image
Login / Sign Up

Gurihnya Bisnis Gombal Bekas Impor dari Mereka yang Ingin Kece

Maidian Reviani

Gombal Impor

Image

Pembeli memilih pakaian impor bekas di Blok V Pasar Senen, Jakarta, Kamis (7/3/2019). Pakaian bekas tersebut dibandrol dari hari harga Rp5.000 hingga Rp150.000 per potong. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO Nadiah saya temui di Plaza Metro Atom, siang itu. Plaza Metro Atom merupakan salah satu tujuan para fashionista Ibu Kota Jakarta, selain Pasar Senen yang letaknya hanya beberapa kilometer dari sana.

“Aku sering sih, sebulan sekali, tapi kalau lagi nggak sempet ya dua bulan sekali,” kata pegawai perusahaan swasta itu.

“Aku lebih suka beli di sini ya ketimbang Senen karena Senen itu jauh. Pernah sih ke Senen, cuma gitu seram aja meskipun pilihannya banyak. Jadi aku cari yang enak untuk milih-milih aja.”

baca juga:

Pada waktu itu, Nadiah sedang mencari baju-baju untuk keperluan kerja. Dia memilih masa bodoh dengan adanya larangan impor baju bekas pakai. Bagi dia, sudah senang ketika baju-baju yang dicari dengan harga miring, tetapi tetap keren dan bisa didapatkan.

“Aku paling ke sini carinya baju kemeja, celana bahan untuk kerja. Soalnya tiap hari kan harus ganti ya, jadi malu aja kalau itu-itu terus. Karena harus ganti-ganti, jadi aku cari aja yang murah, meskipun bekas. Kalau kayak kaus gitu aku nggak beli, aku kalau kayak gitu-gitu milih pakai yang baru,” kata dia.

Pakaian impor bekas di Pasar Senen. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Setiap kali belanja, biasanya Nadiah menghabiskan uang sekitar Rp200 ribu untuk membeli beberapa potong pakaian.

“Itu juga hasilnya banyak. Kayak di sini kemeja bekas, celana bekas yang masih bagus tuh jualnya pada Rp35 ribu. Kalau beli tiga Rp100 ribu. Jadi banyak dapatnya meskipun abis Rp200 ribu,” kata dia.

Mella yang saya temui ketika sedang berburu pakaian bekas di Pasar Senen juga punya prinsip yang sama seperti Nadiah. Dia memilih masa bodoh dengan larangan-larangan impor dari pemerintah. Bagi dia yang penting bisa mendapatkan baju yang bagus dengan harga terjangkau.

“Saya tahu dari saudara dan temen kalau Senen jualan baju bekas, tapi juga masih bagus-bagus kondisinya kalau bisa milih-milihnya,” kata dia.

Mella juga seorang fashionista. Sebulan sekali dia bepergian ke Pasar Senen. Selain untuk belanja, tentu saja untuk mencari inspirasi model pakaian yang sedang tren di negeri lewat pakaian yang diimpor.

“Pertama pasti karena murah, yang kedua karena barang yang dibeli gak pasaran modelnya, dan seneng aja kalau beli barang-barang aneh dan gak ada yang bakal nyamain, dan beli karena bisa beli barang merek dengan harga yang murah,” kata dia.

“Aku (biasanya cari) kaus tangan panjang, dan rok atau celana, jaket sih jarang-jarang. Cuma (belanja) di Senen aja.”

“Sekitar Rp200 ribu udah dapet sekitar 6-10 baju.”

Pakaian impor bekas di Pasar Senen. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Satu hal lagi yang membuat dia selalu kangen dengan pusat awul-awul itu adalah gaya komunikasi pemasaran yang dijalankan para pedagang. Baginya, cara para pedagang menawarkan pakaian merupakan hiburan tersendiri bagi orang sibuk sepertinya.

“Penjual Senen tuh juga lebih lucu mereka teriak-teriak menawarkan barangnya dengan kata-kata lucu kaya pantun, pura-pura marah-marah jadi semacam hiburan buat pembeli sambil pas lagi milih-milih baju,” kata dia.

Di salah satu tempat di sekitar pasar, pegawai swasta bernama Aang Khalamullah siang itu menenteng dua buah plastik warna hitam penuh dengan pakaian dari luar negeri. Dia mengaku tetap bangga membeli pakaian bekas pakai, selain masih keren dan layak pakai, mayoritas branded.

“Sebenarnya pilihan utama tetap baju baru, tapi alasan pertama beli bekas sih emang murah, udah gitu gua juga mau coba-coba, karna liat temen juga katanya beli bekas beli bekas, tapi kondisinya bagus dan banyak merek terkenalnya,” kata dia.

Bagi Aang urusan selera bukan soal apakah itu barang anyar atau bekas.

“Bukan soal seneng karena pakai barang bekas atau baru sih, tapi ya karena dapet barang pilihan yang kita suka, jadi sama aja kaya baju baru perasaannya mah. Intinya kalau kita belinya sesuai selera dan pilihan, pasti hati puas mau itu baru ataupun bekas,” kata dia.

Pakaian impor bekas di Pasar Senen. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Dari cerita para pelanggan pasar awul-awul menunjukkan bahwa meskipun pemerintah memerangi impor pakaian bekas, permintaan gombal tetap tinggi. Tingginya permintaan konsumen berpengaruh pada tingkat penyediaan pakaian bekas.

Pedagang di Pasar Senen bernama Jemmy (samaran) mengatakan kualitas pakaian impor, walaupun bekas, jauh lebih baik dibandingkan pakaian produk dalam negeri.

“Karena kualitas barang antara impor dan produk negeri tuh jauh. Dari segi harga itu minim sangat murah, cuma kualitas itu jauh menangan impor. Kalau kita cuma Rp35 ribu. Kalau produk lokal paling murah Rp70 ribu,” kata Jemmy.

Dari cerita Jemmy juga terungkap anggapan orang selama ini tentang konsumen pakaian bekas termentahkan. Orang menganggap pakaian bekas hanya diburu kalangan berkantung cekak. Kenyataannya, pelanggan Jemmy banyak datang dari kalangan menengah. Dari yang kere sampai perlente.

“Kayak menengah ke atas beli baju impor ketimbang lokal karena kualitas, bukan masalah murah gak murah. Barang-barang aneh, tapi bersifat positif dari cara pemakaiannya,” kata dia.

Pedagang seperti Jemmy sangat diuntungkan dengan bisnis ini. Usaha pemerintah memerangi impor pakaian bekas sepertinya tidak akan benar-benar berhasil kalau melihat tingginya selera orang terhadap jenis pakaian itu. Bahkan, Jemmy berani menargetkan mendapatkan minimal Rp500 ribu setiap hari. Berarti dalam sebulan dia bisa mengumpulkan sampai Rp35 juta.

“Alhamdulillah suka sesuai target.”

Pedagang di Pasar Metro Atom, Nur, senada dengan Jemmy. Tingginya permintaan membuat pedagang seperti dia sangat diuntungkan, walaupun ada larangan impor pakaian bekas dari pemerintah.

“Banyak dicari orang, masih diburu orang. Pokoknya konsumennya masih banyak dan saya juga lihat emang jalur rezeki saya di situ juga,” kata dia.

Bahkan, di antara pedagang pakaian bekas sendiri terjadi persaingan.

“Iya di sini kan emang banyak yang jualan sejenis ya, kalau masalah saingan merata sih. Saingan tuh pasti ada aja. Kalau bagi saya biasa aja, namanya orang dagang,” kata dia.

“Pembeli tuh kalau lagi hari-hari kayak gini sepi. Tapi kalau tanggal merah, atau Jumat, Sabtu, Minggu pasti ramai. Gitu sih jadi penghasilan perhari juga nggak nentu jadinya,” kata dia.

Nur membocorkan pendapatannya. Setiap bulan, dia mengaku bisa meraup keuntungan hingga Rp25 juta. Dia membanderol harga pakaian bekas mulai dari Rp10 ribu hingga Rp500 ribu saja.

“Yang Rp10 ribu kaus-kaus udah robek, lecet-lecet, kalau harga Rp400 ribu-Rp500 ribu itu merek bagus dan terkenal. Karena barangnya tuh asli ori dari sana,” kata dia.

Itulah. Pelaku usaha pakaian bekas tetap menjamur, terutama kota-kota besar seperti Jakarta. Bisnis awul-awul tetap eksis karena memang banyak orang yang mencari pakaian bermerek dengan harga kaki lima.

***

Fenomena itu diakui oleh Kepala Sub Direktorat Komunikasi dan Publikasi Bea Cukai Pusat Deni Surjantoro.

"Jadi sebetulnya kenapa supply (penawaran) itu masih masuk? Karena demand (permintaannya) masih ada. Jadi antara supply dan demand ini, kita sebagai aparat yang harus menegakkan peraturan ada di tengah. Sehingga pelawanan akan selalu ada," kata Deni ketika saya temui di kantornya, Rawamangun, Jakarta, Senin, 4 Maret 2019.

Dia mengatakan sebagian masyarakat berminat dengan pakaian bekas dengan pertimbangan harga yang relatif terjangkau. Dia menyontohkan bagi sebagian masyarakat di Sumatera, Sulawesi, dan Papua.

"Kalau jumlah besar itu kan relatif. Artinya memang di sana mereka budayanya seperti itu. Jadi sudah hampir seperti budaya. Mereka menganggap bahwa menggunakan pakaian bekas itu juga secara bebas memperhatikan daya beli masyarakat. Sehingga menjadi PR kita bersama dari tingkat pusat sampai daerah untuk melihat faktanya seperti itu."

Tapi di sisi lain, kata dia, banjir pakaian bekas dari luar negeri mengakibatkan industri dalam negeri mengalami kerugian.

Deni Surjantoro. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Yang paling utama industri dalam negeri. Tentunya kalau arus itu banyak masuk, akan tergerus industri, apalagi pakaian yang ada didalam negeri. Kalau ekonomi impactnya kita belum hitung. Kalau itu larangan, jadi begitu itu larangan, ya itu dilarang. Jadi kita gak hitung lagi berapa kerugian ekonomi dan kerugian negara."

"Barangnya (pakaian bekas) karena ini larangan kita musnahkan. Dan orangnya (pelaku) kita lakukan penyidikan penanganan perkara."

Jumlah penduduk yang begitu banyak, sementara tingkat daya beli rendah dimanfaatkan betul oleh para pemain pakaian bekas impor.

"Kalau kita lihat, masyarakat kita dengan jumlah penduduk yang sangat besar, ini menjadi pangsa pasar yang bagus. Entah itu menjadi barang bekas ataupun barang baru. Apalagi ada beberapa kelompok di masyarakat yang berdaya belinya kita masih rendah," kata Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Veri Anggriono Sutiarto.

***

Pakaian bekas impor banyak dipasarkan, baik di pasar pusat kota maupun pasar rakyat. Masyarakat pun dapat dengan mudah membelinya dengan harga miring.

Wakil Ketua Asosiasi Peritel Indonesia Tutum Rahadian tak habis pikir kenapa pakaian bekas impor bisa lolos sehingga begitu bebas dijual di pasar. Tutum mengatakan bisnis tersebut sudah pasti berpengaruh pada industri garmen dalam negeri, apalagi kalau terus berlangsung.

"Ya secara studi penurunan tidaknya saya belum pernah. Tetapi apakah memengaruhi, ya pastilah, yang seharusnya beli barang dalam negeri, eh malah membeli barang luar negeri. Pasti memengaruhilah," kata Tutum.

Ketika saya wawancara soal isu itu, Tutum terkesan sudah tidak tertarik untuk membahasnya.

"Barang ini sudah jelas dilarang, tapi barang ini terpajang di depan umum, berarti apa? Pembiaran apa bukan, saya tanya? Ya kamu asumsikan sendirilah, kalau bukan pembiaran lalu apa?" ujarnya.

Soal tingginya kebutuhan masyarakat akan pakaian bekas impor, Tutum tak mau tahu soal itu. Lantas, dia menggambarkan seperti narkotika.

"Narkoba juga ada yang membutuhkan, jadi kalau ada yang butuh kita boleh masuk, melanggar hukum? Gitu?" kata dia.

Tutum menginginkan peraturan yang sudah dibuat harus ditegakkan.

"Barang ini bukan barang baru kok, emang dia (pemerintah) gak punya mata. Barang ini (pakaian bekas) kecuali narkoba yang sembunyi-sembunyi kita kasih saran itu, baru bener. Nah ini kan barang yang terbuka di umum," kata dia. [Maidian Reviani, Herry Supriyatna, Yudi Permana]

Baca juga:

Tulisan 1: Cerita dari Sebuah Pelabuhan hingga Pasar Pakaian Bekas

Tulisan 3: Genderang Perang Ditabuh Terus, Bisnis Gombal Bekas Impor Jalan Terus

Tulisan 4: Ribuan Bakteri Tak Begitu Menakutkan Asal Pakaian Tetap Keren

Tulisan 5: Perang Hadapi Pengawal Kapal Gombal Bekas Impor

Tulisan 6: Rute Gombal Bekas Impor sampai Pelabuhan Tikus, Siapa Pemainnya?

Tulisan 7: Di Balik Kecanduan Pakaian Bekas Impor

Tulisan 8: Penyelundupan Gombal Bekas Impor, Polair: Mereka Sudah Tahu Posisi Petugas

Tulisan 9: Kisah Baju You Can See Ketika Pertama Kali Diimpor 

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Gombal Impor

Kisah Baju You Can See Ketika Pertama Kali Diimpor ke Indonesia

Image

News

Gombal Impor

Penyelundupan Gombal Bekas Impor, Polair: Mereka Sudah Tahu Posisi Petugas

Image

News

Gombal Impor

Di Balik Kecanduan Pakaian Bekas Impor

Image

News

Gombal Impor

Rute Gombal Bekas Impor sampai Pelabuhan Tikus, Siapa Pemainnya?

Image

News

Gombal Impor

Perang Hadapi Pengawal Kapal Gombal Bekas Impor di Tengah Laut

Image

News

Gombal Impor

Ribuan Bakteri Tak Begitu Menakutkan Asal Pakaian Tetap Keren

Image

News

Gombal Impor

Genderang Perang Ditabuh Terus, Bisnis Gombal Bekas Impor Jalan Terus

Image

News

Gombal Impor

Cerita dari Sebuah Pelabuhan hingga Pasar Pakaian Bekas

komentar

Image

1 komentar

Image
Hera Wati

wahh kalo yang ori tapi bekas, harganya lumayan juga ya

terkini

Image
News

Tiga Syarat Pemakzulan Presiden Menurut Pemikir Islam

Salah satunya pemimpin yang tidak adil.

Image
News
Wabah Corona

DMI: Daya Tampung Masjid saat Normal Baru hanya 40 Persen

Daerah yang padat penduduk ibadah Shalat Jumat dilaksanakan dua gelombang

Image
News
Wabah Corona

Hari Keempat Rapid Test di Surabaya, 187 Orang Reaktif

Surabaya masuk zona merah.

Image
News

Ribuan ASN Nagan Raya Aceh Tak Lagi Terima Tunjangan Khusus

Anggaran tunjangan khusus dipangkas.

Image
News
Hari Lahir Pancasila

Kemendikbud Ajak Semua Pihak Kedepankan Semangat Gotong Royong di Tengah Covid-19

Harus ada praktik nyata bukan hanya wacana.

Image
News

Lama Buron, KPK Akhirnya Tangkap Nurhadi dan Menantunya

Masuk DPO karena mangkir pemeriksaan.

Image
News

Satgas Nemangkawi Buru KKB yang Tembak Warga Sipil

KKB layak disebut teroris karena bunuh warga tak berdosa.

Image
News
Wabah Corona

Warga dan Aparat di Boven Digoel Bertekad Putus Penyebaran Corona

“Kegiatan seperti ini terus dilakukan Satgas agar masyarakat makin sadar dan tahu cara efektif dalam mencegah penyebaran Covid-19“

Image
News

Tambang Emas Tradisional di Kotabaru Longsor, Enam Orang Meninggal

"Seluru personel Polsek Sungai Durian bersama Koramil dan masyarakat masih melakukan pencarian korban atas nama Nardi“

Image
News
Wabah Corona

Kasus Positif Corona di Kota Bogor Bertambah Dua Orang

Satu kasus merupakan impor dari daerah lain, yakni warga Kota Bogor yang baru kembali dari Manila, Filipina.

terpopuler

  1. Kekasih Gelandang Madrid Ini Mengaku Lakukan Seks Sekali Sehari, Sangat Kompetitif

  2. Bikin Plong, Ini 5 Cara Membersihkan Paru-paru Secara Alami

  3. Heboh Slip Gaji Guru Honorer Hanya Rp35 Ribu per Bulan, Warganet: Nangis Liatnya

  4. Gagah Abis, Ini 3 Potret Ravi Murdianto saat Berseragam Tentara

  5. Pertokoan Kawasan Jembatan Merah Diamuk si Jago Merah

  6. Ucapan Ahok, Khofifah dan Edy Rahmayadi Sambut Hari Lahir Pancasila

  7. Viral Foto Diduga Warga Bogor Camping di Tengah Pandemi, Warganet: Senja, Kopi, dan COVID-19

  8. Tantenya Meninggal Dunia, Maia Estianty Ingatkan Warga Jangan Remehkan COVID-19

  9. Prajurit TNI Selamatkan Aset UN di Kongo

  10. Nenek 100 Tahun Asal Surabaya Sembuh dari COVID-19, Ini Kunci Keberhasilannya

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Salah Urus dan Salah Pengurus

Image
IMAM SHAMSI ALI

Anarkis Itu Suara yang Tak Terdengarkan

Image
Siti Nur Fauziah

Covid-19, Bagaimana dengan Indonesiaku Hari Ini?

Image
Achsanul Qosasi

Memaknai Silaturahim Virtual

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Jualan Donat hingga Ciptakan Aplikasi Bersatu Lawan COVID-19, Ini 5 Fakta Menarik Ahmad Alghozi Ramadhan

Image
Ekonomi

Kiat Agar Bisnis Moncer Ala Bob Sadino

Image
News

Ikut Tren Gunakan FaceApp, Ridwan Kamil: Di Era New Normal Wajah Tak Perlu Dirawat, Cukup Diedit