image
Login / Sign Up

Kemarau 2019 Lebih Dahsyat Ketimbang 2018: Ada yang Untung, Ada yang Buntung

Herry Supriyatna

Kemarau Dahsyat

Image

Foto udara areal persawahan mengalami kekeringan di Desa Banjar Anyar, Brebes, Jawa Tengah, Senin (17/6/2019). Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rita Rosita mengatakan Beberapa wilayah di tiga provinsi, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai mengalami kekeringan. Hal itu mengakibatkan 100.230 warga terpapar dampak kekeringan, dengan rincian di DIY berjumlah 85.000 jiwa (24.166 KK), Jawa Tengah 14.253 jiwa (3.984 KK), dan Jawa Timur 977 jiwa (287 KK). | ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

AKURAT.CO,  * Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bulan Agustus ini diprediksi menjadi puncak elnino. Kemarau tahun ini lebih kering ketimbang 2018. Tetapi, tingkat kekeringannya diprediksi tidak akan melebihi yang terjadi 2015.
* Kekeringan sekarang ini sudah melanda 28 provinsi dengan cakupan luas lahan mencapai 11.774.437 hektar. Intensitas kekeringan bervariasi, dari sedang hingga tinggi.
* Hotspot di wilayah Nusa Tenggara Timur tercatat paling banyak yaitu 274 titik, urutan berikutnya Kalimantan Tengah 265 titik, dan Riau 157 titik.

***

Pekerja sektor media di Jakarta, Galuh Prasamuarsi Parantri belakangan ini sering mengeluhkan cuaca yang lebih panas dari biasanya.

baca juga:

Akibatnya, dia sering pusing kepala ketika baru selesai melakukan perjalanan ke luar kantor.

Apa yang dirasakan Galuh juga dialami sejumlah pekerja media yang saya temui. Tas punggung mereka, sekarang selalu tersedia botol air minum yang ukurannya lebih besar.

Ibu Kota Jakarta. Antara Foto

Tetapi penderitaan lebih berat dirasakan petani di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa. Kemarau membuat sumber mata air bersih berkurang drastis, sungai mengering, sawah-sawah kering kerontang.

Misalnya di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, warga setempat sampai berburu sumber air berkilo-kilometer jauhnya dari rumah. Setiap menemukan sawah yang masih menyimpan air, mereka segera membangun sumur-sumur darurat di sana untuk mendapatkan air minum, maupun untuk kegiatan mandi, cuci, dan kakus.

Dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta, baru-baru ini, terungkap penyebab keadaan udara bulan Agustus jauh lebih panas dan kering dari biasanya.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bulan Agustus ini diprediksi menjadi puncak elnino.

Kemarau tahun ini lebih kering ketimbang 2018. Tetapi, tingkat kekeringannya diprediksi tidak akan melebihi yang pernah terjadi pada 2015.

Ancaman kebakaran hutan dan lahan juga diprediksi meningkat.

Kekeringan sekarang ini sudah melanda 28 provinsi dengan cakupan luas lahan mencapai 11.774.437 hektar. Intensitas kekeringan bervariasi, dari sedang hingga tinggi.

"Kita memang sudah mengalami kekeringan dan sudah memasuki musim kemarau sejak bulan Juni lalu. Nanti seluruh daerah kita ini kebagian kemarau pada bulan Agustus. Itu puncaknya," kata Kepala Pusat Informasi dan Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan.

Hasil monitoring hari tanpa hujan selama Juli 2019 di 28 provinsi menunjukkan kondisi dengan kriteria ekstrim dan terpanjang.

Daerah yang masuk kriteria ekstrim atau berarti telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari, meliputi Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Bahkan di wilayah Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur mengalami hari tanpa hujan selama 90 hari sampai 120 hari.

Monitoring hari tanpa hujan per Juli 2019. Foto: Dok BMKG

Hari tanpa hujan terpanjang terjadi di Desa Rambarangu, Nusa Tenggara Timur. Di daerah ini, mengalami hari tanpa hujan selama 126 hari.

Dodo Gunawan menjelaskan yang mengalami hari tanpa hujan kategori ekstrim bukan hanya wilayah pemukiman, melainkan pertanian.

Itu sebabnya, kekeringan berpotensi menurunkan produksi tanaman pangan secara nasional karena pasokan air sangat terbatas, sementara kebutuhan pengairan semakin meningkat.

Menurut pantauan BMKG kekeringan melanda wilayah-wilayah yang merupakan sentra produksi padi seperti Sumatera dan Jawa.

"Jadi meliputi daerah-daerah baik itu dari pertanian ataupun juga wilayah-wilayah berpenduduk yang kerawanannya tingkat air bersihnya. Dan kebanyakan daerah ini adalah sentra produksi padi. Mulai dari Sumatera Selatan, Jawa, Pantura itu kan daerah pertanian. Kita lebih perhatikan lagi karena sudah sangat panjang kekeringannya," kata Dodo Gunawan.

Dodo Gunawan mengatakan untuk mengurangi potensi penurunan produksi tanaman pangan perlu dilakukan antisipasi.

"Saat ini yang perlu diantisipasi dengan upaya-upaya termasuk penyediaan air atau penghematan air. Ini yang terkait untuk kebutuhan di pertanian tanaman. Jadi saya kira memang saat ini gerakan hemat air itu yang harus dilakukan, pemanfaatan air yang maksimal," kata Dodo Gunawan.

Antisipasi lain dengan membuat gerakan membangun tempat-tempat penampungan air (embung) pada waktu musim hujan. Embung telah terukti memiliki banyak manfaat kalau datang musim kemarau seperti sekarang. Petani dapat menggunakan air yang ditampung embung untuk kebutuhan pengairan.

Prakiraan musim kemarau 2019. Foto: Dok Kemenko PMK

“Nantinya bisa jadi irigasi yang ditampung di danau kecil, jadi mengurangi kekeringan,” kata Dodo Gunawan.

Litbang.pertanian.go.id menjelaskan embung atau tandon air merupakan salah satu teknologi adaptasi ketidakpastian iklim, khususnya untuk lahan tadah hujan. Embung berfungsi menampung air saat musim hujan. Limpasan air saat musim hujan ditampung ke dalam embung melalui saluran-saluran air untuk persediaan air di musim kemarau.

Embung sebenarnya sudah lama dikembangkan di daerah lahan kering beriklim kering. Melalui pasokan air dari embung maka tanaman padi terhindar dari kekeringan dan puso.

Dalam sebuah diskusi, Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Dody Usodo Hargo Suseno menyontohkan Nusa Tenggara Timur yang sudah memiliki banyak embung. Sebagian petani di provinsi ini sekarang tidak terlalu khawatir menghadapi musim kemarau berkepanjangan.

"Embung di NTT banyak sekali. Embung itu dia menampung air pada saat hujan kemudian akan dialirkan atau dimanfaatkan petani itu pada saat musim kemarau. Sehingga NTT itu tidak pernah yang namanya kekurangan produksi jagung,” kata Dody Usodo.

Dengan begitu banyak manfaat embung, Dody Usodo mengatakan teknologi sederhana ini bisa dikembangkan di berbagai daerah, terus lahan pertanian yang mengandalkan hujan.

“Semisal NTT, wilayah tersebut saat memasuki musim kemarau masyarakat dan petaninya tak khawatir akan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari ataupun kebutuhan pertanian,” kata Dody Usodo.

Dody Usodo berharap antisipasi dilakukan dengan baik oleh kementerian maupun lembaga terkait agar dampak elnino terhadap ekonomi dapat ditekan.

***

Suparyono bisa tersenyum di bulan Juli tahun ini. Elnino yang memuncak bulan Agustus justru menguntungkan petani garam, seperti di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Peningkatan produksi garam yang dirasakan petani sampai dua kali lipat jika dibandingkan periode yang sama tahun 2018.

Ketua Kelompok Garam Kalibuntu Sejahtera 1 itu sebagaimana dilaporkan Antara pada Minggu 14 Juli, para petambak garam telah memanen garam sebanyak 15 kali sejak Februari hingga Juni karena cuaca kemarau yang cukup bagus.

"Panen garam tersebut naik dua kali lipat dibandingkan periode Februari hingga Juni 2018 yang tercatat hanya mampu panen sebanyak tujuh kali," tuturnya.

Dari lahan tambak seluas sekitar 12 x 50 meter persegi, petani di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, mampu panen garam sebanyak 6-7 ton, dengan kualitas garam lebih baik dari hasil panen tahun lalu.

Petani Garam. ANTARA FOTO

"Sekarang kualitas air garam cepat tua, makanya panen bisa berkali-kali dan cuaca panas terik juga mendukung, serta belum pernah hujan dan hembusan angin normal," katanya.

Kendati demikian, harga garam krosok di tingkat petambak masih belum naik di kisaran Rp650 per kilogram dan berharap harga garam bisa naik lebih dari Rp1.000 per kilogram.

"Kami bersyukur panen garam saat ini hasilnya cukup melimpah, sehingga kami berharap bisa disediakan unit pengolahan garam, sehingga hasil garam krosok bisa langsung diolah jadi garam halus," ujarnya.

Cerita Suparyono menunjukkan kemarau yang diprediksi lebih lama dari biasanya menjadi masalah serius bagi petani padi, tetapi menguntungkan bagi petani garam maupun nelayan.

“Ada yang senang dan ada yang tidak senang dengan kekeringan. Kalau petani garam senang. Untuk daerah petani garam dikasih aja kering, terus untuk pertanian dikasih aja hujan terus," kata Dodo Gunawan ketika saya temui di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Klop dengan cerita Suparyono, Dodo Gunawan mengatakan kualitas garam yang dihasilkan pada musim kemarau lebih bagus, selain produksinya meningkat.

"Jadi kalau petani garam disebutkan ini kesempatan. Musim kemarau panjang ini dia kan lebih bagus garamnya, produksinya akan meningkat karena memang ibaratnya petani garam mengharapkan kondisi kering seperti ini (kemarau panjang) kan bagus. Selain tentu di komoditas lain, apalagi usaha tanaman pangan," kata Dodo Gunawan.

***

Kamis 8 Agustus 2019, si jago merah mengamuk di hutan Gunung Ciremai di Kuningan, Jawa Barat.

Pada jam 14.38 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kuningan mengabarkan belum semua pendaki turun ke wilayah aman.

Pendakian Gunung Ciremai memiliki beberapa jalur, di antaranya Apuy, Palutungan, Linggajati, dan Lingga.

Tetapi tak lama kemudian BPBD mengonfirmasi tidak ada lagi pendaki yang berada tiga jalur lain tadi. Total pendaki yang berhasil dievakuasi ketika itu 69 orang. Otoritas taman nasional lalu mengeluarkan pengumuman tentang penutupan jalur pendakian.

Hari itu, operasi pemadaman dan evakuasi melibatkan tim gabungan dengan total 219 petugas dari BPBD Kabupaten Majalengka, BPBD Kabupaten Kuningan, TNI, Polri, personil Taman Nasional Gunung Ciremai, MPGC Apuy, MPGC Sangiang, sukarelawan, dan warga.

ILustrasi kebakaran lahan. ANTARA FOTO/Ahmad Rizki Prabu

Keesokan harinya, ternyata api masih menyala, bahkan menyebar ke arah utara. Tim gabungan mendaki untuk segera melakukan pemadaman.

Jalur pemadaman dilakukan di empat titik yaitu alur Apuy (pos utama), Jalur Sadarehe, Jalur Cikaracak dan Jalur Bantaragung.

BPBD setempat melaporkan pendaki jalur Apuy sebanyak 33 orang telah dievakuasi pada pukul 01.25 WIB, demikian juga 31 pendaki di jalur Palutungan.
Peristiwa yang terjadi di hutan Gunung Ciremai merupakan satu dari sekian kasus bencana yang lain selama musim kemarau.

Hotspot pada monitoring 28 Juli 2019 menurut data yang saya dapatkan dari BMKG terdeteksi di Aceh, Jambi, Bangka Belitung, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Pulau Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Hotspot di wilayah Nusa Tenggara Timur tercatat paling banyak yaitu 274 titik, urutan berikutnya Kalimantan Tengah 265 titik, dan Riau 157 titik.

Tetapi banyaknya hotspot di suatu daerah tidak berarti paling beresiko terjadi kebakaran hutan dan lahan. NTT dibandingkan Riau misalnya. Resiko di NTT lebih kecil karena daerah ini lebih banyak lahan mineral, bukan gambut yang gampang terbakar.

“Lahannya (NTT) mineral, bukan gambut. Jadi fine-fine saja. Jadi memang secara satelit itu tetap ada di bawah hotspot. Tapi yang biasa kita temui itu di Riau, di Kalteng. Yang lima provinsi itu, nah dua provinsi ini juga yang rawan terjadi karhutla," kata Dodo Gunawan.

Grafik titik panas dari 2015-2019. Foto: Dok BMKG

Dody Usodo menekankan hotspot yang terpantau lewat satelit itu bukan merupakan jumlah peristiwa kebakaran.

Secara kuantitas, Nusa Tenggara Timur memang tercatat paling banyak hotspotnya, tetapi belum tentu tertinggi secara kualitas.

“Khusus daerah-daerah yang bergambut, walaupun dia kecil intensitasnya atau kualitasnya rendah, tapi secara kualitas bisa lebih tinggi. Saya kebetulan pernah bertugas di NTT selama satu tahun lebih, memang di sana kan lahan-lahan itu rata-rata lahan kering," kata Dody Usodo.

Berbeda halnya dengan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kelimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan yang memiliki lahan gambut yang luas. Lima provinsi ini masuk kategori status siaga.

“Lahan gambut kita ini kedalamannya sampai 36 meter. Jika terjadi kebakaran, di permukaan padam, sedangkan di kedalaman 30 meter masih ada sumber apinya. Itu bisa muncul lagi (kebakaran). Satu-satunya untuk memadamkan itu adalah curah hujan yang tinggi," kata Dody Usodo.

Menurut Dody Usodo lima provinsi tersebut sekarang menjadi prioritas perhatian.

***

Berdasarkan hasil pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagaimana yang disampaikan Dody Usodo terjadi peningkatan hotspot sampai dengan akhir bulan Juli.

“Titik panas sudah ditemukan sampai 70 persen lebih dibandingkan tahun 2018. Memang kemarau sekarang ini akan lebih panjang dibanding kemarau tahun yang lalu," kata Dody Usodo.

Tetapi Dodo Gunawan mengimbau masyarakat tak perlu panik dengan dampak kemarau tahun ini, walaupun belum sampai puncaknya bulan Agustus.
Dodo Gunawan meyakini peristiwa tahun 2015 tak akan terulang pada tahun ini.

Jumlah hotspot per provinsi Juli 2019. Foto: Dok BMKG

Jumlah titik api pada 2015 sebanyak 84.724 yang tersebar di Provinsi Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Jumlah titik hotspot turun tajam ke angka 11.045 pada 2016 dan 6.540 hotspot pada 2017.

Tetapi jumlah hotspot kembali naik pada 2018 menjadi sebanyak 26.798 titik. Sementara untuk tahun 2019 hingga Juli, baru tercatat 4.292 hotspot.

Pengalaman kebakaran hutan dan lahan pada 2015 menjadi pelajaran penting bagi BMKG.

"Jadi 2015 itu mimpi buruk kita. Dari situ justru sebenarnya kita belajar, 2015 itu terburuk. Ya jadi memang itu kondisinya sekarang sedikit bahaya dibandingkan dengan 2018, tapi tidak seburuk 2015,” kata Dodo Gunawan.

Antisipasi dan penanganan kebakaran tahun ini menjadi lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Bahkan sekarang ini lebih baik koordinasinya. Jadi dulu ibarat BMKG dari Maret sudah teriak-teriak, adem-adem aja, sekarang semuanya sudah siap, semuanya sudah mengantisipasi. Makanya sejak itu jumlah kebakaran hutan makin menurun," kata Dodo Gunawan.

Kebakaran Lahan di Sumsel. ANTARA FOTO/Mushaful Imam

Dody Usodo menambahkan kementeriannya telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memantau, terutama lima daerah yang masuk kategori rawan kebakaran hutan dan lahan.

"Rekan kita dari BNPB bahkan sudah menurunkan satuan petugas karhutla sebanyak 1.500 personil di lima provinsi rawan karhutla,” kata Dody Usodo.

Tugasnya selain ikut mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, juga memberikan edukasi kepada masyarakat yang kemungkinan besar terdampak kebakaran.

Upaya lainnya selain sosialisasi dan kampanye pencegahan kebakaran, juga penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, melakukan patroli rutin maupun patroli pengendalian, pembentukan dan pembinaan masyarakat peduli api, pemadaman darat dan udara, penguatan sarana dan prasarana pengendalian kebakaran serta penyampaian informasi peringatan dini dan deteksi dini titik api melalui website.

Dody Usodo mengungkapkan hasil penelitian primer maupun sekunder yang dilakukan BNPB. Sebanyak 99 persen kebakaran hutan dan lahan akibat ulah tangan manusia, baik disengaja maupun tidak disengaja.

Faktor kesengajaan, misalnya untuk mencari jalan pintas membersihkan lahan, tetapi yang bersangkutan tidak mengetahui dampak yang akan terjadi.

"Kemudian masalah klasik yang sering kita dengar itu selalu ada alasan karena puntung rokok," kata Dody Usodo.

Sedangkan faktor tidak disengaja hanya satu persen yaitu disebabkan cuaca panas.

Kebakaran hutan di Jawa Timur. Dokumentasi BNPB

Itu sebabnya, untuk menangani masalah itu dibutuhkan juga peran masyarakat sekitar hutan dan lahan.

"Waktunya selama tiga bulan satgas ini akan bekerja. Bahkan personil satgas tidur dengan masyarakat sekitar. Kalau tiga bulan paslah dengan perkiraan BMKG yang memprediksi kekeringan sampai dengan bulan Oktober," kata Dody Usodo.

Sampai saat ini, kata Dody Usodo, belum ada bukti hotspot di lahan konsesi milik swasta. Kalau hal itu sampai terjadi, kementerian akan mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2015 tentang pencegahan kebakaran hutan dalam menghadapi pihak swasta yang membandel.

"Bahkan secara langsung dan tidak langsung presiden mengatakan kalau sampai kebakaran terjadi maka pangdam, kapolda yang bertanggungjawab langsung. Itu sudah disampaikan ke pihak swastanya. Bahkan mau tidak mau kalau pihak swasta yang masih membandel kita bawa ke ranah hukum," kata Dody Usodo.

Dody Usodo menekankan negara akan selalu hadir untuk menangani masalah yang dihadapi masyarakat. Semua kementerian dan lembaga terkait harus bekerja keras.

“Sehingga istilahnya ini tidak menjadi suatu rasa takut terus-menerus yang dihadapi rakyat kita setiap tahunnnya. Mudah-mudahan dalam mengantisipasi masalah tersebut, kita bisa melakukannya sampai titik nol," kata Dody Usodo. []

Baca juga:

Tulisan 1: Kisah Petani Jadi Kuli Bangunan hingga Salat Minta Hujan: Cobaan Apalagi yang Ingin Diuji kepada Kita

Tulisan 2: Kemarau 2019 Lebih Dahsyat Ketimbang 2018: Ada yang Untung, Ada yang Buntung

Tulisan 3: Rekayasa Cuaca Datangkan Air dari Langit: Kalau Musim Kemarau Kita Nggak Bisa Panen Hujan

Tulisan 4: Reaksi Jokowi Begitu Tahu Penderitaan Masyarakat Akibat Kemarau Panjang

Tulisan 5: Masukan Buat Pemerintah Agar Tak Asal-asalan Tangani Kekeringan

Tulisan 6: Peristiwa-peristiwa Besar yang Terjadi pada Kemarau Panjang Masa Lalu: Interview Periset Sejarah

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Kemarau Dahsyat

Peristiwa-peristiwa Besar yang Terjadi pada Kemarau Panjang Masa Lalu: Interview Periset Sejarah

Image

News

Kemarau Dahsyat

Masukan Buat Pemerintah Agar Tak Asal-asalan Tangani Kekeringan

Image

News

Kemarau Dahsyat

Reaksi Jokowi Begitu Tahu Penderitaan Masyarakat Akibat Kemarau Panjang

Image

News

Kemarau Dahsyat

Rekayasa Cuaca Datangkan Air dari Langit: Kalau Musim Kemarau Kita Nggak Bisa Panen Hujan

Image

News

Kemarau Dahsyat

Kisah Petani Jadi Kuli Bangunan hingga Salat Minta Hujan: Cobaan Apalagi yang Ingin Diuji kepada Kita

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Ditetapkan Tersangka, Imam Nahrawi: Saya akan Ikuti Semua Proses Hukum

Imam Nahrawi pernah membantah terima suap.

Image
News

Diancam Pakai Senjata AK 47, Seorang Warga di Bireuen Kerampokan Hingga Rp30 Juta

Bahkan para pelaku juga mengambil uang Rp 10 juta dari rekening bank milik korban melalui kartu ATM yang telah dimintai nomor PIN-nya.

Image
News

Imam Nahrawi Jadi Menteri Jokowi Kedua yang Berstatus Tersangka

Menteri lain adalah Idrus Marham.

Image
News

Kompolnas Akan Tindaklanjuti Laporan Dugaan Pelanggaran 2 Polda Ini

Kompolnas juga meminta kepada para pelapor untuk melaporkannya juga kepada Irwasum ataupun Propam Polri.

Image
News

Fakta-fakta Uang Haram Dana Hibah KONI Mengalir ke Imam Nahrawi

Jika tak merasa terima, buktikan di pengadilan.

Image
News

Ridwan Hisjam Siap Jadi Penantang Airlangga dan Bamsoet di Munas Golkar

"Kalau bicara sosok yang pas, ya saya."

Image
News

Sony Subrata Dukung Pemerintah Tegas ke Facebook, Instagram, YouTube dan Twitter

"Saya sangat mendukung Revisi PP No. 82 ini segera dirampungkan."

Image
News

Penyakit Mematikan Mirip Flu Ancam Dunia, Bisa Tewaskan 80 Juta Orang dalam Dua Hari

Laporan tersebut menyoroti bahayanya sebuah patogen pernapasan yang bisa menewaskan 50-80 juta orang

Image
News

Revisi UU Pemasyarakatan Disahkan, Menkum HAM Minta Masyarakat Tak Suuzan

"Inti RUU Pemasyarakatan mengakomodasi kemajuan zaman, dan ini tidak jauh beda dengan dunia luar"

Image
News

Tersangka di KPK, Imam Nahrawi Dicap Gerombolan Pemberontak di PKB

Nasib Imam berada di ujung tanduk.

Banner Mandiri

trending topics

terpopuler

  1. Parade Makanan Mengecewakan dari Ojek Online yang Cuma Bisa Disyukuri

  2. Lima Lolos, Indonesia Berpeluang Tambah Wakil di Hari Kedua

  3. Gagal, Pengamat Sarankan Jokowi Tak Pilih Wiranto pada Kabinet Kedua

  4. Satgas Karhutla Riau Tolak Bantuan Personil Kiriman Anies, Fahira: Sangat Disayangkan

  5. Selain A9 2020, Oppo Juga Rilis A5 2020

  6. Tak Mau Kehilangan Momen, Alasan Ayu Ting Ting Kerap Ajak Bilqis Bekerja

  7. Jika Tak Setuju Revisi UU KPK, Ajukan Judicial Review ke MK, Karena Menghujat Bukan Solusi

  8. Revisi RUU Dianggap Gagal, Efek Rumah Kaca Buat Video Pemakaman KPK

  9. 18 Tahun Menikah, 10 Potret Mesra Iis Dahlia dan Suami Bak Sepasang ABG