Tech

Fintech Jenfi Sebut Pemasaran Digital Tingkatkan Pendapatan di Era Pasca Pandemi

Layanan pembiayaan Jenfi bantu mengoptimalkan pertumbuhan bagi UKM.


Fintech Jenfi Sebut Pemasaran Digital Tingkatkan Pendapatan di Era Pasca Pandemi
Ilustrasi Fintech. (freepik.commacrovector)

AKURAT.CO Selama pandemi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang beralih ke digital berkembang pesat. Di mana, transaksi di pasar online meningkat 26% dengan 3,1 juta transaksi per hari, diikuti dengan peningkatan distribusi sebesar 35%.

Peningkatan transaksi tersebut dipengaruhi oleh perubahan perilaku konsumen untuk berbelanja online yang didorong oleh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal ini dipaparkan oleh perusahaan teknologi keuangan (Fintech), Jenfi melalui siaran pers yang diterima Akurat.co, Jumat (5/8). 

Perusahaan menyebut, perilaku belanja online masih prospektif seiring dengan pertumbuhan pengguna smartphone dan internet di Indonesia. Tahun ini diprediksi jadi waktu yang tepat untuk meningkatkan pendapatan usaha.

baca juga:

Menurut Jenfi, dari perspektif makro, ada peluang dan optimisme yang sangat besar. Perekonomian Indonesia diprediksi akan lebih kuat mulai tahun ini hingga 2023. 

Asian Development Outlook (ADO) 2022 melaporkan bahwa daya beli konsumen dan aktivitas manufaktur juga diperkirakan tumbuh, sejalan dengan peningkatan pendapatan, pekerjaan, dan kepercayaan. Peluang terbesar datang dari pertumbuhan e-commerce Indonesia sebesar 23,8% di tahun ini yang dapat memicu UKM untuk mengembangkan usahanya.

Jenfi menyebut, pemasaran digital telah membuat UKM beradaptasi selama Covid-19, serta turut mendorong efektivitas biaya, dan meningkatkan keterlibatan konsumen. Bahkan, berdasarkan data dari Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$146 miliar atau Rp2.100 triliun pada tahun 2025. 

Nilai yang besar tersebut bisa menjadi peluang nyata bagi UKM untuk memasuki dunia digital. Terlebih, pemerintah telah mengembangkan cetak biru ekonomi dan keuangan digital. Di mana 62,9 juta UKM dapat diserap ke dalam keuangan formal untuk mencapai ekonomi berkelanjutan melalui digitalisasi. 

Selain itu, Bank Indonesia juga menyiapkan perubahan dalam pembayaran digital berupa QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), sebagai pintu masuk bagi UKM ke ekosistem dan keuangan digital.

Meski begitu, UKM membutuhkan dukungan khusus dalam optimalisasi pemasaran digital. Sebab, sebagian besar UKM di Indonesia belum mengetahui adanya dana khusus untuk mengoptimalkan awareness di media sosial dan marketplace. 

Untuk menjawab tantangan tersebut, Jenfi menjelaskan, layanan pembiayaannya secara khusus terbatas pada layanan pertumbuhan seperti Facebook, Instagram, LinkedIn, atau layanan periklanan Google. 

Hal tersebut memastikan bahwa pendanaan hanya bisa digunakan untuk menghasilkan pendapatan dan dilacak dengan mengintegrasikan akun pendapatan bisnis pada layanan seperti Shopify, Stripe, Braintree, Lazada, Shopee, dan Tokopedia. 

Model bisnis ini memastikan bahwa Jenfi hanya diuntungkan ketika perusahaan menghasilkan pendapatan dari modal pertumbuhan yang diberikan.

Sebelum memberikan pendanaan, Jenfi juga memberikan penilaian risiko otomatis yang melayani perusahaan dalam ekonomi digital. Hal ini membantu mengurangi risiko bagi perusahaan, serta dapat menilai stabilitas keuangan bisnis secara akurat dibandingkan dengan sebagian besar layanan penilaian tradisional.

Menurut Jenfi, alternatif pendanaan ini bisa menjadi solusi bagi UKM untuk mendongkrak pendapatan seiring dengan berkembangnya sektor e-commerce di Indonesia. 

Dengan menawarkan konsep pendanaan berbasis pendapatan yang fleksibel, Jenfi juga dapat dengan mudah diakses. Baik untuk UKM yang ingin mengoptimalkan pinjaman kredit dari pemerintah maupun mereka yang tidak memiliki akses pinjaman. 

Selain itu, ketika brand awareness UKM meningkat, maka peluang bisnis akan membuka pintu bagi lebih banyak UKM di Indonesia dan pada akhirnya akan meningkatkan daya saing mereka di pasar nasional dan dunia.