image
Login / Sign Up

Kisah Mahasiswa Unpas Ungkap Modus Jual Beli Data Kependudukan: Sudah Parah, Gila-gilaan

Herry Supriyatna

Darurat Perlindungan

Image

Ilustrasi - Peretas | AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO,  * "Ternyata ada ya yang memperjualbelikan data NIK + KK. Dan parahnya lagi ada yang punya sampai jutaan data. Gila, gila, gila," demikian salah satu tweet Hendra pada Jumat 26 Juli 2019 yang kemudian menjadi gempar.
* Hendra membeberkan rupa-rupa modus pencurian dan jual beli data pribadi pengguna media sosial. Dia mengidentifikasi lima jenis modus.
* Damar Juniarto juga mengapresiasi Hendra, anak muda yang berani mengungkap praktik jual beli data kependudukan.

***

Hendra Hendrawan atau Samuel Christian didampingi ibu dan adik pada Kamis 1 Agustus 2019 lalu bertemu pejabat Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Jakarta.

baca juga:

Nama mahasiswa Universitas Pasundan, Bandung, Jawa Barat, itu, dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan setelah melalui akun Twitter @hendralm mengungkap praktik jual beli data kependudukan lewat media sosial.

Kedatangannya ke Jakarta siang hari itu sekaligus ingin mencari kepastian mengenai isu yang beredar di media bahwa dia justru akan dilaporkan ke polisi atas penginformasian jual beli data pribadi.

Hendra bersyukur karena ternyata Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil memastikan tidak akan mempolisikannya. Sebaliknya, mereka mengapresiasi tindakan Hendra yang membuka tabir praktik jual beli data lewat media sosial.

Di gedung Pusat Pendidikan Pelatihan Kepemimpinan Lembaga Administrasi Negara, Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis itu, Hendra mengatakan praktik jual beli data kependudukan di media sosial Facebook dilakukan oleh pihak lain, bukan oknum seperti yang dikhawatirkan.

Hendra saat mengunjungi pihak Dukcapil Kemendagri. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

"Jadi kalau data-data NIK, KTP, sama KK yang di sana (Facebook) tuh sebenarnya bukan dari pemerintah, tapi mereka (pelaku) mencurinya sendiri," kata Hendra.

Ihwal Hendra mengungkap kasus jual beli data kependudukan setelah mengikuti grup Dream Market Official di Facebook.

"Dari grupnya langsung. Jadi kan pertamanya saya lihat dari temen FB saya. Temen FB itu dapatnya dari sama-sama suka cari give away di FB. Nah dia update status katanya ketipu mau beli tiket pesawat, pas saya lihat (bagian) komentarnya, dia ketipu dari salah satu anggota grup tersebut (Dream Market Official)," kata dia.

Sebelum temannya menjadi korban penipuan, sebenarnya Hendra tergolong jarang main Facebook. Tapi kasus temannya yang kemudian memicu dia untuk kepo.

"Ya sudah saya iseng aja masuk grup itu. Saya jarang buka FB juga sih, baru kemarin melihat pas ada yang update nyari NIK sama KK. Saya lihat komentarnya ada yang punya satu juta data, lima ribu data juga. Awalnya dari situ," Hendra menambahkan.

Setelah tahu informasi tersebut, Hendra kemudian ngetweet tentang temuannya yang dia anggap sudah gila-gilaan.

"Ternyata ada ya yang memperjualbelikan data NIK + KK. Dan parahnya lagi ada yang punya sampai jutaan data. Gila, gila, gila," demikian salah satu tweet Hendra pada Jumat 26 Juli 2019 yang kemudian menjadi gempar.

Setelah informasi tersebut menjadi perhatian Kementerian Dalam Negeri, grup tersebut masih ada, meskipun berganti nama dan menjadi tertutup untuk umum. Dream Market Official memiliki anggota 71 ribu akun.

"Grupnya aktif. Terus ada juga yang bilang selain grup itu ada juga grup-grup yang lainnya. Ada yang mention kayak gitu," kata dia.

***

Dalam pertemuan dengan Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Zudan Arif Fakhrullah siang itu, Hendra membeberkan rupa-rupa modus pencurian dan jual beli data pribadi pengguna media sosial. Dia mengidentifikasi lima jenis modus.

Pertama, penipu menawarkan pinjaman secara online melalui SMS kepada pemilik nomor telepon secara acak. Orang yang terpengaruh dengan tawaran tersebut diwajibkan menyerahkan data KTP dan Kartu Keluarga.

Kedua, penipu berpura-pura menjadi calon pembeli pada toko online. Seolah-olah pelaku tidak percaya dengan pedagang. Di situlah dia meminta data pribadi pedagang online shop dengan alasan untuk menciptakan kepercayaan.

"Dia (penipu) minta (pedagang) selfie dengan KTP, terus tukeran. Pelaku juga ngirim selfie KTP-nya, tapi KTP yang dipakai tuh data orang lain," kata Hendra.

e-KTP-el tercecer. Dok. Humas Kementerian Dalam Negeri

Ketiga, penipu seakan-akan membuka lowongan kerja di situs jual beli online. Calon pelamar kemudian dikirimi link formulir lewat Google Form yang harus diisi data secara lengkap.

Keempat, penipu membuat situs mirip aplikasi Cek KTP – yang dikelola pemerintah. Situs ini tentu saja bukan resmi milik pemerintah, melainkan situs abal-abal untuk memulung data orang.

“Nanti di sana kita (disuruh) foto KTP, selfie juga sama KTP,” kata Hendra.

Kelima, penipu mendatangi kampung-kampung dengan berpura-pura akan membagikan sembako kepada warga. Syaratnya, warga harus menyerahkan salinan KTP dan KK serta difoto.

Setelah mendengarkan penjelasan Hendra mengenai duduk persoalan kasus jual beli data lewat media sosial serta mengungkap modus menambang data warga, Zudan Arif Fakrulloh mengatakan pemuda itu telah berjasa.

“Mas Hendra sudah memastikan bahwa data itu bukan dari Dukcapil Kemendagri. Saya sebagai Dirjen Dukcapil mengucapkan terimakasih banyak kepada Mas Hendra yang sudah memberikan klarifikasi. Ini sekaligus membuka tabir bahwa data kita itu rentan disalahgunakan," kata Zudan.

Dari informasi Hendra, Zudan terbantu untuk mencari pelaku. Zudan juga memastikan Hendra yang sebelumnya sampai stress karena merasa akan dipolisikan, tidak akan dilaporkan ke pihak berwajib.

"Dialah (Hendra) yang berjasa membuka adanya masalah ini (praktik jual-beli data kependudukan)," kata Zudan.

"Saya sampaikan bahwa kami dari Direktorat Jenderal Dukcapil Kementerian Dalam Negeri tidak melaporkan Mas Hendra. Tidak melaporkan pihak lain," Zudan menambahkan.

Direktorat Jenderal Dukcapil Kementerian Dalam Negeri hanya melaporkan adanya peristiwa jual beli data kependudukan ke Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri pada Selasa 30 Juli 2019.

"Sehingga semua stakeholder di Indonesia memiliki kewajiban untuk bergerak bersama menjaga rahasia data, menjaga keutuhan data, dan menjaga kemanfaatan data. Mudah-mudahan kepolisian segera bisa bergerak menangkap orang yang menyalahgunakan data tersebut."

e-KTP tercecer. Dok. Humas Kementerian Dalam Negeri

Dalam kasus tersebut, Hendra rencananya dimintai keterangan oleh penyidik Bareskrim Polri sebagai saksi. Menurut Zudan kesaksian Hendra amat dibutuhkan untuk membantu mengungkap jaringan bisnis jual beli data pribadi.

"Yang ingin kita cari adalah pelaku jual beli data. Pelaku yang menyalahgunakan data kependudukan. Pelaku yang mengumpulkan data kependudukan, mengedarkan, dan memanfaatkan secara melawan hukum. Saya sudah dapat banyak informasi dari Mas Hendra, dia bisa menjelaskan bagaimana cara jual-beli data di dalam grup Facebook itu," katanya.

Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom Damar Juniarto juga mengapresiasi Hendra, anak muda yang berani mengungkap praktik jual beli data kependudukan.

"Kalau dari SafeNet, kami melihat apa yang disampaikan Hendra ini adalah wujud anak muda yang berani, bentuk dari partisipasi masyarakat peduli pada data pribadi. Banyak yang tidak peduli dengan data pribadi. Dengan begitu, ini momentum bagus untuk teman-teman semua," kata Damar.

Damar berharap setelah kasus ini, masyarakat Indonesia menjadi lebih peduli dengan perlindungan data pribadi.

"Masyarakat di luar sana tahu bahwa kita dihantui oleh sindikat organized crime, memanfaatkan celah-celah tadi, cara mengumpulkan data pribadi kita. Jadi waspada pada sindikat ini," ujarnya.

Damar juga berharap kepada Dukcapil Kementerian Dalam Negeri bisa lebih giat mengedukasi masyarakat bagaimana melindungi data pribadi dan bagaimana melaporkan apabila mengetahui praktik jual beli data kependudukan.

"Kita perlu dorong bagaimana edukasi tentang privasi ini bisa digiatkan lagi. Saya harap dari dukcapil bisa memberitahu ke masyarakat jalur aduannya seperti apa, jika misalnya menemukan tindakan kriminal pidana yang menyangkut data pribadi. Masyarakat tidak perlu memakai kanal yang melebar, tapi tertuju langsung. Sehingga langsung ada tindakan dari kepolisian," kata Damar.

Damar menekankan pentingnya payung hukum perlindungan data pribadi.

Menanggapi saran Damar, Zudan mengatakan apabila masyarakat menemukan praktik jual beli data kependudukan dapat segera melapor ke call center Dukcapil Kementerian Dalam Negeri.

"Perlu saya tambahkan, kalau masyarakat menemukan anomali atau pelanggaran terhadap administrasi kependudukan di Indonesia seperti jual-beli data kependudukan, laporkan kepada kami melalui call center dukcapil di 1500-537. Kami akan segera tindaklanjuti," kata Zudan. []

Baca juga:

Tulisan 1: Tiap Hari Dapat SMS Tawaran Pinjaman sampai Ditipu Menang Undian: Kisah Pemakai HP yang Nomornya Dicuri

Tulisan 3: 32 Aturan Perlindungan Data Pribadi Tercecer, Pemerintah Tak Bisa Cepat-cepat Rampungkan RUU

Tulisan 4: Pencurian Data Warga Bikin Indonesia Kelenger, Apa Kata Facebook Soal RUU Perlindungan Data Pribadi?

Tulisan 5: UU yang Ada Hari Ini Masih Cenderung Tumpang Tindih: Tantangan Lindungi Data Pribadi

Tulisan 6: Perlindungan Data Pribadi Sudah Mendesak, DPR: yang Penting UU Ada Dulu, Nanti Kita Revisi

Tulisan 7: Interview Farhan Soal Perlindungan Data Pribadi: Anak Saya Dijanjikan Pulsa Rp3 Juta

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Darurat Perlindungan

Interview Farhan Soal Perlindungan Data Pribadi: Anak Saya Dijanjikan Pulsa Rp3 Juta

Image

News

Darurat Perlindungan

Perlindungan Data Pribadi Sudah Mendesak, DPR: yang Penting UU Ada Dulu, Nanti Kita Revisi

Image

News

Darurat Perlindungan

UU yang Ada Hari Ini Masih Cenderung Tumpang Tindih: Tantangan Lindungi Data Pribadi

Image

News

Darurat Perlindungan

Pencurian Data Warga Bikin Indonesia Kelenger, Apa Kata Facebook Soal RUU Perlindungan Data Pribadi?

Image

News

Darurat Perlindungan

32 Aturan Perlindungan Data Pribadi Tercecer, Pemerintah Tak Bisa Cepat-cepat Rampungkan RUU

Image

News

Darurat Perlindungan

Tiap Hari Dapat SMS Tawaran Pinjaman sampai Ditipu Menang Undian: Kisah Pemakai HP yang Nomornya Dicuri

komentar

Image

1 komentar

Image
Resta Apriatami

kalo nama dia udah ketauan yg jadi pengungkap kasus ini, gimana lagi cara dia biar tau penjualan data itu? kan tadinya dia diem-diem aja nyari infonya

terkini

Image
News
Wabah Corona

Anggota DPR: Fenomena yang Memaksa Orang Tinggal, Belajar, dan Bekerja di Rumah, Buka Peluang Ekonomi Sektor Daring

Demikian pula dengan kebutuhan belajar mengajar bagi siswa sekolah hingga perguruan tinggi.

Image
News

Punya Segudang Manfaat, 5 Buah Ini Ternyata Disebutkan dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an juga banyak menyebutkan beberapa buah yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari

Image
News
Wabah Corona

Imbau Perantau Tak Pulkam, Sultan: Alihkan Biaya Mudik untuk Ketahanan Kesehatan dan Ekonomi

Menurutnya, itulah upaya paling rasional dan nyata untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona (COVID-19)

Image
News

Polri: Larangan Berboncengan Sepeda Motor Hanya untuk Pemudik

Tidak ada pelarangan motor berboncengan (di dalam satu wilayah).

Image
News
Kolom

Perppu Corona, Ujungnya Dimana?

Negara jangan jadi penghamba hutang di tengah derita kemanusiaan.

Image
News
Wabah Corona

Gibran: Rekan-rekan Semua Terimakasih Sudah Kerja Keras Sejauh Ini, Kegiatan Ini Murni Kemanusiaan

"Kami sangat terbantu meski RS Hermina bukan rujukan pasien COVID-19."

Image
News
Wabah Corona

Terpilih Jadi Wagub DKI, Riza Patria Bisa ‘Nganggur’ Karena Pelantikan Terkendala COVID-19

Teknis pelantikan masih dipertimbangkan karena COVID-19.

Image
News
Wabah Corona

Surabaya Ketat, Risma: Kami Juga Minta Warga Sementara Ini Tidak Menerima Tamu atau Kerabat dari Luar Kota

"Laporan itu harus dilakukan paling lambat 1x24 jam sejak kedatangan," katanya.

Image
News

Gempa Tektonik Bermagnitudo 5.0 Guncang Wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa

Guncangan gempabumi ini dirasakan di daerah Blitar, Malang, Karangkates II-III MMI.

Image
News
Wabah Corona

Kabar Baik, Dua Dokter di Jawa Tengah Sembuh: Ayo Jaga Pola Hidup Sehat

Tiga dokter PDP Covid-19 ini pensiunan pegawai negeri sipil Kabupaten Batang yang kini bertugas praktik di rumah sakit di Batang.

terpopuler

  1. 5 Fakta Menarik Kim Soo Hyun, Aktor Korea yang Jadi 'Suami Baru' Rossa

  2. Sejumlah Ruas Jalan di Jakarta Mulai Padat, Warganet: Ketika Kebutuhan Sudah Mengalahkan Ketakutan

  3. Ahmad Riza Patria Terpilih Sebagai Wagub DKI, Ferdinand: Politik di Jakarta Akan Semakin Seru

  4. Cerita Ojol yang Tidak Tahu Ada Larangan Bawa Penumpang

  5. 22 Tahun Berlalu, Begini 8 Potret Terbaru Farida Pasha Pemeran ‘Mak Lampir’ yang Tetap Modis

  6. Warga Diimbau Pakai Masker, Pakar Kesehatan: Tidak Ada Cara Lain, Itu Memang Untuk Perlindungan Berlapis

  7. Mengapa Kemenangan Riza Patria Jadi Wakil Gubernur Jakarta Tak Mengejutkan?

  8. Empat Jenis Kesabaran Menurut Rasulullah, di Tingkat Manakah Kita?

  9. Tembus Rp61 T! Ini Pesta Termahal yang Pernah Diadakan di Muka Bumi

  10. Inilah Waktu Terbaik untuk Melaksanakan Salat Isya

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
Zainul A. Sukrin

Perppu Corona, Ujungnya Dimana?

Image
Prakoso Permono

Bayang-bayang Ancaman Teror di Tengah Pandemi

Image
Reza Fahlevi

Atas Nama Kemanusiaan, Stop Politisasi Covid-19

Image
Abdul Aziz SR

PKS dan Sindiran Partai Oposisi

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
Ekonomi

Besarkan Go-Life hingga Diakui Forbes, Ini 5 Fakta Menarik Windy Natriavi, Pendiri AwanTunai

Image
Hiburan

Resmi Diperistri So Ji-Sub, 5 Fakta Menarik Presenter Cantik Jo Eun-jung

Image
News

Wabah Corona

Olahraga hingga Donor Darah, 7 Potret Aktivitas Sandiaga Uno di Sela-sela WFH