image
Login / Sign Up

Berlebaran hingga Kantong Kempes Tak Mengapa, Asal Hati Senang

Wijayanti

Momen Istimewa

Image

Pengunjung saat berbelanja pakaian di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Minggu (26/5/2019). Jelang hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah, sejumlah warga mulai memadati pasar Tanah Abang untuk membeli pakaian untuk dijual kembali atau digunakan. | AKURAT.CO/Endra Prakoso

AKURAT.CO Edisi Ramadan ketiga kali ini, kami hadirkan cerita-cerita terpopuler atau yang paling banyak dibicarakan masyarakat Indonesia.  Mulai dari cerita tentang belanja, zakat, mudik, buka puasa bersama, tunjangan hari raya. Masing-masing cerita memberikan pesan kepada kita semua tentang rasa syukur, saling berbagi, dan memperkokoh tali persaudaraan yang mungkin selama ini kendor.

Pesan cerita ini rasanya pas dengan situasi bangsa sekarang. Rasa persaudaraan terkoyak gara-gara kepentingan politik praktis, kubu A dan kubu B. Semoga di hari Ramadan ini menjadi momentum untuk mempererat kembali tali silaturahmi. Di akhir cerita, dihadirkan interview khusus tokoh agama untuk memaknai seluruh rangkaian cerita. Semoga saja cerita-cerita ini memberikan manfaat kepada pembaca.

* Seberapapun uang hasil dagang setiap harinya, selalu Sri Purwani sisihkan untuk ditabung. Nanti tabungannya dibuka menjelang lebaran untuk belanja
* Bagi Surati, hari lebaran merupakan penantian panjang. Itu sebabnya, patut dirayakan. Dia punya ungkapan, merayakan lebaran hingga kantong kempes tidak mengapa, asalkan hati tetap senang.
* Makna belanja lebaran bagi orangtua sebenarnya bukan cuma kegiatan membelanjakan uang, tetapi lebih jauh dari itu, untuk membuat anak-anak maupun orang lain bersuka cita. Itu sebabnya, mereka tak segan membelanjakan uang lebih banyak.

baca juga:

***

Lebaran sebentar lagi tiba. Momen Istimewa ini biasanya mengubah pola perilaku masyarakat dalam hal membelanjakan uang. Setiap jelang Lebaran sudah pasti akan terjadi pembengkakan anggaran belanja.

Entah sejak kapan dan siapa yang memulai, menjelang hari raya Idul Fitri pusat-pusat perbelanjaan modern maupun tradisional pasti penuh orang datang untuk belanja.

Pasar Tanah Abang. AKURAT.CO/Endra Prakoso

Saking tingginya tingkat konsumsi, membuat angka inflasi baik nasional maupun daerah melonjak. Tak heran jika lembaga negara, Bank Indonesia melalui tim pengendali inflasi di daerah berupaya menekannya. Untuk menekan tingkat inflasi, lembaga negara sampai menggandeng ulama untuk mengajak umat bijak berbelanja.

Sebagian anggota masyarakat seolah tak peduli. Mereka tak keberatan mengeluarkan uang lebih untuk berbelanja. Kalaupun ada keluhan, itu lebih menyasar pada harga kebutuhan pokok yang biasanya juga ikut melonjak mengikuti hukum permintaan dan penawaran. Buat sebagian warga, hari raya ya harus dirayakan. Tak apalah uang amblas, yang penting gembira menyambut kemenangan.

Soal itu, saya meminta cerita pengalaman beberapa warga berekonomi level bawah dan menengah mengenai bagaimana sebenarnya cara mereka memenuhi kebutuhan lebaran.

Salah satu warga yang saya temui bernama Sri Purwani. Dia warga Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Cara pertama yang dia lakukan ialah menabung. Menyisihkan sebagian pendapatan bulanan dari berjualan jus di kawasan Manahan. Dia tidak mau mengikuti cara beberapa warga yang sampai harus menjual harta atau mencari pinjaman.

Sri Purwani, penjual jus. AKURAT.CO/Wijayanti

“Seberapapun uang hasil dagang setiap harinya, selalu saya sisihkan untuk ditabung. Nanti tabungannya dibuka menjelang lebaran untuk belanja lebaran,” ujarnya.

Cara itu dia lakukan semenjak suaminya terkena serangan stroke.

Kalau menengok ke belakang, memang kehidupan keluarga Sri amat berat. Jauh sebelum suami kena stroke, dia bekerja sebagai supir pengantar sembako di Jawa Timur. Pekerjaan ini dilakoninya menjelang lebaran. Menjelang lebaran, harga kebutuhan pokok menjadi mahal, sementara penghasilan dari berjualan belum seberapa. Jangankan untuk biaya berlebaran, penghasilan dari berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kembang kempis.

Sri Purwani, penjual jus. AKURAT.CO/Wijayanti

“Saat itu rasanya sedih banget mbak. Nggak cuma uang yang pas-pasan, saat lebaran suami malah tidak ada di rumah. Padahal yang lainnya saja yang merantau pada mudik.

Apalagi alasan suami jualan itu kan biar bisa dekat dengan keluarga, apalagi saat itu saya habis lahiran. Sejak pertama pacaran sampai punya anak satu, suami kan memang kerjanya sopir antar barang jarang pulang. Tapi yang mau bagaimana lagi demi anak-anak bisa berlebaran. Mau tidak mau ya dijalani saja, meski pas itu ya nggrantes,” ujarnya.

Suaminya jatuh sakit dan tak bisa lagi beraktivitas seperti orang pada umumnya pada anak pertama masih duduk di bangku kuliah semester dua, sedangkan anak kedua sekolah taman kanak-kanak. Sri yang semula hanya membantu suami berjualan nasi di warung jus, praktik mengambil alih peran suami, menjadi tulang punggung keluarga.

Dia berjuang sendiri mencari nafkah untuk membiaya pendidikan anak serta pengobatan suami yang tidak tercover BPJS Kesehatan.

Sri Purwani, penjual jus. AKURAT.CO/Wijayanti

Cobaan berat berikutnya datang ketika suami kena serangan stroke untuk yang keduakalinya. Walau kondisinya semakin sulit, perempuan berusia 51 tahun itu tetap berusaha tegar, terutama kala lebaran tiba. Dia tidak ingin, terutama anak-anaknya, tidak menikmati lebaran. Maka, dia bekerja keras mencari uang agar bisa membeli beberapa hal yang menjadi tradisi lebaran agar anak-anak tetap bersuka cita.

“Yang penting baju baru buat anak-anak mbak. Apalagi saat itu, anak yang kecil kan masih TK, kalau tidak pakai baju baru saat lebaran kasihan. Saat itu, karena uang buat beli pas-pasan saya belinya baju yang murah, beli di toko pakaian biasa, nggak bermerek. Yang penting anak senang dapat baju baru. Untungnya anak saya yang besar juga paham dan tidak keberatan tidak dibelikan baju baru seperti adiknya,” katanya.

Selain baju baru beserta alas kaki, entah itu sepatu atau sandal, Sri juga membeli beberapa macam kue untuk ditaruh di meja tamu. Dia juga memasak masakan khas lebaran, seperti lontong dan opor serta sambal goreng krecek.

“Tapi pas suami saya ambruk itu, saya nggak masak besar. Cuma masak buat makan biasa saja. Pokoknya yang penting si kecil dapat baju baru. Soalnya, pas itu saya masih harus bayar utang buat biaya suami selama di rawat di rumah sakit,” kata dia.

Sri Purwani, penjual jus. AKURAT.CO/Wijayanti

Sri menjalani peristiwa demi peristiwa itu dengan ikhlas. Dia selalu menerapkan prinsip belanja secukupnya untuk lebaran. Secukupnya dalam artian menyesuaikan pengeluaran dengan ketersediaan uang.

“Yang wajib ya itu, baju buat anak.”

“Ya gimana ya mbak. Kalau ingat perjalanan hidup saya itu sudah seperti cerita sinetron. Banyak dramanya, banyak air matanya. Tapi alhamdulillah selalu ada jalan, ada saja rezeki. Hingga bisa sampai seperti saat ini.”

Menjelang lebaran tahun 2019, perekonomian Sri lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Tapi mulai tahun ini sudah agak enak. Anak saya yang gede kan sudah dapat THR full tahun ini. Kemarin juga sudah dikasih uang buat belanja lebaran. Uang yang sudah saya kumpulkan setahun ini katanya buat tabungan saja, tidak boleh buat belanja. Ya alhamdulillah mbak,” tuturnya.

Sri Purwani, penjual jus. AKURAT.CO/Wijayanti

Walau tetap pas-pasan, dia bersyukur karena putrinya sudah mulai bisa membantu menyangga keuangan keluarga. Anak dari Sri seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta di Kota Solo.

Lebaran tahun ini, dia berencana untuk mudik ke rumah mertua. Dia sudah beberapa tahun terakhir tidak bisa pergi ke sana karena uang tak cukup untuk biaya perjalanan mudik. Sri sudah bertekad untuk menemui mertua tanpa tangan kosong. Dia sudah menyiapkan uang lebaran untuk keponakan-keponakan di sana.

“Pengeluaran jelas lebih banyak, tapi tidak apa toh setahun sekali dan mumpung ada anggaran untuk pulang. Karena tahun ini kan anak ikut bantu untuk memenuhi kebutuhan lebaran,” kata dia.

***

Bagi Surati, hari lebaran merupakan penantian panjang. Itu sebabnya, patut dirayakan. Dia punya ungkapan, merayakan lebaran hingga kantong kempes tidak mengapa, asalkan hati tetap senang. Surati seorang penjual ayam geprek di Manahan.

Surati tak punya budget khusus untuk pengeluaran keuangan selama masa lebaran. Kebutuhan belanja lebaran, biasanya memakai uang bulanan seperti biasa.

Surati mengatakan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan lebaran biasanya mencapai tiga kali lipat dari bulan biasa. Namun entah kenapa, selama bertahun-tahun dia merasakan selalu ada rezeki lebih menjelang Idul Fitri.

Surati, penjual ayam geprek di Manahan. AKURAT.CO/Wijayanti

“Kalau untuk belanja lebaran minimal harus sedia Rp3 juta mbak. Tapi ya nggak tahu ada saja uangnya. Padahal kalau dibandingkan dengan bulanan biasa, jelas pengeluarannya membengkak. Tapi ya itu, selalu bisa ketutup terus bulan berikutnya ada saja rejeki yang didapat. Jadi ya tidak pernah sampai harus cari pinjaman atau gadai jual barang untuk lebaran atau untuk tombok setelah lebaran,” kata ibu dua orang anak asal Boyolali.

Uang sebanyak itu biasanya dibelanjakan untuk keperluan membeli baju dan sandal untuk anggota keluarga di rumah maupun hadiah buat keponakan. Selain itu, sebagian uang untuk membeli aneka kue untuk dihidangkan kepada tamu yang biasanya datang ke rumah. Maklum, jumlah anggota keluarga besarnya tergolong banyak. Sekali ngumpul, bisa memenuhi rumah.

“Selain itu sembako untuk masak besar. Juga teh dan gula serta makanan kering untuk buah tangan adik-adiknya bapak,” ujarnya.

Surati, penjual ayam geprek di Manahan. AKURAT.CO/Wijayanti

Sebenarnya Surati bukan termasuk orang yang kalap ketika berbelanja. Semua kebutuhan pokok lebaran biasanya dia daftar terlebih dahulu agar dapat disesuaikan dengan anggaran yang ada.

“Tidak pernah memaksakan harus yang mahal. Nggak, yang penting barang-barang kebutuhan lebaran ada. Saya juga tidak merasa berat, meski harus mengeluarkan uang lebih untuk berlebaran. Karena apa ya, selain tradisi, tapi buat saya ya nggak papa boros wong ya cuma sekali setahun. Namanya juga hari kemenangan, hari spesial, tidak ada salahnya bersenang-senang. Wong ya dilakukan dengan hati senang, jadinya tidak berat,” kata perempuan kelahiran 26 April 1978.

***

Ketika Ramadan sering diidentikkan dengan bulan untuk membelanjakan banyak uang. Rasanya, itu tidak berlaku bagi freelancer media asing bernama Naning Rahayu. Dia tak menyiapkan budget khusus untuk kebutuhan lebaran. Anggarannya tetap sama seperti kebutuhan pada bulan-bulan sebelumnya.

“Ramadan soal anggaran tidak ada yang khusus, sama seperti bulan-bulan umumnya. Karena di aku itu, setiap bulan selalu ada yang namanya uang jalan-jalan atau hiburan. Seperti buat berenang anak-anak atau menginap di hotel kalau wisata ke tempat yang agak jauh. Nah, buat ramadan dan lebaran ini, uangnya dipakai buat keperluan selama puasa sama hari raya. Mulai dari buat buka bersama, THR yang momong anak-anak sampai kebutuhan lebaran,” katanya ketika saya temui hari itu.

Dia menyebutkan kebutuhan lebaran, misalnya membeli baju baru untuk kedua putrinya serta baju untuk anak-anak babysitter. Selain itu, juga dana tunjangan hari raya untuk babysitter, belanja kue dan sembako untuk hantaran keluarga besar.

Untuk memenuhi semua biaya tersebut, sebagian besar diambil dari hasil arisan keluarga.

Pasar Tanah Abang. AKURAT.CO/Endra Prakoso

“Tapi biasanya pakai uang arisan keluarga. Kalau arisan keluarga itukan sistemnya kayak nabung gitu kan. Nah biasanya uangnya dibagi pas mau puasa. Terus juga nabung lewat kumpulan ibu-ibu tiap bulannya, istilahnya lebon. Nanti pas mau lebaran dibagi. Dari dua itu sudah nutup semua kebutuhan hantaran lebaran,” kata dia.

Ngomong-ngomong soal pengalaman berbelanja, ada suatu peristiwa yang sampai sekarang tak pernah bisa dilupakannya. Enam tahun yang lalu, ketika masih hamil muda, dia pernah pingsan ketika sedang antre pembayaran barang belanjaan. Dia semaput karena kecapean, ditambah kondisi ketika itu HB rendah -- selalu di bawah 10 dan tekanan darah juga hanya 90-80.

“Pingsan aku pas itu. Awalnya ya biasa, belanja ambil barang pakai troli terus antre bayar. Antreannya puanjang banget dan banyak-banyak belanjaannya. Sampai ada satu orang sampai bertroli-troli. Terus rasanya itu kepala nggliyer (pusing), pandangan gelap, keluar keringat dingin terus ambruk ke belakang. Untungnya ditahan ibu-ibu yang lagi antre di belakangku. Terus tak berapa lama suami datang dan gantiin aku antre di kasir,” kata dia.

Sejak itu, Naning tak mau lagi belanja untuk kebutuhan hantaran kerabat di supermarket. Dia memilih yang lebih praktis yaitu memesan barang lewat salah satu tante yang punya usaha toko.

“Pas itu kan cerita-cerita sama tante, terus dibilangi kenapa nggak pesan sama dia saja. Nanti barang-barangnya dianter ke rumah. Dipikir-pikir lebih praktis seperti itu, ya sudah mulai tahun berikutnya pilih pesan di tempat tante. Biasanya seminggu sebelum lebaran, nanti barang-barang seperti roti kering, sirup, sama sembako-sembako gitu,” kata dia. []

Baca juga:

Tulisan 1: Berlebaran hingga Kantong Kempes Tak Mengapa, Asal Hati Senang

Tulisan 2: Biasanya Hati Sering Kemrungsung, Setelah Rajin Zakat Bisa Kalem

Tulisan 3: Mudik Memang Pantas Diperjuangkan

Tulisan 4: Cerita Orang-orang yang Merindukan Buka Puasa Bersama

Tulisan 5: THR, Tiga Huruf yang Ditunggu-tunggu

Tulisan 6: Interview Sesepuh FPI: Orang Pelit, Sombong, Nggak Percaya Pahala Dimudahkan Menuju Jalan yang Susah

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Momen Istimewa

Interview Sesepuh FPI: Orang Pelit, Sombong, Nggak Percaya Pahala Dimudahkan Menuju Jalan yang Susah

Image

News

Momen Istimewa

THR, Tiga Huruf yang Selalu Ditunggu-tunggu

Image

News

Momen Istimewa

Cerita Orang-orang yang Merindukan Buka Puasa Bersama

Image

News

Momen Istimewa

Mudik Memang Pantas Diperjuangkan

Image

News

Momen Istimewa

Biasanya Hati Sering Kemrungsung, Setelah Rajin Zakat Bisa Kalem

komentar

Image

1 komentar

Image
Yudi Pranata

berlebaran hingga kantong kempes tak mengapa, asal hati senang .. seketika jiwa misqueen-ku moshing

terkini

Image
News

Ini Pertimbangan Hakim Vonis Penyiram Air Keras Novel Baswedan 2 Tahun Bui

Penyiraman sudah direncanakan.

Image
News

Terdakwa Kasus Penyiraman Novel Sudah Divonis, Korban Sarang Burung Walet Minta Keadilan

Penyiram Novel Baswedan kan sudah diadili, lalu kapan para penembak dan penganiaya korban sarang burung walet diadili

Image
News

Terdakwa Kasus Penyiraman Novel Divonis 2 Tahun

Yang meringankan, terdakwa telah meminta maaf kepada keluarga korban dan masyarakat Indonesia serta belum pernah dihukum

Image
News

Ledakkan Kantor Penghubung antar-Korea, Adik Kim Jong-un Digugat Korea Selatan

Langkah ini kemungkinan akan membuat Korea Utara meradang

Image
News

Catatan DPR ke Pemerintah Terkait Penanganan Covid-19

Pemerintah perlu memperkuat dan mempertajam program perlindungan sosial.

Image
News
Wabah Corona

Kasus Positif COVID-19 di DIY Tembus 400

Image
News

Polisi Bekuk Pencuri Mobil Spesialis Parkiran Rumah Sakit di DIY dan Jateng

Image
News
Wabah Corona

Hadapi Corona, Pemerintah Diminta Perkuat Pertahanan Biologi

"Banyak pihak menyatakan bahwa Virus Corona adalah senjata biologis yang sengaja diciptakan pihak tertentu"

Image
News

Copot Pembuat Surat Jalan Djoko Tjandra, The Jokowi Center: Kapolri Tepati Janji

Pak Kapolri telah menepati janji akan sikat siapa saja yang bekerjasama dengan para koruptor.

Image
News

Pengadilan Banding Putuskan Mantan ISIS Shamima Begum Boleh Pulang ke Inggris

Pengacara Begum, Daniel Furner, mengeluh kliennya tak pernah punya kesempatan yang adil untuk membeberkan cerita dari sisinya

terpopuler

  1. Viral Potret PNS Pakai Baju Korpri Gaya Gamis, Ini Aturan Seragam yang Benar

  2. 5 Potret Hana Hanifah Basah-basahan, Cantiknya Paripurna

  3. Arief Poyuono Minta Judi Dilegalkan untuk Dongkrak Perekonomian, Tengkuzul: Dia Ngerti Haram?

  4. Dicopot dari Kakorwas Bareskrim, IPW Curigai Brigjen Prasetyo Dikorbankan

  5. Viral Ribut Sekolah Online Bebani Orang Tua, Netizen: Anak Bukan Produk Investasi!

  6. 5 Potret Social Distancing Suporter Jepang Ini Keren, Indonesia Bisa Gak Ya?

  7. 5 Potret Keren Jersey Barcelona Musim Depan, Dibilang Mirip Klub Liga Inggris

  8. Kebayang Nggak Didatangi Debt Collector? Begini Cara Menghadapi dan Bikin Dia Ciut

  9. Terus Berupaya Ungkap Kematian Yodi Prabowo, Polisi Cocokkan Keterangan Saksi Dengan TKP

  10. Berpotensi Separah Flu Spanyol 1918, Pakar AS Prediksi COVID-19 Bisa Telan hingga 50 Juta Jiwa

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Mahfut Hanafi

Penaklukan Hagia Sophia, Strategi Politik atau Kebangkitan Islam?

Image
Zamaahsari A. Ramzah

Mendongkrak Partisipasi di Tengah Covid-19

Image
Erizky Bagus Zuhair

Konotasi 'Menjemput Rejeki' dan Heboh Kasus Hana Hanifah

Image
Afriadi, S.Fil.I., M.IKom

Asmara, Maut dan Kehendak

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Restrukturisasi, Babak Baru Pertamina Melangkah ke Kancah Dunia

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Sosok

Image
News

Fotonya Terpajang di Belakang Truk, AHY: Semoga Tak Mengganggu Konsentrasi Pengendara di Belakangnya

Image
News

7 Potret Keren Ganjar Pranowo dengan Kaos Lawan COVID-19

Image
Ekonomi

Miliki Ratusan Tas Hermes, Ini 5 Fakta Menarik Uci Flowdea, Pengusaha Kayu Asal Surabaya