image
Login / Sign Up

Interview Sejarawan: Awal Mula Isu Pemindahan Ibu Kota Muncul

Maidian Reviani

Mencari Tempat Baru

Image

Gedung-gedung perkantoran terlihat di kawasan Jakarta, Selasa (30/4/2019). Presiden RI Joko Widodo kembali membahas rencana pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta. Rencana pemindahan ibu kota tercetus menimbang peluang Indonesia menjadi negara maju dan kompetisi global yang semakin ketat. Berbagai persiapan harus dilakukan seperti pemilihan lokasi yang tepat, pertimbangan aspek geopolitik, geostrategis, serta kesiapan infrastruktur pendukung harus dibahas secara terperinci. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Rencana pemindahan ibu kota Jakarta di era pemerintahan Presiden Joko Widodo kembali menguat. Bahkan nama-nama daerah yang kemungkinan menjadi tujuan telah disebutkan, di antaranya di kawasan Bukit Soeharto di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, kemudian Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Jauh sebelum itu, sesungguhnya isu lokasi ibu kota sudah pernah dibahas pada zaman Presiden Soekarno.

Sebelum terlalu jauh membahasnya secara historis, sejarawan Hendaru Tri Hanggoro menjelaskan bahwa kurang pas kalau zaman Soekarno dulu disebut ingin memindahkan ibu kota – sebagaimana yang sudah jadi pengetahuan sebagian kalangan zaman sekarang.

baca juga:

Hendaru mengatakan hingga 31 Agustus 1964, Indonesia belum punya ibu kota secara resmi. Jadi yang lebih tepat adalah rencana penetapan ibu kota dan rencana penetapan itu sejak 1947 telah muncul.

Sejarawan Hendaru Tri Hanggoro. Dokumentasi

“Secara hukum, Jakarta sebagai ibu kota itu hanya ada dalam konstitusi Republik Indonesia Serikat yang usianya seumur jagung Desember 1949 - Agustus 1950. Pada 1950, Undang-Undang Dasar Sementara tak menyebut ibu kota Indonesia,” kata sejarawan alumnus Universitas Indonesia.

Bagaimana sebenarnya situasi zaman Soekarno dulu, bagaimana kemudian lokasi pusat pemerintahan menguat dan seperti apa dinamikanya setelah itu, termasuk rumor zaman Soeharto ingin memindahkan ibu kota ke Jonggol yang ternyata terselip kepentingan menaikkan harga tanah, Maidian Reviani dari AKURAT.CO mewawancarai Hendaru – penulis di Historia.

Berikut petikan hasil wawancara dengan Hendaru:

Tahun 1957, Soekarno pernah merencanakan pemindahan ibu kota ke Palangkaraya (Kalimantan Tengah), bagaimana ceritanya ketika itu?

Sebenarnya hingga 31 Agustus 1964, Indonesia belum punya ibu kota secara resmi. Jadi kurang tepat kalau dikatakan pindah ibu kota. Yang lebih tepat adalah rencana penetapan ibu kota dan rencana penetapan itu sejak 1947 telah muncul. Pemerintah membentuk Panitya Agung ibu kota negara, di mana Presiden Soekarno masuk di dalamnya. Panitya ini bertugas menyelidiki dan merencanakan penempatan ibu kota negara.

Panitya Agung bekerja dengan syarat ketat. Hawa udara; letaknya dipandang dari sudut kemiliteran; hubungannya dengan lain-lain daerah di dalam dan luar negeri melalui udara, lautan, dan daratan; kemakmuran daerah-daerah di kanan-kirinya; suasana (jiwa) pada daerah-daerah sekelilingnya; sejarahnya.

Sebagai langkah awal, Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Surakarta, dan Yogyakarta dijajaki. Namun tak ada satu pun yang dirasa memenuhi kriteria. Alasan umumnya sama, kota-kota itu sudah terbentuk sejak sebelum kemerdekaan. Karenanya, suasana kolonial sangat terasa. Tapi kemudian surut karena perang dan penyerahan kedaulatan. Adapun ketika Jakarta pindah ke Yogyakarta, itu bukan pindah ibu kota, tapi pindah pusat pemerintahan.

Muncul lagi pada pertengahan dekade 1950-an ketika mulai muncul sentimen anti-Jawa dari daerah. Kuat sekali keinginan penetapan ibu kota di luar Jakarta. Ini seperti 'gerakan'. Seiring dengan menguatnya sentimen anti-Jakarta di daerah karena pembangunan yang sentralistis, misalnya saat PON di Medan, delegasi Jakarta kurang diperlakukan baik. Pemerintah pusat pun jadi khawatir bahwa tiap kali ada pembangunan, dianggap sentralistis atau Jakarta-Sentris.

Kemudian ada rapat-rapat dan seminar tentang penetapan ibu kota. Usulnya itu ada Palangka Raya dan Magelang. Kota-kota yang relatif baru tumbuh atau jauh dari pengalaman kolonialisme.

Secara hukum, Jakarta sebagai ibu kota itu hanya ada dalam konstitusi Republik Indonesia Serikat yang usianya seumur jagung Desember 1949 - Agustus 1950. Pada 1950, Undang-Undang Dasar Sementara tak menyebut ibu kota Indonesia.

Apa sebenarnya yang melatarbelakangi rencana pemindahan ibu kota saat itu?

Waktu itu Indonesia nggak lepas dari semangat dekolonisasi. Orang ingin mengubah hal-hal yang berbau kolonialisme menjadi sesuatu yang Indonesia, sesuatu yang baru. Yang menggambarkan bangsa Indonesia. Ini termasuk pula gagasan penetapan ibu kota di luar Jakarta.

Seperti apa reaksi publik ketika muncul rencana pemindahan ibu kota ke Palangkaraya saat itu?

Kalau dari Jakarta sendiri, dari pemerintahnya, kurang berkenan. Mereka menganggap Jakarta itu kota perjuangan, kota proklamasi. Tapi secara umum, ada 'gerakan' menolak ibu kota di Jakarta. Terbukti dari adanya rapat-rapat dan seminar-seminar tentang ibu kota sebaiknya di mana. Bahkan ahli kebatinan ikut seminar untuk melihat ibu kota sebaiknya di mana dengan pandangan mistis.

Soekarno pun tanggap juga akan adanya pergolakan daerah ini. Makanya dia turut mengedarkan gagasan ibu kota di Palangka Raya atau luar Jakarta.

Apa benar rencana pemindahan ketika itu batal karena ada perhelatan Asian Games tahun 1962?

Tidak. Asian Games itu ditetapkan tahun 1959. Sementara rencana penetapan ibu kota masih berlangsung. Kenapa tidak jadi? Jawabnya adalah Soekarno tidak punya cukup dana untuk membangun infrastruktur pemerintahan di sana. Selain itu, Soekarno menilai bahwa Jakarta akhirnya layak jadi ibu kota Indonesia, mengingat latar historis perjuangan bangsa dan infrastruktur pun sudah memadai.

Bagaimana ceritanya sampai zaman Soekarno berkuasa, rencana pemindahan ibu kota tidak terealisasi?

Karena Bung Karno sendiri yang akhirnya menetapkan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia pada 31 Agustus 1964 lewat UU No 10 Tahun 1964.

Soekarno tidak jadi menetapkan ibu kota di luar Jakarta juga karena pergolakan daerah mulai surut. Sudah ditumpas, seperti PRRI atau Permesta.

Tadi anda menyebut bahwa orang dulu ingin mengubah hal-hal berbau kolonialisme menjadi sesuatu yang Indonesia, termasuk penetapan ibu kota di luar Jakarta. Tapi ada nggak saat itu opsi lain, selain pemindahan ibu kota sehingga tetap menggambarkan sesuatu yang baru di Indonesia?

Jakarta itu kemudian diberi wajah baru oleh Bung Karno lewat bangunan modern pada 1960-an. Kalau diperhatikan, bangunan (di Jakarta) itu sangat mencitrakan kota Internasional. Apa itu? Gedung-gedung tinggi dengan arsitektur modern, bukan arsitektur tradisional Indonesia. Jakarta itu akhirnya jadi lokasi strategis untuk menunjukkan kepada dunia wajah baru Indonesia. Indonesia yang modern, Indonesia yang sejajar dengan negara lain di dunia.

Kota Jakarta juga jadi ambisi Soekarno untuk sejajar dengan kota kota lain di dunia seperti Tokyo, London, Paris, Roma. Dia bikin poros baru di Jakarta, poros Thamrin-Sudirman-Kebayoran. Sebelumnya kan poros Jakarta itu Harmoni-Kota dan itu berbau kolonialisme, Soekarno nggak suka itu. Makanya dia bikin poros baru yang lebih bebas dari bau kolonialisme. Di situ dibangunlah gedung bertingkat, jembatan layang modern, stadion canggih.

Soekarno kekeuh menetapkan Jakarta sebagai ibu kota dengan alasan yang tadi anda sebutkan seperti latar historis perjuangan bangsa dan infrastruktur memadai. Tapi apa saat itu dia juga melihat bahwa Jakarta merupakan lokasi paling strategis? Kalau iya, strategis dalam hal apa?

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, maka itu Jakarta jadi strategis. Di situ ada juga Bandar Udara Kemayoran. Pesawat itu kalau mau ke Kemayoran pasti lewatin patung selamat datang dan jalan Thamrin. Kemayoran kan agak ke utara ya, Thamrin di selatan. Jadi Soekarno betul-betul merancang Jakarta itu secara detail sampai segitunya, bentuk dan isinya dirancang semua.

Jadi Jakarta itu ya wajah Indonesia, bukan hanya gerbang, tapi Indonesia itu sendiri, dalam bayangan Bung Karno. Makanya nggak jadi penetapan ibu kota di luar Jakarta dan akhirnya itu sulit diwujudkan oleh pemerintahan berikutnya.

Soeharto juga pernah merencanakan pemindahan ibu kota. Ketika itu Soeharto konon bukan ingin memindahkan ke Palangkaraya, namun ke Jonggol. Bagaimana ceritanya?

Pada masa Orde Baru sebenarnya pindah ibu kota hanya rumor. Gara-garanya niat Bambang Trihatmodjo bersama rekan bisnisnya Swie Teng alias Haryadi Kumala membuat proyek kota terpadu di atas lahan seluas 30 ribu hektar di kawasan Jonggol.

Tapi Ginandjar Kartasasmita, ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional kala itu, akhirnya menampik adanya rencana pemindahan ibu kota negara.

Itu hanya rumor, karena adanya keinginan dari Bambang bikin kota baru di Jonggol. Nah itu dimanfaatkan untuk menaikkan harga tanah di sana, supaya juga orang-orang pindah ke sana. Bisnis.

Tetapi sampai Soeharto lengser 1998, rencana pemindahan tidak terlaksana, kenapa?

Karena pindah ibu kota itu butuh studi panjang dan nggak bisa dilakukan dalam waktu setahun atau dua tahun. Bisa makan waktu 5-10 tahun. Terutama untuk bangun infrastruktur. Ditambah lagi waktu studi kelayakan dan dananya.

Dan di zaman Pak Soeharto itu tidak mungkin muncul juga ibu kota di luar Jawa, karena pandangan Soeharto bahwa kekuasaan itu ya terpusat di Jawa.

Setelah Soeharto, Indonesia dipimpin BJ Habibie, kemudian Gus Dur, lalu Megawati. Ketika itu sepertinya mereka tidak menggulirkan wacana memindahkan ibu kota, bagaimana ceritanya?

Saya belum bisa memastikan. Tapi mungkin karena itu bukan concern mereka. Mereka tidak melihat pentingnya ibu kota pindah. Bisa juga karena soal dana dan studi yang panjang itu.

Lalu bagaimana isu itu di zaman Susilo Bambang Yudhoyono?

Tidak ada.

Sekarang di zaman Presiden Jokowi, wacana pemindahan ibu kota kembali lagi. Menurut anda, apakah rencana pemindahan ini akan terealisasi?

Sepertinya sulit. Tapi tidak tertutup kemungkinan. Yang jelas harus ada dana dan studi yang kuat untuk pindah ibu kota. Kecuali, ibu kota pindah karena wabah, perang, dan bencana alam.

Apa anda melihat rencana ini akan seperti yang sudah-sudah?

Tampaknya seperti itu.

Menurut anda, kalau rencana Presiden Jokowi memindahkan ibu kota gagal seperti sebelumnya, apa yang nantinya akan menjadi beban di Jakarta? Beberapa waktu lalu, Andrinof Chaniago (mantan kepala Bappenas) pernah mengatakan di stasiun televisi, jika ibu kota tetap di Pulau Jawa, kira-kira sampai 40 tahun lagi daya dukung Pulau Jawa sudah tidak memadai. Bagaimana tanggapan anda?

Baiklah, ini dari perspektif sejarah ya. Daya dukung sebuah wilayah itu emang selalu terbatas. Jangankan untuk ibu kota, untuk pusat pemerintahan pun sangat terbatas. Ini contoh historis, Batavia, dulu selama dua ratus tahun, pusat pemerintahan Hindia Timur itu ada di Kota Tua 1619-1799. Lalu pada masa Daendels, pusat pemerintahan itu pindah ke selatan ke wilayah Gambir, kenapa? Karena Kota Tua itu makin degradatif, polusi, wabah penyakit, kotor, sumpek.

Makanya wilayah selatan, Gambir itu, yang masih hijau dan bersih. Karena itu orang Belanda bilang Weltevreden (memuaskan) jadi pusat pemerintahan Hindia yang baru. Tapi apa yang terjadi dalam waktu 100 tahun? Wilayah itu jadi wilayah yang padat juga, sumpek, polutif, bahkan sempet kumuh kan itu Lapangan Monas, penuh pedagang kaki lima, prostitusi, preman, supir taksi sebelum akhirnya dipugar sama Sutiyoso.

Gedung-gedung semakin banyak. Kalau kita jalan ke Monas, deket Gambir, itu ada papan indikator udara Jakarta, bayangkan, itu pusat pemerintahan, tapi cukup padat begitu. Idealnya memang pusat pemerintahan itu lengang dan sepi. Seperti ketika dibangun oleh Daendels. Nah pada akhirnya, memindahkan ibu kota tetap akan menyisakan masalah buat kota yang ditinggalkan, maupun yang akan ditempati.

Sekarang, apa rencana pemerintah memperbaiki Jakarta ketika ibu kota sudah pindah? Dan bagaimana jaminan ibu kota baru itu tidak akan menghadapi permasalahan seperti Jakarta? Sebab, pengalaman historis udah membuktikan, di mana muncul pusat pertumbuhan baru, daerah sekitarnya juga akan tumbuh dan menimbulkan masalah.

Misal, kayak pengaruh Jakarta terhadap Bodetabek, juga pengaruh Bodetabek terhadap wilayah Banten, Cianjur, dan Jawa Barat lainnya. Kita punya master plan, tiap kota pasti punya dan di Indonesia, juga dimanapun di seluruh dunia, pertumbuhan wilayah itu selalu jauh lebih cepat daripada rencana induk itu.

Makanya dari lintasan historis itu, yang paling penting sekarang menurut saya bukanlah memindahkan ibu kota. Melainkan gimana pemerintah bisa memperbaiki wilayah di luar Jakarta atau Jawa. Pembangunan infrastruktur di Timur udah bagus sebenarnya. Saya makanya heran, rencana pindah ibu kota ini kok muncul lagi. Padahal costnya juga tidak sedikit.

Yang kedua, yang tidak kalah penting adalah mengubah mindset. Mindset bahwa Jawa itu budaya paling unggul. Kalau kita masih mencitrakan Jakarta sebagai Indonesia, selama itu pula Jakarta akan penuh orang, Jawa pun demikian. Ini yang sering luput dari amatan orang. Soal mindset pusat dan pinggiran, pinggiran itu dianggap daerah miskin dan terbelakang secara budaya, tingkat ekonomi mereka juga dibandingkan dengan tingkat ekonomi orang Jakarta. Padahal, kebutuhan mereka juga berbeda dengan kebutuhan orang Jakarta. Disesuaikan dengan karakter alam, perilaku, budaya dan lain sebagainya.

Hubungannya dengan daya dukung Jawa ialah, orang orang itu pada akhirnya bisa bangga dan sadar dengan kebutuhan di daerahnya. Artinya, mereka tidak perlu ke Jawa untuk membuktikan atau mengikuti gaya di sini. Indonesia itu ya juga Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua, dan lain sebagainya. Ya kira-kira itu yang berdasarkan lintasan historis saja.

Intinya saya cuma ingin bilang, ibu kota itu bukan berarti pusat segalanya. Tapi yang terjadi sekarang ibu kota adalah pusat segalanya. Makanya untuk mengurangi beban itu adalah berbagi dengan wilayah lain. Sehingga pada akhirnya, bisnis nggak hanya Jakarta, budaya nggak cuma di sini, pendidikan nggak cuma di sini, dan lain seterusnya. Pada akhirnya, beban itu terbagi, dan saya rasa biaya itu lebih murah ketimbang membangun ibu kota baru.

Jadi ada beda antara memindahkan ibu kota dan memindahkan pusat pemerintahan. Memindahkan ibu kota jelas bakal menciptakan masalah baru. Tapi kalau memindahkan pusat pemerintahan, kemungkinannya lebih kecil muncul masalah. Seperti Belanda dan Malaysia, ibu kotanya tetap di Amsterdam dan Kuala Lumpur. Tapi pusat pemerintahannya di Den Haag dan Putra Jaya. Itu maksud saya berbagi. Jakarta bisa tetap jadi ibu kota, tetapi harus mau berbagi beban. []

Baca juga:

Tulisan 1: Istana Tak Main-main Pindahkan Ibu Kota Negara

Tulisan 3: Brasil Jadi Contoh Sukses Pindahkan Ibu Kota

Tulisan 4: Konsep Ibu Kota Baru Harus Visioner

Tulisan 5: Menggagas Skenario Perang di Ibu Kota Baru Agar Pusingkan Musuh

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Mencari Tempat Baru

Menggagas Skenario Perang di Ibu Kota Baru Agar Memusingkan Musuh

Image

News

Mencari Tempat Baru

Konsep Ibu Kota Baru Harus Visioner

Image

News

Mencari Tempat Baru

Brasil Jadi Contoh Sukses Pindahkan Ibu Kota

Image

News

Mencari Tempat Baru

Mengapa Ibu Kota Harus Pergi dari Jakarta?

Image

News

Mencari Tempat Baru

Istana Tak Main-main Pindahkan Ibu Kota Negara

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

KPU Kota Batam Ingatkan Peserta Pilwako Independen Mulai Siapkan Diri

Persiapan harus dimulai sejak awal, karena syarat dukungan pada Pilkada tahun ini relatif lebih detil dari sebelumnya

Image
News

Hutan Gunung Sumbing Terbakar

Titik asap kebakaran hutan diketahui sekitar pukul 03.00 WIB di Petak 27-7 Resor Pemangku Hutan Kemloko, BKPH Temanggung

Image
News

Seorang Kades di Aceh Ditangkap Polisi Akibat Main Judi Online

Penangkapan dilakukan berdasarkan laporan dari masyarakat yang resah dengan adanya aktivitas judi daring di sebuah warung

Image
News

Disuruh Isi Galon, Seorang Karyawan Malah Bawa Kabur Motor Majikannya

Pelaku saat ini sudah berada di Polsek Dusun Tengah untuk dilakukan pendalaman modus operandi

Image
News

JakGrosir Hadir di Kepulauan Seribu, Anies Ungkap Harapannya

JakGrosir adalah sebuah fasilitas perkulakan pertama yang dibangun di Kepulauan Seribu.

Image
News

MPR Sosialisasikan 4 Pilar Lewat Pagelaran Wayang Kulit

Kesenian ini dipilih karena dinilai mengandung tuntunan yang baik bagi masyarakat

Image
News

Sindir Jokowi Soal Bantuan Negeri Jiran, Ustaz Tengku Dibully Habis-habisan

Netter menanggap Tengku sedang menyindir Presiden Joko Widodo.

Image
News

Bertolak ke Banjarmasin, KPAI Lakukan Pengawasan Langsung Status Siaga Bencana Akibat Karhutla

Retno menjelaskan tujuan ke Banjarmasin adalah untuk mempertimbangkan apakah Banjarmasin layak dijadikan lokasi evakuasi anak-anak.

Image
News

Pakar: Presiden Jokowi Tidak Perlu Keluarkan Perppu Pengganti UU KPK

Keliru jika Presiden mengeluar Perpu sebelum UU KPK disahkan.

Image
News

Coba Simak, Ini Lima Ungkapan 'Pahlawan Devisa' Soal Jokowi

"Terima kasih Pak Jokowi telah menunda RUU KUHP."

trending topics

terpopuler

  1. Disenggol Jerinx SID, Nikita Mirzani Sontak Lontarkan Sindiran Sadis

  2. Soal Penundaan RUU KUHP, Pakar Hukum Kritik Presiden: Kau yang Mulai, Kau yang Mengakhiri?

  3. Tak Sudi Disamakan dengan Artis NM, Jerinx SID Mengumpat di Media Sosial

  4. Bangga! Gundala Masuk dalam Film Wajib Ditonton Versi Rotten Tomatoes

  5. Diisukan Jadi Menpora, Erick Thohir: Saya Kira Masih Banyak Figur Lain, Kalau Saya Cocoknya di Swasta

  6. Penelitian Terbaru: Anak yang Dijaga Orangtua Tak Bekerja Rentan Alami Kekacauan

  7. Dapat Duit Tanpa Harus Bekerja Ternyata Bisa! Coba Hal Ini

  8. Hadapi China, Garuda Muda Jajal GBK

  9. Eks Wakapolri: Mobil Klasik Tidak Membuat Polusi

  10. Ricuh, Mahasiswa Ingin Blokade Tol Jagorawi, Dua Polisi Terluka

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan

kolom

Image
Alfarisi Thalib

Era Airlangga, Golkar Cenderung Feodal dan Oligarkis

Image
Ujang Komarudin

Gigitan Terakhir KPK

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Image
Achmad Fachrudin

Dinamika Politik Jakarta Paska Pemindahan Ibukota

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

8 Potret Hangat Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri bersama Keluarga, Ayah Idaman!

Image
News

Jadi Plt Menpora Gantikan Imam Nahrawi, Ini 5 Fakta Sepak Terjang Karier Hanif Dhakiri

Image
News

Siap Uji Materi UU KPK yang Baru, Ini 5 Fakta Sepak Terjang Karier Ketua MK Anwar Usman