image
Login / Sign Up

Kisah Mereka yang Berhasil Atasi Keinginan Bunuh Diri

Maidian Reviani

Copycat Suicide

Image

Ilustrasi - Bunuh Diri | AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO Artikel berita yang mengangkat isu bunuh diri ini terdiri dari lima bagian. Yang perlu menjadi perhatian, sejumlah sumber merujuk pada berita bunuh diri yang dibuat secara rinci. Harap tidak meneruskan membaca bagian itu kalau Anda sedang dalam depresi atau punya kecenderungan bunuh diri.

***

Minggu terakhir bulan Februari 2019. Di salah satu tempat di Jakarta, saya dan Mona (bukan nama sebenarnya) bertemu. Hari itu pertemuan kedua kami. Mona gadis muda. Rambutnya pendek, penuh senyum, dan enerjik.

baca juga:

Setelah ngobrol hal-hal yang sifatnya umum, Mona mulai menceritakan hal yang sama sekali tak pernah terduga dalam pertemuan pertama. Siang itu, dia berani menceritakannya karena mungkin sudah cukup lama melewati fase yang sangat menyiksa itu.

“Sebenarnya aku didiagnosa chronic depression dan paranoia. Jadi ke psikolog waktu itu, awalnya gak pernah ngerti aja, klasiklah self blaming, guilty, gak paham kenapa energinya rendah banget,” kata dia.

Sekitar 2016 - 2017, dia mengikuti proses seleksi calon pegawai salah satu perusahaan. Dia mesti mengikuti tes kesehatan sebagai salah satu persyaratan. Mona berpikir ketika itu tes kesehatan hanyalah formalitas.

“Ini menyeluruh, yang dilihat sampai perilaku, diliat macem-macemlah terlihatlah hasilnya terdeteksi aku memiliki chronic depression dan paranoia, waktu itu ada grafiknya.”

“Pertamakali tahu dari situ?” saya tanya Mona.

“Pertama ditegakkan dari situ, pertamakali tahu ada diagnosis resmi. Awalnya aku cuma self diagnosis aja.”

Sebelum hasil diagnosis keluar, kondisinya depresi yang Mona rasakan sebenarnya sudah tergolong parah.

“Penyebabnya apa?” 

“Many thing sih kalau dibilang apa penyebabnya. Karena ada biologis, hormonal, psikologis, sosial juga. Itu semua ada di aku.”

Suatu ketika, Mona pernah ingin mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Bahkan sampai beberapakali terjadi.

“Tiga kali nyoba, jadi yang satu dua sampai perencanaan. Aku mundur sendiri aja. Masih ada rasa takut. Yang terakhir masih ada rada takut, tapi temen aku kayak dobrak, bukan dobrak sih, aku emang udah nyiapin pintu gak dikunci. Karena penginnya meninggal nggak nyusahin. Kemudian ternyata dibuka, padahal udah ready banget,” kata dia.

“Waktu itu belum sampai masuk rumah sakit, hampir, karena temenku akhirnya masuk. Padahal dia gak ada akses masuk apartement, ternyata mereka naik tangga.”

“Bagaimana bisa teman tahu mau bunuh diri?”

“Karena depresi aku isolasi diri sendiri, gak keluar, diem aja gak ngapa-ngapain, cuma tidur, temen ketok juga nggak keluar.”

Mona termasuk orang yang tidak suka mengumbar masalah ke teman-teman. Dia lebih sering memilih menyimpan. Baginya, masalah yang dialami hanya miliknya dan tak perlu diketahui orang karena toh belum tentu mereka paham.

“Tapi kadang orang-orang jadi kunjungin banget, aku anggapnya jadi kayak stres sendiri, aku mau kayak give my own space aja sih. Meskipun sendirian bikin stres, tapi kalau orang gak ngerti ya bikin stress.”

“Ya gak bisa cerita atau cari kenyamanan aja sih, meskipun temen ada kan, tapi udah pada sibuk sendiri, jadi gak bisa, gak bisa merapat ke mereka.”

Setelah percobaan bunuh diri ketiga berhasil digagalkan ketika itu, teman-teman Mona langsung membuat pesta kecil-kecilan. Tak lain tujuannya untuk membuat Mona tertawa lagi.

“Langsung matiin lampu, langsung bawa aplikasi bola disko. Lampu di handphonenya buat hibur langsung buat party dadakan. Akhirnya jadi ketawa,” katanya.

Mona kemudian dibawa ke tempat tinggal salah seorang teman. Di sana, dia dijaga selama seminggu. Setelah merasa lebih baik, Mona ingin pergi. Tapi, teman-temannya tetap khawatir dan belum mengizinkannya kembali tinggal sendiri di apartemen.

“Gue yakinkan mereka, gue gak akan kenapa-kenapa, gue kayak gini malah jadi sesak nafas,” kata Mona. Sampai akhirnya dia diizinkan pulang.

***

Beruntunglah bagi yang punya dukungan solid berupa support system keluarga. Namun, sebagian orang tidak memiliki itu.

Di lingkungan keluarga, Mona juga merasakan tidak mendapatkan support system yang kuat ketika sedang mengalami guncangan batin.

“Sejak itu sebenarnya setahun dua tahun emang turbulence banget. Sampai akhirnya ke sini-ke sini mulai sempet ke sikolog. Aku gak deket juga sama keluarga, aku akhirnya cuma curhat sama kakak aku, kakak aku psikolog.”

Mona tidak ingin menyalahkan keluarga dan keluarganya juga bukan pemicu masalah. “Sebenarnya (keluarga) sih bukan pemicu, tapi aku gak punya support system, jadi ketika turbulence gak bisa relay ke siapa-siapa.”

Mona tak merasakan bagaimana punya keluarga yang penuh kehangatan. Dia memutuskan untuk tinggal di apartemen. Kini, dia sudah lima tahun tinggal sendiri di sana.

“Sempet tinggal sama keluarga, Cuma ya gak ngobrol, jadi di rumah gue itu tiap kamar ada televisi, jadi ya udah di kamar aja masing-masing.”

“Keluarga gue tuh kayak aduh gue gak paham bagaimana rasanya punya keluarga hangat gak pernah. Cuma secara teori tahu, secara pengetahuan tahu.”

Dia justru merasa lebih dekat dengan kakak ipar. Dengan dia, Mona merasa bicara bercerita.

“Kayak merasa gak dapet aja, kalau kakak yang psikolog itu kakak ipar, makanya gue bisa ngobrol sama dia, kalau keluarga sendiri nggak,” katanya.

Mona bukan orang yang tidak mensyukuri memiliki keluarga. Keluarganya harmonis, bahkan dia menggambarkannya seperti keluarga cemara. Keluarga cemara merupakan serial cerita tentang keluarga sederhana yang harmonis.

“Keluarga gue harmonis kayak keluarga cemara, gak ada masalah, cuma gak hangat aja tapi dingin, gak ngobrol,” kata dia.

Ingatan Mona kemudian melayang ketika dia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ketika itu, Mona remaja mengalami perasaan patah hati yang luar biasa.

Sebagai makhluk sosial, dalam keadaan depresi seperti itu, sebenarnya yang dia butuhkan dukungan dari keluarga. Sayangnya yang dia pada waktu itu justru dimarah-marahi. Dia masih ingat betul, pada titik tertentu ketika merasa tidak punya kanal bercerita, suatu hari dia sampai self harm. Mona menyakiti diri sendiri dengan harapan bisa mengatasi masalah.

“Nggak bilang ini salah ya, cuma keluarga gue islami aja, jadi masih ada stigma-stigma innocent. Jadi gak nyambung aja. Pas gue patah hati, gue merasa gak disupport, malah dibilang kamu tuh perempuan. Makanya waktu itu gue sempat self harm,” katanya.

“Makanya nyari temenan yang bener, jangan lingkungan yang begitu-begitu,” Mona mengulangi ucapan keluarganya ketika itu.

“Gue juga sih yang menjauh karena gue tidak mendapatkan ruang demokrasi, safe space dari keluarga. Manja si guenya.”

Mona muda berjuang belajar dari pengalaman. Dia ikut kegiatan-kegiatan yang sifatnya membangun spiritualitas. Dia akui terkadang keinginan mengakhiri hidup masih terlintas. Hal itu terjadi karena dalam alam bawah sadar, dia berpikir bunuh diri merupakan solusi masalah.

“Abis itu mulai belajar spritual aja sih, meditasi dan lain-lain dah mulai kehendel. The thing with having suicide method gak pernah hilang karena kita berada di tahap kita pernah berani dan kapan aja bisa dateng. Karena pernah menganggap itu jadi solusi,” katanya.

Mona melakukan beberapa cara untuk antisipasi kalau pikiran-pikiran itu muncul. Misalnya, menaruh catatan di ruangan.

“Bikin faktor pelindung juga kayak bikin notes. Udah naruh notes, buat pengingat,” ujarnya.

Dia juga sudah tidak lagi menyimpan benda-benda tajam – kecuali alat dapur -- di kamar.

“Iya kasih semua ke temen-temen,” katanya.

***

Dalam pertemuan siang itu, Mona juga mengungkapkan bagaimana ide mengakhiri hidup muncul dan sampai pilihan caranya. Tapi dalam tulisan ini tidak akan dijelaskan rincian itu karena sesungguhnya kisah yang diceritakan Mona dengan penuh keberanian ini untuk memotivasi agar setiap orang bisa melewati fase serupa.

Mona beruntung karena sampai pada titik tertentu, dia bisa belajar tentang suicide dan bagaimana mencegah dan apa yang harus dilakukan ketika mengalami masalah batin.

Kini, Mona terpanggil untuk bermanfaat bagi orang-orang pernah merasakan depresi berat sepertinya.

“Dan akhirnya memang support system sih, support system sangat penting sekali.”

“Nyuruh yang baik-baik aja tuh gak bisa. Akhirnya aku sih yang pelan-pelan yang kasih tahu mereka ini loh suicide, ini loh kasih tahu ada caranya dengan cara tidak memberikan nasihat jika tidak diminta, just be there.”

Kisah Maddy

Kisah Maddy (bukan nama sebenarnya) sama sekali tidak dimaksudkan untuk buru-buru membuat kesimpulan bahwa cinta bertepuk sebelah tangan yang dialaminya menjadi faktor tunggal pemicu percobaan bunuh diri. Sebab, keinginan untuk mengakhiri hidup tidaklah disebabkan oleh faktor tunggal, seperti kata Mona. Tapi, depresi merupakan salah satu faktor kuat yang memicunya.

Cerita ini didasarkan pada apa yang dirasakan Maddy ketika itu atau sebelum dia menyadari apa yang terjadi.

“Maybe I’m not match for you, and you not match for me too,” kalimat itu bagai petir yang menyambar Maddy pada 31 Oktober 2017.

Dia merasa seakan-akan sudah tidak punya masa depan gara-gara cinta bertepuk sebelah tangan. Motivasi Maddy menyelesaikan kuliah hilang. Dia juga tidak masuk magang kerja.

“Makan aja aku kalau gak disuruh nggak bakal makan.”

“Sempet waktu itu berat badan juga lost kan karena asupan gizinya kurang, tapi otaknya kerja terus. Cuma ya itu isi otaknya cuma nama cowok itu.”

Sepanjang hari, pikirannya melayang-layang ke rencana-rencana yang dia dan pacar pernah buat bersama. “Kami bahkan ada angan-angan pengin punya anak berapa, terus nanti kalau punya rumah bagusnya dibuat kayak gini-gitu deh. Itu sih, banyak pokoknya yang udah aku sama dia angan-angani pas pacaran.”

Ilustrasi - Bunuh Diri. AKURAT.CO/Candra Nawa

Sampai tiba suatu hari, pikiran untuk mengakhiri hidup itu melintas.

“Aku kepikiran karena kayak nggak rela aja kalau pacar barunya nanti menikmati segala yang udah dibangun mantan aku pas sama aku. Soalnya pas pacaran empat tahun itu banyak banget perubahan. Mulai dari dia yang kemana-mana pakai baju oblong, motor butut dan depannya dipretelin, sampai dia jadi orang yang bisa beli apa-apa sendiri. Itu sih yang buat aku kayak nggak rela aja,“ kata dia.

“Jantung serasa cepat, badan lemes, saat itu saya sadar pokoknya lagi berasa kacau balau. Ngerasa semua masalah jadi satu.”

Upaya bunuh diri yang dilakukan Maddy gagal. Dia diselamatkan dari aksi bodoh itu oleh ibunya.

Usai peristiwa itu, Maddy benar-benar menyesal. Dia sadar betapa bodoh telah coba-coba melakukannya hanya untuk cari perhatian lelaki.

Maddy mulai membaca kajian-kajian agama. Sampai pada titik tertentu dia menjadi takut. Takut Tuhan marah.

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” Surat An-Nisa ayat 29-30 yang membuat Maddy makin tegak.

Setelah mendapatkan dirinya kembali, Maddy sama seperti Mona. Dia ingin bermanfaat bagi teman-teman. Dia tidak ingin pengalaman bodoh itu dilakukan oleh teman-temannya yang merasakan kondisi serupa.

“Aku juga ingetin teman-teman supaya kalau depresi nggak kayak aku. Awalnya mereka kayak ngatain si bego-bego, tapi alhamdulillah aku punya temen yang selalu kasih masukan positif. Mungkin waktu itu aku aja kali ya yang terlalu buta sama cinta.”

Maddy terkadang geli sendiri kalau teringat pernah merasa hanya mantannya pria paling baik di dunia ini.

Di sebuah tempat di Jakarta Barat, saya ketemu Maddy. Gadis muda itu bercerita dengan baik setelah jauh melewati fase kisah yang dia sadari sangat bodoh itu.

Saya penasaran kenapa dia sampai punya pikiran bunuh diri.

Dia mengaku percobaan mengakhiri hidup yang dilakukannya, antara lain terinspirasi dari berita bunuh diri yang dimuat media massa. Jauh sebelum hari itu, dia pernah membaca sebuah artikel. Di dalam artikel dijelaskan secara detail, mulai dari alat yang digunakan korban bunuh diri sampai caranya.

“Ya saya sebenarnya spontan aja sih apa yang ada di sekeliling saya. Pas itu saya gak buka gadget sama sekali, cuma kan kita bisa tahu itu hal yang mematikan pasti karena baca-baca kan di media sebelumnya,” kata dia. []

Bagi yang memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri yang sudah pada tingkat mengganggu, sebaiknya segera mencari bantuan ke orang sekitar atau profesional.

Baca juga:

Laporan 2: Bahaya Berita Serampangan Menginspirasi Bunuh Diri Susulan

Laporan 3: Menunggu Fatwa Dewan Pers Agar Pemberitaan Bunuh Diri Tak Lagi Serampangan

Laporan 4: Mengapa Mereka Bunuh Diri dan Bagaimana Mencegahnya?

Laporan 5: Wawancara Psikolog: Kalau Kita Ketemu Orang Mau Bunuh Diri, Harus Berempati

Editor: Siswanto

berita terkait

komentar

Image

1 komentar

Image
Gethya SN

Ternyata begitu cerita dari seseorang yang menyesali tindakan bunuh dirinya..

terkini

Image
News

Berjaket Ojol, Dua Orang Ledakkan Diri di Polrestabes Medan

Image
News

Hadinoto Soedigno Diperiksa KPK terkait Suap Emirsyah Satar

Hadinoto Soedigno sudah jadi tersangka.

Image
News

WN Australia yang Ngamuk di Bali karena Alkohol Bakal Bebas Penjara pada Desember

Pada 10 Agustus, Carr menendang I Wayan Wirawan, memecahkan jendela toko, merusak restoran, dan menyerang seorang pria lainnya.

Image
News

Pengajuan Anggaran Rp1,2 Triliun untuk Revitalisasi Trotoar Ditolak DPRD DKI

"Karena diminta efisiensi, anggaran dikurangi."

Image
News

Pelukan Surya Paloh-Jokowi Dinilai hanya Simbol Kepentingan Elite Politik

Begitulah politik, selalu panas dingin.

Image
News

Pemerintah Diminta Turun Tangan Selesaikan Kasus Pemerkosaan Mantan DPR Malaysia terhadap WNI

BNP2TKI agar segera berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur.

Image
News

Hukum Mengucapkan Salam Kepada Nonmuslim Menurut Para Ulama

Menurut Abu Said, jika muslim hendak menghormati nonmuslim, maka ia dapat mendoakan agar paginya, siangnya, malamnya menjadi indah.

Image
News

Tawa Pecah saat Bamsoet Disebut Calon Ketum Golkar oleh Kader PAN

Silaturahim MPR itu bisa menyelesaikan separuh masalah.

Image
News

NasDem Gelar Konvensi Capres 2022, Apakah Anies Berpeluang?

Masih lama, politik itu dinamis.

Image
News

Berkoordinasi dengan Dubes Arab, Dirjen Imigrasi akan Bahas Pencekalan Rizieq

Nanti akan penjelasan lebih lanjut soal kasus HRS.

trending topics

terpopuler

  1. Polemik Salam Semua Agama, Syamsuddin: Orang Lain Sudah Berpikir Bagaimana Wisata ke Luar Angkasa, Kita Masih Berkubang dalam Kegaduhan

  2. Ternyata Hanya Satu Pemain Indonesia yang Diunggah di Akun Instagram Kento Momota, Siapa Dia?

  3. Foto Dipeluk Vicky Prasetyo Tuai Komentar, Sarita Abdul: Bismillah Gak Kena Rayu

  4. Viral Siswa SD Muhammadiyah Pakai Peci NU, Warganet: Indahnya Kebersamaan

  5. Manfaat Kacang Hijau, Penangkal Ampuh Penyakit Kronis

  6. Larangan MUI Ucapkan Salam Semua Agama, SETARA Institute: Sangat Ekslusif dan Tidak Menghargai Perbedaan

  7. Pemerintah Dimintai Akui Lakukan Pencekalan HRS

  8. Tak Laporkan Tempo Soal Karikatur Anies, Ini Penjelasan Fahira Idris

  9. Pemerintah Sepakat Soal Habib Rizieq akan Disampaikan Satu Pintu

  10. Foto Dugemnya Diekspos ke Publik, Begini Respons Menohok Menteri Syed Saddiq

fokus

Nasib Sumber Air
Tantangan Pendidikan
Pejuang Kanker Payudara

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Pentingnya Tenaga Ahli DPRD

Image
Hasan Aoni

Secuil Kabar dari Amerika tentang Sri

Image
UJANG KOMARUDIN

Inspirasi Hari Pahlawan

Image
Rozi Kurnia

Polemik Sinema atau Bukan Sinema ala Martin Scorsese

Wawancara

Image
News

Pemidanaan Korporasi Atas Karhutla Di Mata Praktisi Hukum

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag 2 - selesai)

'Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang'

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag-1)

'Suatu Hari Nanti Saya Ingin Melatih Timnas'

Sosok

Image
News

Nggak Gengsian, ini 5 Potret Memesona Utari si Penjual Cilok di Boyolali yang Viral

Image
News

6 Potret Seru Susi Pudjiastuti saat Liburan, Sambil Momong Cucu

Image
News

Mundur dari PNS, ini 5 Fakta Pencalonan Siti Nur Azizah di Pilwalkot Tangsel