image
Login / Sign Up

Menggagas Skenario Perang di Ibu Kota Baru Agar Memusingkan Musuh

Herry Supriyatna

Mencari Tempat Baru

Image

Sejumlah prajurit Korps Marinir melakukan penyerbuan ketika melaksanakan Latihan Pasukan Pendarat 2019 di Pusat Latihan Pertempuran Korps Marinir Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (18/5/2019). Latihan yang melibatkan prajurit dan kendaraan tempur Korps Marinir tersebut untuk meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan prajurit sebagai prajurit matra laut. | ANTARA FOTO/HO-Serka Mar Kuwadi

AKURAT.CO, * Pertahanan Indonesia saat ini menganut sistem pertahanan kompartemenisasi atau pertahanan pulau-pulau besar.
* Selain radar, mantan Panglima TNI itu menginginkan penggabungan tiga pangkalan militer sekaligus di ibu kota baru, yaitu Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Darat.
* Untuk mewujudkan sistem pertahanan terbaik, sudah jelas akan dibutuhkan biaya yang cukup besar. Pasalnya, pemerintah harus membangun pusat infanteri sekaligus pusat pendidikan.

***

Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional menargetkan pemindahan ibu kota Indonesia ke luar dari Pulau Jawa bergulir mulai 2020.

baca juga:

Sarana dan prasarana menuju ke arah sana sangat penting untuk didiskusikan, termasuk sektor pertahanan, guna menopang keamanan ibu kota yang baru sebagai sentral pemerintahan negara.

Kepala Staf Presiden, Moeldoko, mengatakan sistem pertahanan terdiri dari tiga komponen. Pertama komponen utama yang diisi pasukan militer, seperti Tentara Nasional Indonesia.

Lapis kedua komponen cadangan yaitu seluruh sumber daya nasional yang terinventarisir. Contoh lapis dua atau komponen cadangan yaitu resimen mahasiswa, satuan pengamanan, dan kekuatan-kekuatan yang sudah pernah dilatih secara militer.

"Komponen cadangan adalah seluruh sumber daya nasional yang terinventarisasi di antara ada dokter, rumah makan Padang itu juga bisa jadi dapur umum," kata Moeldoko di Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Dan yang ketiga komponen pendukung yaitu yang berasal dari kekuatan rakyat.

Kepala Staf Presiden Moeldoko (tengah). Antara Foto

"Karena tadi saya katakan dari kompartemenisasi komponen utama, komponen cadangan, dan komponen pendukung. Komponen pendukung dan komponen cadangan adalah masyarakat di suatu saat nanti mereka dimobilisasi untuk kepentingan pertahanan. Maka mereka akan mempertebal kekuatan komponen utama," ujar dia.

"Persoalannya saat ini kita belum memiliki undang-undang komponen cadangan. Kita juga belum memiliki undang-undang tentang mobilisasi dan demobilisasi," Moeldoko menambahkan.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 dijelaskan sistem pertahanan Indonesia adalah sistem pertahanan rakyat semesta yang kemudian menjadi sistem pertahanan semesta. Yang dimaksud dengan sistem pertahanan semesta, menurut Moeldoko, ketika negara menghadapi inflasi, seluruh sumber daya nasional akan dimobilisasi untuk kepentingan pertahanan.
Apa sumber daya nasional yang dimaksud? Sumber daya alam, sumber daya buatan, sumber daya manusia dan seluruh sarana prasarana.

Pertahanan Indonesia saat ini menganut sistem pertahanan kompartemenisasi atau pertahanan pulau-pulau besar. Apabila ibu kota baru nanti berada di Pulau Kalimantan, kata Moeldoko, jika ada serangan yang datang ke pulau tersebut, seluruh kekuatan harus ikut bertahan mati-matian terlebih dahulu.

“Kalau tidak bisa, ada Kostrad, Marinir, dan Kopaska nanti yang dilempar ke sana untuk memperkuat pertahanan,” kata Moeldoko.

Jika ibu kota baru berada di Pulau Kalimantan, Moeldoko menilai dari sisi pertahanan sudah cukup baik. Kendati diketahui kekuatan pertahanan Indonesia saat ini masih terpusat di Pulau Jawa.

"Jadi dari sisi pertahan ini Kalimantan bagus sekali. Konfigurasi dari konfigurasi yang ada. Sekarang memang kita ada kesalahan deplopment, pasukan kita itu sekarang ada di Jawa. Kenapa dulu ada di Jawa? Karena setelah Indonesia merdeka hampir semua pergulatan di Jawa," kata Moeldoko.

Latihan pasukan TNI AL Korps Marinir . Antara Foto

Selain itu, kelebihan Kalimantan adalah posisinya yang berada di tengah kepulauan Indonesia yang diapit oleh kantong pertahanan udara, seperti Skadron di Sulawesi, Skadron Riau, dan Skadron di Madiun. Namun itu saja tidak cukup, harus didukung dengan kekuatan radar yang memiliki daya jangkau yang sangat luas.

Radar tersebut sangat dibutuhkan sebagai upaya proteksi terhadap zona khusus pengamanan ibu kota, layaknya sejumlah negara maju yang lebih dahulu menerapkan, seperti Cina dan Rusia.

Selain radar, mantan Panglima TNI itu menginginkan penggabungan tiga pangkalan militer sekaligus di ibu kota baru, yaitu Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Darat. Hal itu guna lebih memperkuat pertahanan sehingga dapat terintergrasi dalam satu kawasan.

Untuk mewujudkan itu, sudah jelas akan dibutuhkan biaya yang cukup besar. Pasalnya, pemerintah harus membangun pusat infanteri sekaligus pusat pendidikan.

"Saya pikirkan strukturnya dalam satu kewilayahan ada kekuatan udara, Kostrad, Marinir, dan sebagainya. Ini kalau diproyeksikan kompartemen ini berjalan baik karena terintegrasi serta memiliki komando kewilayahan," katanya.

Menurut Moeldoko daerah yang nantinya dijadikan lokasi ibu kota baru harus memiliki kemandirian dari sisi logistik. Karena di dalam skenario terakhir sebuah pertempuran, yaitu peperangan berlarut. Namun sebelum melakukan pertempuran berlarut, harus mengetahui strategi lawan dan coba mengganggunya. Berikutnya dipatahkan perjalanan musuh ketika memasuki pantai Indonesia. Jika masih gagal juga, maka berikutnya pasukan Indonesia akan melakukan gerilya yang dilanjutkan dengan pertempuran berlarut tadi.

"Pertempuran berlarut itu diperlukan logistik, kalau nggak ada logistik bagaimana kita mau bertempur berlarut. Jadi kalau nanti Kalimantan betul menjadi Ibu Kota baru, maka kekuatan itu akan bergeser dan sangat bagus dari konfigurasi berikutnya. ALKI dari alur laut kepulauan Indonesia maka sangat bagus apabila kekuatan nanti digeser ke sana. Ini bisa diambil dari sisi positifnya, tetapi dari sisi negatifnya perlu upaya mengantisipasinya," kata dia.

Latihan pasukan TNI AL Korps Marinir . Antara Foto

Berikutnya Moeldoko berbicara dari sisi infrastruktur ekonomi. Ia memastikan infrastruktur ekonomi yang berada di Jakarta atau kota-kota besar lainnya akan tetap terlindungi dengan baik, karena Indonesia memiliki Ibu Kota baru yang menjadi pusat pemerintahan.

"Jadi nanti kalau pemerintahannya pindah ke Kalimantan itu menentukan center of gravitynya tidak mudah. Apakah dihancurkan pusat pemerintahannya dulu atau dihancurkan pusat ekonominya dulu. Lawan akan berpikir. Tetapi kalau di Jakarta sekarang semuanya ada di sini, maka begitu diratakan Jakarta semuanya akan selesai," ujarnya.
Ada empat hal yang perlu dipertimbangkan di dalam strategi pembangunan kekuatan angkatan bersenjata.

Jika Kalimantan menjadi lokasi pilihan, semua pihak harus memerhatikan empat hal dari sisi membangun pertahanan. Pertama adalah ancaman. Kedua penataan sumber daya nasional, khususnya anggaran. Ketiga teknologi. Diera yang serba digital saat ini, teknologi menjadi salah satu pertimbangan. Kemudian yang keempat kondisi geografis.

"Empat hal inilah yang menjadi pertimbangan utama apabila kita membangun sebuah kekuatan-kekuatan militer. Bagaimana menghadapi ancaman, bagaimana kemampuan sumber daya manusia sumber daya serta anggarannya. Yang ketiga perkembangan teknologi. Yang keempat adalah kondisi geografis," kata dia.

Memindahkan ibu kota suatu negara, kata Moeldoko, sudah barang tentu memiliki alasan. Dia menyontohkan alasan pemindahan ibu kota di negara lain. Sebut saja Nigeria, ibu kotanya yang tadi berada di Lagos, dipindahkan ke Abuja pada 1991. Abuja dinilai netral dari klaim kekuasaan oleh etnik atau suku tertentu di negara tersebut. Sehingga potensi perang saudara di Abuja menjadi minim.

Hal itu merupakan pendekatan keamanan. Selain itu, Lagos dipindahkan karena terletak di wilayah pesisir, sedangkan kekuatan angkatan laut pada saat itu dinilai tidak cukup.

"Kalau kita pindahkan ke Kalimantan padahal konfigurasi kekuatan militer kita lebih banyak ada di Jawa. Itu sudah harus ada upaya," ujarnya.

Berikutnya, kasus di Kazakhstan. Ibu Kota negara tersebut dipindahkan dari Almati ke Astana. Almati dipindahkan karena memiliki kerentanan terhadap gempa bumi. Almati juga dinilai terlalu dekat dengan perbatasan Kazakhstan-Cina yang membuat keberadaan Ibu Kota menjadi rentan diserang negara lain.

Latihan pasukan TNI AL Korps Marinir . Antara Foto

"Mungkin ada yang bertanya di Kalimantan kan dekat dengan perbatasan Malaysia-Indonesia tapi menurut saya juga tidak terlalu dekat, perbatasan darat kita cukup jauh apalagi Kalimantan masih memiliki hutan yang cukup memadai sehingga hutan itu nanti apabila terjadi sesuatu, hutan bisa digunakan untuk merebut pertempuran yang sangat menguntungkan bagi kita. Jadi nggak usah khawatir dengan perbatasan Malaysia," kata dia.

Contoh berikutnya negara Brasil. Ibu Kota Rio de Janeiro dipindahkan ke Brasilia pada tahun 1960-an. Rio de Janeiro dipindahkan ke Brasilia untuk menciptakan persatuan nasional dan membuat ibu kota yang bisa direkayasa secara sosial masyarakatnya sehingga mencegah potensi gangguan keamanan. Menurut Moeldoko ini contoh untuk mengatasi gangguan keamanan dari sudut pandang sosial.

Pemindahan ibu kota bertujuan untuk menciptakan budaya berpengharapan.

Moeldoko mengatakan yang terjadi sekarang di dunia adalah adanya budaya ketakutan. Sebagai contoh Amerika, setelah menara kembarnya dihancurkan dan kelompok teroris menyerang kepentingan nasional mereka, ketakutan melanda Amerika, Eropa, dan juga Australia.

"Berikut ini adalah budaya penghinaan. Amerika juga merasakan itu, merasakan pahitnya saat itu betapa adidayanya mereka begitu menara kembarnya dibom, Pentagonnya di bom dan itu sungguh menjatuhkan martabat. Mari kita lihat Indonesia, apakah kita juga menghadapi budaya seperti itu? Jawabannya iya, karena setelah sekian lama kita dijajah maka budaya ketakutan dan penghinaan itu masih menghinggapi kita," ujar Moeldoko.

Berikutnya budaya penghinaan. Ketika Indonesia mengalami reformasi pada 1998 -- rupiah tidak dihargai dunia -- banyak orang Indonesia yang tidak mengaku bahwa dia orang Indonesia. Tetapi, kata Moeldoko, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia sudah mulai membangun budaya yang berpengharapan.

Itu sebabnya, dia sangat setuju pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan sesegera mungkin dilakukan. Menurut dia hal itu akan menunjukkan upaya pemerintah dalam membangun budaya berpengharapan.

"Presiden saat ini memikirkan Indonesia sentris bukan Jawa sentris. Jadi perlu upaya keras untuk menutup beberapa kekosongan yang saya sampaikan tadi bisa dilakukan itu tidak ada masalah. Justru sangat akan sangat baik ke depan apabila kekuatan militer yang saat ini tersebar di Jawa sebagian segera dipindahkan ke luar Jawa karena menjadi sebuah konfigurasi yang sangat memadai antara konsep dengan apa yang terjadi," kata dia. 

"Di satu sisi strategi pertahanan kita adalah strategi kompartemenisasi, tetapi pada sisi yang lain semua kekuatan hampir tersebar di Jawa ini jadi nggak sesuai antara apa yang dipikirkan dengan apa yang terjadi saat ini. Tapi bisa dimaklumi, karena hampir semua kondisi keamanan negara waktu itu terjadi di Jawa. Itu kira-kira penyebabnya."

***

Pakar keamanan dari Universitas Indonesia Edy Prasetyono juga menekankan pemindahan ibu kota ke luar dari Pulau Jawa harus diikuti sistem pertahanan yang superkuat.

Sebab, kata dosen FISIP Universitas Indonesia, dimanapun letak ibu kota negara berada pasti akan mudah dicapai oleh senjata musuh apabila terjadi serangan, apalagi era teknologi perang yang canggih seperti sekarang. Itu sebabnya sistem pertahanan itu harus layaknya zona pengamanan khusus.

Zona pertahanan khusus yaitu membatasi ruang gerak negara lain. Misalnya, mengatur radius jarak pesawat terbang yang bisa melintas. Kemudian jenis pesawatnya, apakah pesawat yang dibolehkan melintasi langit ibu kota baru itu hanya jenis militer atau sipil, atau keduanya.

Dua syarat penting untuk sistem pertahanan superkuat yaitu, pertama, harus memiliki satu kekuatan pemukul, seperti peralatan dan kendaraan tempur. Kedua, harus disiapkan pertahanan anti serangan udara secara berlapis.

"Misalnya kita mengantisipasi kira-kira pesawat tempur dan rudal itu akan datang berapa jaraknya. Kalau kita mau beli dari Rusia monggo S 400, tapi jaraknya 400 meter. Tapi pertahanan negara harus ada kita pikirkan, bukan berapa radius yang harus kita lakukan. Itu semua harus dibangun," kata Edy beberapa waktu yang lalu.

Yang perlu jadi perhatian serius berikutnya yaitu rantai logistik. Penempatan rantai logistik juga harus strategis karena sangat krusial apabila terjadi serangan. Apalagi, Moeldoko menilai TNI akan menerapkan perang teritori.

Latihan pasukan TNI AL Korps Marinir . Antara Foto

Selain untuk mengantisipasi terjadi perang teritori, rantai logistik juga diperlukan untuk bertahan.

"Saya lihat posisi Angkatan Darat (di Kalimantan) masih sangat bolong, karena memang pusatnya adalah Jawa selama ini. Tapi itu harus dilakukan kira-kira pasukan akan bergerak secara tepat ke basis-basis Ibu Kota strategis akan di mana," ujar Edy.

Kemudian kekuatan penopang berlapis. Menurut Edy hal ini juga tak kalah penting. Apabila ibu kota harus dipertahankan dari serangan musuh, sementara kekuatan militernya lemah, maka daerah terdekat mana yang bisa mengirimkan komponen cadangan maupun pendukung.

Sistem komunikasi juga harus kuat karena biasanya apabila terjadi serangan, setelah sistem komunikasi dilumpuhkan musuh, selanjutnya mereka menghancurkan infrastruktur.

"Jadi yang saya bayangkan adalah akan membangun kekuatan dan infrastruktur pertahanan yang luar biasa besar di sana, dan itu mau tidak mau harus dilakukan karena ini ibu kota. Bagi kami misalnya adalah perlakukan ibu kota sebagai zona pertahanan khusus. Jadi jangan seperti sekarang, semua pesawat bisa masuk lalu-lalang," kata Edy.

Edy mengatakan sistem pertahanan harus memiliki mobilitas tinggi. Selama ini dia sering mengkritik sistem pertahanan negara. Misalnya, kebijakan-kebijakan yang tidak diikuti dengan perkembangan persenjataan.

"Indonesia dengan kekuatan yang begitu besar luas wilayah yang seperti ini harus dicakup dengan persenjataan yang modern. Tetapi saya setuju bahwa kalau terjadi perang tutorial, darat menjadi penentu terakhir. Tapi saya tidak membayangkan di Indonesia itu berperang darat dan tidak membayangkan itu," kata dia.

Ibu Kota Rusia, Moskow, merupakan salah satu contoh ibu kota dengan sistem pertahanan terkuat di dunia. Untuk menjadi seperti Moskow, kata Edy, pemerintah tak bisa melakukannya dengan cara instant. Indonesia harus terlebih dahulu memiliki sistem pertahanan khusus.

Latihan pasukan TNI AL Korps Marinir . Antara Foto

"Memang ada beberapa hal yang menjadi pekerjaan rumah kita dan ini tidak bisa selesai dalam 5 sampai 10 tahun yang akan datang. Tapi asumsi besar saya adalah ibu kota itu central of gravity, ibu kota harus punya pertahanan khusus karena selalu menjadi target serangan," ujarnya.

Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Pertahanan Nasional Connie Rahakundini Bakrie mengkritik pernyataan Moeldoko bahwa Indonesia saat ini menerapkan strategi peperangan teritorial. Menurut Connie itu artinya sama saja strategi berperang mundur jauh ke belakang.

"Kalau saya boleh menyampaikan pada saat Pak Moeldoko menyampaikan perang teritorial, saya pikir saya sudah salat tempat Saya merasa kita muncul seperti perang dunia ke-1 dan ke-2," kata Connie.

Pakar militer dan pertahanan itu mengungkapkan sejumlah permasalahan yang mungkin timbul tatkala ibu kota negara pindah ke tempat baru. Di antaranya, persoalan jarak, konflik agraria, shock culture, dan permasalahan adat.

Menurut dia sistem pertahanan keamanan Indonesia sekarang masih abu-abu. Abu-artiya apabila ada ancaman, yang mengantisipasi kepolisian, bukan TNI.

"Dari berbagai konflik yang saya sebutkan di atas, hanya persoalan gap atau jarak yang akan menjadi tugas TNI untuk mengatasinya. Sementara sisanya akan bisa ditangani kepolisian," kata Connie.

Untuk menangani persoalan jarak, TNI bisa mengolaborasikannya dengan visi Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan negara sebagai poros maritim dunia. Artinya negara harus membangun strategi dengan poros dirgantara dunia dan poros permukaan dunia sehingga, bukan hanya angkatan laut saja yang diperkuat, tapi juga angkatan darat.

"Pertanyaannya mau dibawa ke mana strategi pertahanan kita? Dan menurut saya sebenarnya pembangunan Ibu Kota negara dan juga poros maritim dunia itu nggak bisa dilepas, karena ini satu-satunya kesempatan TNI menjadi TNI yang berpengharapan seperti pernyataan Pak Moeldoko," ujarnya.

Kalimantan – daerah yang paling potensial jadi ibu kota baru -- berbatasan langsung dengan Malaysia. Tapi menurut Connie hal itu tak jadi soal, justru bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk lebih mengontrol lebih dalam.

Dia mencontohkan Korea Selatan dan Korea Utara yang juga saling berbatasan.

"Kenapa takut sama perbatasan Malaysia? Korea coba, Utara dan Selatan bedanya berapa meter sih. Jadi kenapa kita punya masalah ketakutan. Justru kalau dekat mah bagus dong kita malam bisa kontrol tuh Kuala Lumpur," kata dia.

Menurut Connie kalau ibu kota nanti dipindah ke Kalimantan, TNI memiliki banyak kesempatan untuk membuktikan mampu menjawab tantangan. TNI harus bisa menjadi TNI yang berpengharapan seperti yang diutarakan Moeldoko.

"Jadi TNI yang mampu digelar ke kawasan sesuai nawacita dan juga bisa digelar dua samudra. Akhirnya kita dapat membangun sistem pertahanan yang terintegrasi, yang terpadu. jika itu tidak diterapkan, maka hambatan yang ada selama ini nggak mungkin bisa diatasi," kata dia. []

Baca juga:

Tulisan 1: Istana Tak Main-main Pindahkan Ibu Kota Negara

Tulisan 2: Mengapa Ibu Kota Harus Pergi dari Jakarta?

Tulisan 3: Brasil Jadi Contoh Sukses Pindahkan Ibu Kota

Tulisan 4: Konsep Ibu Kota Baru Harus Visioner

Tulisan 6: Interview Sejarawan: Awal Mula Isu Pemindahan Ibu Kota Muncul

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Mencari Tempat Baru

Interview Sejarawan: Awal Mula Isu Pemindahan Ibu Kota Muncul

Image

News

Mencari Tempat Baru

Konsep Ibu Kota Baru Harus Visioner

Image

News

Mencari Tempat Baru

Brasil Jadi Contoh Sukses Pindahkan Ibu Kota

Image

News

Mencari Tempat Baru

Mengapa Ibu Kota Harus Pergi dari Jakarta?

Image

News

Mencari Tempat Baru

Istana Tak Main-main Pindahkan Ibu Kota Negara

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

ICW Minta Masyarakat Kawal RUU KPK

ICW dan sejumlah elemen masyarakat berencana untuk mengajukan uji materi

Image
News

Sering Kasih Makan Monyet di PIK, Yuk Hentikan Mulai Sekarang

Belasan monyet banyak ditemui di dekat Jalan Raya PIK dan rumah warga.

Image
News

Tidak Lagi Hirup Asap Arang, SDN Cilincing 07Pagi Dipasangi Kipas Angin

adanya fasilitas kipas angin tambahan agar sirkulasi udara makin lancar.

Image
News

Pemilik Beralih Usaha, Pabrik Arang Di Cilincing Berhenti Total

pemilik industri arang batok tidak lagi berproduksi sejak dilayangkannya surat peringatan.

Image
News

Ditjen Bea Cukai Kembalikan 9 Kontainer Sampah Plastik ke Australia

Sampah yang masih mengandung bahan sisa makanan dan cairan itu sebanyak 9 kontainer.

Image
News

Polisi Ringkus Preman yang Sering Memalak di Pasar Muara Angke

Pelaku R yang tidak sendiri dalam beraksi itu ditemani rekannya yang kini diburu oleh polisi.

Image
News

Kapolsek Jatinegara Bantah Karyawan PT Transjakarta jadi Korban Kejahatan Jalanan

tidak ada tanda atau bekas penganiyaan terhadap pekerja bagian tiket itu.

Image
News

Karyawan PT Transjakarta Coba Bunuh Diri Dipinggir Rel Kereta

korban yang berusia 38 bertugas sebagai kolektor tiket penjualan.

Image
News

DPR dan Pemerintah Sepakat, RKUHP Akan Dibawa ke Rapat Paripurna

Pasal 418 didrop takut disalahgunakan.

Image
News

Wakasad Sebut Latma Safkar Indopura Adalah Wahana Membangun Hubungan TNI AD-Singapore Army

"Safkar Indopura merupakan bagian dari latihan bilateral militer antara TNI AD dengan Singapore Army, yang diselenggarakan secara bergantian

Banner Mandiri

trending topics

terpopuler

  1. 18 Tahun Menikah, 10 Potret Mesra Iis Dahlia dan Suami Bak Sepasang ABG

  2. Syamsuddin: Beristrahatlah dalam Damai KPK, Semoga Kematianmu yang Dijemput Paksa Bahagiakan Mereka

  3. 5 Meme Kocak Koulibaly saat Lawan Liverpool, Ada Tips Khusus Menghentikan Salah

  4. Paranormal: Baca Captions IG Pak Jokowi Ikut Nelongso Guys

  5. Dahnil: Bila Dewan Pengawas Ditunjuk Presiden dan Tempatkan KPK sebagai Eksekutif, Lebih Baik Dikubur

  6. Tolak Revisi UU KPK, Mahasiswa Hadiahi Anggota Dewan Tikus

  7. Hasil Lengkap Liga Champions 2019-2020 17-18 September

  8. Burhanuddin: yang Bilang KPK Gagal Turunkan Tingkat Korupsi Itu Kufur Nikmat

  9. 5 Potret Nikita Willy Liburan ke Namibia, Bersuka Ria dengan Anak-anak Suku Himba

  10. Solo Karier, 10 Potret Nana After School Pamer Body Goals yang Makin Memikat

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan

kolom

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Image
Achmad Fachrudin

Dinamika Politik Jakarta Paska Pemindahan Ibukota

Image
Abdul Aziz SR

Perempuan dan Jabatan Publik

Image
Mujamin Jassin

Bamsoet dan Agenda Modernisasi Golkar

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

Wilayahnya Diserbu Asap Malah ke Kanada, Ini 4 Fakta Wali Kota Pekanbaru Firdaus

Image
News

10 Pesona Muhammad Rafid, Cucu Keponakan BJ Habibie yang Geluti Sepak Bola

Image
Ekonomi

Mela Gunawan, Srikandi di Pusat Industri Kebugaran Indonesia