Ekonomi

Fluktuasi Harga Pangan Masih Terjadi, Harga Daging Sapi Turun Tipis

Fluktuasi harga pangan yang berlangsung sejak akhir tahun 2020 masih berlangsung hingga saat ini.


Fluktuasi Harga Pangan Masih Terjadi, Harga Daging Sapi Turun Tipis
Warga memilih daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Minggu (14/2/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Fluktuasi harga pangan yang berlangsung sejak akhir tahun 2020 masih berlangsung hingga saat ini. Terjadinya fluktuasi sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti cuaca, distribusi, ketimpangan antara produksi dalam negeri dan juga permintaan serta tidak berjalan lancarnya penerbitan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan Surat Perizinan Impor (SPI) untuk kebutuhan importasi komoditas tertentu.

Berdasarkan pantauan dan data Indeks Bulanan Rumah Tangga (Bu RT) Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) pada bulan Maret, terlihat adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas, seperti ayam, bawang merah, bawang putih dan cabai merah. Meskipun demikian, harga daging sapi mengalami penurunan tipis.

Salah satu komoditas strategis yang menunjukkan tren peningkatan harga adalah daging ayam. Indeks Bu RT menunjukkan peningkatan harga sebesar Rp1.693 dari Rp35.580 di bulan Februari menjadi Rp37.273 di bulan Maret. Naiknya harga ayam turut andil terhadap kenaikan inflasi keseluruhan, yakni sebesar 0,01 persen.

”Kenaikan harga pakan menjadi salah satu penyebab naiknya harga daging ayam yang disebabkan oleh naiknya harga produksi, kesulitan peternak rakyat mendapatkan bibit Day Old Chicken (DOC) dan harga DOC yang merangkak naik,” terang Peneliti CIPS Indra Setiawan lewat keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (20/4/2021).

Kondisi serupa dapat ditemui di komoditas bawang, baik bawang merah maupun putih. Data Indeks Bu RT menunjukkan kenaikan harga bawang merah sebesar Rp3.155 dari yang mulanya Rp69.867 di bulan Februari kini menjadi Rp73.022. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sempat mengatakan kemungkinan naiknya harga bawang akibat tingginya permintaan menjelang puasa dan Idulfitri 2021. Menteri Pertanian juga menyampaikan alasan lain di balik naiknya harga bawang merah, yakni musim penghujan dan pandemi Covid-19.

Beriringan dengan bawang merah, lanjut Indra, harga bawang putih juga mengalami peningkatan. Indeks Bu RT mencatat kenaikan sebesar Rp2.287 dari Rp30.742 menjadi Rp33.029 dalam kurun waktu satu bulan dari Februari ke Maret. Salah satu alasan yang kemudian dapat menjelaskan kenaikan ini adalah Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan SPI yang rumit. Proses penerbitan RIPH dan SPI yang tidak transparan dan berbelit berpotensi memperlambat proses impor.

”Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk merelaksasi proses RIPH dan SPI, terutama untuk komoditas penting yang ketersediaannya sebagian besar berasal dari luar negeri, sebagaimana yang sempat dilakukan tahun lalu. Tentu saja tanpa mengabaikan proses pemeriksaaan,” terangnya.

Komoditas lainnya yang mengalami kenaikan adalah harga cabai rawit yang mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dalam Indeks Bu RT, terlihat adanya kenaikan harga sebesar Rp7.033 dari yang semula berkisar Rp90.700 pada bulan Februari menjadi Rp97.733. Ada beragam faktor yang mempengaruhi harga cabai rawit ini, seperti cuaca ekstrem yang menyebabkan peningkatan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), kerusakan tanaman, dan banjir di beberapa wilayah sentra produksi.

Harga daging sapi turun tipis di bulan Maret. Jika pada bulan sebelumnya harganya berada di angka Rp148.693, terjadi penurunan sebesar Rp873 menjadi Rp147.820. Penurunan tipis ini menunjukkan harga daging sapi masih stabil tinggi. Salah satu pengaruh stabilnya harga dari komoditas strategis ini antara lain realisasi impor daging jenis lembu pada Januari dan Februari 2021 mencapai 84.142 ton. Hal ini membuat kenaikan harga dapat diantisipasi dengan mencukupi persediaan daging menjelang Ramadan.

”Tingginya harga daging sapi sempat menyebabkan pedagang daging sapi melakukan demonstrasi dan menolak berjualan. Hal ini disebabkan oleh harga daging sapi yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar Rp120 ribu per kilogram. Tingginya harga daging sapi perlu diatasi dengan melihat ke persoalan di hulu, salah satunya adalah rantai distribusi yang panjang yang bisa menimbulkan biaya tambahan yang tidak sedikit yang pada akhirnya berpengaruh kepada harga jual,” pungkas Indra. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu