Olahraga

FINA Larang Atlet Transgender Ikut Kejuaraan Renang Elite Putri

Kebijakan baru ini merupakan respons langsung setelah kemenangan perenang transgender Amerika Serikat, Lia Thomas, pada kejuaraan nasional antar kampus.


FINA Larang Atlet Transgender Ikut Kejuaraan Renang Elite Putri
Perenang putri Indonesia Azzahra Permatahani bertanding dalam final renang 200 meter medley/kombinasi putri di ajang SEA Games 2019, di Arena Akuatik, New Clark City, Clark, Filipina, Rabu (4/12/2019). Azzahra Permatahani meraih posisi kedua dengan catatan nilai 2:16.84 dan berhasil mendapat menyumbang medali perak untuk Indonesia. (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO, Federasi Renang Internasional (FINA) telah memutuskan untuk melarang atlet transgender bertarung di perlombaan renang elite putri. Keputusan ini dicapai melalui pemungutan suara di Kongres Umum FINA di Budapes, Hungaria, dengan 71 persen dari 152 anggota pemilik hak suara.

Sebagaimana dikabarkan BBC, larangan diberlakukan terhadap atlet transgender yang melalui masa pubertasnya sebagai laki-laki. Kebijakan baru tetap mengizinkan atlet transgender bertanding di kompetisi putri jika mereka melakukan transisi seksual paling lambat di usia 12 tahun.

Jalan keluar lain yang diberikan oleh FINA adalah kemungkinan bakal dibukanya kategori baru kompetisi untuk transgender. Kategori terbuka ini ditujukan untuk mereka yang identitas seksnya berbeda dengan jenis kelamin bawaan lahir.

baca juga:

Kebijakan baru ini merupakan respons langsung setelah kemenangan perenang transgender Amerika Serikat, Lia Thomas, pada kejuaraan nasional antar kampus. Pada maret lalu, Thomas menjadi perenang transgender pertama yang memenangi nomor 500 meter gaya bebas putri.

Thomas sebelumnya bertanding untuk tim renang putra Universitas Pennsylvania selama tiga musim sebelum ia memutuskan melakukan terapi penggantian hormon pada musim semi 2019. Sejak itu, Thomas memecahkan rekor untuk rekor tim renang universitasnya.

Kemenangan Thomas memicu kontroversi dengan perbedaan pendapat soal keikutsertaannya di renang putri. Federasi Renang AS sendiri memperbaharui kebijakannya dengan tetap mengizinkan atlet transgender tampil di kejuaraan elite putri selama bersedia melakukan penyesuaian seperti pengurangan kadar testoteron.

Keputusan FINA juga menginspirasi cabang olahraga balap sepeda. Pada Kamis (16/6) lalu, Federasi Balap Sepeda Internasional (UCI) memperketat aturannya untuk mengizinkan atlet transgender tampil di kejuaraan elite putri.

UCI mewajibkan pembalap transgender memiliki kadar testoteron maksimal 2,5 nmol/liter selama 24 bulan sebelum turun ke kejuaraan. Aturan sebelumnya adalah kadar testoteron pembalap harus di bawah lima nmol/liter selama 12 bulan sebelum kejuaraan.

Akan halnya FINA dengan Lia Thomas, UCI melakukan perubahan kebijakan berdasarkan fenomena atlet transgender asal Inggris, Emily Bridges. Atlet ini melakukan terapi hormon pada 2021 dan dilarang tampil pada kejuaraan elit putri pertamanya.[]