Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

Tak Rela Dimadu: Banyak Perempuan Terpaksa Mau Dipoligami, Tapi Kemudian Minta Cerai

Maidian Reviani

Pro Kontra

Tak Rela Dimadu: Banyak Perempuan Terpaksa Mau Dipoligami, Tapi Kemudian Minta Cerai

Ilustrasi - Hubungan Seksual | AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO * Mereka tak punya banyak pilihan, meski cemburu dan terabaikan, karena tidak cukup kuat mandiri dalam memenuhi kebutuhan finansial keluarga.
* Kebanyakan kasus perceraian terjadi karena suami tidak memberikan dukungan finansial lagi kepada istri yang pertama. Selain itu, suami mengabaikan kewajiban melindungi anak dari hasil perkawinan yang pertama.
* Sebagian lelaki beristri lebih dari satu tidak akan fokus lagi memberikan kasih sayang untuk anak-anaknya.

***

“Nggak pernah ada orang yang datang ke saya senang dipoligami. Kamu kalau punya pacar, terus pacar kamu mendua itu gimana? Sesederhana itu aja,” kata aktivis gender dan pegiat isu perempuan Tunggal Pawestri di Jakarta.

baca juga:

Apa yang disampaikan oleh Tunggal Pawestri menggambarkan bagaimana perasaan perempuan ketika suaminya melakukan poligami.

Tunggal Pawestri sering mendapatkan keluhan dari perempuan yang begitu menderita lantaran harus berbagi suami dengan perempuan yang lain.

Mereka umumnya tetap menerima konsekuensi dengan menelan kepahitan hidup dimadu. Mereka tak punya banyak pilihan, meski cemburu dan terabaikan, karena tidak cukup kuat mandiri dalam memenuhi kebutuhan finansial keluarga.

“Lagi-lagi di Indonesia kan juga ada stigma soal janda, jadi kalau kamu menikah terus jadi janda akhirnya malu dan membuat malu orang tua, keluarga, belum lagi pandangan negatif dari masyarakat, akhirnya dia bertahan dengan pernikahan yang sulit itu,” kata Tunggal Pawestri.

Aktivis Perempuan, Tunggal Pawestri. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Tetapi tak sedikit pula pasangan yang melakukan poligami berujung perceraian. Mengutip informasi dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Tunggal Pawestri mengatakan kasus perceraian akibat poligami menempati urutan kedua setelah kasus pernikahan usia dini.

“Soal angka saya harus baca lagi karena saya baru melihat sekilas saja. Kalau angkanya turun berarti poligami yang tercatat yang terlihat, jangan-jangan yang tidak tercatat banyak,” kata dia.

Kebanyakan kasus perceraian terjadi karena suami tidak memberikan dukungan finansial lagi kepada istri yang pertama.

Selain itu, suami mengabaikan kewajiban melindungi anak dari hasil perkawinan yang pertama. Faktor lain yang memicu perceraian, ketika menikah lagi, dia tidak minta izin terlebih dahulu kepada istri pertama.

“Kalau di Indonesia mereka bercerai, suaminya bisa lepas dari tanggungjawab untuk kasih nafkah ke anaknya, walaupun udah disuruh (oleh) pengadilan, diabaikan, nggak ada sanksi terhadap laki-laki yang tidak memberikan nafkah kepada pasangannya yang sudah berpisah. Ketika poligami tentu suami bawa-bawa ayat agama, katanya sebagai istri harus setuju.”

Studi tentang poligami di Inggris yang dilakukan antropolog Joseph Henry menemukan kencenderungan suami yang memiliki istri lebih dari satu akan menginvestasikan lebih banyak waktunya untuk mencari istri yang ketiga atau keempat.

Joseph mengatakan komposisi perempuan dan lelaki di Inggris hanya beda satu persen. Artinya, kalau satu laki-laki memiliki empat pasangan, maka akan kesempatan bagi yang lain mendapatkan pasangan hidup menjadi berkurang.

“Akhirnya apa? Yang kecil-kecil udah mulai diincar. Akhirnya perkawinan anak makin tinggi. Terus ada banyak laki-laki yang nggak banyak dapat pasangan atau jodoh karena udah diambil sama yang suka poligami,” kata dia.

“Jomblonya makin panjang. Saya juga belum menelan dengan baik, tapi menarik padangan-pandangan seperti itu,” Tunggal Pawestri menambahkan.

Tunggal Pawestri menilai selama ini isu poligami selalu diglorifikasi, khususnya di media sosial. Salah satu contohnya ketika video (almarhum) Ustaz Arifin Ilham yang memperlihatkan keakraban dan kerukunan Arifin Ilham bersama istri-istrinya viral di media sosial.

Dari fenomena yang muncul di media sosial, Tunggal Pawestri menilai kesan yang timbul adalah poligami itu mudah dilakukan oleh siapa saja. Padahal faktanya, pernikahan tidak se-simple itu.

“Makanya itu menjadi tugas kami, kami harus menchallenge praktik-praktik poligami, kami harus menunjukkan dampak-dampak negatif dari poligami. Tapi selama ini yang diumbar yang kelihatannya hidup bahagia, hanya dengan empat atau tiga kesannya rukun semuanya. Terus, katanya adil kok.”

Tunggal Pawestri menggarisbawahi kasus kekerasan, termasuk seksual, terhadap perempuan terus mengalami peningkatan.

Sampai sekarang, kata dia, pemerintah Indonesia belum menaruh perhatian khusus kepada masalah itu. Buktinya, Rancangan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual belum juga disahkan.

“Dan untuk melawan masalah (kekerasan terhadap perempuan) memang perlu dukungan dari cowok-cowok, karena akan nunjukin kalau ini bukan cuma masalah nafsu aja, kawin tuh bukan soal sederhana, bagaimana merawat anak, ini soal spiritual, bukan perkara matching sebanyak-banyaknya. Ya gitulah,” tutur Tunggal Pawestri.

Dia pesimistis praktik poligami akan berakhir. “Nggak akan ada habisnya.”

Apalagi, sebagian lelaki membenarkan dirinya melakukan poligami dengan berbagai dalih dan membawa-bawa agama. Tetapi Tunggal Pawestri tidak masuk dalam perdebatan agama, melainkan dampak sosial terhadap perempuan yang dipoligami.

“Kita juga tidak terlalu serius ketika kita bicara soal data. Karena setajam apapun data kalau udah bawa-bawa agama, misal Nabi Muhammad aja bisa. Itu yang susah, dipelintir-pelintir,” kata Tunggal Pawestri.

***

Walau mengatur poligami, pada dasarnya UU tentang Perkawinan dibuat dengan menganut asas monogami.

Penegasannya tercantum dalam Pasal 3 Ayat 1. Disebutkan, pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang lelaki hanya boleh mempunyai seorang istri dan seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

Tetapi ada pengecualian, pernikahan poligami diizinkan pengadilan dengan sejumlah syarat.

Pertama, apabila perkawinan itu dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan (Pasal 3 Ayat 2).

Kedua, suami wajib mengajukan permohonan kepada pengadilan di daerah tempat tinggalnya (Pasal 4 Ayat 1).

Ketiga, apabila istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri, menderita catat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dan istri tidak dapat melahirkan keturunan (Pasal 4 Ayat 2).

Keempat, apabila seorang laki-laki mengajukan permohonan ke pengadilan harus melengkapi beberapa persyaratan, seperti persetujuan dari istri-istri, adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri atau istri-istri dan anak-anak mereka, adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka (Pasal 5 Ayat 1).

Pasal 5 Ayat 2 menyebutkan persyaratan tersebut tadi tidak diperlukan atau tidak wajib dilakukan bagi laki-laki apabila istri atau istri-istrinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari istrinya selama sekurang-kurangnya dua tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari hakim pengadilan.

Jadi, walaupun UU Perkawinan mengatur poligami, persyaratannya sungguh tidak gampang dipenuhi lelaki. Itu sebabnya, tak sedikit lelaki yang mengakal-akali dengan menikah secara diam-diam.

"Persyaratan untuk melakukan poligami itu berat. Jadi ada beberapa syarat yang tidak bisa dipenuhi karena sulitnya untuk mendapatkan pengesahan dari pengadilan sehingga banyak laki-laki yang memilih untuk melakukannya (poligami) diam-diam yang disebut dengan nikah siri," kata Tunggal.

Tunggal Prawestri kembali menegaskan poligami memicu banyak hal yang bersifat negatif. Di antaranya, menjadikan keluarga rentan cerai.

"Salah satu penyumbang angka perceraian terbesar itu masuk dalam kategori kekerasan dalam perempuan adalah poligami. Itu satu nafas dengan perkawinan tidak dicatatkan. Jadi banyak perempuan yang akhirnya bersedia dipoligami, tapi kemudian meminta cerai karena ada ketidakadilan di dalamnya," kata Tunggal Prawestri.

Poligami juga dapat memicu kekerasan terhadap perempuan dan penelantaran terhadap anak.

Hasil riset seorang antropolog yang diungkapkan Tunggal Prawestri membuktikan hal itu. Sebagian lelaki beristri lebih dari satu tidak akan fokus lagi memberikan kasih sayang untuk anak-anaknya.

Poligami juga membuat suami tidak dapat bekerjasama untuk membesarkan anak dan menjaga pernikahan.

"Seorang antropolog melihat bahwa ketika laki-laki punya anak banyak maka akhirnya nggak maksimal pemberian perhatiannya. Ini sudah merupakan tanda-tanda yang sebenarnya bersifat negatif terhadap kesejahteraan unit terkecil atau keluarga, dalam hal ini perempuan dan anak," kata Tunggal Prawestri.

Mengapa sebagian perempuan di Indonesia tidak mampu menolak ketika suaminya ingin punya istri lagi? Antara lain, karena mereka tidak cukup memiliki kemandirian dalam ekonomi sehingga daya tawarnya rendah di hadapan suami.

Ilustrasi - Hubungan. AKURAT.CO/Ryan

"Perempuan di Indonesia kalau bicara poligami, harus kita akui bahwa banyak sekali perempuan yang masih belum independen secara ekonomi, pembagian kerja di dalam rumah tangga itu juga masih pembagian kerja yang sifatnya domestikasi," kata dia.

"Jadi perempuan yang menikah akan di rumah sementara laki-laki yang mencari penghasilan. Akibatnya ketika laki-laki datang bawa kabar dia akan menikah bagi perempuan tidak punya daya tawar yang cukup untuk mencari atau menolak kehendak suami karena ada ketergantungan ekonomi."

Padahal, syarat mutlak seorang lelaki yang ingin memiliki lebih dari satu istri adalah harus bisa berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya. Tanpa landasan keadilan, perkawinan itu akan penuh dengan kesengsaraan.

Menurut Tunggal Prawestri hal itu akan bisa dicapai kalau ada kemampuan negosiasi yang setara antara laki-laki dan perempuan. “Dan itu tidak terjadi," kata Tunggal Prawestri.

Poligami tak hanya dipraktikkan oleh sebagian pemeluk Islam. Poligami yang sudah terjadi selama berabad-abad lalu dipraktikkan oleh berbagai agama dan kepercayaan di muka bumi.

Sekte Mormon yang memiliki afiliasi dengan Gereja The Church of Jesus Christ of Latter Day Saint juga mempraktikkannya. Sekte Mormon didirikan di Amerika Serikat oleh Joseph Smith pada 1830.

Poligami tak hanya melulu konteks agama, tapi juga ekonomi dan sosial. Persoalannya, kata Tunggal Prawestri, ketika bicara dari konteks ekonomi dan sosial, akan selalu dilarikan ke agama.

“Jadi nanti kita dianggap menistakan atau tidak taat terhadap perintah agama kalau tidak berpoligami. Narasi-narasi ini yang terus berkembang, seiring dengan menguatnya nilai-nilai konservatisme yang semakin mengeras belakangan ini," kata Tunggal Prawestri.

***

Dalam sebuah diskusi, managing editor dan co-founder Magdalene.co Hera Diani kembali menekankan poligami tak hanya berdampak negatif terhadap perempuan, namun juga anak-anak mereka.

Anak hingga cucu dari orangtua berpoligami bakal merasakan masalah yang seharusnya tidak mereka rasakan. Hera dapat merasakan pengalaman itu karena dia berasal dari keluarga yang melakukan praktik poligami.

"Kita melihat kok jarang sekali unsur anak ini diangkat gitu. Ini juga pengalaman pribadi, kakek saya poligami terus saya mengalami sendirilah bagaimana dampaknya, walaupun sudah sampai ke cucu. Efek dan dampaknya itu sangat kelihatan bagaimana tidak cuma soal ekonomi, tapi juga pengabaian," kata Hera.

Hera Diani. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

"Terus bagaimana anak-anak ini jadi kehilangan kasih sayang ayah, harus rebutan dan melakukan kompetisi-kompetisi. Ada kecemburuan-kecemburuan dan segala macam itu," Hera menambahkan.

Hera memiliki staf yang juga berasal dari keluarga poligami. Mael --bukan nama sebenarnya-- terlahir dari rahim ibu yang dijadikan istri ketiga. Lantaran keterbatasan ekonomi keluarga, ketika itu Mael diasuh oleh orang tua angkat.

"Satu lagi ada staf kami yang dia baru tahu sudah besar bahwa ternyata dia anak adopsi. Lalu ayah dan ibu kandung itu adalah poligamis. Ayahnya walaupun tidak berkecukupan, tapi nikah tiga kali, punya tiga istri," ujar Hera.

Mael merasa beruntung karena mendapat dukungan dari orang tua angkat untuk terus menerus belajar hingga perguruan tinggi.

"Kakak-kakaknya cuma lulus SMP. Tapi saya lihat dari teman saya juga yang orang tua atau kakeknya yang poligamis walaupun mereka sangat kaya, tapi tetap saja unsur-unsur kesejahteraan mereka itu nggak tercukupi, kasih sayang juga ya. Itu sih yang suka sering diabaikan atau dilupakan," kata Hera. [Herry Supriyatna]

Baca juga:

Tulisan 1: Sejarah Gerakan Anti Poligami di Indonesia

Tulisan 3: Suami Ingin Tambah Istri Biasanya Punya Sejuta Alasan untuk Disampaikan: Temuan-temuan Riset

Tulisan 4: Sudahlah Kampanye Poligaminya, Apanya Sih yang Dicari?

Tulisan 5: Saya Ada Kawan Istrinya 4, Anaknya 32, Diurusin Semua: Dengar Pendapat Habib Novel dan Ustaz Tengku soal Poligami

Tulisan 6: Mengapa Harus Qanun Poligami, Padahal Sudah Ada UU: Pro Kontra dari Aceh

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

Ekonomi

Tok! DPR Sahkan RUU Minerba Jadi Undang-Undang di Tengah Pro Kontra

Image

News

Pro Kontra

Mengapa Harus Qanun Poligami, Padahal Sudah Ada UU: Pro Kontra dari Aceh

Image

News

Pro Kontra

Saya Ada Kawan Istrinya 4, Anaknya 32, Diurusin Semua: Dengar Pendapat Habib Novel dan Ustaz Tengku soal Poligami

Image

News

Pro Kontra

Sudahlah Kampanye Poligaminya, Apanya Sih yang Dicari?

Image

News

Pro Kontra

Suami Ingin Tambah Istri Biasanya Punya Sejuta Alasan untuk Disampaikan: Temuan-temuan Riset

Image

News

Pro Kontra

Sejarah Gerakan Anti Poligami di Indonesia

Image

News

INFOGRAFIS Pro Kontra Tabloid Indonesia Barokah

Image

Video

VIDEO Revitalisasi Rusun Klender yang Penuh Pro Kontra

Image

News

Pro Kontra TKA

Fraksi Golkar di DPR RI Tolak Pembentukan Pansus Angket TKA

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
MPR RI

Ketua MPR Apresiasi Langkah Pemerintah Cairkan Insentif Bagi Para Tenaga Medis

Mereka gigih menjaga keselamatan nyawa pasien, walaupun dengan resiko tinggi tertular Covid-19.

Image
News

Lima Lokasi Layanan SIM Keliling di Jakarta Hari Ini

Layanan SIM Keliling (Simling) hanya menyediakan perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku saja.

Image
News
MPR RI

Ada Potensi Tsunami Hingga 20 meter, MPR Desak Pemda di Selatan Jawa Giatkan Mitigasi

Walaupun dari aspek waktu peristiwa tsunami itu belum bisa diketahui, Pemda dan masyarakat setempat harus terus meningkatkan kewaspadaan.

Image
News

Prakiraan Cuaca Senin dan Selasa, Wilayah Jateng Diguyur Hujan Sedang hingga Lebat

Sejumlah aktivitas atmosfer Rossby Ekuatoria dan Madden Jullian Oscillation terjadi di wilayah Indonesia.

Image
News
DPR RI

Putusan Soal Premi JKP di RUU Cipta Kerja Tak Akan Memberatkan Pekerja

JKP adalah kebijakan pemberian jaminan tambahan berupa asuransi yang akan memberikan tiga fasilitas kepada pekerja yang terdampak PHK.

Image
News

Terpental Beberapa Meter, Sandra Tewas setelah Motornya Dihantam dari Belakang

Pengendara sepeda motor tiba-tiba berbelok langsung tanpa memberikan tanda atau menyalakan lampu sen.

Image
News

Pelaku Sindikat Pengiriman Pekerja Migran ke Malaysia Ditangkap

Satgas Pamtas juga menggagalkan pengiriman empat orag PMI secara ilegal.

Image
News

Jangan Mau Menang Saja, Parpol Harus Bertanggung Jawab Kepatuhan Prokes

Jangan hanya menyerahkan kepada aparat penegak hukum atau lembaga penyelenggara pilkada di tingkat daerah.

Image
News

Bawaslu: Potensi Keterlibatan ASN di Pilkada 2020 Tinggi

Bawaslu sudah bergerak melakukan pengawasan terkait dengan netralitas aparatur sipil negara.

Image
News

Penyelewengan Tabung Gas Elpiji Bersubsidi, Oknum Pertamina Diduga Terlibat

Penyidik sudah menetapkan pengangkut dan pengelola pangakalan gas elpiji sebagai tersangka.

terpopuler

  1. Sri Mulyani Bebaskan Pajak Mobil Baru, Ferdinand Hutahaean: Jangan Begitu Bu!

  2. Klasemen Sementara Liga Inggris: Everton Duduk Nyaman di Puncak

  3. Meski Pandemi, 5 Zodiak Ini Justru Jadi Magnet Uang Lho!

  4. Kisah Eks Pasien Covid-19: Teman Paling Setia di Wisma Atlet adalah Kesepian

  5. Sindir Tito Karnavian Soal Pilkada, Sudjiwo Tedjo Ujung-ujungnya Malah Begini!

  6. Pengkhianatan G30S/PKI, Adi Prayitno: Saya Tidak Melihat Ada Propaganda

  7. Anies Pamer Hasil Naturalisasi Sungai Kanal Banjir Barat

  8. Pemprov DKI Kremasi Ratusan Jenazah yang Diduga Terpapar Corona 

  9. Protokol Kesehatan Covid-19 Anies Baswedan Dicuekin Pedagang Binaan

  10. Reza Artamevia Terlibat Narkoba Lagi, Aaliyah Massaid: Ibu yang Pertama Kali Minta Maaf

tokopedia

fokus

Webinar Akurat: Peran Strategis IJK
Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi

kolom

Image
Dr. Abd. Muid N., MA.

Pandemi dan Pohon Khuldi

Image
UJANG KOMARUDIN

Pilkada yang Tak Ditunda

Image
Arif Hidayat

3 Cara untuk Anda Bisa Menjadi Karyawan Terbaik

Image
Muhtar S. Syihabuddin

Jalan Berliku Politik Gus Ami

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Potret Shanaya Arsyila Pramana, Cucu Pramono Anung yang Menggemaskan

Image
News

5 Gaya Istri Bupati Trenggalek Novita Hardini Pakai Kebaya, Memesona!

Image
News

Ulang Tahun Pernikahan ke-35, KSP Moeldoko Beri Kejutan Manis Kepada Istri