image
Login / Sign Up

Kisah Keluarga Nurlela yang Hidup dari Sampah

Muh. Aidil

Kaum Marginal

Image

Pemulung barang bekas di Kota Makassar | AKURAT.CO/Muh. Aidil

AKURAT.CO, Untuk menyambut bulan suci Ramadan 2019, kami hadirkan cerita-cerita muslim yang inspiratif. Ceritanya bukan tentang orang-orang besar. Tapi ini tentang orang-orang kecil yang berjiwa besar. Mereka yang hidup pas-pasan, tetap tak pernah menyerah dan selalu bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah SWT. Kami himpun cerita dari berbagai daerah. Semoga saja cerita-cerita ini mendapatkan ruang tersendiri di hati para pembaca.

* Mereka memegang prinsip, besar kecilnya penghasilan itu tergantung dari ketekunan bekerja. Kalau tekun, hasilnya tentu banyak. Kalau malas, tentu hasilnya juga sedikit.
* Selama raga masih kuat, tak ada alasan untuk menyerah. Semua pekerjaan itu baik asalkan halal.
* Memulung barang bekas barangkali dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Tetapi sebenarnya, mereka ikut berkontribusi menyelamatkan lingkungan dari sampah plastik. Plastik dikumpulkan, dijual, lalu diolah kembali jadi barang berguna.
* Tinggal di dekat tempat pembuangan akhir sampah tak membuat anak-anak menyerah. Justru, keluarga Nurlela membuktikan, anak-anaknya tetap bisa bersemangat dalam menuntut ilmu.

***

baca juga:

Nurlela masih ngos-ngosan. Bulir-bulir keringat menetes dari wajahnya. Kulitnya hitam legam terbakar matahari. Jam 14.00 WIB itu, dia baru istirahat dari memulung barang bekas di tempat pembuangan akhir sampah, Jalan Antang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Saya menemui Nurlela yang tinggal di sekitar tempat pembuangan akhir sampah pada hari-hari terakhir jelang Ramadan 2019.

Pada waktu ditemui, dia terlihat begitu bersemangat. Dia penuh semangat, barangkali karena sedang menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Barangkali juga sebagai cara menyambut Lebaran yang sebentar lagi tiba.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Pada bulan puasa tahun ini, Nurlela akan memulai memulung barang bekas lebih awal dari hari biasa. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, daya tahan tubuh ketika melakukan pekerjaan seperti ini mencapai puncaknya pukul sepuluh pagi.

"Jadi biasa sudah sahur kan kita turun, jam 9 atau jam 10 pulang karena kalau panas matahari tidak kuat kerja lagi," kata Nurlela.

Bagi dia, menahan lapar dan dahaga bukan alasan utama untuk tak menjalankan ibadah. Selama raga mau diajak bekerja, dia akan senang hati menjalankan kewajiban dari Allah, juga kewajiban sebagai orangtua untuk menafkahi anak.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Cara kerja di bidang yang ditekuni Nurlela sangat khusus. Jenis pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan konsentrasi. Soal jam kerjanya, memang tidak seperti orang kantoran yang diatur dengan ketat oleh atasan. Untuk pekerjaan Nurlela, dia sendiri yang menentukan. Tetapi, jangan salah, orang-orang seperti Nurlela tetap menjalankan sikap-sikap kedisiplinan.

Tetapi sebelum jauh membahas tentang pekerjaan memulung barang bekas, Nurlela bercerita dengan panjang lebar mengenai perjalanan hidupnya hingga sampai ke tempat pembuangan sampah terbesar di Kota Makassar.

***

Nurlela berusia 30 tahun. Siang itu, dia mengenakan kaus putih dan bercelana panjang warna hitam. Untuk melindungi kepala dari sengatan matahari, dia taruh kain berwarna biru.

Pada waktu saya temui, dia tak sendiri. Dia bersama ibunya, juga pemulung-pemulung lain yang sedang bekerja. Pandangan sebagian orang di sana tersita sebentar ke arah gerombolan sapi yang sedang lewat. Tapi setelah itu, mereka kembali bekerja.

Pemulung. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Nurlela dan ibunya tidak lama kemudian berteduh di bawah pohon. Di situlah saya bincang-bincang dengan mereka.

"Dari tahun 2007 saya datang ke sini memulung. Saya sudah tinggal di sini sudah 10 tahun jadi pemulung," kata Nurlela usai meneguk air minum yang tadi dibawanya.

Nurlela aslinya dari Kabupaten Jeneponto – ibu kotanya Bontosunggu. Daerah ini terletak sekitar 91 kilometer dari Kota Makassar. Topografi Jeneponto, di wilayah utara merupakan dataran tinggi yang merupakan lereng pegunungan Gunung Baturape - Gunung Lompobattang. Sementara wilayah tengah merupakan pesisir dan dataran rendah. Kabupaten tersebut mempunyai pelabuhan besar yang berada di Desa Bungeng.

Nurlela bersama suaminya, Bahar (40), akhirnya memutuskan untuk merantau ke kota yang pada 1971 hingga 1999 bernama Ujung Pandang. Pasangan suami istri itu merantau karena tuntutan ekonomi. Mereka berpikir realistis, penghasilan dari pertanian di kampung dirasa sudah tidak cukup lagi untuk memenuhi tuntutan hidup.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

"Kampung saya itu di Jeneponto dulu kerja cuma tanam jagung, saya kemari naik mobil. Kalau pulang itu sewanya Rp50 ribu, tapi belum sampai di rumah baru di tengah-tengah jalan itu," kata Nurlela.

Waktu itu, mereka membawa anak, Feri. Sekarang, Feri sudah berusia 15 tahun. Pekerjaan yang pertama-tama dilakoni Bahar di Ibu Kota Sulawesi Selatan adalah menarik becak. Upah setiap hari yang didapat Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Itu pun sebenarnya tergantung dari penghasilan yang dia peroleh. Kalau sedang benar-benar sepi, dia pulang dengan tangan kosong. Tapi, mereka harus bertahan hidup.

Sampai pada suatu hari, di tengah kebimbangan, Bahar dan Nurlela teringat nasihat ibunda. Jadi pemulung. Ibu yang sudah lebih dulu menjadi pemulung, ketika itu meyakinkan kepada mereka bahwa pekerjaan mengais barang bekas bukan pekerjaan haram, dan yang paling penting lagi penghasilannya lumayan.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

"Karena dia bilang mamaku lebih baik kita kerja jadi pemulung di sini, ya di sini sudah kita. Kalau becak kan kadang dapat, kadang tidak. Jadi lebih baik di sini," kata dia.

"Susah kalau di kampung karena kadang-kadang saja dapat, jadi lebih baik jadi pemulung di sini biar sedikit penghasilan. Kalau kita pinjam di kampung pinjam Rp1 juta mesti Rp2 juta dikasih kembalikan itu," Nurlela menambahkan.

Cerita ibu dari Nurlela itu benar. Negeri ini punya masalah serius dengan banyaknya sampah kering. Berbagai kebijakan pemerintah, misalnya menerapkan biaya kantung plastik di supermarket-supermarket, rasanya tidak mempan untuk mengatasinya. Perilaku sebagian besar masyarakat menggunakan plastik susah diubah. Alhasil, banyak sampah plastik di tempat-tempat sampah.

Pemulung merupakan bagian dari solusi untuk menangani sampah, terutama yang berbahan dasar plastik. Sampah mereka kumpulkan, lalu kemudian dibeli pengusaha untuk diproses lagi.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Sampah memang telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Tak hanya bagi pemulung seperti Bahar, Nurlela, ibu mereka. Daeng Tamu (57) juga merasakan faedah dari sistem persampahan. Daeng Tamu seorang supir truk pengangkut sampah. Dia kelahiran Jeneponto, sama seperti Nurlela dan Bahar.

Tak mudah memulai menjadi pemulung ataupun supir truk sampah, apalagi yang tinggalnya juga di sekitar tempat pembuangan sampah. Saban hari, harus bertemu dan mencium aroma tak sedap saban hari. Bekerja di antara ulat-ulat kecil. Belum lagi cuaca panas dan hujan.

"Dulu kalau sampah, baru diambil satu sampai dua minggu sekali. Sekarang hampir setiap hari siang dan malam karena banyak sampah cepat bau seperti usus ayam, kalau sampah plastik tidak terlalu cepat bau tidak sama kalau bangkai hewan," kata Daeng Tamu yang saya temui siang itu.

Pemulung barang bekas. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Tetapi lama kelamaan Bahar dan Nurlela mampu melewati fase awal yang amat penuh cobaan. Mereka toh akhirnya bisa bersahabat dengan keadaan. Bau busuk, ulat, panas, hujan, bukan lagi persoalan besar. Segalanya memang harus dirasakan sebagai bagian dari proses kehidupan.

"Kalau kerja begini memang tidak enak dirasa, tapi yang penting kita bisa dapat uang untuk makan. Jadi biar orang bilang busuk atau apa, biar saja dari pada tidak makan," kata Nurlela.

"Pertama kerja itu busuk sekali saya rasa, selalu saya muntah-muntah. Tapi lama kelamaan jadi baik dirasa.”

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Dia teringat fase awal setiap kali mengumpulkan barang bekas, wadah yang dibawa selalu kantong plastik yang baru. Lama-lama, dia merasa ada sesuatu yang tidak lazim setelah mengamati teman-teman sesama pemulung. Dari situ kemudian dia belajar hal baru lagi.

“Awalnya itu saya tidak tahu cara memulung, saya memulung pakai kantongan plastik baru, lama-kelamaan saya lihat orang pakai karung semua," kata dia.

***

Hari-hari di luar bulan puasa, Nurlela dan suaminya mulai mengais plastik, kaleng, besi atau kardus bekas pakai jam 06.00 WIB. Biasanya, mereka baru pulang jam 16.00 WITA.

Kini, mereka merasa sudah mantap menekuni pekerjaan ini. Walau penghasilan terbilang rendah, mereka bisa bersyukur. Tapi sebenarnya, penghasilan tergantung pada tingkat keuletan di lapangan.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Nurlela teringat ketika masih berkebun jagung di Jenoponto. Setelah selesai menanam, tahap berikutnya menunggu panen tiba. Masa panen biasanya terjadi tiga sampai empat bulan setelah masa tanam.

"Kalau di sini, yang penting kita mau bekerja sudah bisa dapat sedikit biar Rp10 ribu sampai Rp20 ribu. Itu kita dapat hari-hari. Kalau biasa kita turun malam kerja begitu jam enam. Kita biasa sampai jam tujuh lagi baru datang di rumah, biasa dapat Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Tapi sampai pagi kita cari," katanya.

"Karena kalau jadi pemulung kita dapat hari-hari uang biar pun sedikit, kalau di kampung tidak ada sama sekali penghasilan. Bisa dapat tapi tiga sampai empat bulan baru dapat dari hasil jagung," Nurlela menambahkan.

Sepuluh tahun rasanya berlalu begitu cepat. Waktu berangkat merantau dulu, dia baru punya seorang anak. Sekarang, jumlah anaknya sudah tambah jadi lima orang. Feri, Jumaria (12), Baim (9), Ana (8), dan Kahar (3). Alhamdulillah, walau Jumaria, Baim, Ana, dan Kahar dilahirkan di dekat tempat pembuangan sampah, mereka sehat-sehat semua.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Tempat tinggal mereka di dekat tempat pembuangan akhir sampah amat sederhana. Bangunannya mayoritas berbahan kayu. Untuk bisa dibilang sebagai tempat tinggal yang memenuhi syarat sehat, rasanya jauh sekali. Di sekitar rumah terdapat sampah bertebaran dimana-mana. Dari sana, aroma tak sedap yang bersumber dari tempat pembunangan akhir sampah tajam sekali.

"Sewa rumah Rp150 ribu perbulan, tapi itu diluar dari pembayaran listrik dan air. Kalau dihitung semua itu lebih Rp300 ribu per-bulan," ujarnya.
Mereka tetap berusaha hidup apa adanya dengan segala keterbatasan.

Nurlela seperti pada umumnya orangtua di Indonesia, selalu bangga menceritakan prestasi dan keuletan anak-anak. Jumaria dan Ana kini sudah duduk di bangku sekolah dasar, Jalan Borong Jambu 1. 

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

"Yang sekolah ada, Ria kelas 3 dan Ana kelas 2 SD. Kalau yang rajin ke sekolah itu Ana," kata dia. 

"Jarak sekolah dekat, biasa saya suruh tetangga bonceng pergi sekolah. Tapi kadang juga jalan sendiri. Sekolahnya dekat dari Pasar Jongko," Nurlela menambahkan.

Walau masih bocah, Jumaria dan Ana senang membantu kedua orangtua mereka mencari nafkah. Tentu saja itu dilakukan di luar jam sekolah. Kesadaran dan keterampilan memulung mereka dapatkan dari belajar pada lingkungan sekitar.

"Iya dia ikut juga memulung. Tapi bukan untuk uang jajan karena untuk tambahan beli beras sama ikan. Porsi kerjanya tidak sama dengan kami karena mereka masih anak-anak jadi kebanyakan main di tempat sampah," kata dia.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Jiwa mayarakat Turatea yang dikenal tidak mudah menyerah – ketika itu mengusir penjajah kolonial – rupanya tertanam hingga anak-anak pasangan Bahar dan Nurlela.

Tinggal di lingkungan kumuh bukan halangan bagi mereka untuk terus belajar. Anak-anak Nurlela yang bersekolah, rajin belajarnya. Nilai sekolah Ana tidak pernah anjlok.

Ana menyukai hal-hal baru. Dia senang sekali kalau ada mahasiswa yang sedang menyelenggarakan kegiatan belajar di masjid yang terletak di sekitar tempat pembuangan akhir sampah. Ana sering mendapatkan hadiah dari mahasiswa, seperti buku, pulpen, dan pensil, karena sikapnya sebagai pembelajar yang baik.

"Biasa kalau di sekolah dia tidak pernah dapat 9 atau 7. Paling rendah itu 90 sama 100. Masih kecil baru nilainya itu tinggi," katanya.

"Biasa kalau ditanya Ana, dia bilang cita-citanya mau jadi dokter. Biar tidak ada pembagian dari mahasiswa dia juga pergi belajar," Nurlela menambahkan.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

Lain lagi cerita anak pertama Nurlela. Feri tak lulus sekolah. Dia terpaksa berhenti di bangku kelas tiga sekolah menegah pertama gara-gara sering dibully sebagai orang miskin oleh sejumlah anak. Ujungnya, dia sering tak dapat mengendalikan diri. Dia berkelahi. Sebenarnya yang terjadi dengan Feri amat dilematis. Dia bersikap keras lantaran merasa ingin menjaga harga diri.

"Kakaknya memang putus sekolah bukan karena biaya, dia tidak suka diejek orang miskin teman-teman sekolahnya. Padahal, sudah diurus masuk sekolah tanpa biaya, tapi tidak mau memang sekolah lagi," kata Nurlela.

Nurlela menghela nafas.

Kebutuhan hidup terkadang di luar prediksi. Bagi kalangan berekonomi mapan, barangkali bisa mengambil tabungan untuk mencukupi kebutuhan mendadak. Tetapi, bagi orang seperti Nurlela, jalan satu-satunya kalau sedang kepepet terpaksa meminjam uang koperasi atau meminjam uang dari tetangga.

"Kalau dihitung tidak cukup, karena saya biasa harus pinjam uang koperasi. Biasa juga pinjam dari tetangga untuk menutupi uang sekolah sama makan," kata dia.
Hidup tanpa utang tentu saja impian semua orang. Tapi Nurlela tetap berusaha menjaga kepercayaan orang untuk mengembalikan tepat waktu.

Bersyukur atas semua proses dalam hidup merupakan hal yang amat baik. Begitu juga dengan Nurlela dan suaminya, prinsip selalu bersyukur -- walau tahu hidup dalam kekurangan secara materi – tetap dipegang.

"Sudah senanglah tinggal di sini karena masih bisa makan. Biasa ada orang yang lebih parah tidak ada sama sekali," kata dia.

***

Sesekali, sambil bercerita, mata Nurlela memandang ke arah gunungan sampah, tempat para pemulung lain sedang bekerja. Dia sudah banyak belajar tentang kehidupan di gunungan sampah itu.

Menurut dia rezeki tidak datang sendiri. Rezeki mesti diusahakan dengan cara bekerja secara halal. Kalau ingin menambah penghasilan, ya harus bekerja mencari sampah kering lebih giat. Keluarganya sudah sering mempraktikkan prinsip seperti itu.

"Kalau kita turun banyak biasa dapat Rp80 sampai hampir Rp100 ribu. Itu kalau banyak kita pergi memulung sekitar empat orang," kata dia.

Sampah kering yang telah dikumpulkan para pemulung, kemudian dinaikkan ke atas truk milik pengepul besar. Sampah itu selanjutnya dibawa ke tempat daur ulang untuk diproses menjadi barang yang berguna lagi.

Pemulung barang bekas di Kota Makassar. AKURAT.CO/Muh. Aidil

"Iya ada memang langganan yang sering masuk ambil ini sampah. Kalau ada uangnya kadang dia bayar langsung, tapi kalau tidak dia utang dulu," ujarnya.

Sekarang-sekarang ini, Nurlela dan suaminya sedang giat-giatnya mengumpulkan uang. Maklum, sebentar lagi Lebaran tiba. Mereka berencana menunda mudik ke kampung

halaman. Meski tak mudik, Nurlela dan suami serta anak-anak tetap ingin merayakan di perantauan.

Mereka sedang menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk dibelikan sesuatu yang akan membahagiakan anak-anak.

"Karena biasa kalau ada temannya dia liat pake baju baru pasti mau juga. Jadi itu lagi yang bikin susah, kita pikir antara belikan baju atau makan hari-hari," kata dia.

Dalam rangka mengumpulkan uang untuk kebutuhan lebaran, prinsip terpenting bagi mereka adalah pengendalian diri. Selama bulan puasa, dia menghemat pengeluaran untuk kebutuhan berbuka puasa dan sahur.

"Es buah saja saya beli yang harganya Rp5 ribu karena tidak ada dana," katanya.

"Biasanya ada bantuan masuk seperti pembagian nasi kalau bulan puasa. Kalau uang yang dikasih hanya anak-anak kecil saja," Nurlela menambahkan.

Nurlela berkata anak-anak tentu paham kalau tahun ini tidak bisa mengajak mereka mudik.

"Di sini saja lebaran karena tidak ada dana. Kalau pulang makan lagi biaya Rp300 ribu sampai Rp400 ribu," kata dia. []

Baca juga:

Tulisan 1. Kisah Keluarga Nurlela Hidup dari Sampah

Tulisan 2. Pelajaran Ibu Penjaga Kebersihan Kota: Ikhtiar, Sabar Kalau Diuji Tuhan

Tulisan 3. Kehidupan Penarik Becak di Kotanya Jokowi

Tulisan 4. Belajar Ikhlas dari Suami Istri Tunanetra

Tulisan 5. Pelajaran dari Driver Ojek Online Perempuan di Bulan Puasa

Tulisan 6. Interview Habib Novel Bamukmin: Hukum Bagi Para Pekerja Keras yang Tak Berpuasa

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Kaum Marginal

Interview Habib Novel Bamukmin: Hukum Bagi Para Pekerja Keras yang Tak Berpuasa

Image

News

Kaum Marginal

Pelajaran dari Driver Ojek Online Perempuan di Bulan Puasa

Image

News

Kaum Marginal

Belajar Ikhlas dari Suami Istri Tunanetra

Image

News

Kaum Marginal

Kehidupan Tukang Becak di Kotanya Jokowi

Image

News

Kaum Marginal

Pelajaran Ibu Penjaga Kebersihan Kota: Ikhtiar, Sabar Kalau Diuji Tuhan

komentar

Image

2 komentar

Image
Resta Apriatami

katanya, "lihatlah ke bawah agar kamu merasa bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhanmu". jadi merasa bersalah karena sering ngga bersyukur

Image
emil sampeno

Harus selalu bersyukur dan berusaha.. selalu ingat tidak memubazir segalahal karena banyak yg sudah kita tau di luar sana itu sampe ada yg bener bener susah..

terkini

Image
News

Jan Ethes Jenguk Adik Bersama Keluarga Ibunya, Mbah Jokowi Nyusul Bersama Ibu Negara

Saat turun dari mobil, Ethes digendong neneknya Sri Partini hingga masuk ke dalam rumah sakit

Image
News

Dikuasai Pengepul Barang Bekas, Jalan Agung Perkasa Steril Kembali

pembongkaran untuk mengembalikan fungsi saluran dan jalan

Image
News

Guru di Vietnam Dipenjara 11 Tahun karena Unggahan Facebook 'Melawan Negara'

Pengacara terdakwa menyatakan kliennya menyangkal dakwaan itu karena akun Facebook itu bukan miliknya.

Image
News

DN Belajar Oplas Di China dan Jual Kosmetik Ilegal

Penentuan lipatan mata harus sesuai dengan kemauan pasien

Image
News

Pelaku Mengaku Sebagai Atasannya, Anggota Polisi Ditipu Ratusan Juta

Kasus penipuan ini pun baru diketahui korban setelah menghubungi langsung Kabid Humas Polda Sulsel.

Image
News

Diberi Nama La Lembah Manah, Nama Cucu Ketiga Jokowi Punya Makna Mendalam

Ditanya singkatan dari nama La yang disematkannya sebagai nama depan putrinya, bos Markobar itu enggan menjelaskannya secara detail

Image
News

Turki Pulangkan 8 Tersangka Anggota ISIS ke Jerman dan Inggris

Kesulitan yang dihadapi otoritas Jerman adalah, sesuai hukum Jerman, mereka tak dapat didakwa untuk aktivitas apa pun di Timur Tengah.

Image
News

Hadapi Polisi, Demonstran Hong Kong Lepaskan Panah Berapi hingga Bom Molotov

"Kami mencoba segala cara yang damai tetapi kami gagal. Kami mungkin akan melemparkan bom molotov dan batu bata..." kata seorang demonstran.

Image
News

PP KORPMA GPII Tolak Pengangkatan Ahok Sebagai Petinggi BUMN

Pengangkatan Ahok tentu berpotensi melanggar ketentuan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN

Image
News

Chili Segera Gelar Referendum untuk Ganti Konstitusi Buatan Rezim Pinochet

Konstitusi lama tidak menetapkan negara bertanggung jawab menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan, dua tuntutan jutaan warga saat ini.

trending topics

terpopuler

  1. Sarankan Menteri BUMN Konsultasi dengan KPK Soal Ahok, Andre Rosiade Kena 'Tampar' Profesor USU

  2. Salmafina Tak Lagi Main Medsos, Sunan Kalijaga: Yang Penting Gak Keluar dari Rumah

  3. Politisi ini Sebut Penganut Khilafah Pasti Gak Suka Ahok di BUMN

  4. Aset First Travel Tak Dikembalikan ke Korban dan Disita Negara, Tengku Zulkarnain: Negara Rugi Apa?

  5. Bakal Jadi Sarjana Termuda di Dunia, 7 Fakta Menarik Laurent Simons si Bocah Berusia 9 Tahun

  6. Soal Pengangkatan Ahok di BUMN, Erick Thohir: Sandi Aja Nilai Positif!

  7. Tim Dokter yang Menangani Persalinan Anak Kedua Selvi Ananda Sama Seperti Kelahiran Jan Ethes

  8. Deddy Corbuzier Singgung Anggaran Aica Aibon, Anies: Itu Emang Malu-maluin

  9. Pemain Timnas Indonesia Mulai Paham dengan Strategi Sang Pelatih Sementara

  10. Banyak Perusahaan Kehilangan Karyawan Akibat Menjamurnya Startup, Lalu Sistem Jaminannya?

fokus

Nasib Sumber Air
Tantangan Pendidikan
Pejuang Kanker Payudara

kolom

Image
Erizky Bagus Zuhair

Heritage Port Sunda Kelapa, dari Rempah-rempah ke Pariwisata

Image
UJANG KOMARUDIN

Memerangi Radikalisme

Image
Abdul Aziz SR

Pentingnya Tenaga Ahli DPRD

Image
Hasan Aoni

Secuil Kabar dari Amerika tentang Sri

Wawancara

Image
Video

VIDEO Sepak Terjang Erna Hernawati Mengawal UPN Veteran Jakarta

Image
News

Pemidanaan Korporasi Atas Karhutla Di Mata Praktisi Hukum

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag 2 - selesai)

'Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang'

Sosok

Image
Ekonomi

Pendidik hingga CEO, Ini 5 Fakta Menarik Ken Ratri Iswari, Pendiri Geekhunter

Image
News

6 Potret Hangat Fadli Zon Antar Ibunda Pulang Kampung ke Payakumbuh

Image
News

Liburan ke Lombok hingga Nongkrong di Kafe, 8 Potret Terbaru Mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan