dua kali lipat dari realisasi anggaran kesehatan tahun 2015.

Stunting merupakan salah satu isu yang disoroti Jokowi dalam debat calon presiden yang lalu. Ketika itu, Jokowi menunjukkan komitmen jika kelak kembali memimpin negeri ini, akan meningkatkan gizi masyarakat. Peningkatan anggaran kesehatan dalam RAPBN 2020 agaknya merupakan realisasi dari janjinya dulu.

Stunting, dalam buku Ilmu Gizi Untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan yang ditulis Atikah Proverawati (September 2017), merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis. Anak yang mengalami stunting ditandai postur tubuhnya terlalu pendek untuk usianya.

Prevalensi stunting di Indonesia ternyata cukup banyak. Data tahun 2017 sebagaimana yang disebutkan dokter spesialis gizi pada Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta Pusat, Dermawan Claudina Nadeak, yang saya temui di Jakarta Selatan sore itu, menyebutkan angkanya mencapai 29,6 persen.

Menurut WHO kalau stunting tidak ditangani pada saat ini, maka pada pada 2025 akan ada 127 juta bayi di seluruh dunia mengalami stunting.

“Targetnya menurut WHO bagian khusus nutrisi tahun 2025 ini akan diturunkan menjadi tingal 100 jutaan anak yang akan stunting,” kata Nadeak.

Pemberian asupan gizi yang cukup bagi ibu yang tengah mengandung merupakan salah satu cara pencegahan stunting pada bayi.

"Sejak tiga bulan pertama kehamilan, otak anak sudah terbentuk sekitar 40 persen, jika makanan yang dikonsumsi oleh ibu saat hamil tidak sempurna maka asupan gizi untuk anak juga berkurang," kata dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas Padang Zulkarnain Agus.

Ilmu gizi sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Dalam buku Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan yang ditulis Atikah Proverawati dan Erna Kusuma Wati dijelaskan gizi sebagai bagian ilmu sudah dimulai dari tulisan Hipocrates (460-360 SM). Hipocrates mengatakan pada intinya makanan yang sebenarnya telah kita makan adalah penyedia unsur panas yang sangat dibutuhkan manusia atau dengan kata lain makanan sebagai panas yang dibutuhkan manusia.

Ketika itu, Hipocrates mengobati penderita rabun senja dengan hati binatang buruan. Bertahun-tahun kemudian, baru diketahui penyakit tersebut disebabkan karena kekurangan vitamin A.

Ilmu gizi semakin berkembang pada zaman Aristoteles (384-322 SM). Aristoteles yang kemudian dikenal sebagai Bapak Ilmu Gizi Dunia menuliskan tentang proses fisiologis zat gizi dan mengenai penggunaan energi makanan oleh tubuh manusia, serta dampak negatif dari konsumsi zat gizi yang berlebihan.

***

Di Indonesia, istilah stunting baru terdengar secara luas setelah memasuki masa reformasi.

Sejak kapan ada stunting di Indonesia? Pengajar ilmu sejarah kesehatan Universitas Indonesia Agus Setiawan mengatakan belum ada kepastian soal itu.

“Di Indonesia, ilmu kedokteran sekalipun itu belum bisa mendetect kapan mulai ada stunting itu,” kata Agus ketika saya temui di gedung Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, siang itu.

Agus Setiawan. AKURAT.CO/Siswanto

Tapi, kalau dilacak ke periode sejarah kolonial, keadaan yang melatari stunting sebenarnya menurun dari generasi ke generasi. Kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial (hingga pemerintahan sekarang) ikut mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.

Agus mensinyalir kekurangan gizi parah yang dialami penduduk mulai terjadi pada masa Cultuurstelsel, sistem tanam paksa.

“Jadi, nggak usah yang gizi yang harusnya dipenuhi, karbohidratnya saja itu sangat susah dipenuhi,” kata Agus.

Pada masa Cultuurstelsel, petani harus bekerja paling tidak tiga hari untuk menanam tanaman yang laku keras di Eropa.

Ketika itu, pemerintah kolonial menerapkan kebijakan 2/5 dari tanah yang dimiliki petani, khususnya di Jawa, harus ditanami tanaman-tanaman untuk bahan makanan atau minuman yang laris di Eropa.

“Kalau di daerah Priangan itu umumnya teh dan kopi, yang di sini tebu (gula). Jadi pasangannya pas itu. Kalau ngeteh atau ngopi itu kan pasangannya gula. Nah itu yang laku keras di Eropa,” kata Agus.

Untuk mendapatkan lahan pertanian, pemerintah kolonial tidak berhubungan langsung dengan penduduk. Mereka memanfaatkan para pejabat pribumi atau priyayi.

Pejabat-pejabat pribumi dikumpulkan dan dibriefing untuk pelaksanaan kebijakan 2/5 tanah ditanami tanaman untuk kepentingan pemerintahan kolonial. Belanda menggunakan pengaruh priyayi karena orang-orang Jawa pada masa itu lebih mendengarkan apa yang mereka sampaikan.

“Belanda sendiri nggak modal sama sekali itu,” kata Agus.

Dalam pelaksanaan sistem tanam paksa tahun 1830, tulis Tanto Sukardi dalam Tanam Paksa di Banyumas (Baardewijk, 1994), para pejabat pribumi dari bupati, kepala distrik, kepala onder distrik, sampai kepala desa terlibat secara langsung dan bertanggungjawab terhadap kelancarannya. Sedangkan tanggungjawab pengawasan diberikan kepada pejabat kolonial yang meliputi residen, asisten residen, kontrolir, dan para direktur.

Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch yang mengeluarkan peraturan sistem tanam paksa ketika itu barangkali tidak memperkirakan dampak luar biasa yang bakal timbul. Selain kelaparan luar biasa, terjadi praktik korupsi yang dilakukan pejabat pribumi dengan memanfaatkan situasi dengan segala persoalan yang melingkupinya.

“Jadi, kok rakyatnya sudah susah dengan adanya Cultuurstelsel kemudian dia diperas lagi oleh para priyayi itu sendiri, jadi dia mengutip atau istilah sekarang korupsi dari situ,” kata Agus.

“Jadi bisa dibayangkan itu, daerah atau tanah yang tadinya untuk satu keluarga cukup sekian kuintal dari setiap panen. Sekarang panennya berkurang. Misalnya padi, tadinya satu hektar, sekarang tinggal 3/5 hektar. Ya jelas dampaknya nanti luar biasa, ya kelaparan dan seterusnya,” Agus menambahkan.

Daerah yang mengalami kelaparan parah, antara lain Grobogan, Pati, kawasan pantai utara.

Ilustrasi gizi buruk. REUTERS

“Saya curiga, mulai dari masa itulah, bukan lagi anak yang lahir karena genetik kalau dia tidak tinggi (badannya), melainkan juga pastinya ada penderita stunting di situ,” kata Agus.

“Makanya kalau melihat orang-orang Jawa abad 19 mungkin tidak terlalu tinggi, dan keturunannya dua atau tiga generasi ke sini itu tidak tinggi, kalau menurut saya. Kalau sekarang bisa lihat sendiri, anak yang orang tuanya tidak tinggi, anak itu tahu-tahu tinggi. Paling tidak, selain genetika, asupan gizinya bagus. Nah, ini pada masa kolonial.”

Apa yang dilakukan rezim kolonial setelah mengetahui terjadi kekurangan pangan serta dampaknya yang dialami penduduk pribumi akibat rentetan sistem tanam paksa?

Pada satu masa, khusus untuk memenuhi kebutuhan pangan, pemerintah kolonial mengimpor beras dari Myanmar.

Hanya saja, beras yang diimpor dari Myanmar, terutama yang singgah di Pelabuhan Tanjung Perak, Jawa Timur, tercemar oleh hama tikus sejak dalam perjalanan.

Dengan demikian, beras-beras yang kemudian didistribusikan dari Tanjung Perak ke daerah-daerah, seperti Malang, di Jawa Timur, sudah tidak layak konsumsi. Itu sebabnya, kelak timbul wabah pes setelahnya, seperti di Malang.

“Jadi nggak kebayang oleh kita, sudah kelaparan, beras yang didrop tidak sehat. Malah timbul wabah berikutnya,” kata Agus.

“Jadi ketika terjadi kelaparan, daya tahan tubuh menurun, bukan hanya membuat stunting, menurut saya, tetapi juga penyakit-penyakit yang mewabah di Jawa Tengah, terutama cacar, frambusia, misalnya,” kata Agus.

Pada masa itu pemerintah kolonial hanya melihat penyakit yang kasat mata. Penyakit kulit, seperti cacar, frambusia, misalnya. Sementara untuk masalah kekurangan gizi akibat kelaparan belum disadari betul.

Pemerintah kolonial mendirikan sekolah mantri cacar (1849) yang pesertanya priyayi-priyayi pribumi. Mereka dididik menjadi vaksinator yang kemudian bertanggungjawab mencegah wabah semakin meluas.

Pemerintah kolonial memanfaatkan priyayi untuk menjadi vaksinator karena selain takut ketularan wabah jika berhubungan langsung dengan penduduk, juga kalangan elite pribumi dirasa lebih tepat melaksanakannya. Omongan priyayi lebih didengar penduduk, apalagi ketika itu tidak mudah bagi Belanda untuk memperkenalkan metode kedokteran.

Sebagai gambaran, Hindia Belanda pada masa itu bagai etalase pasar dari sisi medical treatment. Ketika orang sakit datang ke Hindia Belanda, ada berbagai macam pilihan pengobatan alternatif yang ditawarkan.

“Komunitas Cina yang bangga dengan akupuntur, masyarakat Arab yang bangga dengan bekamnya, masyarakat asli Jawa yang bangga dengan ramuan jamu,” kata Agus.

Sementara metode kedokteran datang belakangan sehingga belum punya tempat di hati masyarakat. Itu sebabnya, vaksinator harus seorang yang bisa diterima penduduk.

“Jadi priyayi itu yang didengar omongannya, ini lho bu, pakai obat ini. Itu yang ngomong harus priyayi, kalau misalnya dokter Belanda itu susah,” kata Agus.

Pendirian sekolah mantri cacar -- yang kemudian menandai perkembangan pendidikan kedokteran di Indonesia – paralel dengan perkembangan kedokteran di Eropa.

Stunting disebut rangkaian dari dampak sistem tanam paksa karena sebelum Cultuurstelsel diterapkan, tidak pernah terdengar adanya kelaparan luar biasa di Pulau Jawa.

Pulau Jawa pada masa lalu subur sekali. Agus menggambarkan selapar-laparnya orang kalau datang ke hutan, pasti akan menemukan buah-buahan yang dapat dimakan.

Tapi semenjak rezim kolonial menerapkan Cultuurstelsel, terjadi eksploitasi secara ekonomi maupun politik yang begitu luar biasa.

“Petaninya harus bekerja di sawahnya sendiri, di tanahnya sendiri, hasilnya dikasih (colonial). Bayangkan. Capek-capek dia setiap hari pergi ke ladang, sawah. Nah, itu yang membuat lelahnya dia itu tak terbayar dengan hasil panen yang harus diberikan ke pemerintah kolonial,” kata Agus.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Selain mendirikan sekolah mantri cacar, kebijakan kolonial ketika itu sebagai upaya untuk menjawab situasi adalah mendirikan sekolah-sekolah penelitian, di antaranya lembaga Eijkman pada 1888. Lokasi warisan kolonial itu sekarang berada di kawasan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Lembaga Eijkman dulu menjadi tempat meneliti penyakit-penyakit yang muncul di Hindia Belanda dan kemudian dicarikan obat untuk menanggulanginya.

Kemudian juga ada lembaga Pasteur di Bandung, Jawa Barat.

“Ada lembaga-lembaga penelitian yang bekerjasama atau sebagai tempat praktik, nantinya pada 1902 itu anak-anak STOVIA itu datang, dia ngelink ke situ. Kalau ada penelitian penyakit baru ditemukan dan seterusnya, wabah,” kata Agus.

Agus mengungkapkan dulu sebelum berkembang ilmu kedokteran, orang-orang Belanda sangat khurafat. Percaya tahayul. Misalnya, penyakit malaria. Dulu, mereka tidak berpikir itu disebabkan gigitan nyamuk.

“Dulunya orang Belanda, terutama masa VOC, mereka lebih berpikir penyakit itu karena gaya hidup. Benar juga sih sebenarnya. Jadi kalau ada orang yang sakit ini, itu, dari dalam, umumnya karena sesuatu yang dimasukkan ke dalam (tubuh),” katanya.

Tetapi kemudian ilmu kedokteran berkembang. Ada penelitian-penelitian yang dapat menjelaskan penyakit secara ilmiah, terutama penyakit-penyakit yang muncul di Hinda Belanda.

“Stunting saya kira istilahnya muncul belakangan, tetapi saya kira itu rentetan itu tadi. Karena kalau seperti yang dijelaskan oleh dokter Nadeak itu paralel dengan penjelasan sejarahnya. Pertama orang pendek, itu (sebabnya) satu karena genetika. Jadi ada orang yang dengan ilmu kedokteran apapun, ya secara genetika ortunya begitu kuat DNA, bahkan dia lebih pendek. Tetapi ada satu hal yang aneh kalau misalnya kedua orangtuanya tinggi anaknya pendek, nah itu. Berarti ada faktor gizi yang kurang,” kata Agus.

***

Setelah kekuasaan kolonial di Hindia Belanda berakhir, keadaan penduduk pribumi bukan membaik. Sebaliknya, semakin parah pada masa pendudukan Jepang yang dimulai 1942 (hingga 1945).

Orang-orang Jepang merampas semua hasil bumi, hasil ternak, obat-obatan, untuk kepentingan perang Asia Timur Raya.

“Jadi generasi lahir pada masa Cultuurstelsel, ibunya pasti asupan gizinya berkurang. Kemudian pada masa pendudukan Jepang lebih parah lagi kehidupan pada masa itu.

Menimbulkan kekurangan gizi yang hebat. Bukan hanya kekurangan gizi, juga kekurangan pangan, saya kira. Itu sudah pasti mempengaruhi kandungannya,” kata Agus.

Dalam Sejarah Pangan di Indonesia: Strategi dan Politik Pangan Dari Masa Kolonial Sampai Reformasi yang ditulis Margiono dan kawan-kawan (2010) tergambar bagaimana sumber daya alam dan tenaga kerja hancur.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Disebutkan, kehancuran tidak hanya pada bidang pertanian pangan dan perkebungan, melainkan juga sektor kebaharian. Perahu-perahu nelayan berukuran besar sebagian besar yang dirampas Jepang. Nelayan juga dipaksa menyerahkan sebagian dari hasil tangkapan mereka kepada Jepang untuk kepentingan perang.

Pada rezim itu, disebutkan dalam buku yang ditulis Margiono dkk, baru pertamakali dalam sejarah Indonesia modern, penduduk Jawa mengalami penurunan jumlah. Kematian akibat kelaparan dan terjadi di berbagai tempat.

Akibatnya banyak penduduk yang memakan makanan yang biasanya dimakan oleh binatang (Vital Statistics under the Japanese Rule, Ekonomic Review of Indonesia 1 (4, 1947).

Busung lapar merupakan salah satu masalah kesehatan yang terparah pada waktu itu. Akibat kekurangan gizi, banyak penduduk, terutama anak-anak, kurus-kurus, tetapi perut mereka buncit.

Keadaan itu membuat dokter-dokter pribumi lulusan STOVIA yang dipekerjakan pemerintah pendudukan Jepang menyarankan agar asupan karbohidrat penduduk yang mengalami busung lapar dipenuhi.

Apakah saran dokter-dokter pribumi lulusan STOVIA diterima pemerintah pendudukan Jepang?

Bagi Jepang, ketika itu lebih fokus mendukung tentara mereka di medan tempur perang Asia Timur Raya.

“Sehingga kalau alasan-alasan atau saran apapun diterima, asalkan tadi itu, kepentingan mereka tidak terganggu. Jadi kalau mereka merampas sudah jelas itu, ternak, ayam kambing, untuk kepentingan tantara Jepang. Ya pastilah penduduk lokalnya kelaparan,” katanya.

“Dalam perang, tidak bisa fokusnya banyak. Jadi ketika menghadapi serangan sekutu, di Kalimantan ada, Australia, Belanda, Inggris, Amerika hujani bom. Itu nggak lagi pikirkan orang-orang kita, jadi lebih memikirkan bagaimana tentara itu tidak stres, tetapi tetap sehat, tetap bertempur di garis depan, gitu,” Agus menambahkan.

Itu sebabnya, menurut Agus, istilah pemerintahan pendudukan Jepang sangat tepat. Artinya, terminologinya pas. Istilah ini, tidak ada di tempat lain. Kata pendudukan, itu bermakna sangat subyektif untuk kepentingan yang menduduki.

“Pada masa pemerintahan kolonial, satu sisi berupaya untuk menata supaya pemerintahan kolonial solid, kalau yang ini (Jepang) benar-benar menduduki untuk bisa dieksploitasi dan sebagainya. Jadi menurut saya nggak kepikiran itu pemerintahan Jepang untuk memperhatikan,” katanya.

Dalam buku sejarah kesehatan yang diterbitkan Departemen Kesehatan disebutkan dokter-dokter pribumi yang bekerja untuk dinas kesehatan pemerintahan pendudukan Jepang dilarang memberikan laporan yang menyebutkan daerah ini atau daerah itu terjadi masalah kelaparan dan sebagainya.

“Semua laporan harus baik. Jadi kalau melihat film dokumenter produksi NHK, itu film propaganda itu, jadi kelihatan semua masyarakat Indonesia itu baik semua tempat bersih dan seterusnya, nggak. Tetapi mungkin ada ya di beberapa tempat, tetapi sisanya itu yang kering, susah hidupnya,” kata Agus.

“Itu saya kira situasi kayak begitu tuh, nggak bisa dipungkiri bakal melahirkan generasi stunting,” Agus menambahkan.

Ilustrasi gizi buruk. ANTARA FOTO

Pada masa pemerintahan pendudukan Jepang, penduduk pribumi serba susah. Bahkan, perempuan haid terpaksa memakai pelepah pisang.

“Kalau gizi sudah jelas, pasti lebih buruk lagi dari zaman kolonial,” kata Agus.

Agus mengatakan pada masa itu, beratnya kehidupan yang dirasakan penduduk hampir merata di semua daerah, terutama di Pulau Jawa yang dijadikan sapi perahan karena pertaniannya paling luas, juga jumlah penduduknya banyak.

“Jadi mereka semakin semena-mena itu. Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat yang subur, itu kemudian dikuras habis sumber daya alamnya untuk kepentingan tentara Jepang,” katanya.

Bahkan, pemerintahan pendudukan Jepang juga mengambil penduduk Jawa untuk dijadikan romusha sampai ke Burma.

Penderitaan selama rezim Jepang bertambah lagi dengan adanya jugun ianfu. Tentara Jepang memaksa perempuan-perempuan pribumi menjadi pemuas kebutuhan seksual mereka di tangsi-tangsi militer. Buntutnya, berkembang penyakit kelamin.

Kebijakan romusha dan jugun ianfu tak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi juga di tempat lain, seperti Korea, juga Cina.

Akibat kekejaman pemerintah pendudukan Jepang, kelaparan dan kematian terjadi dimana-mana.

“Ada salah satu sumber bercerita, kadang-kadang orang jalan terhuyung-huyung di jalan di daerah-daerah romusha dipekerjakan, terus jatuh begitu saja,” kata Agus.

Sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan, sumber daya manusianya pun dieksploitasi secara total.

“Mungkin juga ada orang yang hidup di masa kolonial, masa pendudukan Jepang, kemudian masa kemerdekaan. Itu dia mengalami semua kebijakan yang nggak enak itu di masa hidupnya. Kalau itu satu generasi yang hidup dalam kurun waktu masa Cultuurstelsel sampai kemerdekaan, kalau dia dari golongan menengah ke bawah, sudah pasti itu gizinya buruk,” kata Agus.

“Satu-satunya hikmah yang bisa dipetik dari Jepang adalah pendidikan militer. PETA. Itu pun dengan senjata yang sangat terbatas nantinya,” Agus menambahkan.

***

Agustus 1945, Hiroshima dan Nagasaki dibom atom. Jantung negaranya diluluhlantakkan, Jepang pun menyerah pada Amerika Serikat dan sekutu. Peristiwa ini menandai berakhirnya Perang Dunia II.

Kejadian itu kemudian dimanfaatkan Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus.

Sejarah kemerdekaan Indonesia terbilang unik. Uniknya, kalau negara lain setelah merdeka langsung bisa menata ulang negara. Sementara Indonesia, masih harus mempertahankan kemerdekaan melalui perlawanan diplomatik dan militer atau revolusi fisik 1945-1949.

Misalnya, ketika sekutu datang ke Batavia dan sejumlah daerah dengan dibonceng Belanda yang diwakili Nederlandsch Indië Civiele Administratie usai kekalahan Jepang,

Ketika itu, situasi keamanan di Batavia semakin buruk karena terjadi bentrok fisik antara pro kemerdekaan dan pro Belanda. Pemerintah Indonesia pun memindahkan semua kantor-kantor pemerintahan dari Batavia ke Yogyakarta.

“Jadi, segala daya upaya ketika itu diupayakan untuk mempertahankan kemerdekaan,” kata Agus.

Sementara itu, kebijakan-kebijakan Departemen Kesehatan yang ketika itu telah dibentuk dapat dikatakan tidak jalan. Departemen Kesehatan merupakan salah satu dari delapan departemen pertama yang dibentuk pada masa awal kemerdekaan.

Petugas Departemen Kesehatan ketika itu kesulitan untuk menyalurkan bantuan obat-obatan, terutama ke Jawa, karena ada garis van Mook (Letnan Gubernur Jenderal van Mook). Mereka tak bisa leluasa melintasi garis itu karena di sana sudah wilayah Belanda.

“Jadi mereka (petugas) biasanya menyelundupkan (obat-obatan),” kata Agus.

Pada masa revolusi fisik itu, penderitaan rakyat Indonesia tambah parah, padahal belum pulih dari penderitaan selama masa pendudukan Jepang.

“Karena nanti terlihat pada 1950 ke sini mulai banyak tim yang Depkes yang turun. Nah, itu banyak wabah. Di Yogya, daerah-daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, itu baru terlihat penyakit-penyakit masyarakat begitu banyak,” kata Agus.

Keputusan membentuk Departemen Kesehatan (1945) serta tujuh departemen pokok lainnya di tengah revolusi fisik merupakan hal yang luar biasa.

“Jadi founding fathers itu ya mereka orang-orang cerdas. Cuma memang situasinya nggak mendukung, gitu aja. Kalau orang-orang itu hidup sekarang, Bung Hatta, Soekarno, Syahrir, negara ini hebat. Karena visinya panjang. Mungkin nggak terbayang waktu itu ya, ada Departemen Kesehatan. Tapi harus ada. Inisiatif kecerdasan founding fathers itu semuanya, dalam kondisi darurat tetap berfungsi, walau tidak maksimal,” kata Agus.

Selama periode awal kemerdekaan, isu perbaikan gizi masyarakat belum menjadi perhatian utama Departemen Kesehatan, meskipun sudah ada upaya-upaya ke arah sana. Ketika itu, yang menjadi fokus baru penyakit yang secara kasat mata kelihatan.

Upaya perbaikan gizi masyarakat, di antaranya memulai pusat-pusat layanan kesehatan masyarakat, walau pembangunannya marak pada zaman Orde Baru.

“Rumah-rumah kayak (sekarang) posyandu itu sudah mulai dirintis,” katanya.

Dari semua pemerintahan yang ada dan dibandingkan dengan zaman reformasi -- terlepas dari zaman Soeharto itu totaliter dan sebagainya – Departemen Kesehatan pada masa Orde Baru lebih terencana.

Menurut literatur sejarah kesehatan yang diterbitkan Departemen Kesehatan, pada masa Orde Baru penataan kesehatan lebih terstruktur. Departemen Kesehatan membawahi direktorat-direktorat tertentu. Hierarki rumah sakit juga lebih jelas.

Pemerintahan pada masa Orde Baru juga membuat kebijakan-kebijakan strategis, di antaranya penyediaan air bersih ke rumah-rumah penduduk.

Kebijakan penyediaan air bersih untuk penduduk barangkali terkesan amat biasa, padahal sesungguhnya merupakan terobosan besar pada zaman itu. “Nggak gampang,” kata Agus.

Misalnya di daerah-daerah yang penduduknya masih mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus. Ketika salah satu warga yang sakit menggunakan air sungai yang sama, pasti warga lainnya akan tertular dan dapat menjadi wabah.

***

Istilah stunting bergaung setelah tiba masa reformasi, terutama zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kampanye peningkatan gizi serta pencegahan stunting di masyarakat gencar dilakukan, apalagi mendapat dukungan badan kesehatan dunia (WHO).

“Kalaupun ada (kasus) di daerah-daerah yang minus sekali. Kalau (misalnya) stunting itu masih ada di perkotaan, itu kalau menurut saya parah. Depkes harus ikut memikirkan itu. Karena di depan mata dia, kalau dulukan di daerah-daerah yang secara gizi itu kurang,” kata Agus.

Dokter Nadeak ketika saya temui sore itu mengatakan istilah stunting seolah-olah baru. Padahal sesunguhnya istilah ini sudah ada sejak dulu. Stunting itu artinya pendek.
Menurut literatur sejarah gizi di Indonesia, perjalanan untuk mengatasi masalah gizi sudah berlangsung sejak lama.

Dermawan Claudina Nadeak. AKURAT.CO/Siswanto

Pada 1950-an, Indonesia mulai mengenal slogan Empat Sehat Lima Sempurna yang digagas oleh Poorwo Soedarmo. Dia kemudian dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia. Poorwo merupakan lulus sekolah kedokteran STOVIA tahun 1927.

“Rupanya kita dari dulu sampai sekarang itu, tetap selalu membuat program gizi. Banyak macam slogan-slogannya,” kata Nadeak.

Sebagai ahli gizi, Nadeak menganggap slogan empat sehat lima sempurna lebih gampang diterima masyarakat.

“Limanya susu, boleh diganti makanan tambahan yang lain. Dan itu pada tahun 1953 sudah dikatakan masak sendiri di rumah, makanannya benar, bisa mengikuti selera zaman. Kemudian bervariasi bahan makanannya, jadi jangan cuma nasi sama ayam saja,” kata Nadeak.

Kemudian pada tahun 1980-an, muncul glogan gizi keluarga, dan sekarang slogannya gizi seimbang.

Usaha pemerintah untuk menurunkan angka kasus stinting semakin menunjukkan hasil positif, terutama semenjak pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Pada 12 Februari 2019 lalu, Jokowi mengatakan angka stunting yang pada tahun 2014 masih 37 persen, sekarang turun hingga mencapai angka 30 persen.

“Kesehatan ini basic sekali. Jangan sampai kita berbicara persaingan dengan negara lain, tetapi kita memiliki stunting 37 persen,” kata Jokowi (situs Sekretariat Kabinet).

“Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih kepada bapak, ibu, dan saudara sekalian, berkat kerja keras kita, sekarang sudah turun menjadi 30 persen. Ini harus turun lagi menjadi 20 persen, turun lagi menjadi 10 persen, dan hilang,” Jokowi menambahkan. []

Baca juga:

Tulisan 1: Melacak Jejak Stunting dari Zaman Kolonial

Tulisan 2: Stunting di Tengah Kepulan Asap Rokok, Renny: Itu Jahat Banget untuk Keluarga

Tulisan 3: Ketimbang Belanja Makanan Bergizi Buat Anak Lebih Baik Beli Rokok: Fenomena Stunting

Tulisan 4: Stunting Masih Ada di Zaman Telepon Pintar, Bagaimana Penanganannya?

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Bumil Rutin Makan Ikan, Stunting di Gorontalo Berhasil Ditekan

Image

Gaya Hidup

Tekan Stunting, Ahli Sarankan Perbanyak Susu dan Telur

Image

Gaya Hidup

Bantu Ibu Hamil dan Bayi, Babel Pakai Dana Desa Atasi Stunting

Image

Gaya Hidup

Ibukota Baru Indonesia Perjuangkan Predikat Zero Stunting

Image

News

Kekerdilan

Stunting Masih Ada di Zaman Telepon Pintar, Bagaimana Penanganannya?

Image

News

Kekerdilan

Ketimbang Belanja Makanan Bergizi Buat Anak Lebih Baik Beli Rokok: Fenomena Stunting

Image

News

Kekerdilan

Stunting di Tengah Kepulan Asap Rokok, Renny: Itu Jahat Banget untuk Keluarga

Image

Gaya Hidup

Remaja Nunukan Diedukasi Lawan Stunting

Image

Gaya Hidup

Orangtua Terlalu Sibuk Kerja, Anak-anak Nunukan Darurat Stunting

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Pukul Perajin Lokal, Pemerintah Diminta Setop Impor Tekstil Batik

Kemunculan tekstil bermotif batik di pasaran lebih dari lima tahun terakhir cukup dirasakan oleh perajin batik lokal.

Image
Ekonomi

Kenaikan Cukai Rokok Harus Dikoordinasikan dengan Menko Perekonomian

Langkah ini diharapkan bisa ditempuh sebelum cukai rokok efektif berlaku 1 Januari 2020.

Image
Ekonomi

Ketimbang Naikkan Cukai, Pemerintah Mending Perbanyak Tempat Bebas Asap Rokok

Kebijakan pemerintah menaikkan cukai rokok merupakan lose-lose solution.

Image
Ekonomi

Belum Puas Dengan Akselerasi di Kemaritiman, Menko Luhut: Tapi Sudah Sesuai Target

Banyak program kerja sektor kemaritiman yang telah dikerjakan oleh pemerintah selama lima tahun.

Image
Ekonomi

Pindah Ibu Kota, Permintaan Penyediaan Rumah Makin Merata

Minat dan proyeksi perumahan utamanya di sekitar wilayah Kalimantan ikut mengalami tren kenaikan.

Image
Ekonomi

Mantan Gubernur BI Arifin Siregar Meninggal Dunia

Mantan Gubernur BI Arifin Siregar meninggal dunia di RS.Medistra, Jakarta, Senin (23/9/2019).

Image
Ekonomi

Kemenkeu Klaim Telah Berikan Banyak Insentif Untuk Hambat Dampak Ekonomi Global

Kemenkeu menganggap banyak insentif fiskal sudah diberikan pemerintah untuk menahan dampak negatif perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Image
Ekonomi

Hanif Dhakiri Akui Jam Kerja Indonesia Tak Kompetitif Dibandingkan Negara ASEAN

Hanif menilai jam kerja di Indonesia tidak kompetitif dibandingkan negara Asean lainnya lantaran jumlahnya yang lebih sedikit.

Image
Ekonomi

Cukai Rokok Naik, Menteri Hanif Harap Tak Ada PHK Industri Rokok

Tidak adanya PHK dari industri rokok sebagai dampak kenaikan cukai rokok sesuai ketetapan pemerintah mulai Januari 2020.

Image
Ekonomi

Gara-gara Mafia Nakal, Realisasi Penyaluran Beras BPNT Tak Akan Capai Target

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan bahwa realisasi Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) akan tidak tercapai.

trending topics

terpopuler

  1. Ikuti Saran Barbie Kumalasari, Boy William Ngaku Tetap Sampai Berbarengan dengan Penumpang Kelas Ekonomi

  2. Mantan Sesmenpora Bakal Beberkan Cara Imam Nahrawi Memperkaya Diri Sendiri

  3. Moeldoko Sebut KPK Hambat Investasi, Said Didu: Izinkan Saya Tertawa

  4. Jokowi Kumpulkan Para Menteri, Jansen: Inilah Akibat Semua Masalah Tumpuk Jadi Satu

  5. Tiga Mahasiswa yang Meninggal Saat Demo di Uncen Diduga Akibat Peluru Karet

  6. Pengakuan Tjahjo Kumolo, Satu-satunya Menteri Jokowi yang Tidak Pernah ke Luar Negeri

  7. Gibran: Saya Juga Baru Pulang dari Jakarta dan Dapat Laporan Soal Spanduk-spanduk Itu

  8. Gibran Ingin Daftar Calon Wali Kota Solo Lewat PDIP, Rudy: Woo, Sudah Tutup

  9. Budiman Sudjatmiko Pastikan Besok Tidak Ada Pengesahan RUU KUHP di DPR

  10. ESA Tangkap Gambar Tak Biasa dari Planet Mars, Ada Apa?

fokus

Bencana Lingkungan
Abortus
BJ Habibie Tutup Usia

kolom

Image
Abdul Aziz SR

DPR dan Parlemen Modern

Image
Alfarisi Thalib

Era Airlangga, Golkar Cenderung Feodal dan Oligarkis

Image
Ujang Komarudin

Gigitan Terakhir KPK

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

Dikabarkan Hengkang dari PAN, 7 Fakta Menarik Faldo Maldini

Image
News

8 Potret Hangat Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri bersama Keluarga, Ayah Idaman!

Image
News

Jadi Plt Menpora Gantikan Imam Nahrawi, Ini 5 Fakta Sepak Terjang Karier Hanif Dhakiri