image
Login / Sign Up

Anak Punk Menato Tubuh Biar Terlihat Keren, Tapi Ujung-ujungnya Mereka Menyesal

Yudi Permana

Jalan Pulang

Image

Umat dirajam tubuhnya saat festival tato religius di Biara Wat Bang Phra, Provinsi Nakhon Pathom, Thailand, 16 Maret 2019. | REUTERS

AKURAT.CO * Mereka membuat tato pada kulit tujuannya agar terlihat keren. Gambarnya biasanya sesuai dengan suasana jiwa pada waktu itu. Rata-rata mereka melakukan itu karena terpengaruh teman-teman lainnya. 
* Tetapi pada akhirnya, mereka menyesali. Tujuan mereka menghapus tato dari tubuh, selain mengikuti ajaran agama, juga agar jangan lagi dipandang negatif oleh masyarakat.
* Memutuskan menghapus tato berarti harus siap dengan resiko sakit. Sinar laser untuk memecah tinta yang melekat pada kulit amatlah panas. Makanya, janganlah sekali-kali membuat tato.

***

Sekujur tubuh Sapta Maulana penuh dengan tato. Semua rajah yang memenuhi kulit anak punk jalanan itu dibuat ketika dia mendapat momen terbaik dalam hidup. Masing-masing goresan tato merupakan curahan hatinya.

baca juga:

Bentuk rajah pada badan Sapta bermacam-macam. Ada tulisan tanggal lahir, foto, bahkan nama pacar yang dibuat di tangan sebelah kanan.

Kalau dihitung-hitung, Sapta sudah mengeluarkan banyak duit untuk membuat goresan tato itu. Biaya pembuatannya bervariasi, mulai dari Rp200 ribu hingga Rp1 juta lebih.

Setiap kali merajah tubuh, dia berpikir hasilnya akan membuatnya terlihat semakin keren di mata orang-orang – namun belakangan dia menyesal.

"Ikut-ikutan. Kayaknya kalau melihat orang buka baju, terus ada tatonya, bagus aja. Kemudian lama kelamaan tatonya aja kayak gambar yang penuh makna," kata pria asal Tebet, Jakarta Selatan itu.

Sapta Maulana . AKURAT.CO/Yudi Permana

Sampai akhirnya November 2018, dia merasa bosan. Bosan dengan aktivitas sebagai anak punk jalanan yang itu-itu saja, mengamen, membeli minuman keras, mabuk. Pokoknya serba tidak tertata. Dia juga bosan membuat tato.

"Momennya, capek di jalan, saya pikirnya, hidupnya gini-gini aja, monoton. Setiap hari cari duit, untuk mabuk. Saya sudah menemukan titik jenuhnya aja."

Suatu hari, Sapta menemukan konten tentang kegiatan religi yang diunggah di media sosial Tasawuf Underground. Konten tersebut menginspirasinya untuk ikut belajar hal baru.

“Jadi pengin aja ikut mengaji," katanya.

Pada waktu itu, Sapta mulai menyadari betapa hidupnya selalu dalam ancaman bahaya. Bayangkan, emosi sulit dikontrol, cenderung suka ribut dengan orang lain, suka mabuk.

Setelah mendapatkan bimbingan dari pendiri Tasawuf Underground Ustaz Halim Ambiya, Sapta memutuskan untuk melenyapkan tato-tato itu, terutama yang bertuliskan nama pacar.

"Ini sih nama mantan, hapus aja. Dihapus biar nggak diingat lagi, bisa dibilang gitu," katanya sambil menunjukkan bekas tato. Momen putus dengan pacar merupakan salah satu dorongan kuat dia mulai menghapus tato.

Memang sih dia belum menghapus semua tato, terutama di bagian-bagian yang tertutup. Tetapi, Sapta punya komitmen untuk melenyapkan semuanya karena menurut hukum Islam, membuat tato itu haram.

***

Di kolong jembatan depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, yang penuh anak punk dan anak jalanan, sore itu, selain bertemu Sapta, saya juga bertemu mantan anak punk bernama Teguh.

Teguh bertato seperti Sapta. Alasannya menato tubuh hampir sama. Mula-mula dia ikut-ikutan kawan merajah tubuh agar terlihat gagah.

"Dilihat keren saja, maknanya sih gak ada, wah keren nih tatoan. Kadang-kadang terinspirasi dari teman juga yang tatoan di lehel. Jadi minta dibikinin tato, terserah, yang penting keren, gitu aja. Paling bikin nama orang yang kita sayang, nama istri, anak juga," kata dia.

Teguh mulai menggores tubuhnya dengan tinta tato sejak duduk di sekolah menengah tingkat pertama. Masa itu merupakan masa awal dia menjadi anak punk street. Ketika saya tanya berapa jumlah tato di tubuhnya sekarang, dia mengaku sudah tidak tahu persis.

"Saya tidak tahu jumlahnya berapa. Jadi gak patokan, dibikin satu, terus bikin lagi, jadi gak dihitung satu-satu. Setiap di gambar satu tato. Dimana ada tempat, di situ digambar, paling 40 persen badan di tato."

Belakangan, dia merasa ukuran seorang keren bukan lagi terletak pada tato. Bahkan, tato pada tubuhnya terkadang justru membuat dia merasa tidak percaya diri, apalagi ketika masuk masjid pada fase awal melakukan pertobatan.

Tetapi setelah mendapatkan dukungan dari ustaz, Teguh secara perlahan percaya diri berdiri di tengah masyarakat. "Saya niat ingin hijrah, berbenah diri. Kalau sekarang gak malu datang ke masjid, meski bertatoan. Kalau dulu malu karena gak ada patokan, gimana ya jawaban kalau ditanya orang."

Teguh. AKURAT.CO/Yudi Permana

Teguh mengatakan sebenarnya sudah lama berniat mengikuti program hapus tato. Tetapi niat itu selalu diurungkan karena biaya tergolong mahal untuk ukurannya. Dia hanya berdoa agar diberikan jalan. Belakangan, doanya terkabul.

"Ada niatan ingin dihapus (tato). Alhamdulillah Allah juga memberikan jalan, akhirnya berkat doa anak-anak punk juga yang ada niatan hapus tato, ada satu yayasan yang ingin membantu anak-anak untuk penghapusan tato," kata Teguh.

Sekarang, Teguh sama sekali tak ingin mengotori kulitnya dengan tato lagi. Bahkan, dia juga berharap teman-temannya yang masih menjadi anak punk segera tobat.

"Kalau untuk tidak bertato, InsyaAllah dari sekarang sudah tidak ingin bertato lagi, dan tidak ingin menambahkan. Kalau buat menghapus tato, dari kawan-kawan dulu yang ingin menghapus, saya kasih kesempatan dulu. Ayo bareng-bareng, jadi dari kawan-kawan dulu. Intinya kita gak ingin menambahkan tato lagi. Yang sudah ada tato, yaudah biarin aja ada tatonya," katanya.

Lagi-lagi dia bersyukur, secara bertahap, teman-temannya mulai kembali ke kehidupan normal. Mereka pun sudah memiliki niat mengikuti program hapus tato dengan sinar laser.

"Belum ada sih yang sudah hapus tato, baru niat aja. Kadang-kadang kalau banyak peraturan juga, anak punk kalau terlalu dibikin sulit kan malas. Akhirnya entar aja, masih ada gantinya, alhamdulillah benar."

"Istilahnya kita sudah melukai diri. Entar kalau kita menghapus, kerasa panas, badan luka juga, makanya sampai sekarang gak menghapus," katanya.

Belum semua tato di tubuh Teguh berhasil dilenyapkan. Kalau sedang menyendiri, melihat tato-tato itu, dia suka merenung.

"Kalau iman lagi turun, lihat tato aja. Saya ini dulu bukan siapa-siapa," kata Teguh.

***

Kisah anak punk menyadari kekeliruannya dan mengikuti perintah agama juga terjadi pada Bima Abdul Sholeh. Dulu, Bima melukis pada kulit tubuhnya karena menganggap hal tersebut sebagai bagian dari cara meluapkan ekspresi jiwa.

"Tato itu ekspresi diri kita. Pemberontakan diri juga kita gambar di tato. Kita ekspresikan di badan,” kata dia.

Membuat tato pada tubuh, kata dia, mengandung unsur kesenian. Tato yang benar dibuat secara serius.

“Kan ada ilmu juga menato. Jadi gak sembarangan, jarum masuk ke kulit itu berapa mili, tintanya berapa mili," katanya.

Sampai akhirnya dia sadar menato tubuh dilarang oleh agama Islam. Momen yang membuat Bima sadar, antara lain ketika mendapatkan nasihat dari orangtua.

"Kata orangtua jangan tambah tato lagi, cukup. Sebelum tobat juga udah mulai berhenti tato karena udah gak dibolehin lagi dan gak boleh nambah-nambah lagi. Penginnya bikin orang tua seneng ajalah," kata Bima.

Selanjutnya dia memutuskan untuk menghapus tato – sebelum ngaji di Tasawuf Underground. Tapi, keputusan itu ternyata tidak mudah direalisasikan walau dia sudah siap mengambil resiko kesakitan. Biaya menghapus tato tidaklah murah. Walau begitu, dia tetap melakukannya secara bertahap.

Festival tato religius Thailand. REUTERS

"Sebelum masuk Tasawuf Underground, karena hapus tato kan mahal di rumah sakit. Jadi masih nunggu-nunggu, sabar aja. Kalau ada rezekinya, tergantung Allah aja yang ngasih.

Kalau Allah ngasih jalan untuk hapus tato, ya hapus. Udah lama ingin hapus tato," katanya.

"Sempat mikir takut cacat juga setelah tato dihapus. Biasanya kan orang lain pakai setrikaan tuh untuk hapusnya.”

Tujuan dia menghapus tato dari tubuh, selain mengikuti ajaran agama, juga agar jangan lagi dipandang negatif oleh masyarakat.

"Menghapus tato, saya pengin bersih, dan pengin jadi lebih baik lagi aja. Karena dari hati sendiri ingin hapus, karena masa depan kita masih panjang." []

Baca juga:

Tulisan 1: Anak-anak Punk Terima Kehadiran Allah Setelah Dulu Sering Maksiat

Tulisan 3: Guru Anak Punk: Jangan Ajarkan Persahabatan, Mereka Lebih Hebat

Tulisan 4: Pecandu Narkoba Insaf Jadi Asisten Pemimpin Pondok Pesantren

Tulisan 5: Kisah Tobat Pak Tile yang Nyawanya Hampir Melayang Gara-gara Telan 50 Obat Terlarang

Tulisan 6: Kisah Mantan Preman: Mudah-mudahan Sih Saya Mati dalam Keadaan Sadar, Sudah Insaf

Tulisan 7: Preman Insaf, Dulu Menghajar Orang, Kini Mengajari Ngaji

Tulisan 8: Perjalanan Remaja Alim Terjerumus ke Dunia Narkoba sampai Akhirnya Tobat

Tulisan 9: Interview Anton Medan: dari Dunia Hitam sampai Menemukan Jalan Pulang

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Jalan Pulang

Interview Anton Medan: dari Dunia Hitam sampai Menemukan Jalan Pulang

Image

News

Jalan Pulang

Perjalanan Remaja Alim Terjerumus ke Dunia Narkoba sampai Akhirnya Tobat

Image

News

Jalan Pulang

Preman Insaf, Dulu Menghajar Orang, Kini Mengajar Ngaji

Image

News

Jalan Pulang

Kisah Mantan Preman: Mudah-mudahan Sih Saya Mati dalam Keadaan Sadar, Sudah Insaf

Image

News

Jalan Pulang

Kisah Tobat Pak Tile yang Nyawanya Hampir Melayang Gara-gara Telan 50 Obat Terlarang

Image

News

Jalan Pulang

Pecandu Narkoba Insaf Jadi Asisten Pemimpin Pondok Pesantren

Image

News

Jalan Pulang

Guru Anak Punk: Jangan Ajarkan Persahabatan, Mereka Lebih Hebat

Image

News

Jalan Pulang

Anak-anak Punk Terima Kehadiran Allah Setelah Dulu Sering Maksiat

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Ini Pertimbangan Hakim Vonis Penyiram Air Keras Novel Baswedan 2 Tahun Bui

Penyiraman sudah direncanakan.

Image
News

Terdakwa Kasus Penyiraman Novel Sudah Divonis, Korban Sarang Burung Walet Minta Keadilan

Penyiram Novel Baswedan kan sudah diadili, lalu kapan para penembak dan penganiaya korban sarang burung walet diadili

Image
News

Terdakwa Kasus Penyiraman Novel Divonis 2 Tahun

Yang meringankan, terdakwa telah meminta maaf kepada keluarga korban dan masyarakat Indonesia serta belum pernah dihukum

Image
News

Ledakkan Kantor Penghubung antar-Korea, Adik Kim Jong-un Digugat Korea Selatan

Langkah ini kemungkinan akan membuat Korea Utara meradang

Image
News

Catatan DPR ke Pemerintah Terkait Penanganan Covid-19

Pemerintah perlu memperkuat dan mempertajam program perlindungan sosial.

Image
News
Wabah Corona

Kasus Positif COVID-19 di DIY Tembus 400

Image
News

Polisi Bekuk Pencuri Mobil Spesialis Parkiran Rumah Sakit di DIY dan Jateng

Image
News
Wabah Corona

Hadapi Corona, Pemerintah Diminta Perkuat Pertahanan Biologi

"Banyak pihak menyatakan bahwa Virus Corona adalah senjata biologis yang sengaja diciptakan pihak tertentu"

Image
News

Copot Pembuat Surat Jalan Djoko Tjandra, The Jokowi Center: Kapolri Tepati Janji

Pak Kapolri telah menepati janji akan sikat siapa saja yang bekerjasama dengan para koruptor.

Image
News

Pengadilan Banding Putuskan Mantan ISIS Shamima Begum Boleh Pulang ke Inggris

Pengacara Begum, Daniel Furner, mengeluh kliennya tak pernah punya kesempatan yang adil untuk membeberkan cerita dari sisinya

terpopuler

  1. 5 Gaya Raffi Ahmad saat Penuhi Undangan ke Istana Negara, Sepatunya Bikin Salah Fokus

  2. Ilmuwan Belanda Sebut Antibodi Virus Corona Bisa Bunuh Pasien

  3. 5 Tampang Sangar Sergio Ramos Seusai Lockdown, Preman Apa Atlet Nih?

  4. Ferdinand Dinilai Belokkan Isu Gugatan ke Telkomsel, Pengacara Denny Siregar Akan Ambil Langkah Hukum

  5. Milan Tekan Napoli dalam Perebutan Tiket ke Eropa

  6. Pasang Muka Tembok hingga Tak Mudah Tersinggung, 5 Zodiak ini Paling Anti Baper

  7. Miliki Ratusan Tas Hermes, Ini 5 Fakta Menarik Uci Flowdea, Pengusaha Kayu Asal Surabaya

  8. Gerindra: Tangkap Teroris Gampang, Djoko Tjandra Kok Susah?

  9. Pernah Legal di Tanah Air, Judi Sukses Gelontorkan Cuan untuk Ibu Kota!

  10. Kabar 12 Zodiak 16 Juli 2020, Ada yang Ketiban Kesuksesan?

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Mahfut Hanafi

Penaklukan Hagia Sophia, Strategi Politik atau Kebangkitan Islam?

Image
Zamaahsari A. Ramzah

Mendongkrak Partisipasi di Tengah Covid-19

Image
Erizky Bagus Zuhair

Konotasi 'Menjemput Rejeki' dan Heboh Kasus Hana Hanifah

Image
Afriadi, S.Fil.I., M.IKom

Asmara, Maut dan Kehendak

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Restrukturisasi, Babak Baru Pertamina Melangkah ke Kancah Dunia

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Sosok

Image
News

Fotonya Terpajang di Belakang Truk, AHY: Semoga Tak Mengganggu Konsentrasi Pengendara di Belakangnya

Image
News

7 Potret Keren Ganjar Pranowo dengan Kaos Lawan COVID-19

Image
Ekonomi

Miliki Ratusan Tas Hermes, Ini 5 Fakta Menarik Uci Flowdea, Pengusaha Kayu Asal Surabaya