image
Login / Sign Up

Ujian Berat Bagi Juru Pijat Tunanetra

Herry Supriyatna

Juru Pijat

Image

Slamet Agus dan dagangannya. | AKURAT.CO/Maidian Reviani

AKURAT.CO "Kalau sekarang ini tukang pijat tunanetra semakin kejepit. Harusnya orang normal jangan mengambil pekerjaan pijat, kan lapangan pekerjaan lain banyak. Sementara tunanetra kan pekerjaannya sangat terbatas," kata tukang pijat bernama Sukino.

Dulu ketika pijat tunanetra masih jadi primadona di negeri ini, setiap hari satu Juru Pijat bisa mendapatkan pasien sebanyak lima orang sampai tujuh orang. Sukino biasanya sehari dapat membawa pulang uang rata-rata seratus ribu rupiah.

“Itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan lebih dari cukup,” kata Sukino yang sudah enam tahun menjadi salah satu Juru Pijat tunanetra di Panti Pijat Santa, Jakarta Selatan.

baca juga:

Panti Pijat Santa yang berdiri sejak 1972 hanya segelintir panti yang sekarang masih eksis. Tempat pijat yang terletak di depan Pasar Santa menawarkan variasi harga layanan. Rp75.000 untuk ruangan ber-AC dan Rp65.000 untuk ruangan non AC. Sedangkan harga Rp90.000 khusus untuk panggilan. Panti Pijat Santa mengusung sistem bagi hasil, 50 persen untuk panti dan 50 persen untuk Juru Pijat. "Di sini sistemnya bagi dua hasilnya. Kadang ada juga pemijat yang gak kebagian pelanggan, artinya ya dia gak dapat uang," kata Arif.

Rekan Sukino bernama Tarto menambahkan dulu penghasilan dari jasa memijat sudah bisa memenuhi standar kebutuhan layak hidup di Jakarta. Bahkan, sebagian bisa disisihkan untuk simpanan. Tapi sekarang, kata lelaki yang sudah menjadi pemijat selama 26 tahun itu, ibarat puasa Senin-Kamis.

"Gak mesti. Kalau sekarang kurang lebih seratus ribu, kalau dulu seratus juga," kata Tarto. 

"Tetapi kan seratus ribu dulu sama seratus ribu sekarang beda mas," Sukino menimpali.

Masa sekarang dapat dikatakan masa ujian bagi para tunanetra yang menjadikan jasa pijat sebagai mata pencaharian utama.

Penurunan jumlah pelanggan mulai dirasakan sejak 1998 atau setelah Presiden Soeharto jatuh. Panti-panti pijat yang mempekerjakan banyak orang yang paling merasakan dampaknya, seperti Panti Pijat Santa.

"Kalau di sini dari mulai 1998 sudah mengalami penurunan sampai 50 persen," ujar Tarto sembari mengusap keningnya.

Menurut Rohim (47) yang ditemui di kediamannya, Jalan Haji Najih, Joglo Raya, RT 2, RW 1, nomor 10, Joglo Raya, Jakarta Barat, dulu meskipun banyak tunanetra menjadi tukang pijat, semua tetap kebagian rezeki yang mencukupi. Setelah Soeharto lengser dari tampuk kekuasaan, rupanya menjadi penanda periode akhir jasa pijat menjadi primadona.

“Sekitar 98, pas krisis moneter zaman Soeharto tuh banyak kita masih pelanggannya,” kata dia.

“Kalau dulu padahal dulu kan tunanetra pijet masih banyak, rata-rata tunanetra tukang pijet waktu itu. Tapi kita masih bisa untuk bertahan hidup.”

Kontrakan Rohim dan Sadiah di Joglo, Jakarta Barat. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Pelan namun pasti, jumlah masyarakat yang datang ke tempat pijat tunanetra berkurang, berkurang, dan terus berkurang. Seingat Rohim, puncaknya terjadi pada 2010.

“Sekarang tukang pijet tunanetra jarang, tapi pelanggannya juga gak bisa ramai. Makin susah. Sekitar 2010 yang parah, mulai sangat susah sekali saingannya itu,” kata dia.

“Dulu sama sekarang beda jauh ya, untuk bertahan aja susah. Makin ke sini makin susah, dunianya susah.”

Hari itu ketika saya berada di rumah Rohim yang juga dijadikan sebagai tempat praktik pijat, hampir satu jam lamanya tidak ada satu pun pasien yang mengetuk pintu. Meski sepi pasien, dia tetap bersyukur karena beberapa waktu yang lalu, istrinya, Sadiah, mendapatkan panggilan dari pelanggan.

“Pijet sepi jualan sepi. Gak tahu deh gimana ini,” ujar Rohim ketika itu.

Hamim dan istrinya sama-sama menjadikan profesi tukang pijat sebagai sandaran hidup. Zaman sekarang, meskipun memiliki tempat pijat sendiri, bukan jaminan kesejahteraan. Berbeda dengan dulu, sekarang panti pijat tunanetra sudah tak begitu (beberapa panti pijat tunanetra memang masih ramai) diminati karena sudah banyak pilihan.

Hamim mengatakan kondisi jumlah pelanggan berkurang drastis terjadi sejak 2010. Kini, dia mengandalkan pelanggan setia saja. Pelanggan setia yang dimaksud dia adalah orang yang sudah merasa cocok dengan pijatannya.

“Kalau pelanggan mungkin apa ya tambal sulam. Nggak ada yang tetap, ada yang kenal atau gimana, ada juga yang bertahun-tahun dari TK sampai selesai kuliah,” kata dia.

Di tengah ngobrol, Hamim menunjukkan sebuah catatan keuangannya. Tulisan dalam buku catatan itu amat rapi.

Hamim Baidhowi berada di rumahnya, Joglo, Jakarta Barat. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Kalau sehari biasanya minimal sehari Rp60 ribu – Rp100 ribu. Kita ada pembukuannya,” kata anggota Persatuan Tunanetra Indonesia.

Dengan penghasilan sebesar itu, Hamim dan keluarga harus ekstra pintar mengelola keuangan agar semua kebutuhan dasar hidup dapat tercover.

“Kalau cukup ya relatif ya, cukup ya dicukup-cukupin. Namanya manusia ya apa aja kurang. Tergantung mindset kita mengurus keuangan. Kalau sehari sih mentok-mentokin. Kalau sebulan bisa dapat di atas tigalah,” kata dia dengan antusias.

Pelanggan Hamim dan istri memiliki berbagai latar belakang. Mulai dari kelas bawah sampai kelas atas pernah dia pijat. Sayangnya, Hamim tidak mau menyebutkan tokoh-tokoh yang pernah dia beri layanan dengan alasan etika.

“Pelanggan sih kita berlalu lalang aja. Untuk menjaga etika kita kan gak bisa menyebut nama mereka. Karena nanti mereka risih. Tapi ada mantan pejabat, artis, olahragawan, adalah. Belum lama ini ada aparat, udah kemana-kemana berobat, terus ke saya alhamdulillah sembuh,” kata dia.

Ketua II Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia Mahertta Maha mengatakan mulai marak tempat-tempat pijat di pusat-pusat perbelanjaan sekitar tahun 2000, 2002, dan 2010.

“Sudah mulai banyak tuh, di mal-mal tempat pijat refleksi.  Kadang-kadang ada pijat yang tempatnya bagus itu kan," katanya.

"Kita juga gak tahu kalau tenaga-tenaga pijat yang ada di mal-mal itu juga tersertifikasi atau nggak. Tapi kan tampilan casingnya (luarnya) bagus dibandingkan dengan kami yang casingnya (tampilan luar) emang nggak menarik." 

Di lain tempat, saya ketemu Rojiin Pakih. Dia pensiun dari Juru Pijat setelah aktif menjadi pengurus Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia. 

"Saya dulu ikut panti pijat di Pasar Minggu pada waktu belum nikah. Sehari-hari kadang-kadang ada, dan kadang gak ada pasien sama sekali. Penghasilan pijat itu habis buat makan aja, walaupun itu masih ngirit. Akhirnya keluar, terus saya masuk ke Panti Sosial Bina Netra.”

Dengan bekal sertifikat yang didapat dari Panti Sosial Bina Netra, dia mencoba peruntungan. Rojiin membuka panti pijat secara mandiri di Tangerang Selatan, Banten. Rupanya, jasa pijat di daerah itu kurang berkembang. Dia memutuskan untuk membuka panti di Jakarta Timur. Di daerah ini kemudian dia mendapatkan istri. Istrinya seorang pegawai negeri sipil pada Pemerintah Provinsi Jakarta.

"Setelah saya pindah ke Jakarta, akhirnya saya mengalah untuk tidak menggeluti usaha pijatnya. Lebih baik buat teman-teman saya kalau ada orang yang mau pijat. Karena saya sendiri udah merasa cukup. Sedangkan mereka tidak ada penghasilan sama sekali," katanya.

Rojiin Pakih, Mantan Tukang Pijat Tuna Netra. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Kebetulan kehidupan saya sudah cukup. Istri saya sebagai pegawai pemda DKI. Jadi saya sudah cukuplah kehidupan sehari-hari itu,” katanya.

Rojiin mengatakan usaha pijat tunanetra meredup sejak krisis moneter tahun 1998.

“Sebelum itu teman-teman tunanetra bisa diandalkan untuk pijat, terutama yang tua-tua. Pada waktu dulu pijat tunanetra benar-benar menjanjikan jadi masiur, karena bisa beli rumah, dan tanah pada waktu itu."

Rojiin mengatakan pada masa jaya usaha panti pijat, seorang tunanetra bisa membiayai anak sekolah sampai ke tingkat universitas.

"Dulu bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana. Sekarang anaknya sukses ada yang menjadi dokter, notaris, dan lain-lain, hasil dari pijat," katanya.

"Kalau sekarang, untuk melanjutkan kontrakan rumah di pinggir jalan aja sudah gak mampu. Apalagi sampai menyekolahkan anaknya sampai sarjana, udah gak mampu. Memang mereka masih tetap memijat, tapi usaha cari bantuan."

Dia menyebut kondisi perekonomian tunanetra zaman Presiden Megawati Soekarnoputri paling parah. Salah satu pemicunya, pada waktu itu, pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak.

"Itu parah, pasien sangat merosot sekali pada 2003-2004, dan banyak teman-teman tunanetra yang gulung tikar. Dari situ sampai sekarang," katanya.

Rojiin merasa kasihan dengan rekan-rekannya yang sekarang merasa tertatih-tatih sendiri. Itu sebabnya, setiap kali ada pelanggan setianya minta pijat, Rojiin pasti akan merekomendasikan ke teman-temannya. Biasanya, dia akan memanggil mereka untuk menggantikannya memijit agar mendapatkan pemasukan.

"Ya udah kalau ada pasien itu yang mau dipijat, saya panggilin teman-teman saya untuk pijat. Karena mereka tunanetra butuh makan dan penghasilan gimana."

"Setelah saya pindah ke Jakarta Timur, melihat kehidupan teman-teman tunanetra sedemikian yang memprihatinkan," katanya.

Rojiin bertekad untuk turut berkontribusi memperjuangkan nasib teman-temannya lewat Persatuan Tunanetra Indonesia. Dia tergerak masuk organisasi karena menyaksikan banyak difabel yang ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja karena terpaksa mengemis di jalanan — sejak reformasi . Melalui organisasi, Rojiin ingin membantu memberikan edukasi, mengadvokasi, sekaligus menjadi mediator. [Maidian Reviani, Herry Supriyatna, Yudi Permana]

Baca juga:

Tulisan 1: Pijat Tunanetra Berjaya Zaman Soeharto

Tulisan 2: Ujian Berat Bagi Juru Pijat Tunanetra

Tulisan 3: Ketika Sandaran Hidup Tunanetra Matisuri

Tulisan 4: Walau Terseok-seok, Juru Pijat Tuna Harus Tetap Berjalan

Tulisan 5: Harapan Tukang Pijat Tunanetra Tak Muluk-muluk

Tulisan 6: Makanan Empuk Bandit, Tunanetra: Sering Mas, Ibarat Kayak Lalap Buat Saya

Tulisan 7: Apa Kata Mereka yang Selama Ini Dampingi Tunanetra

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Juru Pijat

Apa Kata Mereka yang Selama Ini Mendampingi Tunanetra?

Image

News

Juru Pijat

Makanan Empuk Bandit, Tunanetra: Sering Mas, Ibarat Kayak Lalap Buat Saya

Image

News

Juru Pijat

Harapan Juru Pijat Tunanetra Tidak Muluk-muluk

Image

News

Juru Pijat

Walau Terseok-seok, Juru Pijat Tunanetra Harus Tetap Berjalan

Image

News

Juru Pijat

Ketika Sandaran Hidup Tunanetra Mati Suri

Image

News

Juru Pijat

Pijat Tunanetra Berjaya Zaman Soeharto

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Wabah Corona

Hari Keempat Rapid Test di Surabaya, 187 Orang Reaktif

Surabaya masuk zona merah.

Image
News

Ribuan ASN Nagan Raya Aceh Tak Lagi Terima Tunjangan Khusus

Anggaran tunjangan khusus dipangkas.

Image
News
Hari Lahir Pancasila

Kemendikbud Ajak Semua Pihak Kedepankan Semangat Gotong Royong di Tengah Covid-19

Harus ada praktik nyata bukan hanya wacana.

Image
News

Lama Buron, KPK Akhirnya Tangkap Nurhadi dan Menantunya

Masuk DPO karena mangkir pemeriksaan.

Image
News

Satgas Nemangkawi Buru KKB yang Tembak Warga Sipil

KKB layak disebut teroris karena bunuh warga tak berdosa.

Image
News
Wabah Corona

Warga dan Aparat di Boven Digoel Bertekad Putus Penyebaran Corona

“Kegiatan seperti ini terus dilakukan Satgas agar masyarakat makin sadar dan tahu cara efektif dalam mencegah penyebaran Covid-19“

Image
News

Tambang Emas Tradisional di Kotabaru Longsor, Enam Orang Meninggal

"Seluru personel Polsek Sungai Durian bersama Koramil dan masyarakat masih melakukan pencarian korban atas nama Nardi“

Image
News
Wabah Corona

Kasus Positif Corona di Kota Bogor Bertambah Dua Orang

Satu kasus merupakan impor dari daerah lain, yakni warga Kota Bogor yang baru kembali dari Manila, Filipina.

Image
News
Wabah Corona

Cegah Penyebaran Corona, Kodim Cimahi Berikan Edukasi Protokol Kesehatan

“Kita fokuskan fasilitas umum, agar warga yang ada di tempat ini lebih tahu dan memiliki pengetahuan yang harus dilakukan“

Image
News

Animo Masyarakat ke Lokasi Wisata Tinggi, Kakorlantas Polri: Tetap Kami Batasi

Polisi melakukan pengaturan terhadap masyarakat yang berkumpul di kawasan Pantai Anyer yang sedang berwisata menghabiskan libur lebaran

terpopuler

  1. Kekasih Gelandang Madrid Ini Mengaku Lakukan Seks Sekali Sehari, Sangat Kompetitif

  2. Bikin Plong, Ini 5 Cara Membersihkan Paru-paru Secara Alami

  3. Heboh Slip Gaji Guru Honorer Hanya Rp35 Ribu per Bulan, Warganet: Nangis Liatnya

  4. Gagah Abis, Ini 3 Potret Ravi Murdianto saat Berseragam Tentara

  5. Pertokoan Kawasan Jembatan Merah Diamuk si Jago Merah

  6. Ucapan Ahok, Khofifah dan Edy Rahmayadi Sambut Hari Lahir Pancasila

  7. Viral Foto Diduga Warga Bogor Camping di Tengah Pandemi, Warganet: Senja, Kopi, dan COVID-19

  8. Prajurit TNI Selamatkan Aset UN di Kongo

  9. Tantenya Meninggal Dunia, Maia Estianty Ingatkan Warga Jangan Remehkan COVID-19

  10. Dandim 0315: Sejak Beberapa Hari Lalu Ada Orang Ngaku Sebagai Saya, Lalu Minta Uang Anggota dan Bekas Anggota Saya

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Salah Urus dan Salah Pengurus

Image
IMAM SHAMSI ALI

Anarkis Itu Suara yang Tak Terdengarkan

Image
Siti Nur Fauziah

Covid-19, Bagaimana dengan Indonesiaku Hari Ini?

Image
Achsanul Qosasi

Memaknai Silaturahim Virtual

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Jualan Donat hingga Ciptakan Aplikasi Bersatu Lawan COVID-19, Ini 5 Fakta Menarik Ahmad Alghozi Ramadhan

Image
Ekonomi

Kiat Agar Bisnis Moncer Ala Bob Sadino

Image
News

Ikut Tren Gunakan FaceApp, Ridwan Kamil: Di Era New Normal Wajah Tak Perlu Dirawat, Cukup Diedit