image
Login / Sign Up

Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu

Maidian Reviani

Angkutan Tempoe Doeloe

Image

Budayawan asli betawi Ridwan Saidi ketika diwawancarai di kediamannya, Jakarta Selatan | AKURAT.CO/Herry Supriyatna

AKURAT.CO Sejarawan Ridwan Saidi tinggal di rumah Jalan Merak 2, nomor 31, Blok N 3, Bintaro Jaya, Jakarta Selatan.

Di pekarangan sebelah kiri rumah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (1977-1987) itu tumbuh beberapa pohon, di antaranya buah nangka yang sedang berbuah.

Di dinding garasi rumah Ridwan Saidi terdapat sejumlah koleksi lukisan. Sejumlah lukisan lain juga terdapat di sebuah ruangan di dalam rumah. Salah satunya lukisan tentang sejarah Sunda Kelapa dan Pasar Senen.

baca juga:

Selain mengoleksi lukisan, budayawan Betawi kelahiran 1942 itu juga punya banyak koleksi buku, di antaranya buku-buku tulisannya sendiri, Memori Jakarta.

Siang itu, reporter AKURAT.CO, Maidian Reviani dan Herry Supriyatna mewawancarai lulusan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia itu. Tema wawancaranya seputar sejarah transportasi di Jakarta.

Keluasan wawasan dan pikiran kritis tergambar dalam pernyataan-pernyataan yang disampaikan Ridwan Saidi. Misalnya ketika menyebut asal-usul Jakarta. “Nggak ada nama Jayakarta, kota ini gak pernah dinamai Jayakarta,” kata dia.

Soal transportasi, dia bicara sejak zaman perahu dan kuda. “Belum delman,” kata dia. Delman baru muncul kira-kira akhir abad 19 atau menjelang abad 20.

Di masa lalu, Jakarta juga punya angkutan umum berupa trem uap yang mulanya trem kuda (sekitar perang Diponegoro abad 19). Setelah trem uap, muncul trem listrik. “Trem listrik abad 20. Awal 20 masih uap. Trem dulu, becak itu belakangan.”

Kami mewawancarai Ridwan Saidi sekitar 30 menit. Berikut ini petikan wawancara Ridwan Saidi.

Perkembangan kota Jayakarta menurut babeh gimana?

Nggak ada nama Jayakarta, kota ini gak pernah dinamai Jayakarta. Jadi gini, supaya clear dulu. Pertama harus tahu Kota ini dulu sebuah city stage atau negara kota. Di sini gak ada kerajaan, jadi gelar bangsawan, pangeran gak ada di sini. Nama kota ini kalau daerah kawasan pelabuhan namanya Sunda Kelapa. Kalau nama kota ini Majakatera, land of power. Orang Jakarta kan memendekkan Jaketra. Jaketra jadi Jakarta, Jakarta diubah Belanda 1623 jadi Batavia. Orang Jakarta dan Jepang memperoleh dengan penggantian nama itu. Kemudian pada zaman Jepang menjadi Jakaruta. Nah, jalan kemerdekaan jadi Jakarta lagi. Jadi perlu dicatat, kota ini belum pernah dinamai Jayakarta.

Sejarawan, Ridwan Saidi. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Awalnya orang yang tinggal Jakarta atau Jaketra itu alat transportasinya apa?

Kalau transportasi umum dari awal itu perahu. Kalau di darat orang itu naik kuda, belum delman. Jadi kalau ada nama tempat nama Kranggan atau di daerah Pamulang. Itu di sana ada tempat penakaran kuda. Jadi itu dulu perahu kalau di darat itu adalah kuda, yang naik kuda saat itu kebanyakan orang-orang berada, karena kan mahal. Kalau orang yang gak punya duit ya jalan kaki. Itu yang awal. Kemudian muncul mulai abad ke-8 kendaraan angkut gerobak semuanya serba kayu. Saat itu masih Jaketra.

Sejak kapan alat transportasi umum muncul di Batavia?

Dari delman terus baru muncul becak itu kira-kira akhir abad 19 menjelang abad 20. Itu membutuhkan jalanan bagus, kalau becak. Jalanan bagus itu setelah Daendels (gubernur jenderal Belanda). Dia kan baru membuat jalan, ibarat kata ya dirapihin dah.

Kalau ojek sepeda itu mah baru, gak populer, itu kan hanya daerah pesisir. Kalau angkutan umum trem uap, mulanya trem kuda dulu sekitar perang Diponegoro abad 19. Dari mulai trem kuda, uap baru trem listrik. Trem listrik abad 20. Awal 20 masih uap. Trem dulu, becak itu belakangan.

Itu zaman siapa pemimpinnya?

Waktu itu pemimpinya Syahbandar. Syahbandar itu artinya walikota. Saya gak mungkin ingat siapa namanya. Yang terkenal aja dua itu juga julukan, dari abad 15-16, Wa Item sama Bathara Katong. Yang lainnya kita gak ingat karena gak ada catatannya.

Apa pengaruhnya setelah muncul alat transportasi umum ke ekonomi, budaya dan lain-lain?

Pengaruh transportasi ke ekonomi dan budaya semakin menunjang. Artinya kan kota ini kaya, karena pelabuhannya itu strategis. Penduduk juga menjadi kaya karena orang banyak membutuhkan air bersih untuk berlayar, lalu juga membutuhkan perbekalan untuk melaut itu kan harus ada makanan yang awet, biasanya adalah wajik sama buah pala. Itu awet untuk pelayaran. Kemudian dia membuat tambang, kan dari jerami, itu laku karena orang membutuhkan tambang untuk menarik perahu dan segala macam. Dulu penduduknya itu selain berdagang itu berlayar, jasa angkutan air.

Pajangan di dinding rumah Ridwan Saidi. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Tapi delman sendiri ada masa kejayaan nggak beh?

Delman itu jaya pada abad 19 apa kemerdekaan itu, tahun 50-lah. Masih jaya delman sampai tahun 50.

Babeh sempat ngerasaian? Terus kalau ngerasain dari tarif berapa?

Ngerasain, saya nggak inget kalau tarif. Karena tawar menawar itu kan urusan orang tua saya. Itu kan keluarga biasanya, jarang orang sendiri naik delman, mahal. Terus delman redup itu setelah belum lama pas Orde Baru mulai terpinggirkan.

Delman itu tawar menawar, delman itu service pemerintah kota ada, jadi ada dua fasiliti untuk kuda. Satu namanya gombongan, gombongan itu tempat minum. Jadi pemerintah kota menyedikan tempat itu buat kuda. Yang satu lagi namanya pencebokan. Pencebokan itu mandiin kuda. Dibilang cebok karena kuda kan yang dimandiin pantatnya doang. Bukan sekujur badan. Makanya disebut pencebokan, itu fasilitas dari pemerintah kota.

Sampai kapan ada fasilitas itu?

Sejak delman mengurang, terus pemerintah kota juga membutuhkan pelebaran jalan, jadi gombongan disapu, kalau pencebokan kebanyakan di pinggir kali.

Tahun berapa?

Ya itu berkurang aja, orang pada akhirnya ngurus kuda di rumah sendiri. Kepadatan penduduk juga, orang terganggu. Orang membutuhkan kali untuk menyuci, untuk apa, masa bersaing sama kuda.

Pajangan di dinding rumah Ridwan Saidi. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Tapi delman dulu emang ada dimana-mana beh? Maksudnya kayak bebas di mana aja. Terus pas dulu emang kotorannya delman banyak di jalan?

Ada di stasiun-stasiun kereta api, dia mangkal, kaya sekarang taksi gitu. Kalau tai kuda rame bukan banyak.

Kalau masa kejayaan becak?

Becak jaya sebelum Gubernurnya Ali Sadikin, abis itu mulai redup. Mereka mulai terpinggirkan. Becak Ali Sadikin. Ojek sepeda sampe sekarang.

Tapi tahu nggak beh terpinggirkan karena apa?

Ya kalah dengan transportasi dengan banyak bus. Mana mau orang naik delman mahal. Lagian tai kuda kan dilarang, kan katanya bahaya. Meski ditadahin penada tapi tetep aja.

Terus perkembangan transportasi pas masa keemasan becak gimana?

Keemasan pas tahun 30-lah, pas masuknya Jepang, orang-orang Belanda pada suka naik becak. Tahun 30 sampai 50 zaman masa keemasan. Becak dulu dihias, kaya dikasih lukisan, bulu-bulu ayam.

Tapi emang modelnya begitu dari dulu?

Iya dari dulu sama, tapi becak Jakarta beda sama becak Jawa, kalau Jakarta kapnya tinggi.

Kalau awal mula ojek sepeda gimana?

Nggak populerlah itu mah. Orang pada nggak mau dikentutin, karena yang naik duduk di belakang. Ya orang gak mau, emang ada orang mau dikentutin.

Apakah zaman dulu yang bisa naik angkutan umum itu ada semacam kelas-kelas sosial?

Gerobak itu disewakan. Jadi yang punya duit. Gerobak gak diperuntukan orang, tetapi hanya barang. Nak, kalau becak tahun 40-50-an orang-orang Belanda pada suka naik becak. Kalau delman kan mahal harganya, hanya untuk orang-orang mampu aje. Terus ojek sepeda kebanyakan yang naik itu orang pesisir. Itu mah gak populer lah (ojek sepeda).
Nah baru muncul trem kuda dan uap yang khusus untuk orang Belanda. Tapi setelah itu ada trem listrik yang dibagi tiga kelas, kelas satu untuk orang-orang Belanda, kelas dua untuk warga asing selain orang Belanda, nah kelas tiga untuk orang pribumi dan kambing saja. Kelas satu bangkunya bagus, kelas dua bangkunya rada jelek, kelas tiga gak ada bangku (berdiri).

Panjangan di dinding rumah Ridwan Saidi. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Selain kambing boleh? Terus rute layanan trem ketika itu kemana saja?

Bukan, hanya kambing dan pribumi saja. Dari Pasar Tanah Abang ke Kota, dari Kampung Melayu ke Kota, gitu kan.

Setelah itu muncul angkutan apa lagi?

Bemo langsung main, sekitar tahun 60. Bajaj itu belakangan. Bemo dulu kan diatur rutenya dan tidak bisa masuk becak.

Terus kalau ditarik ke masa sekarang, udah ada Transjakarta, baru lagi MRT gimana tuh beh?

Ah MRT nggak laku, gratis aja jarang naik, apalagi nanti bayar. 10 ribu tuh mahal.

Tapi apa menjawab persoalan nggak?

Udalah nggak usah cerita dari segi itunya, intinya itu kurang penelitian bikin apa-apa. Orang pada gak mau, rencana ditarif 10 ribu, pada maunya lebih baik naik motor. 20 ribu bolak balik pada nggak mau. Orang mengkonsumsi untuk pagi aja nggak lebih dari 5 ribu. Biasanya ketan, gorengan. Kita meski realistis aja, liat kemampuan orang rata-rata.

Nah beh, zaman Anies kan mau hidupin becak lagi, udah ada perdanya juga tahun 2007, cuman pas Anies menjabat agak diberi kelonggaran tuh, becak boleh cuman hanya angkutan lingkungan aja. Gimana tuh?

Ya menurut saya lingkungan itu daerah-daerah pinggir, ya kaya sekarang itu seperti daerah Teluk Gong. Sekarang kalau tengah agak susahlah ya.

Tapi berarti masih bagus ya?

Boleh, kalau untuk menampung pengangguran. Paling kalau ada orang belanja ikan, deket pasar ikan juga kan di Dadap. Di sana banyak ibu-ibu pengguna jasa becak.

Nah menurut Babeh perlu nggak sih transportasi umum kayak dulu becak, delman dan lain-lain difungsikan lagi? Atau dilestarikan?

Kalau masuk kota ya udah nggak mungkin ya, dulu aja becak jaman Walikota Sudiro mulai dibatasin, karena trem kan. Trem melintas kota, akhirnya trem yang ngalah. Trem dihentikan karena banyak tabrakan. Trem yang mengalah, jadi nggak bisa mengalahkan becak. Banyak kecelakaan.

Jadi harusnya gimana beh menangani kayak semrawut macet dan polusi?

Mengurangi bisa, menghilangkan susah. Karena penduduk bertambah terus. Orang pada sekarang kota, susah. Kota dibawa ke desa juga gak laku. []

Baca juga:

Tulisan 1: Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota

Tulisan 2: Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

Tulisan 3: Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia

Tulisan 4: Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Tulisan 5: Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Wali Kota Jakbar: Jamaah Masjid Jami Kebon Jeruk Dipindahkan ke RS Wisma Atlet Malam Ini

Alhamdulilah, kloter pertama tadi 39 orang sudah diberangkatkan ke Wisma Atlet Kemayoran

Image
News

Bertambah 11 Kasus, Tenaga Medis yang Terjangkit Corona di Jakarta Jadi 61 Orang

"Per 28 Maret 2020 jumlah kasus di Jakarta yang positif COVID-19 menjadi 603 kasus dengan 62 orang meninggal dunia,"

Image
News

Merapi Erupsi Lagi, Tinggi Kolom Abu Terpantau 3 Ribu Meter

Image
News
Wabah Corona

DIY Siap Gelar Rapid Test Corona, Prioritaskan Tenaga Medis

Image
News

Petugas Kesehatan di Wisma Atlet Dapat Bantuan Kopi Siap Saji

Selain memberikan dukungan terhadap pekerja medis di Wisma Atlet, Mayora Group juga memberikan layanan masyarakat

Image
News
Wabah Corona

Cegah Penyebaran Covid-19, Bupati Tabanan Larang Restoran Buka Layanan Makan di Tempat

Pokoknya sampai semuanya benar-benar sudah aman.

Image
News
Wabah Corona

Gagal Terapkan Kebijakan 'Social Distancing', PKS Nilai Pemerintah Tidak Siap Hadapi Covid-19

Ketidak kepedulian itu kan malah ditampilkan di pejabat negara

Image
News
Wabah Corona

Gubernur Anies Imbau Warga Tak Tinggalkan Jakarta

Pesan ini sesungguhnya sudah saya sampaikan berkali-kali.

Image
News
Wabah Corona

Anies Baswedan Perpanjang Tanggap Darurat Jakarta Hingga 19 April

Pembatasan tetap berjalan, karena itu status tanggap darurat diperpanjang dimana semula sampai 5 April menjadi 19 April

Image
News
Wabah Corona

Warga Kauman Pati Mulai Batasi Orang Luar Masuk ke Perkampungan

Tindakan warga melakukan pembatasan orang masuk kampung akan dikoordinasikan, termasuk dengan bupati.

terpopuler

  1. Tak Kuat Lawan Corona, Wakil Ketua DPD PDIP Jabar Meninggal

  2. Pasien Positif Corona Sembuh: Jangan Percaya Berita Hoaks, Nyatanya Bisa Sembuh

  3. Nasib TKI Saat Malaysia Lockdown, Kades: Ada Keluarga yang Jual Ternak sampai Perhiasan untuk Dikirim Agar Tetap Bisa Makan

  4. Jubir Gugus Tugas COVID-19 Sumut Bantah Gubernur Edy Rahmayadi di Isolasi

  5. Politikus Demokrat: Pak Jokowi, Apa yang Membuat Bapak Jadi Peragu untuk Putuskan Lockdown atau Tidak, Jelaskan Saja Pada Rakyat

  6. Sebelum Meninggal Anggota DPR RI Imam Suroso Sempat Blusukan di Pasar Puri Kabupaten Pati

  7. Menkopolhukam: Pastikan Tidak Ada Lockdown Tapi Karantina Wilayah

  8. Masuk Forbes hingga Hobi Berkebun, Ini 5 Fakta Menarik Amanda Susanti, Pendiri Sayurbox

  9. Pemerintah Aceh: Jangan Sembunyikan Saudara Kita yang Baru Pulang dari Daerah Penularan Covid-19, Itu Sangat Berisiko

  10. Wilmar Peduli Alokasikan USD1 Juta Ringankan Dampak Covid-19

ibunda jokowi

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
Zainul A Sukrin

Pandemi Covid-19 dan Keseimbangan Kekuasaan dalam Budaya Jawa Tradisional

Image
Reza Fahlevi

Gotong Royong Melawan Covid-19

Image
Azhar Ilyas

Video Call Jadi Komunikasi ‘Normal’ Sejak Pandemi Covid-19

Image
Ujang Komarudin

Pilkada di Tengah Corona

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
Ekonomi

Masuk Forbes hingga Hobi Berkebun, Ini 5 Fakta Menarik Amanda Susanti, Pendiri Sayurbox

Image
News

Diberhentikan Secara Tidak Hormat, 5 Fakta Penting Komisioner KPU Evi Novida Ginting

Image
News

Wabah Corona

Sri Mulyani hingga Retno Marsudi, 8 Potret Menteri Srikandi Jalani WFH