breaking news: Pencipta Lagu Anak, Papa T Bob Meninggal Dunia

image
Login / Sign Up

Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia

Herry Supriyatna

Angkutan Tempoe Doeloe

Image

Warga melintas di tempat parkir Shelter Becak Terpadu yang terletak di Jalan K, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta, Sabtu (29/9/2018). Tiga lokasi di wilayah kelurahan Pejagalan ditetapkan sebagai shelter becak terpadu, diantaranya adalah Jalan K RW 09, Jalan Fajar RW 17, serta Jalan B Raya RW 08. Penetapan lokasi tersebut bertujuan untuk mengatasi kepadatan lalu lintas. | AKURAT.CO/Endra Prakoso

AKURAT.CO “Saya mau tamasya, berkeliling-keliling kota, hendak melihat-lihat, pemandangan yang ada, saya panggilkan becak, kereta tak berkuda, becak, becak coba bawa saya...”

Munculnya lagu berjudul Naik Becak karangan Ibu Soed itu menandakan pada masanya, becak sangat diganderungi masyarakat. Di Jakarta tahun 1950-an, selain delman, kendaraan beroda tiga yang digerakkan oleh tenaga manusia itu amat mudah dijumpai di jalan-jalan.

Becak wara-wiri mengantarkan penumpang. Becak lebih fleksibel dibandingkan delman karena bisa masuk ke gang-gang sempit pemukiman penduduk.

baca juga:

Jauh sebelum itu 1950-an, kalau menurut cerita Ketua Serikat Becak Jakarta Rasdullah, becak sudah ada di Jakarta. Dia mengatakan becak sudah ada di kota ini sejak kakeknya masih remaja. Dia teringat setiap mau tidur malam, kakek menceritakan kisah becak pada zaman kolonial.

Becak. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Becak ketika itu pernah dipakai untuk mengangkut senjata milik militer Belanda untuk diselundupkan ke pasukan Indonesia. Becak digunakan untuk membawa senjata yang diambil dari kompeni karena keberadaannya tidak dicurigai.

"Kakek saya juga sempat ngumpet-ngumpetin senjata lewat sampah dan becak, padahal dia bukan tentara. Terus dikasih kepada militer yang pada waktu itu pakai baju biasa, tapi kakek saya tahu yang mana tentara yang mana orang biasa," kata Rasdullah.

"Becak, zaman Soekarno ikut berjuang juga menurut kakek saya. Cerita kakek saya bahwa teman kakek saya itu pernah bawa Pak Soekarno ke dalam Istana," kata dia.
Itu sebabnya, karena begitu berjasa dalam perjuangan, becak sampai diberi tanda khusus berupa dua lambang bintang di sebelah kanan dan kiri.

"Pada waktu itu, becak menyelamatkan Soekarno ke Tugu Proklamasi dari pasukan sekutu. Nah sejak saat itu becak diberikan bintang dua karena ikut berjuang," kata Rasdullah.

***

Tahun 1950-an hingga tahun 1960-an, jumlah becak bertambah banyak, khususnya di Tenabang. Baru tahun 1970-an, menurut Abdul Chaer dalam buku Tenabang Tempo Doeloe, pemerintah Jakarta menghapus becak karena dinilai merendahkan derajat bangsa dan mengganggu lalu lintas.

Meskipun dilarang beroperasi oleh pemerintah daerah, ketika itu dunia perbecakan tak langsung mati begitu saja. Sebagian penarik becak tetap beroperasi, tetapi menyingkir ke pinggiran kota.

Becak tak bisa dimusnahkan. Bahkan, sampai sekarang kendaraan itu masih bisa ditemukan di Jakarta, tentu saja dalam skala kecil saja, seperti di sekitar Pasar Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara.

Siang itu, saya bertemu penarik becak bernama Dalil Samsudin (59) dan Wasimun (60) di Jalan H, yang tak jauh dari Pasar Teluk Gong. Dalil menjadi penarik becak sejak tahun 1982. Larangan pada waktu itu ibarat hanya galak di atas kertas. Di lapangan, menurut cerita Dalil, becak masih bebas berseliweran.

Becak. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

"Waktu itu saya mengantar pelanggan dari Pasar Ikan, Jakarta Utara ke Tanjung Duren, Jakarta Barat,” katanya.

Tahun 1980-an tak banyak saingan becak. Angkutan umum berbahan bakar minyak masih terbatas. Becak dipakai untuk antar jemput ke pasar atau berangkat dan pulang kerja.

Pelanggan Dalil berasal dari berbagai latar belakang ekonomi. Suatu ketika, dia pernah mengantar bule dengan bayaran lima dolar Amerika Serikat.

Era Presiden Soeharto menjadi era keemasan bagi penarik becak, seperti Dalil. Beda dengan zaman reformasi, becak benar-benar tak boleh operasi di jalan raya. Zaman reformasi, becak hanya boleh mengangkut penumpang di sekitar pemukiman penduduk atau pasar.

Rekan Dalil, Wasimun, juga menjadi penarik becak sejak remaja. Dia menekuni pekerjaan itu sejak 1985. Dia teringat ketika pertama-tama datang ke Jakarta, pelanggan banyak sekali, terutama anak-anak sekolah. Pada suatu hari, dia amat beruntung. Wasimun mendapat penumpang yang belakangan diketahui sebagai selebritis.

Becak. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

"Dulu juga ada yang naik artis, tetapi saya gak tahu namanya. Banyak orang yang foto-foto," ujar Wasimun sambil menyeruput kopi hitam.

Secara finansial, era itu pendapatan becak terjamin. Tetapi pada zaman itu menjadi penarik becak juga mesti siap dengan risiko kejahatan di jalan raya. Penodongan terjadi di berbagai tempat, terutama daerah Teluk Gong arah Jelambar.

Wasimun sendiri pernah menjadi salah satu korban kriminal ketika sedang mengantarkan pelanggan. Di tengah jalan, dia dihentikan dua bandit bersenjata celurit. Teman dari

Wasimun malah lebih parah lagi. Dia ditodong di tengah jalan. Di bawah ancaman, dia disuruh bugil dan becaknya diambil.

"Pokoknya sekitar tahun 1983-1985. Angkut penumpang dari sini (Teluk Gong) ke Jelambar aja gak berani. Saya pernah ditodong di depan bioskop Aladin, penumpangnya diambil kalungnya, terus leher saya dikalungi clurit. Satu orang di depan, satu orang lagi di belakang. Itu penumpangnya yang diambil, kalau becaknya alhamdulillah gak apa-apa," kata Wasimun.

Pada tahun 1988, Gubernur Jakarta Wiyogo Atmodarminto menerbitkan aturan untuk penertiban becak. Wiyogo dikenal sebagian tukang becak sebagai gubernur galak.

Becak. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

"Becak sudah mulai gak ada total pada tahun 1991. Saat itu gubernurnya adalah Pak Wiyogo," kata Dalil.

"Gubernur (Wiyogo) yang galak," Wasimun menambahkan.

Sebenarnya sebelum Wiyogo sudah ada aturan-aturan yang membatasi operasional becak, seperti ketika Ali Sadikin masih memimpin Jakarta. Becak dilarang karena dianggap menghambat arus lalu lintas, biang macet, dan tidak manusiawi karena memakai tenaga manusia.

Tapi pada 1992, menurut Dalil, jumlah becak mulai banyak lagi di Jakarta. "Ya setahun lagi (setelah 1991) pada nongol lagi (becak yang beroperasi di Jakarta)," kata Dalil.

Para penarik becak kembali mendapatkan udara segar pada tahun 1998 atau ketika negeri ini dilanda krisis moneter. Gubernur Sutiyoso yang ketika itu memberikan toleransi kepada penik becak untuk tetap beroperasi dengan catatan hanya pada waktu ekonomi masih gonjang-ganjing. Setelah ekonomi membaik, dia minta wilayah operasional becak dibatasi hanya zona-zona tertentu.

Ketika itu, banyak penarik becak asal daerah datang ke Jakarta. Jumlahnya yang berseliweran di Ibu Kota semakin bertambah.

Seiring perkembangan moda transportasi -- apalagi sekarang menjamur angkutan umum berbasis pemesanan secara online -- dengan sendirinya keberadaan becak terpinggirkan.

Keberadaan becak di kawasan Teluk Gong, Penjaringa. AKURAT.CO/Gerdiansyah

Dalam sehari, kata Wasimun, sekarang ini untuk mendapatkan uang Rp50 ribu susah setengah mati.

"Paling besar 50 ribu, minimal 30 ribu. Itu karena saya gak punya langganan. Gak tahu kalau yang punya langganan," kata Wasimun, penarik becak asal Brebes, Jawa Tengah.

"Kita narik setiap hari, tidurnya juga di depan ruko itu, kadang di becak aja kalau hujan," kata Dalil sambil menunjuk ke arah ruko.

Nasib usaha becak kian tidak menentu, ditambah lagi aturan yang juga tidak pasti. Satu gubernur menolak, gubernur yang lain memberi angin segar. Jakarta punya peraturan daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Pasal 29 ayat 1 huruf b menyebutkan setiap orang atau badan dilarang mengoperasikan dan menyimpannya becak atau sejenisnya.

Sejak tahun lalu, muncul setitik harapan bagi para penarik becak. Gubernur Jakarta Anies Baswedan akan memberi lampu hijau kepada becak dengan catatan hanya beroperasi di kawasan-kawasan tertentu, seperti pemukiman.

"Kalau saya sih harapannya agar becak tetap diperbolehkan beroperasi, yang penting tertib dan teratur. Tetapi udah dibolehkan banyak juga yang melanggar. Kan kalau nanti ganti gubernur ganti lagi peraturannya. Ini Pak Anies saja punya kebijakan sama orang-orang kayak kita," kata Dalil.

Becak. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Di tengah perbincangan, seorang perempuan datang untuk menyewa becak Wasimun. Tapi sebelum Wasimun mengayuh becak, saya mewawancarai perempuan itu. Cerita pengakuan perempuan itu membuktikan omongan para abang becak bahwa sekarang masih punya pasar. 

"Naik becak sudah sejak lama, kalau dulu jarak jauh masih bisa naik becak, kalau sekarang paling yang dekat-dekat aja," kata perempuan itu sambil menutupi wajah dengan payung.

Dia memilih menumpang becak daripada ojek sepeda motor karena ingin membantu para penarik becak yang sekarang sudah kalah saing.

"Karena kan kasihan daripada naik ojek online. Nah, tapi biasanya saya menggunakan becak tujuannya dekat-dekat aja. Kalau jauh ya tetap naik angkutan umum yang lain," kata dia. Tak lama kemudian, becak yang dia tumpangi pelan-pelan bergerak pergi.

Dalil tetap bertahan sebagai penarik becak karena jenuh kalau tidak memiliki kegiatan di kampung halaman. Sebenarnya, ayah dari empat anak itu sudah lama disuruh pulang kampung. 

"Tetapi kalau sewanya gak ada juga lama-lama becak punah. Palingan saya juga pulang kampung kalau sewanya udah gak ada, kerja apa aja. Lagian juga anak udah gak boleh saya jadi tukang becak," ujar Dalil.

Beberapa waktu kemudian datang dua perempuan muda. Mereka minta diantar Dalil. Tapi sebelum pergi, salah satu perempuan bernama Sandra mengatakan kepada saya bahwa becak merupakan alat transportasi yang nyaman. Selain itu, dia memilih becak karena ingin membantu perekonomian pemiliknya.

"Biasanya tujuannya yang dekat-dekat saja sih. Kalau jauhnya pakai online," kata perempuan bernama Asvi.

***

Menurut data terakhir yang dimiliki Serikat Becak Jakarta, jumlah penarik becak di Jakarta sekarang 1.685 orang. Pendataan dilakukan setelah diminta Dinas Perhubungan usai Anies Baswedan mengatakan akan melegalkan becak lagi.

"Tadinya banyak, tapi ketika Anies menjabat sebagai gubernur pernah berjanji akan memperbolehkan becak beroperasi di DKI, tetapi khusus untuk becak yang sudah ada di Jakarta. Nah, setelah Anies ngomong gitu saya disuruh dishub untuk mendata berapa banyak becak yang beroperasi di Jakarta,” kata Ketua Sebaja Rasdullah.

Pada Rabu, 10 September 2018, bertempat di Balai Kota Jakarta, Anies Baswedan mengatakan akan melegalkan kembali angkutan roda tiga tersebut, tetapi hanya boleh beroperasi zona tertentu, seperti perkampungan dan perumahan serta area yang bukan termasuk jalan raya.

“Saya akan mengatur sehingga mereka beroperasi di wilayah yang benar, yang tepat, yang sesuai dengan kebutuhan. Sehingga Jakarta itu, memberikan kesempatan untuk semuanya,” kata Anies Baswedan sebagaimana ditulis Beritasatu.com.

Anies Baswedan. AKURAT.CO/Yohanes Antonius

Ketika itu, rencana Anies Baswedan baru bersifat usulan, belum ada pembahasan dengan DPRD Jakarta.

“Nanti kita lihat perkembangannya. Namun intinya, seperti saya katakan dari kemarin, wilayah operasinya ya di wilayah yang selama ini ada. Kasihan abang becak ini kalau di-framing becak kembali jalan di Jalan Thamrin, Jalan Sudirman. Bukan,” katanya.

Sebelum itu, Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno mengatakan sedang mengupayakan solusi untuk mengizinkan becak kembali beroperasi. Tetapi, kemungkinan bukan melalui pengajuan revisi Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum yang melarang becak di Jakarta.

"Saya enggak tahu apa nanti teman-teman di bidang regulasi harus memutar otak mencari bagaimana, apakah ini angkutan lingkungan yang operasinya hanya terbatas di lingkungan tertentu saja," ujar Sandiaga Uno sebagaimana laporan Kompas pada 5 Juli 2018. Sandiaga Uno berharap jumlah becak yang beroperasi di Jakarta hanya 2.907 unit.

Tapi Ketua DPRD Jakarta Prasetio Edi Marsudi menolak usulan tersebut. “Enggak bakalan ada Becak di Jakarta. Enggak bakal terealisasi pokoknya,” katanya sebagaimana ditulis Bisnis.com pada Selasa (9/10/2018).

Menurut dia, aturan tentang pelarangan becak sudah pas. Jakarta, kata dia, sudah seharusnya menyediakan moda transportasi modern serta manusiawi, seperti bus Transjakarta yang sudah dikembangkan di 13 koridor, mass rapid transit, dan light rail transit.

"Gubernur (Anies Baswedan) jangan tiba-tiba minta legalisasi becak sebagai angkutan umun hanya untuk memenuhi janji kampanye. Padahal becak jelas-jelas tidak sesuai dengan perkembangan Jakarta sebagai kota megapolitan," ujar dia.

Rasdullah mengatakan akan memperjuangkan eksistensi becak di Jakarta hingga diakui pemerintah.

"Saya bilang sampai titik darah penghabisan, untuk menghabiskan becak itu gak mungkin, buktinya saat itu Sutiyoso menghabiskan uang triliunan untuk menghilangkan becak itu gak berhasil, Sutiyoso kalah dong kita yang menang. Dia sudah mengeluarkan senjata, aparat, dan tenaga tetap saja kalah. Buktinya sampai sekarang becak masih ada di Jakarta," kata Rasdullah.

Penarik becak yang tergabung dalam Sebaja pernah demonstrasi di depan Balai Kota untuk meminta pemerintah merevisi peraturan daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum yang pasal 29 ayat 1 huruf b dikatakan setiap orang atau badan dilarang mengoperasikan dan menyimpannya becak atau sejenisnya. Rasdullah meminta kata-kata dilarang pada pasal 29 ayat 1 huruf b dihilangkan.

Becak. AKURAT.CO/Setiawan

"Saya berharap perda tersebut direvisi dan diganti dengan membolehkan becak tetap beroperasi di Jakarta sebagai angkutan lingkungan," kata Rasdullah.

Rasdullah mengatakan perjuangan revisi perda sudah sampai ke tingkat DPRD, tetapi ada beberapa komisi yang tidak sikapnya masih menggantung. Sebaja sebenarnya ingin turun ke jalan lagi, tetapi khawatir mengganggu proses pemilu 2019.

"Ketika sudah ketahuan fraksi yang menjabat, kita akan membuat kontak politik," katanya.

Rasdullah berharap rekan-rekannya tetap narik becak karena telah mendapatkan kelonggaran dari Anies Baswedan. Tapi dia juga mewanti-wanti anggota Sebaja untuk tetap menaati aturan, seperti tidak mangkal dan mengantar penumpang di jalan raya dan jalur protokol.

"Mangkanya saya bilang sama teman-teman, kalau sampai lewat jalan raya dan jalan protokol itu tidak menjadi wewenang Sebaja. Kalau Satpol PP mau mengambil, ya ambil saja, sah-sah saja," kata Rasdullah. []

Baca juga:

Tulisan 1: Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota

Tulisan 2: Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

Tulisan 4: Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Tulisan 5: Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT

Tulisan 6: Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Ini Harapan Ketua MUI Papua Barat kepada Kodam Kasuari

“Kami sampaikan agar menyiapkan putra putrinya untuk dididik menjadi Prajurit TNI AD“

Image
News
Wabah Corona

Ilmuwan AS Sebut Pandemi COVID-19 Picu Sindrom Patah Hati

Para ilmuan menemukan bukti bahwa beberapa pasien yang tidak memiliki virus corona justru menunjukkan gejala sindrom patah hati.

Image
News

Sempat Dilaporkan Hilang, Wali Kota Seoul Ditemukan Tewas di Sebuah Bukit

Ia digadang-gadang sebagai calon presiden yang potensial

Image
News

Santri Kasus 01 Sembuh, Ponpes Gontor Tetap Lakukan Lockdown

Kabar baik tersebut juga disampaikan langsung oleh Wakil Pengasuh Gontor Kampus 2 Al-Ustadz H. Muhammad Hudaya, Lc., M.Ag

Image
News
Wabah Corona

Wagub DKI: Dewan Kota Miliki Tugas Sosialisasikan Gerakan 3 M

Gerakan 3M yaitu yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Image
News
Wabah Corona

Warga Dan ASN Antusias Ikuti Rapid Tes yang Digelar BIN

BIN terus berkomitmen membantu pemerintah dalam upaya memutus rantai penyebaran Covid-19

Image
News

Seorang Warga Tewas Kecebur Sumur 12 Meter di Matraman

Korban bernama Randika Fajrin (35) terperosok ke dalam sumur berdiameter 1,5 meter sedalam 12 meter di dekat rumahnya.

Image
News

4 Cerita Orang Jujur yang Viral, Ada yang Bersepeda Pasuruan-Solo Kembalikan Dompet

Belakangan viral kisah petugas kereta kembalikan uang Rp500 juta milik seorang penumpang

Image
News

Fakta di Balik Ekstradisi Buronan Pembobol BNI Maria Pauline, Serbia Ingin Balas Jasa Indonesia

Balas jasa hubungan baik kedua negara.

Image
News
Wabah Corona

Covid-19 Melonjak 2.657 Kasus, Jokowi: Ini Lampu Merah Buat Kita

"Saya mengingatkan pemerintah daerah agar berhati-hati menerapkan adaptasi tatanan kehidupan baru," kicau Jokowi.

terpopuler

  1. Awas Tertipu, 5 Foto Perpaduan Dua Objek ini Bikin Bingung yang Lihat

  2. Jarang Tersorot, 7 Potret Terbaru Rieke Diah Pitaloka yang Makin Memesona

  3. Data Pribadi Denny Siregar Bocor, Dedek Prayudi: Ini Sudah Masuk Ranah Teror dan Pembungkaman

  4. Aris Si Pedagang Buah Mirip Plek Ketiplek Ariel 'Noah', Ini 5 Bukti Sahihnya

  5. Ferdinand Gagal Paham Soal Pernyataan Politikus PKS yang Anggap Perluasan Lahan Ancol Bukan Reklamasi

  6. PDIP Setuju Anies Izinkan Reklamasi "Ancol Enggak Ada Hubungan dengan Nelayan"

  7. Di Tengah COVID-19, Sharp Akui Pasar Elektronik Bangkit Pada Juni 2020

  8. Eks Ketua Pansus UU Pemilu: Kemenangan Jokowi-Ma’ruf sesuai Keputusan MK dan MA

  9. Dukung Anies Baswedan Perluas Lahan Ancol, M Taufik: Saya Sudah Lihat Lokasinya

  10. Jaksa: Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Tak Perlu Lagi Dihadirkan sebagai Saksi

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Dr. Tantan Hermansah

Memaknai Demam Sepeda di Musim Pandemi

Image
UJANG KOMARUDIN

Melestarikan Pancasila

Image
Achsanul Qosasi

Renasionalisasi BUMN

Image
Muhtar S. Syihabuddin

Kami Cinta Polisi Sekaligus NKRI

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Restrukturisasi, Babak Baru Pertamina Melangkah ke Kancah Dunia

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Sosok

Image
News

Penampilan Terbarunya Bikin Pangling, Ini 5 Potret Transformasi Menlu Retno Marsudi

Image
Ekonomi

Perjalanan Karier Rieke Diah Pitaloka, dari Si Oneng hingga Wakil Rakyat 16 Tahun

Image
News

Unggah Momen Bersama Jokowi, Warganet Soroti Catatan yang Dibawa Prabowo