image
Login / Sign Up

Pijat Tunanetra Berjaya Zaman Soeharto

Maidian Reviani

Juru Pijat

Image

Juru pijat tunanetra sedang arisan | AKURAT.CO/Siswanto

AKURAT.CO Tulisan ini akan terdiri dari tujuh cerita. Masing-masing cerita saling terkait satu sama lainnya. Tulisan mengangkat kisah tentang pijat tunanetra sejak masa keemasan hingga mengalami penurunan pelanggan. Apa yang mereka lakukan untuk menyiasati minim pendapatan hingga suka duka akan tergambar dalam kisah ini.

***

Saleh kecil duduk di bangku kelas empat sekolah dasar di Pulau Jawa ketika itu. Suatu hari, dia sakit. Badannya panas. Orangtuanya kemudian membawa ke rumah sakit dan di sana, dia mendapatkan suntikan dari dokter. Bukannya makin sehat, kemampuan penglihatan bocah itu menurun. Makin lama makin menurun dan menurun terus. Sampai pada suatu hari, dia benar-benar tidak bisa membuka mata lagi.

baca juga:

“Kalau menurut aku sih kayak salah obat,” kata Saleh ketika saya temui usai mengikuti arisan perkumpulan tunanetra di Bumi Mutiara, Bojong Kulur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Saleh bercerita dengan antusias. Tak ada tanda-tanda dia sedih, meskipun obrolan siang hari itu menyerempet pada hari-hari terakhir penglihatannya. Saleh tetap semangat menjalani kehidupan yang terus berputar. Saleh sudah ikhlas dengan apa yang telah terjadi.

Saleh mengikuti arisan bersama teman tunanetra. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Tapi saya nggak nyesel harus begini,” kata warga Boyolali, Jawa Tengah.

Saleh kemudian menempuh pendidikan formal, Sekolah Dasar Luar Biasa di Pemalang.

“Ya belajarnya PMP, matematika dan lain-lain. Cuma emang beda di huruf aja, kita huruf braille.”

Setelah beranjak dewasa, keadaan membuat Saleh harus berpikir tentang masa depan seperti yang paling realistis untuk orang dengan keadaan seperti dirinya. Salah satu yang terpikir pada waktu itu, dia mesti menguasai keterampilan untuk modal bekerja.

“Jadi pas SMP kelas satu saya keluar. Saya keluar ambil kelas untuk mijet, karena waktu itu masuk SMP dah ketuaan umur 18 tahun. Terus di Solo belajar mijet, kita belajar anatomi, fisiologi gitu-gitu. Kita ditanganin langsung sama Departemen Sosial,” ujarnya.

Di bawah bimbingan guru-guru yang berpengalaman, Saleh mengikuti semua pelajaran dengan penuh dinamika. Tekadnya cuma satu, harus punya pengalaman untuk modal menjalani kehidupan.

“Guru-gurunya sih orang melek, ada juga tunanetra. Saya lulus tahun 1991, belajar 1,5 tahun, terus keluar dapet ijazah.”

Lain lagi cerita Hamim Baidhowi (48). Saya menemui dia di rumah kontrakan yang terletak di Jalan Musyawarah II, nomor 9A, RT 17, RW 2, Joglo, Jakarta Barat. Pagar rumahnya berwarna biru. Di dekat pagar terpasang papan bertuliskan Klinik Pijat Tunanetra Berijazah Mitra Harapan.

Dia juga sangat terbuka seperti Saleh. Hamim mulai merasakan gangguan pada penglihatan sejak umur tujuh tahun.

“Keluarga juga gak ada turunan yang tunanetra, kayak gini karena efek lingkungan kali ya, daerah rumah saya dulu kan banyak rawa-rawa, kurang vitamin A juga,” kata Hamim yang ketika itu mengenakan kaus warna hitam.

Pada usia delapan tahun, matanya rabun senja. Lantas, orangtua membawanya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, dengan harapan kemampuan penglihatan Hamim kembali seperti sediakala.

Dia ingat betul peristiwa pada hari itu. Proses pengobatan tak berjalan mulus.

“Abis dioperasi di RSCM. Waktu itu kan dibius gitu ya, orangtua karena nggak paham bius, jadi anggapannya (saya) kayak mati. Begitu ada antrian kelima, saya dibawa lari (dibawa pergi orangtua),” kata Hamim.

Hamim Baidhowi berada di rumah kontrakannya di Joglo, Jakarta Barat. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Akibat ketakutan orangtua yang minim pengetahuan, Hamim tak jadi dioperasi di RSCM. “Kehidupan orangtua dulu di bawah pra sejahtera.”

Setelah menginjak usia 18 tahun, ada secercah harapan untuk mendapatkan kesembuhan. Tepatnya tahun 1989, mata Hamim dioperasi.

“Dapat donor dari Srilangka. Kemudian 1990 kena lagi sakit glukoma, operasi lagi di RSCM. Abis itu ada penurunan penglihatan,” katanya.

Hamim menyadari kemungkinan matanya tak dapat benar-benar normal lagi. Setelah selesai operasi, dia minta pendapat dokter yang menanganinya, mengenai jenis pekerjaan apa nanti tepat untuk orang yang mengalami masalah seperti dirinya.

“Ya sudah saya masuk ke Yayasan Mitra Netra. Ternyata di situ pelatihan jadi operator telepon. Saya kursus ketik 10 jari, komputer belajar sampai zaman wifi,” kata Hamim.

“Komputer kan berkembang terus ya, ya udah akhirnya berhenti. Akhirnya cari pelatihan pijet. Kita waktu itu masuk ke Asrama Taman Harapan Cawang Budi Asih, di bawah naungan depsos (Departemen Sosial, kini Kementerian Sosial).”

Hamim dan teman-teman tunanetra lainnya berhasil lulus dan mendapatkan ijazah yang artinya dia berkompeten dalam bidang pijat kesehatan.

Departemen Sosial menyediakan tempat-tempat pelatihan bagi tunanetra untuk menguasai teknik pijat kesehatan di berbagai daerah. Dulu tempat itu bernama Sasana Rehabilitasi Penyandang Cacat Netra. Sekarang namanya menjadi Panti Sosial Bina Netra. Di sana, para tunanetra ditempa untuk bekal hidup mandiri.

Keterampilan yang diajarkan di Panti Sosial Bina Netra merupakan keterampilan yang sekiranya cocok dengan minat masing-masing penyandang disabilitas, seperti musik, memasak, komputer, dan lain-lain. Tapi, memijat merupakan keterampilan yang wajib diikuti oleh semua tunanetra.

Saleh dan Hamim merupakan contoh tunanetra yang berhasil dicetak Panti Sosial Bina Netra. Jebolan-jebolan panti sosial itu, terutama yang benar-benar mendalami pijat, dipastikan mereka adalah pemijat profesional.

***

Tahun 1990-an awal menjadi masa keemasan bagi jasa pijat tunanetra di Indonesia. Jumlah pelanggan banyak, pendapatan melimpah. Biaya hidup ketika itu amat terjangkau. Mulai dari belanja kebutuhan dapur, biaya transportasi, hingga sewa kontrakan. Dan tentu saja mereka bisa menabung lebih banyak.

Masyarakat non difabel ketika itu – sebelum marak bisnis pijat non difabel -- menggunakan jasa pijat tunanetra karena rata-rata mereka yang terjun ke bidang ini merupakan pemijat-pemijat terlatih.

Saleh teringat tahun 1995. Tahun itu, dia pertama kali membuka panti pijat sendiri. Sebagai warga yang taat hukum, tidak masalah bagi dia untuk bolak-balik ke kantor pemerintah untuk memenuhi semua prosedur perizinan.

“Saya ngurus dulu pakai ijazah, ke RT, RW, ke depsos, pakai surat pengantar. Itu pas tahun 95-annya. Cuma ya gak tahu sampai sekarang masih berlaku atau nggak itu peraturan, suka berubah-berubah,” kata Saleh.

Pengalaman yang dirasakan Saleh sama dengan yang dirasakan rekan-rekan sesama tunanetra lainnya. Tahun 1990-an merupakan masa yang memberikan banyak keuntungan, begitu banyak pelanggan yang datang ke panti pijat. Bahkan, pasien sampai mengantri.

“Saya mempekerjakan orang pas 1998. Saya pernah ngalamin sampai punya karyawan lima,” tutur Saleh yang kini menjadi anggota Persatuan Tunanetra Indonesia.

Rohim (47) yang saya temui di kediamannya, Jalan Haji Najih, Joglo Raya, RT 2, RW 1, nomor 10, Jolgo Raya, Jakarta Barat, menyebut zaman Soeharto merupakan masa jaya panti pijat tunanetra. Bagi dia, rasa-rasanya ingin kembali ke periode itu.

Rohim dan Sadiah berada di kontrakan, sekaligus tempat praktik pijat tunanetra. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Zaman Soeharto tuh banyak pelanggannya,” kata Rohim yang siang itu memakai kaus warna oranye.

Hamim masih ingat betul kehidupan pada zaman itu. Dia sampai memberanikan diri merintis usaha pijat mandiri, sama seperti Saleh, pada 1990-an.

“Tahun 90 - 2010 itu lumayan,” kata tunanetra asal Banyumas.

Dalam sehari, kata Hamim, pantinya kedatangan rata-rata tujuh pasien.

“Pijet tunanetra kan perjam ya, pada masa jaya tarif sekitar Rp5 ribu. Naik lagi sampai Rp30 ribu itu kondisi pasien masih bisa dihandle. Di bawah 2010 udah kaya Rp50 ribu, Rp60 ribu, Rp70 ribu dan pelanggan juga sedikit,” ujar Hamim.

Hamim kemudian menikah pada 1998 dan sekarang sudah dikaruniai dua anak: satu laki-laki dan satu perempuan.

Hari sudah malam ketika menemui Subakat dan Yani di Bumi Mutiara, Bojong Kulur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pertengahan Maret 2019. Pada waktu itu, saya datang ke sana untuk pijat sekaligus mendengarkan cerita dari suami istri itu. Suami istri asal Jawa Tengah ini sejak tahun 1980-an menjadikan jasa pijat sebagai sandaran hidup. Mereka merupakan pemijat yang memiliki sertifikat dari tempat pendidikan di Solo.

Malam itu, mereka terkenang masa-masa puncak kejayaan panti pijat. Periode tahun 1990-an memberikan kemakmuran bagi tunanetra yang berprofesi sebagai pemijat.

“Zaman itu, duit itu ada ajinya (harga) bener. Terus nyarinya juga gampang. Masa jayanya ya itu, zaman Pak Harto itu,” Bakat menambahkan.

“Perbandingannya itu, waktu itu kita punya uang Rp5 ribu bisa untuk beli telur seperempat kilo, minyak tanah dua liter, beras empat liter. Itu tahun 1992,” kata Yani yang sejak awal ikut ngobrol.

Ajad Sudrajat saya temui di tempat tinggal Jalan Bekasi Timur, Gang I, Kelurahan Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur. Pria 41 tahun itu sejak dulu juga melakoni pelayanan pijat tradisional bersama istri. Ketika saya temui, dia tengah bersama istri di rumah.

“Tahun 90-an ramainya minta ampun,” kata Ajad yang kini menjadi wakil ketua Persatuan Tunanetra Indonesia DKI Jakarta.

Dengan melakoni pekerjaan pijat saja, ketika itu sebagian besar tunanetra mampu menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan bisa juga membeli rumah. Bayangkan saja, waktu itu, sebulan setiap pemijat bisa melayani sekitar 300 orang.

“Dan tarif dulu itu masih 9 ribu, terus naik. Tahun 2000 udah 15 ribu,” katanya.

Salah satu panti pijat di kawasan Jakarta Selatan yang menangguk untung pada akhir-akhir pemerintahan Soeharto adalah Panti Pijat Santa yang terletak di depan Pasar Santa.

Panti yang didirikan Nurhayati itu berdiri sejak 1972. Sampai sekarang masih eksis. Gedung panti yang sekarang diurus oleh Farid – cucu Nurhayati -- tidak banyak berubah, meski zaman terus berganti.

Arif, salah satu Juru Pijat Panti Pijat Santa, mengatakan dulu tunanetra yang bekerja di sini sampai 30 orang. Jumlah tersebut sebanding dengan jumlah pelanggan yang datang. Sehari, kata dia, rata-rata ada seratus pasien yang datang.

Guru yang nyambi jadi Juru Pijat, Joni Watimena, dulu tidak pernah menyangka nasib panti pijat akan seperti sekarang. Dia terkenang tahun 1970-an – 1980-an. Kala itu, jasa pijat tunanetra dicari-cari orang yang ingin sehat. Itu sebabnya, zaman dulu banyak tunanetra yang menjadikan layanan memijat sebagai tumpuan hidup.

Joni Watimena, Tukang pijat keliling sambil jadi g. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Pijat tunanetra ini merupakan suatu pekerjaan yang menjanjikan pada waktu dulu. Karena dulu cuma ada pendidikan atau pelatihan pijat di Tanah Abang aja,” kata Joni Watimena ketika ditemui di Kramatjati, Jakarta Timur, Senin, 11 Maret 2019.

Joni memulai menjadi pemijat dengan keliling pemukiman pada 1982. Waktu itu, dia biasa keliling di kawasan Tomang, Jakarta Barat, dari jam 17.00 WIB sampai 21.00 WIB. Rata-rata setiap hari, dia bisa mendapatkan lima pasien.

"Saya punya anak istri. Saya jadi tukang pijat keliling-keliling yang dimulai malam-malam di daerah Tomang, Jakarta. Saya jalan kaki sendiri aja setiap malam-malam pakai kerencengan, untuk cari pasien sekitar tahun 1982-an,” kata dia.

“Itu zaman waktu itu harganya berapa, lumayan, saya bisa hidup," Joni menambahkan.

“Waktu itu sudah bisa mempunyai telepon yang bayarnya setiap bulan. Padahal waktu itu dia belum lama tinggal di Jakarta.”

Pada waktu itu, keahlian memijat para tunanetra benar-benar diakui. [Maidian Reviani, Herry Supriyatna, Yudi Permana]

Baca juga:

Tulisan 1: Pijat Tunanetra Berjaya Zaman Soeharto

Tulisan 2: Ujian Berat Bagi Juru Pijat Tunanetra

Tulisan 3: Ketika Sandaran Hidup Tunanetra Mati Suri

Tulisan 4: Walau Terseok-seok, Juru Pijat Tuna Harus Tetap Berjalan

Tulisan 5: Harapan Tukang Pijat Tunanetra Tak Muluk-muluk

Tulisan 6: Makanan Empuk Bandit, Tunanetra: Sering Mas, Ibarat Kayak Lalap Buat Saya

Tulisan 7: Apa Kata Mereka yang Selama Ini Dampingi Tunanetra

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Juru Pijat

Apa Kata Mereka yang Selama Ini Mendampingi Tunanetra?

Image

News

Juru Pijat

Makanan Empuk Bandit, Tunanetra: Sering Mas, Ibarat Kayak Lalap Buat Saya

Image

News

Juru Pijat

Harapan Juru Pijat Tunanetra Tidak Muluk-muluk

Image

News

Juru Pijat

Walau Terseok-seok, Juru Pijat Tunanetra Harus Tetap Berjalan

Image

News

Juru Pijat

Ketika Sandaran Hidup Tunanetra Mati Suri

Image

News

Juru Pijat

Ujian Berat Bagi Juru Pijat Tunanetra

komentar

Image

1 komentar

Image
Galuh Parantri

Saya terharu baca kisah-kisah ini. Luar biasa memang bapak dan ibu tuna netra

terkini

Image
News

Tiga Syarat Pemakzulan Presiden Menurut Pemikir Islam

Salah satunya pemimpin yang tidak adil.

Image
News
Wabah Corona

DMI: Daya Tampung Masjid saat Normal Baru hanya 40 Persen

Daerah yang padat penduduk ibadah Shalat Jumat dilaksanakan dua gelombang

Image
News
Wabah Corona

Hari Keempat Rapid Test di Surabaya, 187 Orang Reaktif

Surabaya masuk zona merah.

Image
News

Ribuan ASN Nagan Raya Aceh Tak Lagi Terima Tunjangan Khusus

Anggaran tunjangan khusus dipangkas.

Image
News
Hari Lahir Pancasila

Kemendikbud Ajak Semua Pihak Kedepankan Semangat Gotong Royong di Tengah Covid-19

Harus ada praktik nyata bukan hanya wacana.

Image
News

Lama Buron, KPK Akhirnya Tangkap Nurhadi dan Menantunya

Masuk DPO karena mangkir pemeriksaan.

Image
News

Satgas Nemangkawi Buru KKB yang Tembak Warga Sipil

KKB layak disebut teroris karena bunuh warga tak berdosa.

Image
News
Wabah Corona

Warga dan Aparat di Boven Digoel Bertekad Putus Penyebaran Corona

“Kegiatan seperti ini terus dilakukan Satgas agar masyarakat makin sadar dan tahu cara efektif dalam mencegah penyebaran Covid-19“

Image
News

Tambang Emas Tradisional di Kotabaru Longsor, Enam Orang Meninggal

"Seluru personel Polsek Sungai Durian bersama Koramil dan masyarakat masih melakukan pencarian korban atas nama Nardi“

Image
News
Wabah Corona

Kasus Positif Corona di Kota Bogor Bertambah Dua Orang

Satu kasus merupakan impor dari daerah lain, yakni warga Kota Bogor yang baru kembali dari Manila, Filipina.

terpopuler

  1. Kekasih Gelandang Madrid Ini Mengaku Lakukan Seks Sekali Sehari, Sangat Kompetitif

  2. Bikin Plong, Ini 5 Cara Membersihkan Paru-paru Secara Alami

  3. Heboh Slip Gaji Guru Honorer Hanya Rp35 Ribu per Bulan, Warganet: Nangis Liatnya

  4. Gagah Abis, Ini 3 Potret Ravi Murdianto saat Berseragam Tentara

  5. Pertokoan Kawasan Jembatan Merah Diamuk si Jago Merah

  6. Ucapan Ahok, Khofifah dan Edy Rahmayadi Sambut Hari Lahir Pancasila

  7. Viral Foto Diduga Warga Bogor Camping di Tengah Pandemi, Warganet: Senja, Kopi, dan COVID-19

  8. Tantenya Meninggal Dunia, Maia Estianty Ingatkan Warga Jangan Remehkan COVID-19

  9. Prajurit TNI Selamatkan Aset UN di Kongo

  10. Nenek 100 Tahun Asal Surabaya Sembuh dari COVID-19, Ini Kunci Keberhasilannya

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Salah Urus dan Salah Pengurus

Image
IMAM SHAMSI ALI

Anarkis Itu Suara yang Tak Terdengarkan

Image
Siti Nur Fauziah

Covid-19, Bagaimana dengan Indonesiaku Hari Ini?

Image
Achsanul Qosasi

Memaknai Silaturahim Virtual

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Jualan Donat hingga Ciptakan Aplikasi Bersatu Lawan COVID-19, Ini 5 Fakta Menarik Ahmad Alghozi Ramadhan

Image
Ekonomi

Kiat Agar Bisnis Moncer Ala Bob Sadino

Image
News

Ikut Tren Gunakan FaceApp, Ridwan Kamil: Di Era New Normal Wajah Tak Perlu Dirawat, Cukup Diedit