image
Login / Sign Up

Yang Diharapkan Ketika Datang ke Museum

Yudi Permana

Revolusi Museum

Image

Koleksi Tata Pamer di Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua | AKURAT.CO/Yudi Permana

AKURAT.CO Pada Rabu, 9 Agustus 2017, Presiden Joko Widodo meresmikan Museum Keris Nusantara di Solo, Jawa Tengah. Setelah menandatangani prasasti, Jokowi melihat-lihat koleksi keris di museum itu. 

Ketika memberikan sambutan, Jokowi mengatakan generasi sekarang lebih senang memegang smartphone ketimbang memegang keris. Padahal, keris merupakan warisan budaya bangsa yang memiliki nilai-nilai filosofi yang sangat tinggi. Keris Indonesia telah dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Non Bendawi oleh UNESCO pada 2005.

“Artinya, walaupun kita berupaya mengejar kemajuan, tetapi kita tidak boleh tercerabut dari tradisi kita, tidak boleh meninggalkan nilai-nilai adiluhung bangsa. Untuk itu, sudah seharusnya dan sudah sepantasnya kita terus menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa, termasuk keris,” kata Jokowi kala itu.

baca juga:

Pada suatu hari, Jokowi berkunjung ke Turki. Di sana, dia bertemu Presiden Erdogan. Ketika itu, Erdogan memamerkan keris-keris yang sangat cantik. Keris koleksi Erdogan asalnya dari Indonesia! 

Presiden Jokowi  ANTARAFOTO

Demikian juga ketika Jokowi datang ke Rusia. Pada kesempatan tertentu, Presiden Putin menunjukkan keris-keris koleksinya yang disimpan dalam ruangan khusus. Tahu darimana keris itu? Keris itu dari Indonesia!

“Nilai-nilai filosofi-filosofi yang ada di keris itulah yang menyebabkan mereka kagum dan mengoleksi keris-keris kita,” kata Jokowi seraya menambahkan, dirinya juga memiliki banyak koleksi, yang nantinya akan dia berikan untuk Museum Keris Nusantara.

“Dihibahkan, biar dirawat oleh museum. Saya tidak sanggup merawat sendiri,” ujarnya sebagaimana ditulis dalam situs Sekretariat Kabinet.

Jokowi berharap Museum Keris Nusantara maupun museum-museum lainnya menjadi wujud penghargaan masyarakat terhadap seni budaya sekaligus sumber inspirasi nilai-nilai budaya.

“Seperti suku Dayak yang memiliki Mandau, Aceh memiliki Rencong, Sunda dikenal dengan Kujang, Sulawesi Selatan memiliki Badik, dan semuanya menjadi kekayaan seni budaya Nusantara yang harus terus kita jaga dan kita lestarikan,” kata Presiden.

Jokowi berpesan agar jangan sampai generasi muda melupakan begitu saja sejarah bangsanya sendiri. Generasi muda tetap harus belajar dari sejarah, museum beserta koleksinya merupakan salah satu media edukasi mengenal masa lalu.

***

Masyarakat, terutama generasi muda, umumnya masih ada yang memandang museum sebagai tempat yang kurang menarik untuk dikunjungi. Tidak atraktif. Museum dianggap sebatas tempat memajang benda-benda peninggalan masa lalu, apalagi ditambah dengan kemampuan sebagian sumber daya manusia yang bertugas di museum kurang interaktif.

"Karena tidak bercerita, pelayanannya juga kurang, kamar mandi tidak banyak, dan resepsionis tidak ramah. Tapi tidak semuanya, karena beberapa museum sudah ramah. Itu sebenarnya masih pandangan umum sampai sekarang,” kata pendiri Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali, Senin, 25 Maret 2019.

Yang diharapkan pengunjung ketika datang ke sebuah museum sebenarnya adanya paparan yang jelas dan mudah dipahami tentang suatu benda bersejarah yang dipamerkan. Dengan demikian, mereka mendapatkan wawasan dengan lebih baik setelah ke luar dari ruang pameran.

Asep Kambali. dan kawan-kawan Dokumentasi

Menurut Asep, dari segi penyajian benda-benda warisan budaya (sebagian museum) juga dinilai Asep kurang kreatif dan tidak menggunakan pendekatan kebutuhan pengunjung.

"Dari segi konten, cara penyajian di museum kurang variatif, cenderung data-data itu yang pasif, tidak interaktif,” kata dia.

“Kemudian program yang ada di museum terkesan di situ-situ saja.”

Itu sebabnya, pengunjung datang ke museum cenderung bukan didasari inisiatif sendiri untuk belajar mengenal sejarah, tetapi karena undangan.

Koleksi delman dan kereta jenazah. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Dan kecenderungan peserta yang diundang, bukan peserta yang pengin ikut dalam suatu kegiatan."

Menurut Asep terdapat perbedaan pandangan antara masyarakat dan pengelola museum dalam menyikapi persoalan yang ada. Perbedaan ini tentu saja berkaitan dengan kenapa sebagian museum sepi pengunjung.

"Yang pasti memang ada gap sebenarnya antara museum (pengelola) dengan masyarakat. Sebab masyarakat melihat museum itu membosankan, kumuh, dan sebagainya, begitu-begitu aja. Belasan tahun kondisi museum tidak berubah. Sementara museum juga berpendapat bahwa masyarakat tidak menyukai," katanya.

Dia menilai pengelolaan sebagian museum terkesan masih jalan di tempat. Belum ada upaya maksimal untuk mengubah (sebagian) museum dari tempat dianggap membosankan menjadi tempat yang hidup dan mengasyikkan untuk belajar.

Koleksi foto jalanan dulu di Museum M. H. Thamrin. AKURAT.CO/Maidian Reviani

"Jadi upayanya mesti keras dan konkrit, tidak hanya sekedar jalan saja. Museum harus melengkapi fasilitas kekinian."

"Contoh misalnya mal, sekarang ini sebenarnya sudah mulai membosankan terutama mal-mal yang sudah berdiri sejak tahun 80 atau 90-an. Dan mal sekarang kecenderungannya adalah one stop shopping, dengan menyediakan hotel di dalamnya, banyak tempat makannya, dan hiburannya, juga tempat bermainnya. Kalau dulu mal hanya sekedar belanja. Sementara orang sudah mulai belanja secara online, baik makanan atau apapun."

Pengelola museum sekarang dituntut untuk kreatif kalau ingin menjaring pengunjung lebih banyak, terutama kawula muda. Menurut Asep museum mestinya sudah mengadopsi teknologi untuk memudahkan masyarakat, khususnya kaum milenial, mencerna seluk beluk kesejarahan. Dengan adanya tur digital tentu akan memberikan pengalaman tersendiri sekaligus membuat mereka mudah belajar sejarah lewat benda peninggalan.

Pendiri Komunitas Klub Tempoe Doeloe Allan Akbar menekankan museum merupakan jembatan masa lalu untuk masa kini. Itu sebabnya, pengelolaannya harus benar-benar kreatif.

"Menurut kami, yang harus dilakukan oleh museum adalah bukan hanya menaruh atau meletakkan benda- benda mati atau artefak tersebut. Tapi juga memberikan kisah ke dalam benda tersebut," kata Allan ketika saya temui di Blok M, Jakarta Selatan, Kamis, 28 Maret 2019. 

Pendiri Komunitas Klub Tempoe Doeloe Allan Akbar. AKURAT.CO/Yudi Permana

Sebut saja koleksi Meriam Si Jagur yang kini dipajang di depan halaman Museum Fatahillah. Konon, meriam ini dibuat Portugis, dulu mereka pakai untuk mempertahankan benteng di Malaka. Setelah itu, meriam berkali-kali pindah tangan, di antaranya pasukan Belanda.

"Orang tahu itu meriam. Tapi tidak tahu cerita kisah dibalik itu. Seperti meriam itu digunakan oleh Belanda untuk menaklukkan pasukan Mataram," kata Allan.

Selain Si Jagur, kata Allan, terdapat koleksi ranjang di Museum Fatahillah yang dinilainya masih minim informasi. Akibatnya, warisan sejarah yang sangat menarik itu menjadi seperti membisu.

"Seharusnya dikasih cerita atau narasi sejarah, bahwa ranjang tersebut sangat bersejarah karena pernah digunakan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode ini."

"Kemudian apa cerita menarik di balik ranjang itu, apakah pernah terjadi tentang pembunuhan di ranjang tersebut atau perselingkuhan. Sebenarnya ketika suatu benda diberikan nilai, dia akan memiliki value yang lebih tinggi daripada benda yang lain. Karena dia menjadi saksi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu." 

Menurut Allan benda-benda bersejarah kalau hanya diberi teks keterangan sedikit menjadi tidak menarik bagi pengunjung. Berbeda halnya kalau benda tersebut dikisahkan, tentu akan sangat menyenangkan.

"Pengunjung museum tidak akan merasa tertarik. Kalau saja museum itu menampilkan kisah apa dibalik benda itu, maka akan lebih menarik."

Salah satu contoh tulisan di koleksi Museum Tekstil. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Allan menyarankan kepada pengelola museum untuk membuat panel khusus tentang peristiwa sejarah atas benda-benda yang dipamerkan. Dengan menambahkan narasi sejarah dalam setiap koleksi, dia yakin, akan meningkatkan minat pengunjung.

"Contohnya lukisan tentang penangkapan Pangeran Diponegoro, yang dilukis Raden Saleh, tahun sekian. Dan tanpa memperkenalkan apa peristiwa yang sebenarnya terjadi terkait penangkapan Pangeran Deponegoro."

"Perlu dibuat suatu panel khusus tentang peristiwa tersebut. Jadi orang yang membaca akan merasa menarik."

Karena faktor-faktor di atas, menurut Allan, sebagian museum sepi peminat, terutama dari kawula muda. Kalaupun mereka datang, tujuannya bukan benar-benar untuk belajar sejarah bangsa sendiri, melainkan sekedar mencari latar belakang untuk foto-foto.

Gedung Museum Nasional . AKURAT.CO/Yudi Permana

"Seperti di Museum Fatahillah, kawasan Kota Tua, banyak sekali dari masyarakat umum yang datang. Mereka datang, tapi bukan minat belajar sejarah, tapi menjadikan tempat itu untuk lokasi foto-foto," kata Allan.

"Kalau kita ukur keberhasilan museum itu dari data kunjungan, mungkin sudah berhasil mendatangkan para pengunjung dengan tingkat tertentu. Tetapi apabila keberhasilan museum dalam proses penyampaian informasi, saya rasa itu masih sangat kurang."

Dari pengalaman Allan berkomunikasi dengan masyarakat hingga sekarang sebagian dari mereka masih melabeli museum sebagai ruang yang kaku dan dingin.

"Image yang berkaitan dengan museum itu membosankan. Image yang melekat di mata masyarakat bahwa orang-orang yang bekerja di museum itu orang yang membosankan dan kaku, karena tidak ada hal-hal yang terjadi di dalam kondisi terkini."

"Saya sudah pernah ke museum itu. Dan saya malas datang lagi, karena tidak ada yang berubah isinya, posisi dan tampilannya masih begitu-begitu saja. Kalau misal ada tema yang diangkat atau kurasi baru yang ditawarkan, pasti saya penasaran dong. Apa sih hal baru yang ditawarkan, akhirnya saya datang lagi. Misalnya pameran temporal di museum yang berlaku selama enam bulan atau satu tahun."

Pendiri Komunitas Jelajah Budaya Kartum Setiawan mengatakan museum merupakan tempat untuk menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah.

Pendiri Komunitas Jelajah Budaya, Kartum Setiawan. AKURAT.CO/Yudi Permana

Koleksi peninggalan zaman dulu tersebut tetap dijaga di museum agar dapat dipakai untuk penelitian sejarah dan tentu saja memberikan edukasi kepada masyarakat.

"Setelah itu dikomunikasikan (diinformasikan) ke masyarakat dalam bentuk benda-benda dan koleksi-koleksi yang dipamerkan di museum, untuk memberikan informasi," kata Setiawan di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara, Senin, 25 Maret 2019.

Dia juga menyayangkan cara menyajikan warisan budaya tak ternilai harganya itu di sebagian museum kurang menarik. Cenderung membosankan dan tidak informatif. Akibatnya, kata dia, sebagian masyarakat yang pernah mengunjungi museum tidak berminat untuk datang lagi atau ikut mempromosikan museum karena menganggap tidak ada hal-hal baru lagi.

"Masalahnya dari segi penyajian (benda-benda bersejarah), itu kurang informatif, yang menjadi salah satu kendala. Orang ke situ sudah beberapa tahun yang lalu, masih begitu-begitu aja. Jadi gak berubah, dan orang sekali ke museum sudah cukup," ujarnya. 

Menurut Setiawan sebagian pengurus museum tidak menggunakan pendekatan dari sudut pandang pengunjung dalam mengomunikasikan koleksi yang dipamerkan.

Alat Teknologi Museum Sejarah Jakarta. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Pendekatan komunikasi membuat orang belum bisa memahami secara keseluruhan. Karena kadang-kadang kurator melakukan pendekatan lebih ke arkeologi, sejarahnya atau antropologi. Sementara masyarakat saat ini, apalagi milenial dengan pendekatan ke teknologi," katanya. 

Asep menambahkan sejak masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah mencanangkan program Gerakan Nasional Cinta Museum.

Situs bi.go.id menjelaskan Gerakan Nasional Cinta Museum merupakan upaya penggalangan kebersamaan antar pemangku kepentingan dan pemilik kepentingan untuk mencapai fungsionalisasi museum guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa.

Gerakan ini bertujuan untuk membenahi peran dan posisi museum yang difokuskan pada aspek internal maupun eksternal. Aspek internal dalam bentuk revitalisasi fungsi museum dalam rangka penguatan pencitraan melalui pendekatan konsep manajemen yang terkait dengan fisik dan non fisik, serta bertujuan untuk mewujudkan museum di Indonesia yang dinamis dan berdayaguna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum. Aspek eksternal difokuskan kepada konsep kemasan program dengan menggunakan bentuk sosialisasi dan kampanye pada masyarakat sebagai bagian dari stakeholder.

Menurut Asep, hingga 2018, pemerintah memberikan anggaran Dana Alokasi Khusus untuk museum. Dana tersebut digunakan untuk melakukan pembenahan-pembenahan.

Gedung Museum Tekstil. AKURAT.CO/Maidian Reviani

"Sebenarnya saat ini museum sejak 2012 sudah mulai berbenah. Pada waktu dulu dicanangkan ada namanya Gerakan Nasional Cinta Museum dan revitalisasi museum. Pada 2018 itu ada namanya DAK untuk museum. Kalau gak salah setiap museum itu dapat Rp1 miliar," katanya.

Semenjak ada gerakan membenahi peran dan posisi museum yang difokuskan pada aspek internal maupun eksternal, sebagian museum mulai digemari masyarakat. Tapi, sebagian museum tetap kurang diminati, terutama yang berada di daerah.

"Terbukti dengan jumlah kunjungan yang jutaan pertahun.”

"Kalau di kota besar mungkin persentase (jumlah kunjungan) tidak sebesar di daerah. Dan kunjungan ke museum tidak terlepas dari dukungan sekolah yang membuat program untuk berkunjung ke museum."

"Kalau dari segi kunjungan, sebagian museum sudah signifikan naik. Dan sebagian museum memang masih bertahap untuk menuju kenaikan (pengunjung). Tapi berbeda-beda setiap museum kemampuannya, tidak sama. Kalau di Jakarta sudah relatif oke sih museum, jika dibandingkan di daerah."

Itu sebabnya, Asep menekankan pengelola museum harus terus menerus melakukan inovasi. Misalnya, meningkatkan tata tampilan koleksi, gencar kampanye program museum bersama kalangan media.

Museum Nasional. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

"Secara tampilan mereka (pengelola museum) mesti memperbaiki, tata pamerannya harus disesuaikan dengan teknologi kekinian, dan programnya juga, serta harus melibatkan banyak pihak, seperti marketing, bekerjasama dengan media.

Sebagian museum, kata dia, mengalami stagnasi karena tidak adanya keinginan untuk membuat inovasi.

"Kondisi museum di Indonesia seperti mati segan hidup tak mau. Karena saya rasa bahwa museum-museum itu sangat sedikit kali inovasi-inovasi yang dilahirkan oleh mereka. Saya berkali-kali bertemu dengan pihak museum dan kita melakukan dialog untuk memberikan masukan tentang bagaimana seharusnya pengelolaan museum tersebut untuk menarik animo masyarakat mengunjungi museum tersebut."

Kartum kurang sependapat kalau ada yang menggeneralisir seakan-akan semua museum sudah tidak diminati masyarakat.

"Kan beda-beda, jadi tidak bisa dipukul rata, bahwa masyarakat tidak suka berkunjung ke museum," katanya. 

"Ketika tampilan sudah modern, orang akan tertarik untuk datang ke museum. Apalagi sekarang media publikasi, seperti Instagram, Facebook, dan Youtube, itu akan mudah sekali mempromosikan, dibandingkan beberapa puluh tahun lalu yang harus mencetak banner, spanduk dan segala macam."

Koleksi Tata Pamer di Museum Sejarah Jakarta . AKURAT.CO/Yudi Permana

Menurut dia beberapa tahun terakhir pengelola museum sudah menerapkan pendekatan teknologi informasi agar lebih hidup.

"Jadi tidak hanya benda-benda yang disajikan (dipamerkan). Tapi juga ada sebuah pesan teknologi, seperti pendekatan virtual reality, atau audio visual dan sebagainya. Itu juga salah satu pendekatan yang dilakukan pengelola museum terhadap masyarakat yang mengunjungi."

Selain pendekatan teknologi dalam ruang pamer, program-program menarik yang menjadi agenda museum apabila tersosialisasikan dengan baik juga akan mendorong minat. Jadi, kata Kartum, pengunjung tidak hanya melihat ruang pameran, tetapi juga melihat aktivitas apa saja yang ada di museum.

"Ketika museum itu rutin melakukan program publik, dan pameran temporer, maka orang pasti ingin kembali terus ke museum."

"Seperti Museum Nasional selalu rutin menyelenggarakan program publik, sehingga orang akhirnya penasaran dan tertarik ingin datang kesana lagi.  Karena adanya program publik atau pameran itu salah satu untuk menyiasati orang mau datang lagi ke museum."

Kartum mengatakan di Indonesia terdapat setidaknya 400 museum. Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah melakukan standarisasi penilaian museum, dari tipe A, B, hingga C. Penilaian didasarkan pada kelengkapan fasilitas dan jumlah pengunjung setiap hari. 

Uang kertas di Museum Sejarah Jakarta. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Jadi ada museum yang kurang dikunjungi, itu belum masuk ke tipe A, apalagi tipe B dan C. Atau bisa juga disebut bukan museum karena hanya mengumpulkan, dan belum mengomunikasikan."

"Kalau tipe A memiliki segala unsur penilaian, baik terkait visi misi, nama museum, program publiknya, kebutuhan yang ada di museum, akseptabilitas, sosialisasi, dan sebagainya, termasuk informasi yang sudah minimal bilingual, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dan itu hal-hal dasar yang harus terpenuhi semuanya, agar bisa masuk ke tipe A."

Museum tipe B (kategori sedang). Museum ini biasanya belum tersedia audio visual dan fasilitasuntuk kaum disabilitas.

"Kalau museum tipe C itu kelas cukup, seperti ruang pamernya sudah ada, audio visual, dan penempatan bangunan dan gedung sudah ada. Itu mungkin masuk tipe C. Tapi juga banyak museum yang belum masuk ke tipe C. Dan dikatakan belum bisa disebut museum, karena belum memiliki dan terpenuhi kriteria tadi."

Kartum punya contoh menarik untuk menggambarkan betapa berpengaruh kehadiran pemandu museum dalam meningkatkan kunjungan. DI Yogyakarta, ada sebuah museum bernama Ullen Sentalu yang terletak di Pakem, Kaliurang, Kabupaten Sleman. Museum ini menyajikan budaya dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram serta koleksi aneka ragam batik.

"Misalnya di Yogya itu ada nama museum Ullen Sentalu, itu tempatnya jauh di kaki Gunung Merapi, di Kaliurang. Tapi orang berbondong-bondong datang ke sana, padahal dari pameran juga biasa saja.  Tapi museum itu punya kelebihan di pemandunya, karena sangat informatif menjelaskan setiap koleksi yamg dipamerkan. Dan itu salah satu daya tarik orang mau datang ke sana, untuk mendengarkan pemandu museumnya, karena informasi yang disajikan dan diceritakan ke pengunjung luar biasa."

Contoh menarik lain, yakni inovasi yang dilakukan pengelola Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang berada di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Museum ini oleh media pernah disebut sebagai museum digitalisasi yang pertama di Indonesia karena menerapkan virtual museum. Jadi, pengunjung bisa mengikuti rekam jejak perumusan naskah proklamasi melalui aplikasi mobile.

"Ada beberapa museum yang sudah berinovasi, mungkin banyak. Seperti Museum Naskah Proklamasi, walaupun gedung lama, tapi kita ke sana itu sudah menggunakan pendekatan teknologi. Kita bisa memperlihatkan barcode, maka akan mendapatkan informasi," katanya. 

"Ada lukisan tinggal kita foto. Dan kita lihat barcode-nya, dan lukisannya itu bercerita. Kemudian yang baru-baru ini museum macan, yang sudah melakukan pendekatan teknologi."

Tak hanya itu, Museum Fatahillah di Kota Tua, kata Kartum, juga telah berinovasi. .

"Museum Fatahillah sudah berinovasi karena ruang panel sudah baru, termasuk pengunjung yang tadinya dari depan, sekarang dari samping. Karena saking banyak orang yang berkunjung ke museum itu."

***

Komunitas Historia Indonesia merupakan salah satu komunitas yang melakukan usaha-usaha kreatif untuk membantu menghidupkan museum.

"Kami dari komunitas menjadi jembatan atau connecting opportunity, dihubungkan antara masyarakat dengan museum, dengan membuat program memperkenalkan museum perkembangannya seperti apa. Dan terbukti berhasil signifikan dalam konteks jumlah pengunjung," kata Asep.

Salah satu kegiatan yang dilakukan Komunitas Historia Indonesia untuk menghidupkan museum yaitu kerjasama dengan pengelola museum. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu hal yang disampaikan pengelola museum untuk menjalankan program yang menyentuh langsung kepada pelajar atau masyarakat.

"Kita sudah seringkali kerjasama. Justru kita jadi partner museum. Kadang kita juga membantu korporasi, karena museum alasannya selalu kekurangan dana. Dari situ kita bantu dari segi anggaran misalnya lewat CSR perusahaan," katanya.

Koleksi pedang bersejarah di Museum . AKURAT.CO/Yudi Permana

Allan menambahkan masalah anggaran memang menjadi salah satu faktor penghambat pengembangan museum. Itu sebabnya, belum semua museum mampu mengadaptasi teknologi.

"Kalau saya ngobrol dan cerita-cerita dari teman-teman (pengelola) museum, mereka selalu bilang satu kata, dana atau anggaran. Apabila ingin menerapkan teknologi yang sangat canggih, pasti konsekwensinya adalah anggaran yang membengkak. Mereka belum bisa memenuhi hal itu," kata Allan.

Komunitas Jelajah Budaya juga ikut berperan memajukan museum. Mereka sudah bekerjasama dengan Museum Naskah Proklamasi yang berada di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Salah satu kegiatan mereka, mengajak anggota untuk napak tilas ke tempat-tempat bersejarah.

"Pada waktu dulu dijadikan tempat menyusun naskah proklamasi. Di dalam museum itu ada cerita menarik sebelum Bung Karno (Soekarno) dan Bung Hatta membacakan naskah proklamasi, dulu pernah diculik oleh sejumlah pemuda dan dibawa ke Rengas Dengklok, Karawang," katanya. 

"Selama ini orang gak tahu sejarah rumah persembunyian Bung Karno di Rengas Dengklok. Kita menceritakan suasana tahun 45. Kalau hanya di museum, sedikit yang informasikan. Tetapi Kalau kita ke lokasi, lebih banyak yang di informasikan. Itu kerja sama dengan museum yang sudah kita lakukan."

Lukisan masyarakat pada abad ke-18. AKURAT.CO/Yudi Permana

Selain mengajak anggota kunjungan ke museum, komunitas juga memberikan informasi kepada masyarakat mengenai benda-benda warisan budaya, terutama yang tinggal foto-fotonya saja.

Kartum menekankan pentingnya melibatkan komunitas untuk menghidupkan museum. Komunitas, kata dia, berperan menjadi penyambung kepada masyarakat. 

"Kerjasama dengan banyak komunitas, sehingga akhirnya banyak varian yang lebih diketahui masyarakat. Itu suatu inovasi dengan komunitas. Akan susah kalau museum tidak melakukan inovasi teknologi modern," katanya.  

Allan menambahkan untuk menampilkan cerita setiap koleksi atau periode sejarah memerlukan partisipasi aktif dari sejarawan. Sejarawan perlu dikolaborasikan dengan arkeolog.

"Selama ini kita selalu melekatkan bahwa museum adalah bidang dari teman-teman arkeologi. Sedangkan teman-teman arkeologi berfokus pada obyek kajiannya terhadap artefak. Sementara teman-teman sejarah berfokus pada obyek kajiannya adalah peristiwa yang terjadi di masa lalu," katanya.

"Saya rasa akan menjadi kolaborasi yang menarik. Dan kemudian bisa membantu untuk membuat tampilan, sehingga mendatangkan banyak pengunjung."

Allan mengatakan beberapa museum telah beradaptasi dengan zaman untuk menggaet kalangan milenial.

Museum Nasional. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

"Museum butuh sentuhan generasi milenial yang bekerja. Dan benar-benar berkontribusi di dalam pengembangan museum, misalnya membuka kurator- kurator yang masih generasi muda. Sebab sang kurator tahu apa yang diinginkan generasi milenial."

"Tujuannya untuk mengubah image dari museum yang tadinya kaku menjadi lebih santai, ceria, sehingga mampu untuk mendatangkan pengunjung."

Contohnya museum yang telah beradaptasi, antara lain Museum Bank Indonesia di kawasan Kota Tua. Museum tersebut sekarang sudah menggunakan konsep modern dengan visualisasi yang menarik untuk menjadikan belajar sejarah secara menyenangkan.

"Museum Bank Indonesia, sudah menerapkan konsep perpaduan antara sejarah dan teknologi interaktif. Misalnya dengan memasang audio mantis reality, inner 4G, koin digital, audio laser-laser dan segala macam. Dalam koin itu muncul keterangan tentang kapan koin itu dibuat, berapa nominal."

Allan menilai visualisasi Museum Bank Indonesia sangat memanjakan mata pengunjung.

"Salah satu efek dari penerapan teknologi kita menjadi takjub. Bagaimana sejarah disajikan dengan menggunakan media teknologi yang canggih itu. Dan akhirnya dengan ketakjuban itu kita cerita kepada teman terdekat, jadi penasaran, akhirnya datang untuk membuktikan," kata dia.

"Kalau belum bisa menerapkan teknologi, setidaknya memberikan narasi yang lebih menarik."

Komunitas Klub Tempoe Doeloe sering untuk membantu menghidupkan museum. Kegiatan yang dilaksanakan, antara lain, seminar, diskusi, dan wisata sejarah.

"Seperti Museum Bank Indonesia memberikan pelatihan tentang guiding (membimbing) bagaimana caranya menjadi tour guide yang baik," katanya.

Pengelola museum perlu melibatkan komunitas yang aktif dalam kampanye kesejarahan untuk melakukan kampanye.

"Salah satu agen perubahan yang dapat membantu museum untuk melakukan revolusi itu adalah komunitas. Kalau tanpa melibatkan kami dari komunitas, saya rasa bahwa bakalan banyak pengunjung-pengunjung museum yang tersesat dalam sekeliling artefak tersebut."

Klub Tempoe Doeloe juga pernah terlibat dalam acara yang lebih fun, seperti Festival Jazz Museum di Kota Tua. Acara ini merupakan bagian dari cara untuk mengubah image museum dari membosankan menjadi mengasyikkan. Kegiatan lain yang diikuti yaitu Night at Museum.

Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Saya pernah komunitas dilibatkan di museum yang ada di Kota Tua untuk membuat acara keliling museum di malam hari. Bahkan ada beberapa komunitas yang menawarkan pengalaman untuk menginap di museum," katanya.

"Setahu saya acara tersebut dilaksanakan pada 2014-2015. Acara itu setiap tahun ada. Kami di komunitas Klub Tempoe Doeloe, pernah mengadakan acara menginap di museum tahun 2012."

Allan berharap pengelola museum senantiasa berubah dengan tak lupa memasukkan perspektif generasi milenial. Misalnya, menyediakan tempat ngopi yang asyik di sekitar museum, beberapa museum sudah melakukan hal ini.

"Jadi museum lebih membuka diri atas adaptasi terhadap kondisi modern dan milenial saat ini. Apabila museum tidak mau beradaptasi terhadap tuntutan zaman dan kecanggihan teknologi, atau keinginan- keinginan dari generasi milenial, saya yakin museum akan ditinggalkan." [Maidian Reviani, Yudi Permana, Herry Supriyatna]

Baca juga:

Tulisan 1: Ada Museum yang Masih Membuat Pengunjung Takut

Tulisan 3: Benah-benah Museum Demi Gaet Milenial

Tulisan 4: Museum dan Tantangan Zaman

Tulisan 5: Serba-serbi Museum

Tulisan 6: Interview Erwin Kusuma: PR Kita Bagaimana Museum Gerakkan Program Publik

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Revolusi Museum

Interview Erwin Kusuma: PR Kita Bagaimana Museum Gerakkan Program Publik 

Image

News

Revolusi Museum

Serba-serbi Museum

Image

News

Revolusi Museum

Museum dan Tantangan Zaman

Image

News

Revolusi Museum

Benah-benah Museum Demi Gaet Milenial 

Image

News

Revolusi Museum

Ada Museum yang Masih Membuat Pengunjung Takut

komentar

Image

1 komentar

Image
Gethya SN

iyaa sih bener juga yang dikatakan Maidia, Yudi sama Herry

terkini

Image
News

Tiga Syarat Pemakzulan Presiden Menurut Pemikir Islam

Salah satunya pemimpin yang tidak adil.

Image
News
Wabah Corona

DMI: Daya Tampung Masjid saat Normal Baru hanya 40 Persen

Daerah yang padat penduduk ibadah Shalat Jumat dilaksanakan dua gelombang

Image
News
Wabah Corona

Hari Keempat Rapid Test di Surabaya, 187 Orang Reaktif

Surabaya masuk zona merah.

Image
News

Ribuan ASN Nagan Raya Aceh Tak Lagi Terima Tunjangan Khusus

Anggaran tunjangan khusus dipangkas.

Image
News
Hari Lahir Pancasila

Kemendikbud Ajak Semua Pihak Kedepankan Semangat Gotong Royong di Tengah Covid-19

Harus ada praktik nyata bukan hanya wacana.

Image
News

Lama Buron, KPK Akhirnya Tangkap Nurhadi dan Menantunya

Masuk DPO karena mangkir pemeriksaan.

Image
News

Satgas Nemangkawi Buru KKB yang Tembak Warga Sipil

KKB layak disebut teroris karena bunuh warga tak berdosa.

Image
News
Wabah Corona

Warga dan Aparat di Boven Digoel Bertekad Putus Penyebaran Corona

“Kegiatan seperti ini terus dilakukan Satgas agar masyarakat makin sadar dan tahu cara efektif dalam mencegah penyebaran Covid-19“

Image
News

Tambang Emas Tradisional di Kotabaru Longsor, Enam Orang Meninggal

"Seluru personel Polsek Sungai Durian bersama Koramil dan masyarakat masih melakukan pencarian korban atas nama Nardi“

Image
News
Wabah Corona

Kasus Positif Corona di Kota Bogor Bertambah Dua Orang

Satu kasus merupakan impor dari daerah lain, yakni warga Kota Bogor yang baru kembali dari Manila, Filipina.

terpopuler

  1. Kekasih Gelandang Madrid Ini Mengaku Lakukan Seks Sekali Sehari, Sangat Kompetitif

  2. Bikin Plong, Ini 5 Cara Membersihkan Paru-paru Secara Alami

  3. Heboh Slip Gaji Guru Honorer Hanya Rp35 Ribu per Bulan, Warganet: Nangis Liatnya

  4. Gagah Abis, Ini 3 Potret Ravi Murdianto saat Berseragam Tentara

  5. Pertokoan Kawasan Jembatan Merah Diamuk si Jago Merah

  6. Ucapan Ahok, Khofifah dan Edy Rahmayadi Sambut Hari Lahir Pancasila

  7. Viral Foto Diduga Warga Bogor Camping di Tengah Pandemi, Warganet: Senja, Kopi, dan COVID-19

  8. Tantenya Meninggal Dunia, Maia Estianty Ingatkan Warga Jangan Remehkan COVID-19

  9. Prajurit TNI Selamatkan Aset UN di Kongo

  10. Nenek 100 Tahun Asal Surabaya Sembuh dari COVID-19, Ini Kunci Keberhasilannya

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Salah Urus dan Salah Pengurus

Image
IMAM SHAMSI ALI

Anarkis Itu Suara yang Tak Terdengarkan

Image
Siti Nur Fauziah

Covid-19, Bagaimana dengan Indonesiaku Hari Ini?

Image
Achsanul Qosasi

Memaknai Silaturahim Virtual

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Jualan Donat hingga Ciptakan Aplikasi Bersatu Lawan COVID-19, Ini 5 Fakta Menarik Ahmad Alghozi Ramadhan

Image
Ekonomi

Kiat Agar Bisnis Moncer Ala Bob Sadino

Image
News

Ikut Tren Gunakan FaceApp, Ridwan Kamil: Di Era New Normal Wajah Tak Perlu Dirawat, Cukup Diedit