image
Login / Sign Up

Bahaya Berita Serampangan Menginspirasi Bunuh Diri Susulan

Yudi Permana

Copycat Suicide

Image

Ilustrasi - Bunuh Diri | AKURAT.CO/Candra Nawa

AKURAT.CO Akhir Tragis Sang Kungfu Master David Carradine, Tewas Dengan Kemaluan dan Leher Terjerat Tali Sepatu (Sabtu, 6 Juni 2009)

Penjual Pentol di Sidoarjo Gantung Diri, Berikut Pesan Yang Ditinggalkan (Kamis, 15 November 2018. Dalam berita dicantumkan foto korban gantung diri, meskipun bagian wajah diblur, tetap memperlihatkan keadaan korban)

2 Wanita Adik-Kakak Nekad Bunuh diri Dengan Cara Loncat Dari Apartemen (Dalam berita ditunjukkan dengan detail foto, mulai dari titik tempat bunuh diri hingga posisi terakhir dua korban)

baca juga:

Digerebek Istri Pertama, 2 Wanita Simpanan Loncat dari Lantai Dua Hotel (Dalam berita ditampilkan tiga foto ketika wanita itu melayang)

Empat judul berita media online di atas hanyalah beberapa contoh bagaimana media meliput dan mengemas peristiwa bunuh diri. Contoh-contoh tersebut dikirimkan oleh Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo (Stanley) ke email saya.

Jika ditelisik lebih mendalam, ternyata berita media massa ikut bertanggungjawab terhadap percobaan bunuh diri maupun bunuh diri susulan.

Saya menemui Stanley di lantai tujuh, gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019), untuk mendapatkan penjelasan lebih jauh mengenai pemberitaan di media massa.

Menurut Stanley pemberitaan media yang dibuat berlebihan bisa membahayakan kesehatan jiwa, memicu orang yang rentan untuk melakukan Copycat Suicide. Copycat Suicide yaitu tindakan bunuh diri yang dilatarbelakangi ingin meniru kasus bunuh diri sebelumnya. 

Yosep Adi Prasetyo, Ketua Dewan Pers. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Salah satu contoh Copycat Suicide pada kasus bunuh diri terjadi pada satu keluarga di Desa Tambun Sungkaean, Kecamatan Onan Runggu, Samosir, Sumatera Utara. Peristiwa itu terjadi dua hari setelah kejadian yang dialami sekeluarga di Komplek Villa Kebun Sirih, Blok A 18, Bukit Sangkal, Palembang, Sumatera Selatan, pada Rabu (24/10/2018).

"(Berita bunuh diri di Palembang) ditiru di tempat lain dalam hitungan dua hari karena pemberitaan."

Sambil menjelaskan rincian peristiwa di dua provinsi itu, Stanley menunjukkan file di komputer yang berisi contoh-contoh judul berita beserta isinya yang tidak sehat karena penuh bumbu sensasional.

"Iya (dampak dari baca berita). Pokoknya ada fenomena copycat itu," kata dia.

Contoh lain kasus bunuh diri yang diberitakan media dan kemudian memicu tindakan peniruan yaitu yang dilakukan selebriti K-Pop Kim Jong-hyun, anggota band SHINee, pada Desember 2017. Kematian Jong-hyun diberitakan dengan rinci oleh sebagian media Indonesia. Bahkan, sampai cara dia melakukan tindakan pun dibahas sampai tuntas. Tak hanya mengurai rincian, publik dibanjiri berita itu.

Sebagian media, menurut Stanley, sama sekali tidak peka bahwa Jong-hyun mempunyai jutaan penggemar di Indonesia. Juga tak sensitif bahwa pengemasan berita yang serampangan bisa membahayakan penggemar, terutama yang sedang tidak stabil.

"Akibatnya dua remaja perempuan di Bandung, Jawa Barat, mencoba melakukan hal yang sama (bunuh diri). Jadi ada namanya fenomena Copycat Suicide, bunuh diri dengan cara meniru tokoh-tokoh idola."

Koordinator Divisi Advokasi Task Force Suicide Primary Prevention Into The Light Venny Asyita mengatakan dua fans Jong-hyun hendak meniru tindakan bunuh diri karena mereka merasa kehilangan panutan.

“Kasus Jong-hyun, ada dua orang masuk berita mau bunuh diri karena kehilangan panutannya. Hal itu karena media tidak jelaskan dengan baik,” kata Venny di Jakarta Selatan pada Senin (25/2/2019).

Kasus fans meniru tindakan idola, kata Founder Into The Light Benny Prawira Siauw, memang kompleks. Mungkin orang awam akan menganggap perbuatan mereka tidak rasional. Tapi, kata Benny, relasi antar fans dan selebriti idola sama seperti hubungan kekasih. Pemberitaan terus-menerus melalui berbagai macam platform media, akhirnya memicu fans semakin mencari informasi lebih detail.

“Fans adalah hubungan yang emosional. Fansnya mah juga ngerti kalau dia juga gak tahu saya kok, nggak kenal secara pribadi. Tapi bagi mereka dia tuh wah banget. Misal kalau dia penyanyi, lagu-lagunya relatable buat orang yang depresi. Dia yang buat dia survive on other day, dia yang buat merasakan hidup lebih bermakna, karena humornya entah itu karena inside-insidenya yang dianggap lebih bijaksana. Akhirnya ketika selebrity suicide terjadi maka impactnya bakal lebih besar,” tutur dia.

“Kehilangan sosok idola, itu tuh sama kayak kehilangan pacar di otak kita. So, sama hancurnya. Orang-orang mungkin mikir kok ga rasional banget ya, tapi namanya jatuh cinta gak ada yang rasionallah.”

Benny merujuk pada S. Stack dalam Media coverage as a risk factor in suicide, Journal of Epidemiology and Community Health (2003) sebagaimana dimuat Remotivi menjelaskan kenapa banyak bunuh diri tiruan terjadi setelah pemberitaan bunuh diri yang tidak sehat. Penjelasan nomor dua menyebut adanya proses identifikasi yang lebih kuat dengan jenis berita bunuh diri tertentu. Kasus bunuh diri selebritas dianggap mempengaruhi lebih banyak orang untuk berpikir bahwa jika mereka yang terkenal, sukses dan berkarier baik saja tidak kuat menjalani hidup, apalagi mereka sebagai orang awam yang menjalani hidup lebih berat. Hal ini akhirnya menyebabkan kematian bunuh diri selebritas lebih berdampak pada penerimaan tindakan bunuh diri dibandingkan, katakanlah, bunuh diri orang awam.

Stanley kembali menunjukkan contoh berita yang membahayakan kesehatan jiwa dari file komputernya. Kali ini berita tentang mantan pemain dan pelatih bulu tangkis yang pernah mencoba untuk bunuh diri dan media memblow up sedemikian rupa.

Stanley menekankan kasus bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat, bukan kriminal. Maka tak seharusnya media menelanjangi begitu rupa orang yang melakukan percobaan maupun yang telah bunuh diri, tanpa memikirkan berbagai efek yang muncul kemudian.

Yosep Adi Prasetyo, Ketua Dewan Pers. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

"Padahal kalau ditanya bunuh diri kejahatan atau bukan? Saya jawab bukan. Kenapa informasinya seperti kejahatan, ditelanjangi habis begitu. Bahkan rumah disebut (dalam pemberitaan), sehingga NJOP (Nilai Jual Objek Pajak), jadi turun menjadi nol. Siapa yang mau beli rumah bekas orang bunuh diri," kata dia.

Masalah ini juga menjadi konsen Aliansi Jurnalis Independen Jakarta. Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani Amri menekankan betapa berbahaya ketika jurnalis tidak memiliki kepekaan dalam menyajikan berita. Apalagi sekarang era internet yang sangat memudahkan orang dalam melakukan pencarian informasi, ketika berita serampangan itu hadir di hadapan orang yang punya risiko tinggi, maka akan memiliki pengaruh yang kuat.

"Ini kan bisa menginspirasi orang. Orang yang mau bunuh diri pasti akan mencari cara di internet, mereka mencari informasi bagaimana sakitnya lebih parah. Ini kan harus dihindari," kata Asnil ketika ditemui di Sekretariat AJI Jakarta, Jalan Kalibata Timur IVG, nomor 10, Jakarta Selatan.

Salah satu contoh berita yang ditunjukkan Stanley menyebut dengan jelas nama cairan beserta merek dagang yang dipakai untuk bunuh diri.

“Sehingga akhirnya bahan itu (bisa) dijadikan treatment atau dipakai untuk bunuh diri. Semua orang yang mau bunuh diri, pasti beli itu terus minum."

Menurut Venny sebenarnya tak hanya berita media mainstream, bahkan film, buku, novel, dan semua yang berkaitan dengan publikasi tentang isu bunuh diri kalau penjelasannya kelewat detail bisa membuat orang yang sedang mengalami emosi tak stabil menirunya.

“Bisa memicu orang yang keadaannya tidak stabil. Berita bunuh diri kan sangat sensasional ya. Berita bunuh diri tuh ternyata sangat berpengaruh setelah dia membaca berita mengenai bunuh diri. Isunya yang diangkat, latar belakang orang bunuh diri sama seperi nasib dia, itu bisa memicu,” kata Venny.

“Jangan detail kronologis, jangan menyebut penyebab, karena gak ada faktor tunggal. Jangan gambar sadis. Banyaklah,” Venny menekankan.

Apa yang terjadi dengan cara media menyajikan berita, menurut Stanley, menunjukkan betapa masih banyak wartawan yang tidak paham tata cara meliput isu bunuh diri yang mengandung nilai edukasi masyarakat untuk tidak melakukan hal serupa.

"Iya wartawan itu tidak paham dan tidak peka. Tidak memiliki empati pada keluarga orang terdekat, tidak peka, laporannya seperti laporan kriminal atau malah infotainment. Kalau dia punya panduan, jadi lebih tahu."

"Kalau secara detail kan banyak, ada foto atau gambar, kadang dia mengambil foto di media sosial, banyak berita itu yang jadi kesalahan. Misalnya di Mall Citraland diberitakan ada orang lompat dari lantai atas, kemudian semuanya diurus oleh pihak Mall. Besoknya ada orang yang niru juga. Sebab mereka (korban) nggak mampu jadi beban keluarga, dia loncat aja dari lantai 4."

Jumlah kasus Copycat Suicide di kalangan remaja, kata Benny, memang tidak mencolok. Tapi, tetap harus jadi perhatian serius semua pihak, dalam hal ini media. Media diharapkan makin cerdas dalam meliput dan menyajikan konten.

“Secara tidak langsung diajarin dong kalau dikasih tahu secara detailnya. Itu juga yang akhirnya nanti ketika peliputan media terlalu besar terhadap satu lokasi misalnya, lokasi yang dipakai untuk bunuh diri jadinya itu akan jadi tempat jadi terus menerus dipakai jadi tempat bunuh diri,” kata dia.

Menurut Stanley memang sejauh belum ada masyarakat yang mengadukan produk media tentang isu bunuh diri ke Dewan Pers. Sebenarnya hal itu juga jadi kegelisahan tersendiri. Bisa diartikan, sebagian masyarakat belum benar-benar tersadar karena merasa berita yang beredar wajar-wajar saja.

Pengacara Lembaga Bantuan Hukum Pers Gading Yonggar Ditya mengatakan sebagian masyarakat masih suka dengan isu bunuh diri yang disajikan dengan gamblang. Menurut dia media ikut bertanggungjawab membentuk persepsi seperti itu.

"Masyarakat terlalu terbawa arus dengan pemberitaan seperti itu, tidak memiliki edukasi, hanya glorifikasi. Dan itu disambut oleh media mainstream. Yang memang niat masyarakatnya seperti ini karena dibentuk oleh informasi yang dia berikan sehingga dikendalikan oleh pasar," kata Gading.

Justru karena itulah Dewan Pers tertantang untuk gencar melakukan edukasi dan sekarang sedang mempersiapkan pedoman pemberitaan isu bunuh diri.

"Kami konsen, untuk sesuatu yang salah kita bikin pedoman. Dan itu sudah dimulai dari tahun lalu kita bikin diskusi dan penelitian dengan Into The Light," katanya.

***

Suatu ketika, Asnil menemukan sebuah berita berjudul sensasional: Remaja Bunuh Diri karena Ditolak Nikah dengan Janda. Sebelum berita menjadi viral dan berdampak luas, dia segera menyikapi.

"Akhirnya redaktur media tersebut aku kirimkan pesan dan dicabut juga (beritanya). Itu yang terjadi di Ciracas, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu," ujar Asnil.

Judul berita itu menyimpang dari etika jurnalistik. Menurut dia seharusnya media tidak perlu menulis judul dengan kesimpulan seperti itu. Ditambah lagi penjelasan dalam tubuh berita begitu rinci.

Pembuatan berita tersebut erat kaitannya dengan tingkat pemahaman orang media terhadap isu. Pada awal 2019, AJI Jakarta, Lembaga Bantuan Hukum Pers, dan Into The Light Indonesia melakukan riset tentang pengetahuan dan sikap media terkait berita bunuh diri di kalangan jurnalis.

Kesimpulannya, kebanyakan jurnalis tidak memahami bagaimana memberitakan isu bunuh diri yang benar. Hasil riset menunjukkan, pemahaman editor justru lebih rendah dibandingkan jurnalis di lapangan.

Mengapa bisa demikian? "Reporter mengalami sendiri di lapangan seperti apa, kengeriannya, kesedihannya," kata Asnil.

Beberapa waktu yang lalu sebelum survei media dilakukan, saking terusik dengan cara pengemasan berita oleh media tertentu, Into The Light sampai pernah mengirimkan surat kepada pemimpin redaksi.

Dalam surat, mereka tidak meminta berita dihapus, melainkan hanya minta bagian-bagian yang kelewat rinci dihilangkan dan bahasa-bahasa yang sensasional diubah agar lebih aman bagi pembaca yang sedang tak stabil.

“Kirim surat ke medianya dan (ternyata) gak direspon, gak tahu kenapa gak direspon,” kata Venny.

Tak berhenti di situ, Into The Light juga menyelenggarakan diskusi-diskusi dengan melibatkan para pengampu redaksi. Melalui diskusi dengan redaktur dan editor mereka berharap kelak memunculkan kesadaran tentang bagaimana menyajikan pesan secara tepat tanpa mengurangi daya tarik.

“Kita pernah diskusi sama temen-temen pers, sempat ada diskusilah. Karena kita punya prespektif kayak gini, dan kita gak tahu kalau pers gimana. Jadi kita gak mau kalau dianggap paling bener sendiri,” kata Venny.

Venny paham dalam ketika media mengangkat isu tentu didasarkan pada news value. Tapi, kata dia, mesti tetap mempertimbangkan dampak negatif.

“Kita ngerti berita ada value, apalagi bunuh diri soal public figur ada news valuenya apalagi kalau lagi terkenal-terkenalnya, kayak Chester, pasti nilai beritanya tinggi. Kita ngerti kalau itu juga bagian dari pekerjaan jurnalis karena itu informasi yang publik perlu tahu. Hanya saja bagaimana kita bisa mengemas itu,” katanya.

“Jurnalis kan pekerjaan kreatif, bagaimana kreativitas itu dilakukan sesuai dengan yang tepat. Karena berita bunuh diri gak bisa disamakan dengan berita pada umumnya. Stigmanya sangat kental. Jadi bisa berpengaruh pada individu yang sedang tidak stabil, bisa juga ke keluarga, bahkan ke jurnalisnya sendiri. Jurnalis kan berat ya pekerjaannya. Dia capek dia punya masalah berat, kan bisa aja.”

Venny mengapresiasi sikap Dewan Pers yang menurutnya tanggap sekali dengan isu ini. Dia berharap lembaga yang berfungsi untuk mengembangkan dan melindungi kehidupan pers itu segera menerbitkan pedoman pemberitaan isu bunuh diri.

“Sangat baik menanggapinya, abis kejadian Jong-hyun. Dia sempat bilang kalau Dewan Pers akan mengeluarkan pedomannya. Kita denger sih udah ada proses, sempat ada focus group disscusion juga sih sama kita.”

Dalam kasus pemberitaan kematian Jong-hyun, Benny teringat situasi ketika itu. Into The Light sampai mengeluarkan press release dan juga menyebarkan semacam motivasi kepada komunitas-komunitas fans artis Korea itu sebagai langkah mencegah tindakan hal yang tak diinginkan terjadi.

“Kami bilang hentikan dulu rumornya, kalian (fans) harus saling menguatkan satu sama lain, kalaupun di antara kalian ada yang merasa bahwa ini tidak baik-baik saja cari bantuan. Kalau kalian melihat ada perubahan yang begitu hebat bantu mereka, saling bantu sama lain,” kata Benny.

Into The Light menyikapi pemberitaan kematian Jong-hyun dengan sangat hati-hati agar mereka justru tidak ikut arus.

“Kami gak mau kelihatan depan publik hal ini seolah-olah sesuatu yang terlalu menjadi drama atau jadi sesuatu yang diwajarkan. Jadi kami memilih untuk kasih press release. Dan press release disebarkan ke temen-temen media dan komunitas,” kata dia.

Pengurus Into The Light Priska Nurina menekankan kembali salah satu peran media massa untuk mengedukasi masyarakat. Dalam konteks isu bunuh diri, menurut dia, seharusnya media juga menyajikan solusi kemana orang yang sedang depresi, misalnya, harus konsultasi.

“Seharusnya media jadi pencarian bantuan, kalau lagi begini-begini ya buatlah bantuan ke mana. Daripada, kalau berita bunuh diri di Indonesia kan masih yang dramatisir jadi kayak terekam gambar keluarga nangis, gambar sadis, sudah diblur tapi orang suka masih kebayang, jadi balik ke efek negatif. Padahal media kan punya peran mengedukasi masyarakat,” kata Priska.

Gading mengakui sebagian media terlalu serampangan menyajikan berita. "Emang kacau sih pola-pola pengemasan berita (bunuh diri)," ujar dia.

Gading mengutip hasil penelitian yang baru-baru ini dilakukan AJI Jakarta, LBH Pers, dan Into The Light Indonesia. Gading menyebutkan 90 persen lebih pemberitaan bunuh diri masuk kategori bermasalah, mulai dari cara mengemas, detail, sampai gaya bahasa.

"Banyak hal-hal yang sifatnya pribadi melatarbelakangi alasan korban melakukan bunuh diri itu diungkap secara detail," ujar Gading.

Gading menyebut setidaknya ada dua alasan mengapa media memuat berita seperti itu. Pertama, sebenarnya mereka menyadari kesalahan, namun tetap mengemas berita dengan sensasional. Kedua, media yang memang tidak paham dan tidak peka sama sekali. [Yudi Permana, Herry Supriyatna, Maidian Reviani]

Baca juga:

Laporan 1: Kisah Mereka yang Berhasil Atasi Keinginan Bunuh Diri

Laporan 3: Menunggu Fatwa Dewan Pers Agar Pemberitaan Bunuh Diri Tak Lagi Serampangan

Laporan 4: Mengapa Mereka Bunuh Diri dan Bagaimana Mencegahnya?

Laporan 5: Wawancara Psikolog: Kalau Kita Ketemu Orang Mau Bunuh Diri, Harus Berempati

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Angkat Isu Bunuh Diri, Media Jangan Malah Dorong Orang Lain Meniru

Image

News

Pedoman Pemberitaan Kasus Bunuh Diri, Media Jangan Umbar Sensasi

Image

News

Copycat Suicide

Wawancara Psikolog: Kalau Ketemu Orang Mau Bunuh Diri, Kita Harus Berempati

Image

News

Copycat Suicide

Mengapa Mereka Ingin Bunuh Diri dan Bagaimana Mencegahnya?

Image

News

Copycat Suicide

Menunggu Fatwa Dewan Pers Agar Tak Lagi Serampangan

Image

News

Copycat Suicide

Kisah Mereka yang Berhasil Atasi Keinginan Bunuh Diri

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Tiga Syarat Pemakzulan Presiden Menurut Pemikir Islam

Salah satunya pemimpin yang tidak adil.

Image
News
Wabah Corona

DMI: Daya Tampung Masjid saat Normal Baru hanya 40 Persen

Daerah yang padat penduduk ibadah Shalat Jumat dilaksanakan dua gelombang

Image
News
Wabah Corona

Hari Keempat Rapid Test di Surabaya, 187 Orang Reaktif

Surabaya masuk zona merah.

Image
News

Ribuan ASN Nagan Raya Aceh Tak Lagi Terima Tunjangan Khusus

Anggaran tunjangan khusus dipangkas.

Image
News
Hari Lahir Pancasila

Kemendikbud Ajak Semua Pihak Kedepankan Semangat Gotong Royong di Tengah Covid-19

Harus ada praktik nyata bukan hanya wacana.

Image
News

Lama Buron, KPK Akhirnya Tangkap Nurhadi dan Menantunya

Masuk DPO karena mangkir pemeriksaan.

Image
News

Satgas Nemangkawi Buru KKB yang Tembak Warga Sipil

KKB layak disebut teroris karena bunuh warga tak berdosa.

Image
News
Wabah Corona

Warga dan Aparat di Boven Digoel Bertekad Putus Penyebaran Corona

“Kegiatan seperti ini terus dilakukan Satgas agar masyarakat makin sadar dan tahu cara efektif dalam mencegah penyebaran Covid-19“

Image
News

Tambang Emas Tradisional di Kotabaru Longsor, Enam Orang Meninggal

"Seluru personel Polsek Sungai Durian bersama Koramil dan masyarakat masih melakukan pencarian korban atas nama Nardi“

Image
News
Wabah Corona

Kasus Positif Corona di Kota Bogor Bertambah Dua Orang

Satu kasus merupakan impor dari daerah lain, yakni warga Kota Bogor yang baru kembali dari Manila, Filipina.

terpopuler

  1. Kekasih Gelandang Madrid Ini Mengaku Lakukan Seks Sekali Sehari, Sangat Kompetitif

  2. Bikin Plong, Ini 5 Cara Membersihkan Paru-paru Secara Alami

  3. Heboh Slip Gaji Guru Honorer Hanya Rp35 Ribu per Bulan, Warganet: Nangis Liatnya

  4. Gagah Abis, Ini 3 Potret Ravi Murdianto saat Berseragam Tentara

  5. Ucapan Ahok, Khofifah dan Edy Rahmayadi Sambut Hari Lahir Pancasila

  6. Viral Foto Diduga Warga Bogor Camping di Tengah Pandemi, Warganet: Senja, Kopi, dan COVID-19

  7. Tantenya Meninggal Dunia, Maia Estianty Ingatkan Warga Jangan Remehkan COVID-19

  8. Prajurit TNI Selamatkan Aset UN di Kongo

  9. Nenek 100 Tahun Asal Surabaya Sembuh dari COVID-19, Ini Kunci Keberhasilannya

  10. Dandim 0315: Sejak Beberapa Hari Lalu Ada Orang Ngaku Sebagai Saya, Lalu Minta Uang Anggota dan Bekas Anggota Saya

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Salah Urus dan Salah Pengurus

Image
IMAM SHAMSI ALI

Anarkis Itu Suara yang Tak Terdengarkan

Image
Siti Nur Fauziah

Covid-19, Bagaimana dengan Indonesiaku Hari Ini?

Image
Achsanul Qosasi

Memaknai Silaturahim Virtual

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Jualan Donat hingga Ciptakan Aplikasi Bersatu Lawan COVID-19, Ini 5 Fakta Menarik Ahmad Alghozi Ramadhan

Image
Ekonomi

Kiat Agar Bisnis Moncer Ala Bob Sadino

Image
News

Ikut Tren Gunakan FaceApp, Ridwan Kamil: Di Era New Normal Wajah Tak Perlu Dirawat, Cukup Diedit