image
Login / Sign Up

Ada Museum yang Masih Membuat Pengunjung Takut

Maidian Reviani

Revolusi Museum

Image

Beberapa bangunan yang ada di belakang Museum Tekstil | AKURAT.CO/Maidian Reviani

AKURAT.CO Tulisan kali ini bercerita tentang permuseuman Indonesia. Sebagian museum oleh sebagian orang masih dianggap tidak hidup sehingga kurang diminati. Tetapi apakah demikian? Tulisan ini akan memaparkan kondisinya. Tulisan akan terdiri dari enam cerita. Mulai dari reportase museum, kata komunitas, penjelasan pengelola museum, penjabaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hingga masukan dari praktisi permuseuman. Di salah satu bagian cerita juga dimasukkan serba-serbi tentang permuseuman yang berisi cerita-cerita lucu. 

***

Di salah satu area Jalan K. S. Tubun, Tanah Abang, Jakarta Barat, berdiri sebuah bangunan lawas. Gedung klasik tersebut tak lain Museum Tekstil yang diresmikan Ibu Negara Tien Soeharto pada 28 Juni 1976. 

baca juga:

Gedung bersejarah tersebut berpagar warna hitam dan emas.

Pada Minggu, 24 Maret 2019, saya mengunjungi museum tersebut. Dua petugas pria menjaga loket yang diberi peneduh payung besar warna merah di bagian depan, dekat pagar. Tiket masuk museum seharga Rp5 ribu untuk dewasa, sedangkan untuk anak gratis. Harga tiket belum termasuk pembayaran kalau pengunjung ingin ikut belajar membuat batik.

Halaman museum luas sekali. Tapi pada pagi itu sepi kunjungan, padahal hari libur.

Di dekat pintu masuk Museum Tekstil dijaga petugas. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Sebelum masuk ke pintu gedung museum, tepatnya di dekat pintu lobi terdapat patung yang menjadi ciri khas kebudayaan Betawi, ondel-ondel. Sebelah kiri lobi terdapat loker berwarna hijau muda. Loker disewakan untuk pengunjung.

Di kanan lobi juga terdapat information center. Di tempat itulah, pengunjung bisa tanya-tanya informasi umum tentang museum. Di information center tersedia buku berisi katalog museum dan peta Jakarta yang bisa didapat secara cuma-cuma.

Masuk ke dalam, langsung terasa tiupan angin dari air conditioner. Sama seperti di halaman tadi, di dalam gedung pada pagi itu sepi sekali. Tidak ada pengunjung lain, selain saya dan adik perempuan saya yang masih bocah. Memasuki gedung itu, adik semakin kencang memegang tangan saya.

Harga tiket masuk Museum Tekstil. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Di dalam, beberapakali jantung berdegup kencang gara-gara mendengar pintu besar yang terbuka sendiri atau suara dari dalam ruangan yang berisi partisi, barangkali karena tertiup angin.

Beragam koleksi-koleksi kain disuguhkan. Dekat pintu masuk, belok kiri, disuguhkan koleksi Kain Tapis. Kain Tapis berasal dari Lampung. Di bagian tengah dipamerkan kain warna hijau beserta mesin tenun. Sayangnya, tak ada informasi tentang kain itu di sana. Kain tersebut hanya dipajang dan diberikan batas bertuliskan “Unit Pengelola Museum Seni.”

Kain Tapis asal Lampung. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Di bagian belakang ada banyak koleksi kain sarung. Di antaranya, sarung yang berwarna merah muda berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sarung tersebut merupakan sumbangan dari Ibu Suprapti Suprapto. Ada pula sarung bantal Sulaman asal Aceh Besar. Sarung ini sumbangan dari keluarga Soedjono atau Saskia Oraya.

Setelah keliling, saya kembali keluar museum dan ngobrol dengan petugas information center yang mengenakan kerudung merah.

“Ini hari ini belum ada pengunjungnya ya baru saya?” kata saya.

“Ini Minggu pagi jadi emang masih sepi. Tapi biasanya hari biasa ada aja. Kayak Jumat ada rombongan anak sekolah. Kadang kalau hari Minggu ada yang balik jogging suka kemari. Tapi nggak sering,” dia menjelaskan.

“Iya tadi rada takut di dalam soalnya sepi banget,” kata saya.

“Iya soalnya bangunan lama. Kadang pengunjung suka pada minta temenin, soalnya katanya takut. Jadi rada mistis, tapi padahal nggak,” petugas menjelaskan.

Situs museumtekstiljakarta.com menjelaskan sejarah gedung itu. Gedung ini didirikan pada awal abad ke 19 oleh warga Prancis. Kepemilikannya berganti setelah dibeli Konsul Turki di Jakarta Abdul Aziz Al Mussawi Katiri. Gedung itu kemudian dijual kepada Karel Christian Crucq pada 1942.

Nampak dalam Museum Tekstil. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Sejak awal 1945 properti itu dipakai untuk markas Perintis Front Pemuda dan Angkatan Pertahanan Sipil ketika berjuang mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan Indonesia. Untuk alasan yang terakhir ini, tulis museumtekstiljakarta.com, bangunan itu terdaftar sebagai monumen bersejarah.

Pada 1947, gedung berada di bawah kepemilikan Lie Sion Pin yang kemudian menyewakannya kepada Departemen Sosial untuk lembaga bagi orangtua. Pada 1962, gedung diakuisisi Departemen Sosial. Singkat cerita, akhirnya 1975, properti itu diserahkan kepada Pemerintah Jakarta Kota oleh Menteri Sosial. Pada zaman Gubernur Ali Sadikin, gedung itu kemudian dijadikan Museum Tekstil.

Museumtekstiljakarta.com juga menjelaskan pada pertengahan era 1970-an, penggunaan tekstil, pemahaman penggunaannya, serta jumlah dan mutu produksi, sudah sangat jelas menurun. Beberapa jenis tekstil bahkan sudah menjadi sangat langka. 

Halaman belakang Museum Tekstil. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Hal inilah kemudian memotivasi beberapa warga terkemuka Jakarta untuk mendirikan sebuah lembaga yang didedikasikan untuk pelestarian dan penelitian tekstil Indonesia. Himpunan Wastraprema (Masyarakat Pecinta Tekstil) menyumbangkan koleksi dasar yang terdiri dari 500 tekstil bermutu tinggi ke museum itu.

Selepas ngobrol dengan petugas, saya melihat-lihat halaman belakang Museum Tekstil. Di sana terdapat taman yang cukup luas serta koleksi tanaman, di antaranya pohon kelapa. Di halaman belakang dibangun kolam ikan. Di sebelah kanan halaman belakang juga terdapat perpustakaan, ruang operasional, hingga ruang rapat.

Nadrah Chino dan Hanbun dalam buku Jelajah 62 Museum menjelaskan selain koleksi busana dan tekstil kontemporer, serta peralatan tenun dari berbagai daerah juga dipamerkan. Begitu juga koleksi berbagai jenis tanaman pewarna alam serta kebun. Di gedung tersebut juga ada kegiatan pelatihan membatik. Pelatihan dilaksanakan di pendopo.

***

Di Jakarta Pusat, setidaknya berdiri 13 museum. Salah satunya, Museum Mohammad Husni Thamrin yang terletak di Jalan Kenari 2, Kenari, Senen.

Museum M. H. Thamrin letaknya tersembunyi di dalam pemukiman padat penduduk. Museum ini, menurut Nadrah Chino dan Hanbun dalam buku Jelajah 62 Museum, kalah pamor dengan gedung bertingkat yang berdiri di sekitarnya. Namanya jarang terdengar.

Halaman depan Museum M. H. Thamrin. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Sehari-hari, properti bersejarah ini sepi pengunjung, padahal dulu gedung itu tempat berkumpul para tokoh dari berbagai golongan masyarakat yang disediakan M. H. Thamrin. Thamrin tak lain tokoh Betawi yang berjasa besar bagi bangsa ini.

Sosok M. H. Thamrin diabadikan dalam patung yang berdiri gagah di tengah-tengah halaman yang dikelilingi koleksi pohon besar, di antaranya pohon mangga. Keberadaan pohon itu memberikan keteduhan di kala panas terik matahari. Di tiang bendera yang berdiri dekat lobi utama, bendera Sang Saka berkibar dengan begitu gagah.

Tiket masuk museum hanya Rp5 ribu. Hari itu, saya beruntung mendapat bonus dari petugas loket berupa CD “Museum M. H. Thamrin.”

Halaman depan Museum M. H. Thamrin. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Gratis kak,” kata petugas.

Sebelum masuk ke dalam gedung, petugas dengan ramah meminta izin untuk memotret saya.

“Kak boleh ambil gambar kakak untuk dokumentasi,” ujar seorang satpam.

Siang itu, tak terlihat ada pengunjung lain yang datang ke museum. Tapi, kata petugas, beberapa waktu yang lalu sudah ada pengunjung yang lebih dulu datang.

“Tadi ada rombongan mahasiswa sembilan orang,” ujar petugas keamanan.

Begitu memasuki ruang pamer, terdengar musik khas Betawi.

Museum ini menyimpan berbagai koleksi peninggalan M. H. Thamrin (1894-1941). Di antaranya, sepeda, meja makan, dan meja rias.

Di sebelah kiri pintu masuk terdapat koleksi patung wajah M. H. Thamrin. Di selembar kertas, terdapat tulisan informatif yang menyebutkan kalau M. H. Thamrin merupakan pahlawan kemerdekaan nasional asal Betawi.

Koleksi patung wajah M. H. Thamrin. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Di ruang pamer bagian dalam, terdapat delapan koleksi foto tokoh nasional, di antaranya Entong Gendut, Haji Noer Ali, hingga Ki Hajar Dewantara.

Sedangkan pada bagian tengah gedung terdapat ruangan yang tak begitu besar ukurannya. Di dalamnya tersimpan alat musik asli Jakarta, yakni Tanjidor, kemudian pakaian penari ronggeng Betawi, foto-foto jalanan tempo dulu, hingga lukisan penari Betawi yang diletakkan di atas pintu.

Koleksi alat musik di Museum M. H. Thamrin. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Di luar ruangan itu, tepatnya bagian kanan museum terdapat koleksi delman. Delman merupakan alat transportasi tempo dulu di sekitar Kenari dengan rute jalan di depan Gang Kenari sampai Pasar Ampiun.

Selian delman, ada pula koleksi replika kereta jenazah yang pernah dipakai para pejuang zaman memperebutkan kemerdekaan Republik Indonesia. Replika kereta warna hitam itu diletakkan persis di samping kereta delman. Koleksi lainnya lagi, antara lain uang kertas kuno.

***

Di Jakarta Barat, paling tidak ada sembilan museum. Salah satunya di Jalan Taman Fatahillah, nomor 1, kawasan Kota Tua. Di sana berdiri Museum Sejarah Jakarta atau dikenal Museum Fatahillah.

Museum Fatahillah merupakan bagian dari Museum Kesejarahan Jakarta. Selain Museum Fatahillah, yang termasuk Museum Kesejarahan Jakarta yaitu Museum Joang 45, Museum Prasasti, Museum M. H. Thamrin.

Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. AKURAT.CO/Yudi Permana

Museum Fatahillah diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin pada 30 Maret 1974. Nama asli museum ini Museum Sejarah Jakarta. Dulu namanya Museum Batavia Lama atau Museum Oud Batavia.

Bangunan Museum Fatahillah memiliki sejarah panjang dalam khazanah sejarah Jakarta sejak zaman Hindia Belanda. Properti yang dibangun atas perintah Gubernur Jendral Joan van Hoorn pada 10 Juli tahun 1707-1712 itu dulu dipakai untuk tempat persidangan atau Raad Van Justitie (Dewan Pengadilan) dan Balai Kota Batavia.

Dari luar, gedung berlantai dua itu terlihat gagah. Di salah satu tempat bagian belakang gedung terdapat bekas penjara bawah tanah. Ada enam ruangan dengan panjang dan lebar tiga sampai enam meter, dan tinggi 1,5 meter.

Di ruang tengah Museum Sejarah Jakarta. AKURAT.CO/Yudi Permana

Di lantai terdapat pemberat yang dulu dipakai untuk kaki para tahanan. Orang dewasa tidak bisa berdiri di ruangan itu. Jadi, hanya bisa jongkok atau membungkuk. Jadi bayangkan saja bagaimana rasanya dipenjara di sana. Tokoh yang pernah masuk ke ruang sempit itu, antara lain Untung Surapati, Cut Nyak Dien, dan Pangeran Diponegoro.

Selasa, 26 Maret 2019, ketika saya mengunjungi museum, tidak banyak orang yang datang.

Koleksi yang pajang di dekat pintu masuk museum, antara lain alat musik tempo dulu. Di ruang mural Harjadi, antara lain berisi koleksi lukisan masyarakat dan kerajaan pada masa zaman Batavia.

Pengunjung Museum Sejarah Jakarta. AKURAT.CO/Yudi Permana

Berbagai benda bersejarah periode Batavia masih terawat, baik di lantai satu maupun lantai dua. Di antaranya, koleksi lukisan, senjata api, pedang, piring, gelas, mangkuk, teko (menyimpan air panas), uang kertas maupun logam, alat ukur bata, batu timbangan, dan alat ukur bahan bangunan.

Bahkan, batu dan patung dari Kerajaan Tarumanegara yang ditemukan oleh arkeolog di Durga-Kali dari Tanjung Priok, Pesisir Utara Jakarta, pun masih terjaga di sana.

Museum Fatahillah terus meningkatkan tampilan dengan mengadopsi teknologi untuk memudahkan pengunjung memahami rekam jejak, di antaranya dengan menyediakan monitor 3D, seperti di Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, dan Ruang Batavia.

Lukisan di Museum Sejarah Jakarta. AKURAT.CO/Yudi Permana

Di salah satu ruangan, terdapat audio visual untuk menambah pengalaman serta pengetahuan tentang kondisi desa dan hutan pada masa lalu.

"Alat monitor itu baru tahun ini pengadaannya dan menggunakan anggaran 2019," kata petugas museum.

Menurut petugas teknologi informasi, itu diadakan agar koleksi yang tidak dipamerkan di dalam museum tetap bisa disaksikan pengunjung. Cara mengoperasikan peralatan itu pun sangat gampang, tinggal melambaikan tangan.

"Karena tempatnya tidak cukup, jadi koleksi benda yang ingin dicari bisa dilihat di monitor 3D tersebut," katanya.

Koleksi di Museum Sejarah Jakarta . AKURAT.CO/Yudi Permana

Setelah keliling, saya ke tempat jajanan tradisional yang berada di dekat museum. Menurut pedagang pengunjung Museum Fatahilah sekarang sudah berkurang, terutama semenjak kereta api dari daerah tidak boleh berhenti di Stasiun Jakarta Kota.

"Pengunjung museum sudah menurun, jadi pendapatan penghasilan berkurang. Karena kebanyakan yang datang ke sini para pelajar. Dan mereka buru-buru pergi setelah melihat koleksi benda-benda," katanya.

Pakih, salah satu pengunjung mengatakan datang ke museum untuk mengenal sejarah masa lalu lewat benda-benda warisan zaman dulu.

"Saya pengen tahu peninggalan dari zaman terdahulu. Gimana orang dulu itu tinggi badannya, kehidupannya seperti apa. Kapan Jakarta mulai berdiri. Sejak kapan Jakarta dibuat," katanya usai melihat penjara bawah tanah.

Pintu masuk Museum Sejarah Jakarta. AKURAT.CO/Yudi Permana

Bagi dia, main ke museum biayanya murah dibandingkan ke mal, tetapi banyak pelajaran yang dapat dipetik. Dia sangat berkesan setelah menyaksikan jejak-jejak zaman melalui berbagai barang yang dipamerkan, seperti bambu runcing yang pernah dipakai pejuang dalam merebut kemerdekaan.

“Kalau yang musuhnya memakai senjata api. Kita cuma pakai bambu runcing."

"Oh sangat menarik. Karena ada peninggalan-peninggakan, kayak alat-alat dan benda begitu."

Lukisan masyarakat pada abad ke-18. AKURAT.CO/Yudi Permana

Menurut dia koleksi yang dipamerkan cukup lengkap dan nyaman jika berada di dalam gedung. Tapi, dia berharap kepada para pengunjung tetap menjaga kebersihan lingkungan agar semua orang nyaman selama berada di sana.

Rekan Pakih juga amat terkesan dengan benda-benda peninggalan yang masih terjaga dengan baik di Museum Fatahillah. Rasa penasaran dengan cerita-cerita horor tentang penjara bawah tanah yang selama ini didengarnya, kini sudah terjawab.

"Saya cuma pengen lihat penjara bawah tanah karena katanya bau darah jadi pengin tahu. Dan katanya ada setan gitu," kata dia.

Penjara bawah tanah di Museum Fatahillah. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Gak lihat semua karena keburu keluar, serem juga. Saya pengen tahu aja. Ada batu-batunya gitu, tapi buat apa batu-batu itu."

Pengunjung museum lainnya bernama Aleinia memuji keberadaan Museum Fatahillah. Tapi, dia punya beberapa catatan sekaligus masukan untuk pengelola. Dia mengaku sempat bingung pada waktu pertamakali masuk ke sana. Dia bingung karena merasa tidak mendapatkan petunjuk arah untuk masuk ke beberapa ruang pamer.

"Ini kekurangannya, pas pertama masuk, saya agak kurang mengerti, jalan-jalan masuknya. Habis dari situ ke mana lagi, jadi bingung tadi. Tolong agak diperjelas aja nantinya, terus habis dari situ, kemana lagi, dan bisa masuk ke sini gak. Atau entar ke luarnya gimana. Maksudnya ada petunjuk untuk masuk. Ada sih petunjuk, tapi sempat bingung."

Aleinia, salah satu pengunjung museum. AKURAT.CO/Yudi Permana

Secara umum, dia mengaku cukup puas dengan koleksi yang dipamerkan. Apalagi sudah mulai dilengkapi dengan bantuan teknologi digital untuk memudahkan pengunjung berselancar dengan mudah.

"Mungkin untuk pengunjung yang awam masih berpikir lama untuk memahami. Masih kurang untuk teknologi," katanya.

"Cuma alat monitor yang melambaikan tangan itu. Tapi belum banyak teknologi. Secara keseluruhan sudah lumayan."

***

Di negeri ini terdapat 435 museum yang berada di bawah naungan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Museum-museum itu tersebar di seluruh kota dan kabupaten. Museum Balaputra Dewa berada di Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Bagi Reza berkunjung ke museum merupakan aktivitas yang menyenangkan, sama halnya ke taman hiburan. Apalagi, kalau selama berkunjung ke museum dapat menemukan hal-hal baru. Reza ketika itu sedang mengunjungi Museum Balaputra Dewa. Museum Balaputra Dewa berisi peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Rumah Limas yang menjadi koleksi museum merupakan salah satu primadona di musem yang juga dikenal dengan nama Museum Negeri Sumatra Selatan. Menurut tulisan yang dimuat situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rumah Limas yang terdapat di halaman belakang museum merupakan Rumah Limas yang gambarnya tercantum di uang lembar Rp10 ribu yang dicetak Bank Indonesia pada tahun emisi 2004 dan masih berlaku hingga sekarang.

Banyak pengunjung Museum Balaputra Dewa memfavoritkan Rumah Limas untuk tempat berfoto. Termasuk Reza. Sebelum datang ke sana, dia sudah tahu spot tersebut dan menyiapkan uang Rp10 ribu untuk sebagai pembanding di dalam fotonya.

"Buat senang-senang aja," katanya sebagaimana ditulis dalam situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurut Reza berkunjung ke museum juga bisa menjadi salah satu bentuk rekreasi keluarga.

Siswa SMPN 19 Palembang Dimas Aditya sering berkunjung ke museum itu tidak hanya sekedar rekreasi, tetapi juga untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.

"Misalnya tugas dari guru untuk kerja kelompok membuat prakarya atau latihan seni," tuturnya.

Museum tersebut mengajak pengunjung untuk melihat kembali sejarah peradaban Sumatra Selatan, mulai dari prasejarah, masa Kerajaan Sriwijaya, masa Kolonialisme Belanda dan Jepang, hingga teknologi tradisional budaya. Museum Balaputra Dewa terdiri dari tiga gedung pameran dengan tema yang berbeda-beda. Gedung Pameran 1 diisi dengan koleksi dan pengetahuan tentang zaman prasejarah. Koleksinya antara lain Arca Megalit dari zaman Megalitikum dan Batu Gajah.

Gedung Pameran 2 berisi sejarah Kerajaan Sriwijaya hingga masa kemerdekaan. Palembang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Pada pertengahan abad ke-7 Masehi, Palembang dikenal sebagai Ibu Kota Sriwijaya sekaligus Kota Pelabuhan. Sebagian besar penghasilan Sriwijaya berasal dari perdagangan dan cukai. Selain itu, tinggalan Sriwijaya yang berhubungan dengan sistem keagamaan tersebar di berbagai wilayah Sriwijaya. Tinggalan arca Hindu dan Buddha di Sumatera Selatan mencapai 116 buah.

Di Gedung Pameran 3, pengunjung bisa melihat kerajinan tradisional Sumatra Selatan. Sumatra Selatan juga dikenal kaya akan kerajinan tradisional, di antaranya ukiran, anyaman, logam, dan tenun. Benda hasil kerajinan ada yang berfungsi sebagai alat pelengkap upacara. Motif-motif yang dibuat pada benda hasil kerajinan juga mempunyai arti. Misalnya, motif "Nago Besaung" pada kain songket memiliki simbol kekuasaan, kemakmuran, dan keterikatan.

Animo masyarakat, terutama generasi milenial, untuk mengunjungi museum patut mendapatkan apresiasi yang besar. Tapi sayangnya, memang sebagian museum sepertinya belum benar-benar siap. Banyak koleksi yang dipamerkan museum seakan-akan membisu sehingga pengunjung yang melihatnya kurang mendapatkan edukasi.

***

Sejumlah hal dianggap sebagai penyebab sepinya pengunjung museum.

Kepala Satuan Pelayanan Museum M. H. Thamrin, Roosdiana Rahman, mengatakan lokasi museum berpengaruh terhadap tingkat kunjungan. Pengalaman selama mengelola Museum M. H. Thamrin telah membuktikannya.

Akses menuju museum lewat Jalan Kenari II yang sempit membuat bus rombongan pengunjung tidak bisa masuk. Dia membandingkan akses menuju museum-museum lain yang bisa leluasa dilewati kendaraan-kendaraan besar yang membawa rombongan pengunjung.

Kasatpel Museum M. H. Thamrin Roosdiana Rahman. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Kalau museum lain bisa masuk, kalau di sini gak bisa masuk. Sebetulnya dari sekolah mana jauh-jauh ingin ke sini pakai bus besar, tapi gak bisa masuk. Itu kendala kenapa museum ini lebih sepi karena akses jalan,” kata perempuan berusia 58 tahun itu.

Roosdiana sudah pernah menyampaikan persoalan tersebut kepada pengambil kebijakan. Selebihnya, dia tidak bisa berbuat lebih jauh lagi, selain terus menerus berjuang mempromosikan museum kepada masyarakat.

“Saya gak bisa bilang karena itu kebijakan pemerintah pusat pemda DKI. Karena itu ada pedagang, ada ini itu bukan wewenang saya untuk bilang. Tapi saya dah sampikan kalau kendala masalah museum ini adalah akses,” ujarnya.

Bagian tengah Museum M. H. Thamrin. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Memang ada yang bilang kenapa museum ditaruh di sini. Tapi kan karena gedung bersejarahnya di sini, gak bsa dipindahin. Ada BCB di sini, bagunan cagar budaya dan gak bisa dipindahkan.”

Tapi menurut Kepala Museum Nasional Siswanto ada beberapa faktor lain lagi yang bisa mengakibatkan museum kurang diminati masyarakat, utamanya kawula muda.

Pertama, masalahnya berada di internal pengelola museum sendiri. Misalnya, koleksi dan bangunan yang terlampau monoton. Koleksi dan bangunan yang itu-itu saja, kata dia, bisa membuat masyarakat bosan dan cenderung segan datang ke museum lagi.

Kepala Museum Nasional, Siswanto. AKURAT.CO/Yudi Permana

Kedua, bisa jadi karena keterbatasan sumber daya manusia dan keterbatasan ilmu untuk membuat museum lebih menarik. 

Ketiga, lokasi juga menentukan prestasi. Berikutnya faktor anggaran yang tidak memadai juga bisa ikut mempengaruhi.

"Sebetulnya sederhana, tapi membutuhkan kemampuan dan kemauan. Seperti SDM-nya harus cukup, cukup jumlah dan cukup kualitas. Kemudian anggarannya cukup. Ada saling keterkaitan. Kemudian juga lokasi seperti parkir susah, dan lain-lain. Itu mempengaruhi," katanya. [Maidian Reviani, Yudi Permana, Herry Supriyatna]

Baca juga:

Tulisan 1: Ada Museum yang Masih Membuat Pengunjung Takut

Tulisan 2: Yang Diharapkan Ketika Datang ke Museum

Tulisan 3: Benah-benah Museum Demi Gaet Milenial

Tulisan 4: Museum dan Tantangan Zaman

Tulisan 5: Serba-serbi Museum

Tulisan 6: Interview Erwin Kusuma: PR Kita Bagaimana Museum Gerakkan Program Publik

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Revolusi Museum

Interview Erwin Kusuma: PR Kita Bagaimana Museum Gerakkan Program Publik 

Image

News

Revolusi Museum

Serba-serbi Museum

Image

News

Revolusi Museum

Museum dan Tantangan Zaman

Image

News

Revolusi Museum

Benah-benah Museum Demi Gaet Milenial 

Image

News

Revolusi Museum

Yang Diharapkan Ketika Datang ke Museum

komentar

Image

3 komentar

Image
emil sampeno

Mungkin masih kurang sesuatu yang membuat daya tarik hingga membuat pengunjung menyemplung minum air..

Image
Resta Apriatami

sayang sekali yaa banyak museum yg tidak bisa dimanfaatkan maksimal

Image
Gethya SN

Iyaa sih kadang memang suka masih serem kalau masuk museum..

terkini

Image
News

Rasisme Itu Dosa Asal Amerika

Prilaku buruk kepada Komunitas Muslim semakin menjadi-jadi sejak terpilihnya pemerintahan Amerika saat ini.

Image
News

Ngopi di Teras hingga Main Bareng Cucu, 6 Potret Santai Bamsoet saat di Rumah

Sesekali, Bamsoet bersantai di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi.

Image
News

Airlangga Pastikan Pemerintah Tak Cabut PSBB dan Segera Terapkan New Normal

Ini merupakan langkah strategis yang merupakan rekomendasi WHO, dan sudah diberlakukan di beberapa negara.

Image
News

Menko PMK: Saya Rasa Revolusi Mental itu ada di Kampung Tangguh Mandiri

Muhadjir mengatakan, pihaknya akan menerjunkan tim untuk mempelajari pola kampung tersebut. Kemudian, akan ditularkan secara masif di tempat

Image
News

Yorrys Raweyai: Kasus George Floyd Pelajaran Penting untuk Papua

Unjuk rasa merebak di sebagian wilayah di Indonesia, hingga di Papua dan Papua Barat.

Image
News

Heru Hidayat Didakwa Cuci Uang Korupsi Jiwasraya untuk Judi Kasino

Setidaknya ada tiga tempat terkait judi kasino yang diungkap jaksa dalam surat dakwaan.

Image
News

Kerja Sama KPK-Polri Dalam Penangkapan Nurhadi Diapresiasi

Sejak Nurhadi buron, KPK sudah meminta bantuan Polri.

Image
News

Hadapi Developer Nakal, Warga Lebak Bulus Minta Perlindungan Hukum ke Komisi Yudisial

Tinggal tunggu waktunya saja enggak lama lagi.

Image
News

Panggil Ketua KPK, Mahfud MD Dorong Penegakan Hukum Terus Dilakukan

Penegakan hukun dilakukan tanpa pandang bulu.

Image
News

Kasasi Ditolak MA, KPK Segera Eksekusi Eks Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar

Amar putusan: terdakwa tolak, jaksa penuntut umum tolak perbaikan.

terpopuler

  1. Hebohnya Komentar Warga Indonesia yang Rekam Demonstrasi George Floyd di AS

  2. Demo Kematian George Floyd Rusuh, Sarah Azhari Kabarkan Kondisinya di Los Angeles

  3. Dokter Wuhan yang Kulitnya Menghitam karena Corona Akhirnya Meninggal

  4. Tak Setuju Dana Haji untuk Intervensi Pasar, MPR: Jangan Menambah Kekecewaan Rakyat

  5. Mahfud MD: Penangkapan Nurhadi Bukti KPK Kerja Tanpa Koar-koar

  6. Ungkap Kesedihan, Kekasih George Floyd: Ia Tak Akan Pernah Melihat Putrinya Tumbuh Dewasa

  7. Komentari Kematian George Floyd, Justin Bieber: Masalah Kulit Hitam adalah Masalah Kita Semua

  8. Bak Istana, 7 Potret Rumah Komedian Sule yang Mewah Abis

  9. AHY Bangga dan Memujinya karena Berani Lockdown, Wali Kota Tegal: Saya Lawan Virus Corona dengan Virus Psikologi

  10. Ternyata Ini Lho Alasan Mengapa Indonesia Jadi Negara Tujuan Investasi

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Imam Shamsi Ali

Rasisme Itu Dosa Asal Amerika

Image
Muhammad Adlan Nawawi

Pendidikan di Era New Normal

Image
Dr. Abd. Muid N., MA.

Kota di Masa Pandemi

Image
Abdul Aziz SR

Salah Urus dan Salah Pengurus

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Ngopi di Teras hingga Main Bareng Cucu, 6 Potret Santai Bamsoet saat di Rumah

Image
Hiburan

Cerita Kocak WFH, Yang Dilakukan Emak-emak ini Sambil Rapat Kantor Bikin Ngakak

Image
Ekonomi

Terjerat Narkoba hingga Distributor Resmi 7 Brand Kaca Film, 5 Fakta Menarik Christopher Sebastian, Pendiri Makko Group